Hendrawan berkesan dengan Perunggu MKY

2008 Bronze Medal - Women Single Olympic - Maria K Yulianti vs Lu Lan.mp4_000190640

Bagi kita para pecinta bulutangkis, keberhasilan pebulutangkis tunggal putri Maria Kristin Yulianti meraih medali perunggu di Olimpiade Beijing 2008 tentu tidak pernah dilupakan. Maria mengakhiri puasa medali dari nomor tunggal putri ini selama 12 tahun setelah terakhir kali Mia Audina memenangkan perak di tahun 1996. Momentum ini juga yang ternyata tidak pernah dilupakan oleh pelatih yang mendampinginya di Beijing saat itu, yakni Hendrawan (foto atas), mantan Juara Dunia yang juga silver medalist Olimpiade Sydney 2000.

Dalam wawancara bersama super-badminton.com bulan Agustus tahun lalu, Hendrawan yang kini menjadi pelatih Malaysia mengungkapkan mengenai hal tersebut. Kemenangan Perunggu Maria Kristin di Beijing menjadi satu dari dua pengalaman paling berkesan buatnya saat berkarir sebagai pelatih. Pengalaman lainnya sebagai pelatih yang membuatnya berkesan adalah ikut membantu Sony dan Simon naik menjadi pemain level dunia.

Selain fakta menarik itu, saya juga baru tahu dari wawancara tersebut bahwa usai pensiun, Hendrawan ternyata tidak langsung menjadi pelatih. Ia terlebih dulu bekerja selama kurang lebih satu tahun di perusahaan Oli Top-1, dimana saat itu ia diajak bergabung oleh Rudy Hartono. Baru setelahnya ia memulai karir kepelatihan direkrut oleh PBSI.

Selengkapnya, berikut wawancara singkat dari Super Badminton pada Hendrawan, dikutip dari situs Super-badminton.com. Super Badminton kami singkat SB, sedangkan Hendrawan kami disingkat H.

SB : Bagaimana awalnya tertarik untuk menjadi atlet bulutangkis?

H : Saya tertarik bulutangkis karena waktu kecil sering diajak ke lapangan bulutangkis sama papa

SB : Kapan pertama kali menjadi juara dan di turnamen apa?

H : Juara pertama kali di tournament antar SD di kota Malang

SB : Pertama kali ikut klub apa?

H : Klub pertama PB Aqua Lawang

SB : Apa saja prestasi sewaktu yunior yang paling di ingat?

H : Juara Kejurnas Junior di Surabaya thn 1990

SB : Tahun berapa masuk Pelatnas dan bagaimana prosesnya?

H : Masuk pelatnas thn 1993, karena saya juara sirkuit-sirkuit nasional diantaranya Jakarta Open 1991,1992,1993 dan SGS Bandung 1991,1992,1993.

Hendrawan-dan-Keluarga

SB : Mana yang lebih berkesan, saat meraih perak Olimpiade atau juara dunia?

H : Semestinya waktu Olimpiade lebih bangga, tetapi karena cuma dapat Perak jadinya Juara Dunia juga bangga

SB : Siapakah orang yang paling berperan dalam kesuksesan Hendrawan sebagai atlet bulutangkis?

H : Tentunya kedua orang tua saya, kakak-kakak & adik-adik saya, istri & anak-anak saya (foto atas). Kemudian pelatih-pelatih saya Hendry Saputra, Fang Kai Xiang, Triadji, Indra Gunawan, Tong Sin Fu, Agus Dwi Santoso, Paulus Pesurney dan motivator saya Andrie Wongso

SB : Bagaimana perasaannya baru bisa juara dunia di usia cukup senior?

H : Perasaan juara di usia senior tetap bangga. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali

SB : Kegiatan apa saja yang dilakukan setelah pensiun?

H : Setelah pensiun saya sempat bekerja di perusahaan Olie TOP 1 di Jakarta. Waktu itu diajak gabung sama Pak Rudy Hartono. Satu tahun bekerja, diajak bergabung lagi di pbsi sebagai pelatih tunggal putri

SB : Pengalaman apa yang paling berkesan saat sebagai pelatih?

H : Ikut membantu Maria Kristin meraih medali Perunggu di Olimpiade Beijing 2008. Membantu Sony & Simon menjadi pemain level dunia

Kini, Hendrawan masih saja tetap melatih di Malaysia. Sebenarnya PBSI berusaha meminang Hendrawan untuk kembali melatih Cipayung namun Hendrawan mengaku belum mau karena beralasan bahwa keluarganya sudah menetap dan bersekolah disana. Kita harapkan nanti Hendrawan bisa kembali pulang ya.. Bangun kembali negerinya dulu mas hehe..

Maria bicara Tips menjadi Juara

Setelah dengan Hendrawan, kali ini Maria Kristin Yulianti juga ikut bicara, namun bukan menanggapi tanggapan mantan pelatihnya itu. Maria bicara soal tips menjadi Juara. Penting bagi kalian yang pengen seperti Maria, hehe. Bicara mengenai Tips menjadi Juara ini, Maria diwawancara oleh Satuharapan.com disela-sela turnamen Pertamina Open akhir tahun kemarin. Ia datang ke turnamen itu mendampingi anak didiknya karena kini ia berprofesi sebagai pelatih.

Dalam wawancara tersebut, Maria mengatakan bahwa untuk menjadi juara berarti kita meraih kemenangan dan kemenangan itu sangat tergantung pada penampilan kita di lapangan, bukan bergantung kepada peringkat dunia, dan juga tidak tergantung kepada faktor lawan. “Sekarang gini deh, kalau dua pemain yang levelnya bisa aja sama, kan tetap tergantung di lapangannya seperti apa,” begitu kata Maria yang ucapannya sangat tercermin di Olimpiade Beijing tahun 2008 lalu.

2008 Bronze Medal - Women Single Olympic - Maria K Yulianti vs Lu Lan.mp4_004193960

Ia memang datang dengan hanya berperingkat 21 dunia ke Beijing, namun babak demi babak ia lewati dengan menggusur pemain-pemain berperingkat di atasnya. Mulai dari Juliane Schenk, Tine Rassmusen hingga Lu Lan. Bahkan melawan Schenk di babak pertama, Maria harus mengamankan match point. Keberhasilan ia mengamankan match point itu menandakan bahwa Maria itu tidak demam panggung dan selalu penuh konsentrasi di lapangan. Dua hal itu lah yang kata Maria merupakan tips menjadi juara.

“Kalau latihan sih yang pasti, nggak beda jauh lah, tergantung tingkatannya aja sih, karena kalau masih usia pemula masih segini, kalau remaja, dan taruna pasti akan berbeda lagi. Tetapi kalau apa yang harus dipersiapkan (seorang atlet badminton) kayaknya sih sama aja, pemain itu harus konsentrasi penuh di lapangan, jangan demam panggung,” begitu tutup Maria Kristin.

Kisah Maria Kristin Yulianti meraih medali perunggu di Beijing tentu tak pernah membuat kita bosan untuk mendengar. Itu selalu menjadi inspirasi buat kita bahwa jangan pernah takut berhadapan dengan siapapun. Komentar Gill Clark di akhir pertandingan playoff medali perunggu tunggal putri sangat mengesankan. “For Yulianti, what a story..”

Iklan