Mia Audina masih tunda Punya Momongan

index

Meskipun sudah berumah tangga selama 15 tahun bersama penyanyi gospel Tylio Lobman, peraih medali perunggu Olimpiade Atlanta dan Athena yaitu Mia Audina Tjiptawan ternyata kini mengaku masih terus menunda memiliki momongan. Ditemui disela-sela acara perayaan Ulang Tahun PBSI ke 63 pada bulan Mei silam, Mia yang didampingi suaminya mengatakan hal tersebut (foto atas). Ia mengaku masih menunda memiliki momongan karena sibuk mendampingi suami, Tylio Lobman yang merupakan penyanyi gospel menjalani tour ke beberapa negara.

“Saya juga sibuk menemani suami nyanyi di beberapa negara. Bahkan, karena selalu bepergian, saya memutuskan menunda memiliki momongan meski suami sudah sangat ingin memiliki anak,” begitu kata wanita yang lahir 22 Agustus 1979 itu (34 tahun). Mia dan Tylio sudah menikah sejak tahun 1999 lalu saat Mia masih berusia sangat muda, yaitu 20 tahun. Usai keduanya menikah, Mia kemudian langsung berpindah kewarganegaraan dan menetap di Belanda.

Di negeri kincir angin itu, Mia meneruskan karir bulutangkisnya dengan mewakili Belanda di kejuaraan internasional. Mewakili Belanda, Mia juga terbilang sukses dengan meraih beberapa gelar bergengsi seperti Kejuaraan Eropa, medali dari Kejuaraan Dunia hingga perak di Olimpiade Athena. Medali dari Athena itu menjadikan Mia satu-satunya pemain bulutangkis hingga saat ini yang dapat meraih dua medali mewakili dua negara berbeda.

Sebelum karirnya di Belanda, Mia juga terbilang sukses mewakili Indonesia di dunia bulutangkis. Selain perak di Olimpiade Atlanta, Mia juga menjadi penentu kemenangan Indonesia di dua ajang Piala Uber, yaitu di tahun 1994 dan 1996. Sayang ketika memasuki tahun 1999, ia mendapatkan ujian yang berat dengan kepergian salah satu orang tuanya (ibunya kalo tak salah) hingga mengguncang sosok Mia. itu menjadi awal dari penurunan prestasinya yang berujung pada keluarnya ia dari Pelatnas dan memilih menikah serta berganti kewarganegaraan.

Menjadi Mia yang kini merupakan orang berkewarganegaraan Belanda, belum memiliki anak di usia 35 tahun sepertinya bukan masalah bagi ia dan suami. Mereka tetap menikmati hidupnya, dan itu tercermin dari kemesraan keduanya saat datang ke Pelatnas PBSI di acara ulang tahun federasi bulutangkis Indonesia ke 63 itu. Tak ada raut sedih, bahkan ia tersenyum saat mengatakan masih menunda momongan hingga usia kepala tiga ini.

2098164

Mampirnya Mia ke acara ulang tahun PBSI ini tentu menjadi tamu istimewa karena sudah lama sekali ia tak kesana. Seperti kita tahu setelah membela negeri Belanda, Mia tidak pernah ikut serta bermain pada kejuaraan bulutangkis internasional yang diadakan di Indonesia, baik dalam Piala Uber maupun di Indonesia Open. Mia sendiri juga turut exited datang kembali ke Cipayung setelah sekian lama. Usai acara ulang tahun PBSI ini berlangsung, ia berkeliling sebentar melihat perubahan dari Cipayung.

“Saya baru datang ke Jakarta. Terus diberi kabar katanya ada perayaan ulang tahun PSBI. Makanya saya langsung ke sini. Kangen juga ingin melihat suasana pelatnas. Saya mau keliling melihat asrama dan kamar saya dulu,” ujar Mia dikutip dari Inilah.com. Dalam kegiatan nostalgianya, Mia sempat memasuki sebuah kantin dimana atlet biasa makan saat berlatih di pelatnas. Bahkan, di sana Mia menemui sebuah foto yang dibingkai saat dirinya meraih medali perak Olimpiade Atlanta 1996 lalu. Di final, ia dikalahkan Bang Soo-Hyun, 6-11 dan 7-11.

Tak tahu Bulutangkis Lagi

Setelah memutuskan gantung raket tahun 2006, Mia Audina mengaku tak mengikuti lagi perkembangan dunia bulutangkis, termasuk pula bulutangkis Indonesia. Ketika ditanya oleh wartawan mengenai peluang Tim Uber Indonesia yang juga dilantik saat ulang tahun PBSI itu (dimana kini kita tahu bahwa Tim Uber terhenti di Perempat Final), Mia tak berani menjawab.

“Jujur saya tidak pernah mengikuti perkembangan bulutangkis lagi. Saya saja tidak tahu siapa saja pemain Indonesia yang memperkuat tim Uber. Tapi, sepertinya Tiongkok masih menjadi unggulan. Saat ini juga banyak negara yang dulu tak diperhitungkan justru mengalami kemajuan seperti Thailand dan India,” begitu ungkap Mia.

Ia hanya menyarankan untuk para pemain yang tergabung dalam Tim Uber pada saat itu agar tidak takut kalah dan harus terus fokus utamanya pada saat krusial. “Biar bagaimanapun, keadaan di lapangan itu berbeda dengan yang ada di atas kertas. Yang penting jangan takut kalah. Kalau saya dulu banyak-banyak berdoa di saat krusial,” lanjut Mia memberi tips.

img_8795

Seperti kebanyakan para pemain populer yang gantung raket, tawaran untuk melatih tentu berdatangan usai mereka tak berlaga. Mia Audina juga mengakui hal tersebut. Namun, ia mengaku belum tertarik dan masih sibuk mendampingi sang suami. “Ada (tawaran), beberapa kali. Tapi untuk saat ini saya belum tertarik. Saya masih sibuk bolak-balik Belanda-Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan juga menjadi pelatih. Apalagi suami saya tak pernah melarang,” begitu kata Mia yang tampil anggun dengan baju warna biru dan celana putih di hari itu.

Ditanya mengenai lambatnya renegerasi tim putri di tanah air, Mia menjawab tidak tahu pasti karena bukan pengurus PBSI. “Saya juga tidak tahu pasti, karena saya tidak berada di dalam (pengurus PBSI). Kalau dibandingkan Tiongkok, regenerasi kita memang kalah jauh. Sebenarnya zaman sekarang lebih enak dibandingkan saya dulu. Semuanya lebih lengkap,” begitu tutur pemain yang mengantarkan Belanda mencapai Final Piala Uber 2006 di Jepang.

“Mungkin belum dapat saja pemain yang bagus. Saya yakin, dengan disiplin dan kerja keras, pasti muncul pebulutangkis hebat yang bisa membawa harum nama Indonesia. Yang terpenting, jangan merasa takut menghadapi siapapun lawannya dan banyak-banyak berdoa,” begitu kata Mia mengakhiri wawancara.