Sedang Perang, Bagaimana Bulutangkis di Israel dan Palestina?

keluarga-palestina-menangisi-keluarga-mereka-yang-tewas-dalam-agresor-israel-di-gaza

Akhir-akhir ini, berita mengenai Agresi yang dilakukan oleh Israel kepada negara tetangganya yaitu Palestina memang menjadi headline di berbagai media cetak maupun elektronik yang ada di Indonesia. Tangis air mata anak-anak Palestina yang kehilangan keluarganya (foto atas) akibat Agresi yang dilakukan oleh Israel hingga saat ini masih berlanjut. Mereka terus saja melancarkan bom dan serangan ke berbagai kawasan yang ada di Gaza, wilayah yang selama ini menjadi incaran Israel. Sebenarnya, Mengapa Israel begitu jahat membombardir Gaza? Lalu Bagaimana sih Bulutangkis di kedua negara yang selalu berkonflik itu? Yuk bahas cusss…

Tadi siang, saya menonton berita dan seperti biasa, Gaza masih menjadi salah satu berita headline berbagai media. Saya pun penasaran dan searching lebih mendalam mengenai asal-usul konflik Israel dan Palestina ini. Setelah searching, inti mengenai asal usul Konflik Israel-Palestina ini menurut pemahaman saya adalah ketika Hitler (keturunan Yahudi juga) membunuh jutaan Yahudi di Jerman. Atas pembunuhan itu, disettinglah negara-negara dibawah komando Inggris dan Amerika Serikat agar menganggap pembunuhan massal itu melanggar kemanusiaan sehingga akhirnya Yahudi diberikan wilayah untuk bisa bebas sendiri.

Inggris pun menawarkan beberapa daerah untuk ditempati bangsa Yahudi itu diantaranya Uganda, Argentina maupun Palestina. bangsa Yahudi pun memilih Palestina sebagai wilayah yang akan ditempatinya. Ketika migrasi besar-besaran masyarakat Yahudi dari seluruh dunia, disana berdirilah negara Israel. Israel memilih Palestina karena mereka percaya bahwa itu adalah “tanah yang dijanjikan” oleh Nabi mereka, yaitu Nabi Musa.

Sebenarnya saat masuknya migran Yahudi itu, sudah ada pembagian wilayah antara kedua negara ini dimana telah disetujui dalam berbagai perjanjian. Namun karena sifat dasar Israel sebagai kaum pengkhianat, ia memang selalu teguh dengan sikap berkhianatnya. Mereka lalu melakukan agresi kepada Palestina agar bisa memperluas wilayah kekuasaannya. Biar kalian lebih mengenal sosok bangsa Yahudi itu, klik saja link http://oediku.wordpress.com/2011/03/04/asal-usul-dan-sepakterjang-bangsa-yahudi-bani-israel/.

Bagaimana? Apakah anda sudah melihat cerita tentang Yahudi yang benar-benar jahat dalam link itu? Lihat dulu saja jangan terburu-buru melihat cerita Bulutangkis di Israel dan Palestina hehe. Dari cerita diatas, menurut saya kejahatan yang mereka lakukan memang benar-benar terancang secara baik dan saya setuju bahwa mereka memang bangsa hebat. Kalau tidak salah, Allah pernah berfirman dalam Al Quran bahwa bangsa Bani Israel memang bangsa yang hebat namun mereka ini sombong, tamak dan tidak pernah bersyukur (koreksi kalau salah). Menurut Al Quran, sifat itulah yang membuat bangsa Yahudi selama ratusan tahun dihukum Allah dengan menjadi bangsa terendah di negara mana pun (budak-budak).

Saya juga pernah mendengar cerita bahwa salah satu tanda kiamat adalah hancurnya Kabah dan saat itu, manusia tidak ada yang bisa berhaji, sungguh sangat tragis. Tapi siapa yang akan menghancurkannya? Jawaban menurut yang saya kira adalah Israel yang akan menyerangnya. Usai berhasil menguasai seluruh Tanah Palestina nanti, saya yakin karena sifat ketamakan mereka itu, bangsa Yahudi akan memperluas wilayahnya dengan melakukan agresi ke negara-negara tetangganya hingga ke Saudi Arabia nanti. Nauzubillah…

Palestinian Badminton Federation

Dari link dan sedikit ulasan saya diatas mengenai konflik Palestina-Israel diatas, kita beralih topik melihat tentang bulutangkis di kedua negara itu, karena duaribuan ini adalah blog bulutangkis yang udah ada sejak 2011 lalu berdiri (udah 3 tahun lebih ya) meskipun sempat vakum beberapa bulan karena kesibukan kuliah saya. Kali ini kita mulai dari sang negara terjajah, Palestina.

Picture3

Semenjak mengalami agresi militer tahun 1948, masyarakat Palestina memang tidak bisa bebas menjalani kehidupan sehari-harinya. Mereka memilih untuk bersama-sama mempertahankan wilayahnya lewat HAMAS. Mereka punya pemerintahan, termasuk pula Federasi Bulutangkis didalamnya, namun tidak ada yang memilih untuk menekuni olahraga ini karena fokus untuk mempertahankan tanah mereka. Berdasarkan situs badmintonasia.org, Federasi bulutangkis di Palestina memiliki nama Palestinian Badminton Federation (foto atas).

Federasi bulutangkis ini dipimpin oleh Nabil Elturk dan beralamat di PO Box 1195, Omar El Mokhtar Office, Gaza, Palestine. Nomor teleponnya +972 5994 18100. Contact personnya Nabil Elturk ini di email palbf@hotmail.com. Sebagai sebuah federasi yang mati, pembibitan pebulutangkis memang tidak berjalan di Palestina. Anak-anak Palestina pun saya rasa juga tidak akan berpikir untuk bermain bulutangkis karena pastinya mereka lebih lebih memilih untuk menghafal Al Quran. Di Palestina, sering dilaksanakan kegiatan camp untuk menghafal Al Quran saat libur sekolah bagi anak-anak.

Lalu anda pasti bertanya dalam hati, apa guna federasi itu? apa ada yang bermain badminton disana? mungkin bagi kalian yang penasaran banget mengenai kedua hal tersebut, bisa tanya ke email si Nabil Elturk itu ya hehe. Kalo dari saya sendiri, mungkin federasi itu memang ada namun kantornya mungkin hanya sebuah ruangan kecil yang menumpang di satu gedung bernama Omar El Mokhtar Office seperti sudah saya katakan sebelumnya. Omar Office itu menurut saya sebuah gedung yang berisi kumpulan kantor pemerintahan Palestina (ada Bank Palestina juga saat saya searching).

Pertanyaan kedua adalah apa ada yang main? mungkin ada namun itu hanya Nabil Elturk sang Presiden PBF dengan kawan-kawannya. Lalu jika kalian bertanya lagi, bagaimana bermainnya? Jawaban saya adalah mungkin mereka bermain tepok-tepokan saja dengan raket-shuttlecock yang usang dan tanpa net seperti anak-anak kecil di Indonesia bermain. Mungkin anda tidak akan menemukan toko olahraga disana karena Israel telah memblokade Gaza dari perdagangan internasional.

Jika pun ada yang mengirim, pastilah bantuan makanan, tabung gas hingga obat-obatan, bukan raket, net ataupun jersey YONEX. Pengiriman barang bantuan itupun dikirim secara rahasia lewat smuggling tunnel. Smuggling tunnel ini seringkali terpantau satelit dan dibombardir oleh Israel hingga menewaskan para pekerja dan merugikan ribuan rakyat yang tergantung hidupnya dari pasar gelap itu. Sungguh kejamnya kejamnya kejamnya (versi nyanyi). Semoga konflik segera berakhir dan anak-anak Palestina bisa menikmati enaknya bermain bulutangkis ya… Amin..

Generasi Zilberman kibarkan bendera Israel

376177_386893084692917_1671976546_n

Berbeda dengan Palestina yang tidak bebas bermain bulutangkis, negeri penjajahnya yakni Israel dapat mengembangkan olahraga ini dengan bebas karena memang mereka tidak perlu resah adanya serangan seperti yang mereka lakukan ke Palestina. Mereka bahkan berhasil meloloskan pemain bulutangkisnya untuk pertama kali ke ajang Olimpiade, yaitu Misha Zilberman yang tampil di Olimpiade London 2012 silam (foto atas). Namun seperti kebanyakan warga negara Israel, Misha juga merupakan pendatang.

Lahir di Moscow, Russia pada tanggal 25 Januari 1989, Misha adalah anak dari pasangan Mikhail Zilberman dan Svetlana Zilberman. Ketiganya memiliki latar belakang yang sama yaitu olahragawan namun dari cabang yang berbeda namun akhirnya semua berlabuh pada bulutangkis. Mikhael sebelumnya adalah mantan atlet senam lantai dari Uni Soviet (saat itu Rusia masih bernama Uni Soviet). Ketika mengalami cedera, Mikhael pun pensiun sebagai atlet dan memilih untuk menjadi pelatih bulutangkis. Saat menjadi pelatih disana, ia sempat menjadi asisten pelatih di Timnas Bulutangkis Uni Soviet dan mendirikan Olympic center di Moscow.

Sang istri yaitu Svetlana, awalnya juga merupakan pemain bulutangkis namun memiliki latar belakang pernah bermain tenis meja. Mereka saling mengenal karena ternyata Mikhael ini adalah pelatih dari Svetlana saat menggeluti bulutangkis. Semasa menjadi pemain bulutangkis, Svetlana berprestasi baik, ini dibuktikan dengan raihan medali perunggu di European Championship 1986 namun masih mewakili Uni Soviet.

Dari situs haaretz.com, ada cerita menarik saat keduanya menikah dan memiliki anak. Usai melahirkan, Svetlana kembali bermain bulutangkis 2 bulan setelahnya loh (gak takut jahitannya rusak? hehe). Anda tahu bagaimana Mikhail membawanya, ia bercerita bahwa Svetlana dibawanya dengan kursi roda. Niat banget ya ni ibu-ibu ini hehe…

Usai kelahiran Misha, terjadilah krisis di Uni Soviet tahun 1990an sehingga keluarga Zilberman ini akhirnya memutuskan untuk berpindah ke Israel. Di negara barunya, Mikhael mulai bekerja di Pardes Hannah. Kemudian ia berpindah ke Rishon Letzion, melatih tim nasional bulutangkis Israel. Sang istri, Svetlana juga ikut membantu Mikhael melatih timnas Israel, namun ia masih berprofesi sebagai pemain juga saat itu.

Sementara kedua orang tuanya sibuk menggeluti bulutangkis, anaknya Misha juga memulai menekuni dunia tepok bulu ini. Misha memulai bermain bulutangkis pada tahun 1996 di usia 7 tahun di Nes Tziona. Bakatnya kemudian membuatnya dikirim oleh orang tuanya ke turnamen internasional. Pertama kali ia dikirim adalah pada usia 9 tahun. Ketika itu, ia bermain di kejuaraan dibawah usia 11 tahun (U11). Semakin bertambah usianya, semakin banyak prestasi yang ditorehkan Zilberman cilik ini. Saat berusia 16 tahun, ia sudah mengoleksi semua gelar Israel Championship untuk semua tingkatan usia (U11, U13, U15). Prestasi lengkapnya bisa anda lihat di alamat http://www.mishazilberman.xtreemhost.com/on%20court%202.html.

Sukses dengan Sang Bunda

Selain di nomor tunggal putra, Misha juga merupakan pemain yang berbakat di nomor ganda, khususnya ganda campuran. Tahukah anda siapa pasangannya? ternyata adalah sang ibunda, Svetlana Zilberman. Bukan sekedar bermain bulutangkis main-main saja, tapi pasangan itu sudah menjadi pasangan pemain profesional. Keduanya bahkan terkualifikasi dan berhasil tampil di Kejuaraan Dunia tahun 2009 di Hyderabad, India.

Picture1 - Copy

Lolosnya pasangan ini membuat keduanya masuk dalam Badminton History Box sebagai pasangan orang tua dan anak pertama yang berhasil lolos di ajang Kejuaraan Dunia. Pada Kejuaraan Dunia itu, Pasangan ibu anak itu sukses melangkah ke babak kedua usai menang WO atas pasangan unggulan 11 asal Inggris, Anthony Clark/Donna Kellog. Di babak kedua, Misha/Svatlana tersingkir oleh pasangan Jepang, Noriyasu Hirata/Shizuka Matsuo dalam pertarungan dua gim langsung, 11-21, 10-21. Misha Zilberman yang juga lolos ke Kejuaraan Dunia itu sendiri juga bernasib tak bagus. Di nomor tunggal putra, ia langsung kalah di babak pertama oleh sang Juara bertahan, Lin Dan dengan skor telak, 9-21, 11-21.

Anda tahu berapa usia sang bunda? ternyata usianya sudah 45 tahun saat berlaga di Hyderabad. Sang anak sendiri, baru berusia 19 tahun. Bagaimana sang bunda bisa bermain bagus, karena memang sang bunda ini juga rajin mengikuti kejuaraan senior internasional. Bahkan di usia yang makin menua, ia mencetak berbagai prestasi yang membanggakan. Pada kejuaraan World Senior Championship 2011 (usia 47), Svetlana menjadi Juara Dunia Senior di nomor ganda putri dan Finalis pada nomor Tunggal Putri, semuanya di kategori usia dibawah 50 tahun. Sangat kerennn bukan…

Selain di World Championship 2009, pasangan ibu anak ini juga tampil di beberapa kejuaraan bergengsi bulutangkis yang biasanya dimainkan pemain profesional, antara lain European Mixed Team Championship (2007, 2009, 2011), European Championship (2008, 2010, 2014), World Championship tahun 2010 di Paris hingga Sudirman Cup 2011 di Qingdao. Jangan sekali-kali anda remehkan ya, 45 tahun bermain bulutangkis profesional tentu tidak mudah.

Kembali ke Misha nih. Usai lolosnya ia menjadi Olympian pertama dari Israel untuk cabang olahraga bulutangkis, Komite Olimpiade Israel mulai mendukung Misha. Namun, dibalik dukungan itu, tidak pernah ada yang menyinggung bulutangkis sebelumnya. Orang tuanya lah yang bekerja keras mengumpulkan dana untuk tour Misha. “Semuanya berasal dari kami. Kami membayar kompetisinya dan latihan yang ia jalani karena kami percaya dia bisa melakukannya,” begitu kata ayah Misha, Mikhail Zilberman mengomentari perhatian yang diberikan Komite Olimpiade disana.

578816_10151055407039268_2085372117_n

Di Olimpiade London 2012, Misha ini tampil di nomor tunggal putra. Ia tampil di Grup I bersama dua pemain tunggal putra lain yaitu Jan O Jorgensen (Denmark) dan Derek Wong (Singapore). Misha finish sebagai juru kunci setelah dikalahkan dua pemain berperingkat diatasnya itu. Melawan Jorgensen, Misha kalah 13-21, 12-21, sementara melawan Derek Wong, Misha kalah 9-21, 15-21. Meski kalah, saya percaya bahwa ia benar-benar menikmati waktu di Olimpiade pertamanya itu.

Tahukah anda? saya sangat bangga pada bulutangkis karena bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga dengan partisipasi pemain yang sangat tinggi, khususnya untuk kejuaraan besar seperti Olimpiade dan World Championship. Kita tentu sangat bangga akan hal itu. Bahkan dulu sempat ada kasus pemain yang meminta sumbangan agar bisa tampil di Kejuaraan Dunia di Guangzhou tahun lalu, kalau tak salah pasangan asal Belanda. Very proud…

Dalam perjalanannya hingga menapaki kancah Olimpiade, Misha ini sudah menjalani jadwal harian yang padat sejak usia 13 tahun. Dari situs pribadinya, Misha mulai bangun 5.20 setiap pagi untuk berlatih sesi pagi selama 1 jam. Usai menjalani latihan, jam 8 ia harus berangkat ke sekolah. Seusai pulang, ia istirahat makan selama sekitar 30 menit untuk dilanjutkan berlatih kembali. Dalam situsnya, Misha berkata bahwa ia baru kelar jam 8 malam. Keras banget ya..

Ia tetap bersekolah karena ia menganggap bahwa pendidikan adalah hal penting. Disamping menjalani tour badminton yang padat, sekolah adalah hal yang tidak pernah ditinggalkannya. Ia berhasil menyelesaikan sekolahnya. Kalo dari situs pribadinya, katanya itu Misha graduated his high school with full and extended diploma. Jujur kurang ngerti artinya, mungkin SMA sana ama sini kan beda hehe.

Selain sibuk dengan kegiatan sekolah dan latihan bulutangkis, Misha juga punya kegiatan lain menginjak usia 18 tahun. Ia melaksanakan wajib militer selama 3 tahun kala itu. Keluarganya sangat percaya akan pentingnya kontribusi kepada negara karena itu adalah tugas sebagai warga negara Israel. Untuk Misha, ia telah usai melaksanakan kewajiban ini mulai Agustus 2007 dan berakhir tahun 2010 silam.

Hayom dan Israel

url

Seperti biasa kalau ada artikel duaribuan, pasti berhubungan ama bulutangkis Indonesia. Kalo gak ada pun dihubung-hubungkan karena duaribuan itu punya tagline “Untuk Bulutangkis Indonesia”. Kali ini kita bakal bicarain pemain tunggal putra Indonesia paling berbakat namun belum mampu mengkonversi bakatnya itu menjadi prestasi selama sekitar 3 tahun belakangan yaitu Dionysius Hayom Rumbaka horee… Ada apa hubungan Hayom dengan Israel? Waw…

Yang pasti dia bukan keturunan Yahudi (gak tahu juga sih hehe). Kita bakal membicarakan mengenai kejadian di World Championship 2013 silam di Guangzhou dimana Hayom bertemu dengan Misha Zilberman, sang Olympian asal Israel. Pertemuan memang dimenangkan oleh Hayom dengan skor 21-15, 23-21. Di Round selanjutnya, ia jumpa Lee Chong Wei dan mampu memaksakaan rubber loh dengan skor 21-14, 18-21, 11-21.

Kita tidak akan membahas mengenai Hayomnya, tetapi mengenai Tim Indonesia yang tetap memainkan Hayom saat melawan negara yang telah melakukan invasi kepada Palestina, sahabat Indonesia. Kita pernah diingatkan soal ego negara Indonesia yang tak mau berjumpa Israel pada beberapa pertandingan olahraga tertentu sebagai bentuk protes atas negara yang selalu membombardir Palestina itu. Contoh nyata yang pernah dilakukan adalah sikap walkover nya Tim Fed Indonesia yang harus bersua dengan Israel pada babak playoff Grup II Dunia Fed Cup tahun 2006 silam.

PB Pelti selaku Federasi Tenis Indonesia memilih mundur sehingga berakibat turunnya Tim Indonesia ke Fed Cup Grup I Asia-Oceania. Tak hanya akibat itu, Indonesia juga dilarang untuk mengikuti ajang tenis beregu putri itu pada 2007 dan harus membayar denda karena membatalkan keikutsertaannya dan melanggar peraturan dalam Piala Fed. Makin buruklah Tenis Indonesia kala itu.

menolak-israel-di-asian-games-1962-rev3

Meskipun berakhir buruk, Pelti memang saya akui sangat berani untuk meneken keputusan tersebut karena mereka tahu sanksi akan berdatangan pada Federasi Indonesia. Namun Aksi Walkover itu menunjukkan bahwa PB Pelti memang setia terhadap Solidaritas Indonesia kepada Palestina yang sudah dikemukakan sejak zaman Bung Karno.

Pada zaman Presiden pertama Indonesia itu, pernah kejadian Tim Sepak Bola Indonesia nyaris saja lolos ke putaran Final Piala Dunia sekitar tahun 1958. Tinggal berjumpa Israel, Indonesia punya keyakinan menang setelah sebelumnya sukses mengalahkan China. Namun demi solidaritas itu, Indonesia memutuskan Walkover sehingga gagal melangkah ke ajang Piala Dunia. Konon katanya, ini adalah perintah Soekarno.

Beliau juga memberlakukan sikap keras saat Asian Games 1962 di Jakarta dimana saat itu, ia tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taipei karena saat itu kedua negara itu tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Akibat keputusan kontroversial ini, Indonesia kembali mendapatkan sanksi dengan diskors keanggotaannya dari Komite Olimpiade Internasionak (IOC) sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Merasa tidak terhormat karena waktu yang tidak ditentukan, Soekarno pun memerintahkan KONI untuk keluar dari IOC pada tahun 1963. Begitu teguhnya Soekarno mementingkan solidaritas kepada Palestina.

Memang kita tidak bisa menyalahkan Hayom maupun Misha karena ajang Kejuaraan Dunia adalah turnamen penting dimana keduanya sudah berlatih keras sebelumnya untuk bisa tampil maksimal di Guangzhou. Namun mengutip kata Soekarno, beliau sangat enggan melihat atletnya bermain melawan Israel dimana ketika kita bermain melawan Israel, berarti kita mengakui keberadaan negara itu. Kalimat Soekarno itu akan selalu saya diingat… salam duaribuan ya…