Jonatan siap Mempertahankan Gelar

BsU6tGwCEAEnrsC.jpg large

Kejuaraan Indonesia International Challenge akan kembali digelar tahun 2014 ini. Berpindah lokasi dari Surabaya ke Jakarta, pebulutangkis tunggal putra yang menjadi Juara bertahan yaitu Jonatan Christie kemungkinan besar akan kembali tampil untuk meraih peruntungan di kejuaraan senior pertama yang dimenangkannya tahun lalu itu (belum pasti juga sih hehe). Jo bersama beberapa Pemain Pelatnas Potensi diprediksi akan tampil full team pada kejuaraan yang dilaksanakan tanggal 12-16 Agustus 2014 di GOR Asia Afrika Jakarta tersebut.

Jo, sapaan akrab pria kelahiran 15 September 1997 itu tahun lalu menjadi surprising winner pada kejuaraan yang masih digelar di Surabaya. Pada babak Final, Jo mengalahkan sang Juara bertahan dari turnamen ini sebelumnya yaitu Alamsyah Yunus dalam pertarungan 2 gim langsung, 21-17, 21-10. Saat itu ia sedang berada dalam performa terbaik usai meraih 2 emas dalam Asian School Games yang digelar sepekan sebelumnya di Hanoi, Vietnam.

Kini, menjelang kejuaraan yang tahun ini disponsori oleh Coca Cola dan Astec tersebut, Jonatan sedang dalam performa yang naik turun. Dari 4 turnamen yang telah dilakoni yaitu Asian Junior, Vietnam International, World Junior dan Taipei Open ini, Jo belum berhasil membuahkan gelar . Namun sisi positifnya, beberapa pemain yang menghentikan Jo di kejuaraan tersebut memang bukan pemain sembarangan. Hal ini dapat kita lihat di tiga turnamen terakhir yang diikutinya yaitu Vietnam Internasional, World Junior dan Taipei Open yang digelar pekan ini.

Pada kejuaraan Vietnam Internasional dan World Junior, Jo harus menghentikan langkahnya di babak perempat final nomor tunggal putra oleh pemain yang akhirnya terpilih menjadi Juara. Di Vietnam Internasional, ia dikalahkan oleh unggulan pertama dan andalan tuan rumah, Nguyen Tien Minh dengan skor yang tipis 21-23, 15-21 sementara di World Junior, Jo kalah oleh Lin Guipu yang akhirnya keluar sebagai Juara Dunia Junior dengan skor 17-21, 18-21.

Untuk kejuaraan Taipei Open yang digelar pekan ini di Kota Taipei, Jo memang mendapatkan draw yang kurang enak karena harus langsung berjumpa dengan pemain unggulan 2 asal China, Wang Zhengming di babak pertama. Berdasarkan tweet pada akun twitternya @jonatan979, Pertandingan ini merupakan pertandingan yang memang sudah ia tunggu-tunggu. Namun meski sudah mempersiapkan diri dengan keras, Wang yang merupakan Juara Dunia Junior tahun 2008 itu langsung menyikat Jo dengan skor telak 21-9, 21-16.

Usai kalah, Jo pun langsung melihat kata-kata inspiratif lewat jejaring sosial twitter yang ia harapkan dapat membangkitkan kembali semangatnya usai kekalahan dari Wang Zhengming itu. Di akun twitternya @jonatan979, Jo meretweet tulisan dari akun twitter @YesusSanggup dimana tertulis, “Apapun yang terjadi tetaplah bersyukur pada Tuhan karena di dalam ucapan syukur ada kuasa,” begitu bunyi tweet yang diretweet oleh Jo pada hari Rabu petang.

Namun seperti dua kekalahan sebelumnya, pada kekalahan ini para badmintonlovers juga menganggapnya wajar karena lawannya juga merupakan pemain berpengalaman. Selain meraih Juara Dunia Junior, Wang juga mengoleksi gelar Juara Asia Junior di tahun yang sama. Setelah dua kemenangan di level junior itu, ia langsung menunjukkan pernampilan menawan di level senior dengan menjadi Finalis pada turnamen Badminton Asia Championship 2010 dan dilanjutkan dengan kemenangan atas nama-nama besar seperti Chen Jin dan Taufik Hidayat pada tahun 2011.

20140223_AJC_Bayu, Jonatan dan Anthony

Kembali ke Jonatan Christie lagi nih. Pada turnamen pertamanya di tahun 2014 yaitu Badminton Asia Youth U-19 Championship yang berlangsung pada bulan Februari, Jo mendapatkan surprise losing di babak perempat final nomor perorangan dari pemain Hongkong, Lee Cheuk Yiu yang mengalahkan Jo lewat permainan tiga gim dengan skor agak nyesek 10-21, 21-19, 21-16. Kekalahan itu terbilang nyesek karena di gim kedua, Jo sudah unggul 17-15 namun si Lee ini berhasil menyamakan kedudukan hingga balik menyalip dan memenangkan pertandingan tersebut. Sangat tragis sekali Jo ini…

Namun Jo tidak mengulang Surprise Losing itu ketika ia kembali mendapat kesempatan berjumpa dengan Lee Cheuk Yi pada pertandingan nomor beregu Suhandinata Cup 2014 antara Indonesia melawan Hongkong. Ia membalas Lee dengan skor nyesek juga, yaitu 19-21, 21-11, 22-20 dimana di gim ketiga, ia sempat tertinggal jauh 11-17, 13-18 hingga 19-20. Kemenangan ini membuktikan bahwa Jo sudah punya mental juara dimana selain fighting spirit, ia juga telah belajar untuk tidak mengulangi kesalahan pada pertemuan sebelumnya. Begitulah pebulutangkis seharusnya, pertemuan pertama boleh kalah, namun pertemuan selanjutnya harus selalu lebih baik dari yang pertama.

Dengan mixed result yang didapatkan oleh Jonatan Christie itu, kita tentu mengharapkan agar ia bisa bangkit dan dapat tampil maksimal mempertahankan gelarnya di ajang Coca Cola Astec Open X & Indonesia International Challenge 2014 itu mendatang. Dari informasi pertandingan, katanya IIC 2014 ini akan menjadi salah satu pertandingan uji coba sistem skor baru 5×11 yang merupakan sistem skor pengganti 3×21 yang telah diterapkan mulai tahun 2006. Semoga Jo bisa langsung in dalam pertandingan ya…

Merasa Tertekan

Jonatan Christie kita tahu sebagai salah satu pemain muda harapan masa depan Indonesia. Kemenangan di Indonesia International Challenge 2013 merupakan pembuktian seorang Jonatan Christie dimana usai merengkuh kemenangan itu, Jonatan berhasil membubuhkan prestasi positif seperti contohnya menjadi World Junior No #1 pada rilis ranking junior dunia oleh BWF. Ekspestasi yang luar biasa memang dapat menjadi motivasi untuk terus berprestasi. Namun di usia yang masih sangat belia, motivasi itu bisa seketika berubah menjadi tekanan saat bertanding di lapangan pertandingan.

Hal itulah yang terjadi pada Jonatan Christie. Menjadi harapan paling tinggi bagi Tim Indonesia di Asian Junior dan World Junior saat menempat posisi masing-masing unggulan kedua (dibawah Aditya Joshi dari India) dan unggulan pertama ternyata tidak serta merta membuatnya dapat dengan mudah meraih medali. Ia justru tersingkir lebih dahulu pada babak perempat final di kedua turnamen bergengsi pada level Junior tersebut.

Dalam wawancara bersama kawan jauh saya sesama badminton blogger yaitu buldoc.wordpress.com, Jo yang ditanya mengenai kekalahan di turnamen World Junior Championship itu menyebutkan bahwa saat itu, ia memang bermain dibawah tekanan karena Tim Indonesia sangat mengharapkannya untuk dapat meraih medali emas pada nomor tunggal putra ini. Berikut sedikit Petikan Wawancara yang saya kutip dari buldoc.wordpress.com :

Buldoc : Sedikit flash back lagi ke WJC yang baru saja berlangsung. Pada waktu itu, Jo terhenti di babak Perempat final oleh Lin Gui Pui (China). Pelajaran apa yang dapat Jo ambil dari kekalahan itu?

Jo : Pada waktu itu, saya bermain di bawah tekanan, selain karena saya berstatus sebagai unggulan pertama, dari tim Indonesia sendiri, saya salah satu pemain yang diandalkan untuk meraih emas. Agak terbebani juga sebetulnya, sehingga mengakibatkan permainan saya tidak lepas. Padahal, Lin Gui Pui tidak terlalu istimewa, justru menurut saya kemampuan saya sedikit lebih unggul dari dia. Namun, karena saya bermain di bawah tekanan, saya tidak bisa menampilkan permainan terbaik saya. Hal yang demikian juga saya rasakan pada perhelatan WJC tahun lalu, di mana saya sempat mengalahkan Zee Tech Ji (Malaysia) dan Sittikhom (Thailand) yang pada waktu itu berada diunggulan teratas. Namun, pada babak selanjutnya, saya justru kalah dengan lawan yang mungkin sebetulnya dapat saya kalahkan. Itu semua karena main saya tidak lepas.

jonathan-christie-badmintonindonesia

Selain membicarakan mengenai pelajaran berharga dari World Junior Championship itu, Jo juga menjawab beberapa hal menarik seperti target ke depan dari pemain yang pernah ikut serta sebagai aktor dalam film King itu serta ada sedikit ucapan dari Jo yang sangat berterima kasih pada Fansnya telah selalu mendukungnya walaupun ia sendiri mengaku belum sepenuhnya bisa diharapkan. Berikut adalah ucapan Jo dari wawancara yang dikutip dari Buldoc itu.

Buldoc : Turnamen terdekat apa yang akan diikuti? Dan apa target Jo di tahun ini?

Jo : saya belum tahu turnamen apa. Untuk Youth Olympic juga saya belum tahu. Yang pasti untuk target tahun ini, saya ingin bisa juara minimal satu kali di kelas International Challenge dan bisa juara Grand Prix atau Grand Prix Gold.

Buldoc : berbicara mengenai fans, apa arti fans menurut Jo pribadi?

Jo : Fans menurut saya bisa diibaratkan sebagai keluarga sendiri yang selalu mensupport karir saya. Tanpa fans, saya tidak akan menjadi apa-apa dan tidak bisa dikenal seperti sekarang.

Buldoc : Jo ini kan banyak sekali fansnya (sebutannya Genk Ular kata Buldoc). Sampai-sampai banyak di antara mereka yang menyebut Jo sebagai Golden Boy atau anak emas. Bagaimana respon Jo sendiri?

Jo : Saya tidak terlalu merisaukan terkait sebutan-sebutan yang diberikan fans kepada saya dan saya belum mengetahui tentang sebutan itu (anak emas), karena saat ini saya sedang mengurangi aktivitas di media sosial supaya bisa fokus latihan, memperbaiki kekurangan dan bisa berprestasi lebih baik lagi tentunya.

Buldoc : Ada say something buat para fans Jojo (Especially genk ular)?

Jo : Buat para fans, saya berterimakasih sekali telah mendukung saya walaupun saya belum bisa sepenuhnya diharapkan. Tanpa kalian, saya tidak bisa menjadi apa-apa.

Dua Gelar Sirnas Beruntun

Meski naik turun performa di kancah internasional, Jonatan Christie masih diakui sebagai salah satu pemain yang terbaik pada level nasional. Itu dibuktikannya dengan kemenangan Jo pada 2 seri turnamen Sirkuit Nasional back to back yang diikutinya di Jakarta dan Bandung pada bulan Mei silam. Kemenangan di dua Sirnas itu tentu menjadi obat luka yang manjur usai kekalahan karena tidak tampil maksimal di World Junior Championship pada bulan sebelumnya.

alamsyah-yunus-jonathan-christie-dan-rohmat-abdul-rahman-djarumbadminton

Pada Sirnas Jakarta (foto atas), Jonatan Christie sukses mengalahkan pemain yang pernah ia kalahkan pada babak Final Indonesia Internasional Challenge 2013 yaitu Alamsyah Yunus. Jika pada babak Final di turnamen yang digelar di Surabaya itu dimenangkan oleh Jonatan dua gim langsung, di Sirnas Jakarta ini ia harus lebih memeras keringat dengan bermain tiga gim melawan Alamsyah. Jo menang dengan skor 21-23, 21-12, 21-10.

Untuk Sirnas Bandung, Jonatan kali ini berjumpa dengan mantan pemain Pelatnas, Setyaldi Putra Wibowo. Sama seperti Final di Jakarta, Jonatan juga harus bermain tiga gim untuk dapat menundukkan Setyaldi. Pertandingan dimenangan Jo dengan skor 9-21, 22-20, 21-18. Dua Gelar Sirnas beruntun itu pun mendapat tanggapan positif dari Head Coach Rexy Mainaky. “Dengan menjuarai Sirnas menunjukkan bahwa Jonathan mampu turun pada turnamen bulutangkis dewasa,” Puji Rexy seperti dikutip lewat situs Indopos.com.

Rexy memang sepertinya sangat serius untuk meningkatkan potensi para pemain muda Indonesia seperti Jonatan ini. Ia bahkan sudah memberi tanggungjawab Jo yang bersama Ihsan Maulana Mustofa akan menjadi dua punggawa yang akan dibawa Tim Indonesia ke Asian Games di Incheon pada akhir tahun ini. Memang setelah tidak terpenuhinya target di ajang Piala Thomas dan Uber pada bulan Mei lalu dimana Tim Thomas tersingkir di Semifinal dan Tim Uber terhenti di Perempat Final membuat Rexy agak geram. Degradasi para pemain Pelatnas ke klubnya pada bulan kemarin dan dimasukkannya Jonatan-Ihsan ke dalam Tim Asian Games adalah buntut dari kegagalan target itu. Semoga setiap keputusan yang diambil Rexy itu memberikan dampak positif bagi Perbulutangkisan Indonesia nantinya ya.. Amin..