Terima Kasih SBY

url

Di tengah padatnya jadwal maju Dosen untuk tugas-tugas di Jurusan Teknik Sipil, kali ini duaribuan ingin sedikit berbagi kepada sahabat duaribuan mengenai pendapat penulis sendiri tentang kepemimpinan Presiden Indonesia saat ini yang akan menuju masa purnabaktinya, Susilo Bambang Yudhoyono alias Pak SBY. Sosok Presiden yang saya akui memang sangat pintar dalam mengelola pemerintahan hingga ia bisa memimpin negeri ini selama 10 tahun. Berikut ini mungkin adalah beberapa hal positif yang saya dapatkan dari seorang SBY.

Purna dengan Terhormat

Genap memerintahnya Presiden SBY ini hingga ia nanti diturunkan dengan terhormat oleh penggantinya melalui Pilpres 2014 adalah salah satu prestasi yang belum bisa dicapai oleh Presiden Indonesia sebelumnya. Presiden Soekarno diturunkan lewat Supersemar yang hingga kini masih menjadi misteri keberadaan dokumen tersebut, Presiden Soeharto yang diturunkan tragis akibat demonstrasi besar-besaran yang diturunkan oleh mahasiswa tahun 1998, lalu BJ Habibie yang memerintah kurang dari satu tahun akibat desakan untuk melaksanakan Pemilu pada 1999.

Usai Pemilu 1999, MPR akhirnya memilih KH Abdurrahman Saleh alias Gus Dur sebagai Presiden RI. Namun pada tahun 2001, beliau yang kini almarhum diturunkan oleh MPR RI akibat kasus korupsi Bulog gate dan lain-lain hingga akhirnya ia digantikan oleh Megawati Soekarnoputri yang memerintah tahun 2001 hingga 2004. Pada tahun 2004, dilaksanakan Pemilu Presiden pertama dimana ia kalah dari SBY yang akhirnya diangkat menjadi Presiden.

Meski Megawati turun dari jabatannya karena Pemilu Presiden seperti SBY nantinya, namun saya pandang turunnya Megawati ini tidak terhormat. Ia tidak menghadiri Sidang Paripurna Pelantikan Presiden pada 20 Oktober 2004, yang menunjukkan tidak adanya sikap negarawan dari seorang Megawati. Ini akan berbeda dengan SBY pada 20 Oktober mendatang, dimana saya bisa meyakini bahwa sosok SBY akan hadir pada Sidang Paripurna MPR untuk Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019 nanti, siapapun pemenangnya. Ia turun jabatan dengan terhormat.

Belajar dari Pemimpin Terkenal

Mengutip narasi dari Portal Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang berjudul SBY sang Pemimpin Kharismatik, kali ini saya ingin sedikit menceritakan bagaimana SBY ini bisa mengelola kepemimpinannya dengan sangat baik. Keberhasilan kepemimpinan tokoh-tokoh masa lalu ia serapi hingga menjadi landasan pijak SBY dalam bertingkah-berpikir-berperilaku-berbicara hingga beraktivitas. Meskipun orang-orang melihat itu sebatas pencitraan, namun citra seorang Presiden tentu sangat berpengaruh bagi rakyatnya.

Contoh saja adalah pada waktu SBY memeluk anak-anak korban Tsunami di Aceh dengan mata berlinang, maka seluruh rakyat Indonesia ikut menangis terharu dengan SBY terhadap korban tsunami tersebut. Dari situasi itu, SBY menunjukan sebagai pemimpin yang mengerti penderitaan rakyat dengan tulus, menguatkan yang terluka, menghibur yang bersedih dan harapan bagi yang asa. Nampak jelas SBY berperilaku seperti Abraham Lincoln ketika mendatangi korban perang sipil di Revolusi Amerika Serikat dan memberi harapan kepada keluarga yang ditinggal perang, “I am with you, tomorrow there is any hope, yes, tomorrow should be better, be strong”.

Ketika SBY datang ke Hotel Ambacang, waktu musibah gempa Padang, selesai SBY berpidato dan memberi statement tentang strategi penanggulangan gempa Padang, tepuk tangan menggemuruh dan riuh ditujukan kepada SBY, ini membuktikan bahwa SBY dicintai oleh rakyatnya. Kita bisa melihat persamaan kepemimpinan yang dicintai rakyatnya pada masa Soekarno menjadi Presiden RI dulu. Ada di muat di majalah Tempo, ketika Soekarno membungkuk dengan haru dan menerima persembahan rakyatnya, seorang petani tua miskin-kurus-kumal sedang memberi Soekarno pisang-kelapa-beras-ketela pohon yang dijinjing di depan istana Negara. Seorang pemimpin harus mencintai dan dicintai oleh rakyat yang dipimpinnya, keefektifan jalur perintah kepemimpinan akan lebih baik jika hubungan cinta ini ada, dan central proses cinta dan mencintai antara rakyat dan pimpinannya sangat dipengaruhi pribadi si pemimpin itu, SBY menunjukkan keberhasilan itu.

SBY tertawa dan tersenyum menawan ketika telekonferensi dengan Gubernur Sumatera Utara pada waktu peresmian Bakrie Tol. Waktu itu Gubernur Sumatera Utara banyak mengeluarkan joke-joke segar, nampaklah SBY seorang pemimpin yang berhati mulia dan tegar diantara rentetan terpaan hujatan-makian-ejekan-pelecehan yang kurang pantas dan menyakitkan bagi seorang pemimpin sekaliber beliau. Kita jadi ingat kharisma Presiden Truman, ketika memutuskan pengeboman Nagasaki dan Hiroshima dan ketika Truman berselisih dengan jendral terkenal Mc Arthur mengenai penyelesaian perang Korea. Bagaimana ia dihujat rakyatnya, karena perselisihan dengan pahlawan perang Jendral Mc Arthur, dengan tegas ia mengatakan “I am the president of United States Of America, General Mc Arthur should follow my command, no mater how, I am the lead of the united. General Mc Arthur should leave form Korea”

Ketika kasus Ambalat muncul, SBY datang ke kawasan Ambalat dengan berkacamata hitam, dengan gagah dan jiwa tegar-tegas SBY meneropong lokasi Ambalat, nampaklah SBY sebagai seorang Pemimpin Perang yang disegani, SBY meneriakkan ketegasan hatinya dan dalam sikapnya itu memberi kesan ke dunia ” INI DADAKU, MANA DADAMU, INI WILAYAH RI, JANGAN COBA-COBA GANGGU”. Ini mengingatkan kita kepada kepemimpinan Ir. Soekarno, yang menentang pembentukkan negara Malaysia oleh Penjajah Inggris “IKI DADAKU, ENDI DADAMU, GANYANG MALAYSIA”, perbedaannya adalah Pak Karno menekankan sikapnya dengan kata-kata, sedangkan SBY mengungkapkannya dengan sikap, tetapi dua-duanya mempunyai arti yang sama. “Sak dumuk bathuk, senyari bumi, rawe-rawe rantas, malang-malang putung, jangan ganggu wilayah kami”.

Pada waktu gempa Yogya, candi Prambanan terkenan goncangan hebat, sehingga banyak batu-batu candi yang berjatuhan, dengan penuh keprihatinan SBY berkunjung ke Candi Prambanan, terlihat SBY seorang Pemimpin yang menghargai budaya leluhurnya. Seorang Pemimpin yang menghargai leluhurnya adalah seorang pemimpin yang tidak angkuh dan sombong atas posisinya, kita bisa menilai bahwa SBY sadar kepempinan itu hanya sementara. Seperti halnya Candi Prambanan tetap tegar berdiri dari masa ke masa, tetapi kepemimpinan di Nusantara selalu berganti-ganti, dari Mataram Hindu, Majapahit, Kediri, Kerajaan Demak, Pajang, Mataram Islam, Pejajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Negara kesatuan Indonesia. Seperti halnya Indonesia tetap tegar walau pergantian kepemimpinan, SBY sadar itu.

urla

Pada waktu lebaran tiba SBY berkunjung ke rumah Orang tuanya, dengan menanggalkan posisinya sebagai Presiden-Seorang Jendral-Seorang Doktor Ekonomi-Seorang Pemimpin Dunia yang disegani & berpengaruh, SBY mencium lutut ibundanya dengan tulus. Pemimpin Besar yang mencintai Ibundanya, SBY bukan Malin Kundang, bukan pula kacang yang lupa kulitnya, SBY tahu diri ia berasal dari rakyat biasa, dari rahim ibunyalah itu SBY dilahirkan. Sungguh bahagialah Ibunda SBY memiliki Putra seperti SBY.

Suatu saat suhu politik Indonesia memanas, banyak kritikan dan makian yang ditujukan ke SBY, mahasiswa demo dengan melontarkan kata-kata kotor dan menyakitkan, politikus mengeluarkan statement yang keras dan pemimpin partai tidak ketinggalan menimpali ejekan-ejekan yang mengharu biru bagi pendukung SBY yang tetap sabar dan diam. Kita tahu dan semua orang tahu, bahwa pendukung SBY sudah mulai muak dan jengkel dengan segala tingkah laku yang kurang satun dan sopan tersebut, tetapi mereka diam dan percaya bahwa SBY pasti sanggub dan kuat menghadapi itu semua. Semangat pendukung SBY bersinar ketika SBY menghardik para oposisi dengan kesan “JANGAN COBA-COBA MENGGOYANG PEMERINTAHAN YANG SAH”, SBY menunjukan sebagai Pemimpin yang Perkasa tidak takut ancaman. Mengingatkan kita kepada kempemimpinan yang berani dan tegar oleh PM Inggris Tony Blair yang dengan mati-matian mendukung USA untuk menyerang Afghanistan dengan Talibannya dan Irak dengan Saddam Huseinnya. Tony Blair di keroyok di House Of Senat oleh lawan-lawan politiknya, tetapi ia tegar dan berani melawan masa yang mengrumuninya. Seorang Pemimpin harus berani dan tegas jika ia merasa apa yang telah ia lakukan benar dan sah, SBY menunjukan ketegasa dan keberanian itu.

SBY adalah seorang pemimpin yang berjiwa besar, melupakan kesalahan orang lain, dan selalu menatap masa depan dengan melupakan kesalahan orang lain terhadapnya. Dulu ia di fitnah oleh Syamsul Muarif, bahwa SBY telah menikah dengan Perempuan Thailand sebelum masuk angkatan darat, SBY memaafkannya dan malahan menjadikan Syamsul Muarif anggota Partai Demokrat. Taufik Kemas pernah mengatakan SBY seorang Jendral yang seperti anak-anak, tetapi SBY dengan pengaruhnya, mendudukan Taufik Kemas menjadi Ketua MPR, bahkan menyalaminya ketika habis berpidato setelah pelantikkan presiden. Foto-foto SBY dibakar-diinjak-injak-diberi label Hitler atau Drakula, tetapi SBY tetap tegar dan tidak bergeming, tiada kesan amarah di wajah SBY ketika mengingatkan bahwa para demonstran untuk tidak anarkis, SBY sepertinya sadar, bahwa mereka yang menghujatnya adalah anak-anaknya sendiri yang harus dibimbing.

Ketika kita baca dan renungkan semua karya seni SBY (lagu, puisi dll), kita sungguh mengerti keluhuran SBY dan kehalusan budi pekertinya, yang mana sesuatu yang langka di Indonesia saat ini. Lagu Hening ciptaan SBY yang dinyanyikan Widi (B3), mengingatkan keheningan dan kesyahduan suasana desa yang asri-tentram-amboi indahnya. Lagu Kuyakin Sampai Disana yang dinyanyika oleh Rio Febrian, menekankan bahwa SBY punya visi akan sesuatu dengan langkahnya sendiri yang diyakini benar, dan mengingatkan kita pada lagu terkenalnya My Way ciptaan Paul Anka dan dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Syair puisi karangan SBY Ketika Jiwaku Di Padang Arafah dibawakan Oleh Hapy Salma, menunjukan SBY adalah pribadi yang mencintai Tuhannya.

8 Paragraf diatas adalah kutipan dari tulisan Portal Alumni UGM yang kembali saya muat dalam blog saya ini. Dengan tulisan yang mengesankan itu membukakan mata kita betapa SBY itu pemimpin yang bisa dibilang sangat cocok untuk Indonesia saat ini. Jika dibandingkan dengan Prabowo dan Jokowi yang saat ini mencalonkan diri sebagai Presiden, elektabilitas keduanya masih kalah dari SBY.

Banyak kebijakan positif berdampak sistemik

Selama 10 tahun kebijakan pemerintahan dari SBY, banyak sekali kebijakan positif yang bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Ini tidak dapat dipungkiri. Contohnya seperti Program Beasiswa Bidikmisi, PNPM Mandiri, Konversi Minyak Tanah ke Gas, BOS, BLT, Jamkesmas dan banyak sekali program lain.

Program Bidikmisi ini bahkan sangat mengharukan ketika kita melihat cuplikan video sambutan dari mahasiswa Bidikmisi berprestasi pada acara Silaturahmi Mahasiswa Bidikmisi Nasional tahun 2013 lalu, dimana seisi ruangan bahkan sosok SBY menangis tatkala sang mahasiswa berbicara pada orang tuanya mengenai kelanjutan kuliahnya yang hanya dibalas dengan tangisan. Hingga kini, sudah ribuan mahasiswa yang mendapatkan bantuan pendidikan ini, dimana selama 8 semester menempuh perkuliahan akan dibebaskan dari biaya pendidikan, bahkan mendapatkan tunjangan dana dari pemerintah.

PNPM Mandiri tentu sudah tidak asing lagi, program dimana tiap kecamatan dianggarkan dana miliaran ini nyatanya berjalan bagus. Banyak desa-desa kini punya jalan yang sudah dicor yang memudahkan mobilitas masyarakatnya. Selain jalan, ada pula TK dan Posyandu yang saya pikir memang tidak diblow up media namun efeknya bisa dirasakan hingga masyarakat tingkat bawah. Pemimpin hebat selalu bertindak dalam diam.

Konversi Minyak Tanah ke Gas dalam perspektif anda mungkin kelihatan seperti ide dari Wapres JK pada awal masa pemerintahan mereka. Memang benar JK bisa menjadi sosok iniatornya, namun saya yakin bahwa tanpa persetujuan SBY, proyek ini pun tidak bisa berjalan dengan baik. Lanjut ke Bantuan Operasional Siswa alias BOS dimana dana yang digelontorkan pemerintah ini adalah tuntutan dari masyarakat berkaitan dengan amanah UUD 45 dimana 20% dana APBN diperuntukkan untuk pendidikan. Dari total 20% dana ini diperuntukkan untuk berbagai proyek, seperti Program Bidikmisi, BOS ini hingga BOS Buku.

Ini mungkin tak banyak diblow up namun saya yakin banyak siswa yang telah merasakan efek dari BOS dan BOS Buku. Kini mereka gratis biaya sekolah (mungkin hanya seragam atau buku tulis sendiri) serta Buku pelajaran kini sudah digratiskan pula, bahkan ada yang sampai tingkat SMA. Memang pada perjalannya dibentuk Sekolah Rintisan Internasional yang mengharuskan siswa membayar, namun polemik ini akhirnya tuntas dimana status itu akhirnya dihapuskan.

Program BLT yang merupakan dana surplus kenaikan harga BBM ini mungkin bisa dibilang pembodohan apabila tidak tepat sasaran, namun saya percaya bahwa tidak sedikit yang memang benar-benar membutuhkan dana ini. Lalu yang terakhir adalah Jamkesmas dimana saya sebagai warga masyarakat juga merasakan benar efek dari Jamkesmas ini. Biaya rumah sakit dan obat-obatan bisa lebih murah dari yang saya bayangkan.

Stabilitas Politik

Proyek-proyek yang dilaksanakan dengan baik dari nomor 3 diatas itu tidak bisa dijalankan jika kita tidak menengok dua hal pokok yang menjadi strategi utama pada Orde Baru, yaitu stabilitas politik dan ekonomi. Dan sisi-sisi buruk zaman Orba bisa dirubah SBY tetap dengan tujuan yang sama yaitu Stabilitas kedua hal itu. Jika zaman Orba stabilitas politik dilakukan dengan otoriter, dimana pendemo diatur dengan kekerasan, zaman SBY bisa dikatakan lain.

Lihat saja bagaimana kini demo-demo yang dilakukan bisa secara damai dan tidak terjadi kekerasan apalagi sampai terjadi Tragedi Mei 1998. Bahkan 1 Mei yang merupakan Hari Buruh yang biasanya tidak libur, kini ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Meski ditanggapi negatif juga, sisi positif juga dirasakan masyarakat juga. Dengan 1 Mei Libur, Buruh bisa menyuarakan aspirasi dengan baik tanpa harus meninggalkan kewajiban bekerja sementara masyarakat yang ingin melakukan aktivitas juga tidak macet karena Diliburkan.

Stabilitas politik luar negeri juga mampu diatasi dengan baik oleh SBY ini dimana tragedi Sipadan-Ligitan zaman Mega yang hendak terjadi pada Ambalat akhirnya tidak terjadi saat SBY sukses menunjukkan kekuasaannya dengan berlayar bersama Kapal Perang TNI AL pada 2005 lalu. Usai peristiwa Ambalat itu, TNI melakukan reformasi alutsista besar-besaran. Militer Indonesia yang sebelumnya berkiblat ke Blok Barat dengan pimpinan Amerika Serikat, kini berbalik ke Blok Timur dengan membeli banyak sekali senjata baru dari Rusia.

Latihan Gabungan TNI dengan tentara-tentara se Asia Pasifik di Australia beberapa tahun lalu menjadi pembuktian pada tetangga Indonesia dimana militer Indonesia sudah jauh berubah dari yang diperkirakan oleh negara tetangga. Malaysia yang dulu terang-terangan mengusik Ambalat kini terdiam, begitu pula rekan persemakmurannya yaitu Singapura dan Australia. Dengan Singapura pun, ada cerita menarik yang didapat dari Kepala Kepolisian di Kepulauan Riau saat ada nelayan Indonesia yang ditangkap oleh nelayan.

Kepala Kepolisian itu menaikkan 10 balon udara yang tinggi di perbatasan Batam dengan Singapura yang menggegerkan negeri Singa itu dimana penerbangan di Changi sangat terganggu (balon menghalangi sinyal navigasi). Karena hal ini, akhirnya Singapura menyerah dan mengembalikan dengan selamat nelayan Indonesia itu. Ingat, hanya dengan Balon, kita bisa taklukkan Singapura dengan mudah.

Kembali ke Peremajaan Alutsista yang zaman SBY ini masih termasuk dalam Peremajaan yang masuk ke dalam Program MEI 1 (Masterplan Ekonomi Indonesia), ingat masih MEI yang pertama. Dengan dasar yang kuat ini, pemerintahan selanjutnya diharapkan bisa melanjutkan MEI yang sudah ada buktinya dengan segannya negara-negara tetangga kita kepada kita saat ini. Mungkin SBY tidak secara langsung berperan dalam hal ini, namun ia adalah tokoh yang memilih orang-orang yang tepat dalam program peremajaan Alutsista ini.

Terima Kasih SBY

Uraian diatas tentu membukakan mata kita betapa SBY ini sudah sangat berjasa. Hal simpel saja yaitu kita bisa keluar dengan tenang kapan pun dan dimanapun tanpa takut akan bom seperti di Afganistan ataupun ancaman dari militer seperti Jam Malam di Thailand patut kita apresiasi. Pada era kepemimpinan SBY, faktanya Indonesia semakin baik. Terima Kasih SBY, jasamu akan selalu diingat oleh para penerima bantuan BOS, oleh orang yang menggunakan jalan hasil PNPM Mandiri, oleh orang yang menggunakan Jamkesmas hingga tukang becak yang anaknya sukses menjadi Sarjana berkat beasiswa Bidikmisi…

SBY idolaku..