Ada Jalan bagi Yang mau berjuang

20130811_1559_worldchampionships_2013__rap8942

Sejarah banyak tercatat di Final Kejuaraan Dunia dua hari yang lalu. Dari sekian banyak sejarah yang terjadi di 5 Final yang dipertandingan, kemenangan Ratchanok Intanon mungkin menjadi yang paling fenomenal. Di usia yang baru 18 tahun, ia sukses menjadi Orang Thailand pertama yang berhasil menyabet gelar Juara Dunia. Dengan modal tekat perjuangan itu lah, Intanon sukses untuk meraih titel idaman para pemain dunia itu.

Inthanon yang hanya seorang anak dari buruh itu akhirnya menjadi inspirasi bagi semua anak-anak di seluruh dunia, bahwa mimpi itu bukan cuma sekedar dibayangkan. Mimpi itu butuh perjuangan untuk dikonversi menjadi kenyataan. Inthanon sudah membuktikannya. Mimpi masa kecilnya semenjak menekuni dunia bulutangkis akhirnya tercapai dengan kemenangannya di ajang Kejuaraan Dunia.

Tak hanya menjadi inspirasi anak-anak, Kisah mengesankan dari Inthanon itu juga turut menginspirasi salah satu orang berbakat Indonesia, yaitu Tere Liye. Penulis Novel Bestseller “Hafalan Surat Delisa” itu langsung membuat karya tulisan mengenai kemenangan Inthanon. Ia menulis dalam beberapa bait tulisannya kemarin bahwa keberhasilan Inthanon menjadi Juara Dunia Bulutangkis ini layaknya cerita Dongeng.

Memberi judul “Dongeng Badminton”, berikut adalah tulisan dari Tere Liye mengenai keberhasilan Inthanon meraih gelar Juara Dunia. Kata-kata terakhir dari Tere Liye itu paling so sweet. Ia menulisan “Selalu ada Jalan bagi yang mau berjuang”.

DONGENG BADMINTON

Namanya Ratchanok Inthanon, bukan orang Indonesia memang, orang Thailand. Orang tuanya adalah pekerja pabrik. Saat dia usia 4-5 tahun dia sering ikut orang tuanya bekerja di pabrik, di dekat tungku panas. Pemilik pabrik amat cemas melihat anak perempuan kecil ini berlarian di sekitar tungku, sedikit saja meleng, si kecil ini bisa terbakar. Maka disuruhlah di sikecil bermain di lapangan badminton milik pabrik.

Namanya Ratchanok Inthanon, usianya sekarang adalah 18 tahun, masih muda sekali. Tapi dengan usia yang sangat muda itu, dialah pemegang rekor juara dunia paling muda. Kemarin, 11 Agustus 2013, dia menaklukkan Li Xuerui, pemain nomor satu dunia badminton, pemegang 13 gelar, termasuk medali emas Olimpiade 2012. Dan yang sangat menakjubkan, Ratchanok Inthanon, mengalahkan Li Xuerui di tanah China, Guangzhou, tempat paling sulit bagi pemain bulutangkis manapun mengalahkan dominasi mereka sejak Susi Susanti pensiun….

Tidak banyak yang menonton pertandingan final single putri ini yang berakhir 22-20, 18-21, 21-14. Di Indonesia sendiri, kita bersuka cita karena dua pasangan kita juga juara di ganda campuran (Tantowi/Lilyana) dan ganda putra (Ahsan/Hendra). Tapi sejarah akan mencatat nama Ratchanok Inthanon.

Perjuangannya di olahraga badminton bagai dongeng saja. Masih beberapa tahun lalu dia sebagai pemain junior, dari negeri yang tidak pernah top bulu tangkisnya, Thailand, tapi hari ini, jika dia konsisten, inilah calon penguasa single putri masa depan. Usianya masih muda sekali, dia bisa berkembang lebih hebat.

Sebagai penutup, kedua orang tuanya sudah tidak bekerja lagi di pabrik, Ratchanok Inthanon sudah bisa menjadi tulang punggung keluarga. Selalu saja ada jalan keluar bagi orang2 yang mau berjuang.

969420_662930830384775_813976844_n

BRcAESRCMAAdNdZ

BRb-4CbCEAEzMu-

BRb_4ttCIAAl8XG