Pia tak ingin Setengah Hati

pia_1

Menjelang keberangkatannya untuk mengikuti Kejuaraan Dunia di Guangzhou, Pebulutangkis ganda putri Pia Zebadiah Bernadet melakoni sesi pemotretan dan wawancara bersama situs media online Fimela. Jumat lalu, duaribuan telah membongkar foto-foto Pia yang tampil beda saat difoto Fimela. Kali ini, duaribuan mau membeberkan pernyataan Pia saat diwawancara oleh Fimela itu. Di salah satu baris pernyataannya, ia mengungkapkan alasan mengenai keluarnya ia dari Cipayung.

Pia mengungkapkan bahwa ia keluar dari Pelatnas Cipayung pada akhir tahun 2011 itu (saat masa Kualifikasi Olimpiade) karena memang memiliki masalah yang cukup berat dengan PBSI dan sang partner, Fran Kurniawan. Menurutnya, keputusan keluar dari Cipayung itu akan lebih baik daripada tetap bertahan namun menjalani dengan setengah hati (kelihatan sakit hati banget itu Pia).

Untuk selengkapnya, berikut adalah kutipan pernyataan Pia yang duaribuan kutip dari situs media online Fimela.

Menjadi atlet itu harus tangguh, apalagi di Indonesia. Bukan bermaksud menjelekkan negara saya sendiri, tapi ketika saya cedera lutut dan harus dirawat secara serius, saya nggak mendapat perhatian yang semestinya. Ketika menghadapi masalah di tubuh organisasi, saya juga diharuskan untuk membuat keputusan tegas akan karier saya. Mau bertahan di bawah naungan tapi makan hati, atau mulai dari awal lagi tapi bisa puas menjalani profesi ini. Akhirnya, pilihan kedua yang saya pilih. Kini saya bergerak secara swadaya, tidak lagi di bawah PBSI dan ternyata itu lebih menyenangkan. Di setiap pekerjaan pasti ada risiko, atlet pun begitu.”

Menjadi atlet memang terasa heroiknya, apalagi kalau berhasil menang di luar negeri. Berhasil mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di negara orang, rasanya nggak terbayangkan. Atas nama cinta negara juga, saya mundur dari keikutsertaan saya di Olimpiade tahun ini karena punya masalah dengan PBSI dan partner saya. Buat apa saya tetap berangkat kalau nggak bisa menyumbangkan apa-apa karena berangkat setengah hati? Keputusan ini juga yang mendasari saya untuk keluar dari Pelatnas dan bergerak secara independen. Di lingkup kecil, profesi yang saya tekuni ini bisa membahagiakan orang tua. Rumah dan mobil, adalah bentuk materi yang bisa saya persembahkan untuk membuat keadaan keluarga saya menjadi lebih baik.”

atlet

Setelah Atlet, Mau Jadi Apa?

Kalau di bulu tangkis, kami yang berprestasi, terutama pernah meraih medali emas di pertandingan bergengsi, diberikan karier menjadi Pegawai Negeri Sipil bila sudah nggak aktif lagi bertanding. Buat saya itu menenangkan, karena hidup kami nggak akan berhenti begitu saja kalau saatnya gantung raket. Untuk saya sendiri, bulu tangkis sudah sangat mendarah daging, jadi bisa juga saya tetap berkarier di bidang ini.

Gaya Hidup Atlet?

Atlet juga manusia, kan, jadi pasti masih punya keinginan untuk lari dari peraturan. Hanya saja, sehari-hari kami terlalu berfokus pada latihan dan peraturan, sehingga sering tidak terpikir untuk jajan atau mencoba gaya hidup seperti orang lainnya. Tapi, saya tetap mau menikmati hidup, dengan sesekali makan di pinggir jalan atau keluar dari rutinitas biasanya. Saya nggak ingin menyesal kalau nanti saya sudah tua tapi belum merasakan apa-apa di hidup ini. Makanya, makan nasi uduk di pinggir jalan, ayo saja untuk saya.