Isi Liburan dengan Pengajian

icuk_tomi_sugiarto_dan_rio_revan-20110915-016-budi

Usai menjuarai kejuaraan Singapore Open Superseries 2013 pekan lalu, pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto (foto atas) mendapatkan jatah liburan 2 hari dari Pelatnas. Mengisi 2 hari libur itu, Tommy beserta keluarganya melakukan acara pengajian “nifsu sya’ban” di kediamannya. Selain untuk memperingati Hari Nifsu Sya’ban (Hari diangkatnya Rapor Kehidupan kita selama setahun), acara ini juga digelar sekaligus sebagai kegiatan syukuran atas kemenangannya di Singapura.

Acara pengajian ini memang acara yang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh keluarga Sugiarto. Mereka mengundang anak-anak yatim piatu ke kediamannya. “Di sini kami kumpul dengan anak-anak yatim piatu. Jelang puasa, kami selalu bikin nifsu sya’ban. Kebetulan baru datang, jadi sekalian saja. Ini bukan cara khusus. Tiap tahun kami selalu bikin acara ini jelang Ramadhan,” begitu ungkap Tommy dikutip dari Sportiplus.

Mengenai kemenangan sang anak ini, Icuk yang merupakan Ayah dari Tommy mengungkapkan bahwa usai menjuarai gelar ini, Tommy tidak boleh lengah. Ia harus tetap waspada dan jangan tertekan ke depannya. “Tommy boleh gembira dan bahagia, tapi tetap harus waspada. Cuma, sekali lagi, jangan pula ia sampai merasa tertekan,” tegas mantan pemain nasional yang pernah menjadi Juara dunia di tahun 1983 itu.

“Banyak lagi ujian yang akan dihadapinya nanti. Cuma, begitu ia bisa melewati, dengan sendirinya bakal lebih baik. Setidaknya, melangkah ke lapangan jadi lebih ringan. Semua pemain juga begitu,” tutup Icuk seperti dikutip dari Sportiplus. Selain diwawancara oleh Sportiplus, Tommy juga secara ekslusif diwawancara oleh Broto Happy, wartawan senior BOLA.

Dalam wawancara dengan Broto Happy itu, hal menarik yang keluar dari mulut Tommy menurut saya adalah kesiapannya untuk menggantikan Sony dan Simon menjadi andalan tunggal putra Indonesia. Para pemain muda termasuk dirinya memang sudah saatnya diberi tanggung jawab untuk mengemban regenerasi Simon dan Sony. Berikut adalah kutipan wawancara Broto Happy dengan Tommy Sugiarto yang dikutip dari Harian Bola kemarin.

Apa arti kemenangan di Singapura ini?

Gelar ini yang pertama di level ‘super series’. Sebuah awal dari perjalanan yang masih panjang. Juara di tunggal putra diharapkan bisa menyaingi di nomor ganda campuran dan ganda putra.

Apakah artinya level Tommy sudah naik kelas?

Untuk kejuaraan di bawah ‘super series’ tergantung pelatih, apakah saya masih diturunkan lagi atau tidak. Dengan gelar ini, inginnya ‘sih’ saya dapat konsisten terus. Saya akan coba menaikkan kualitas permainan. Latihan juga harus ditingkatkan lebih keras.

Mengapa dengan luka di telapak kaki begitu ngotot untuk menang dan juara?

Saat melawan Nguyen Tien Minh, telapak kaki saya memang sudah sobek. Habis main terasa perih, tapi pas di final saya tidak memikirkan sakit itu, fokus ke permainan. Ketika itu yang ada di pikiran saya adalah sebuah kesempatan untuk juara. Peluang ini nggak akan disia-siakan.

Siapa lawan yang paling berat?

Semua berat bagi saya dan saya tetap waspada, apalagi kalau Lin Dan dan Lee Chong Wei datang. Kalau mau menjadi pemain terbaik dunia, saya harus mengalahkan pemain dunia seperti Lin Dan dan Lee Chong Wei.

Para pemain bintang seperti Lee Chong Wei tidak datang. Apakah mengurangi makna kemenangan ini?

‘Super series’ ini bagi saya sebagai tolok ukur saja. Masih banyak pemain kelas dunia yang hadir di Singapura. Hanya Lee Chong Wei dan Chen Long yang tidak hadir. Selain itu semua pemain dunia banyak yang hadir. Makanya, siapa pun yang ada di turnamen itu, saya ingin menunjukkan bahwa saya lebih baik.

Setelah menang di Singapura, tentu kepercayaan diri semakin meningkat?

Sebenarnya saya terlalu cepat untuk dapat gelar juara di Singapura setelah balik lagi ke pelatnas. Ternyata kerja keras selama ini membuahkan hasil.

Apa lagi yang dirasa masih kurang?

Kekuatan ‘smash’ masih harus ditambah. Jangan terlalu banyak bertahan. Harus berani lagi mulai menyerang.

Target setelah ini?

Ingin juara di kejuaraan sekelas ‘super series’ lain. Tidak hanya kali ini, tapi di turnamen kelas ‘super series’ berikut, bahkan Kejuaraan Dunia. Semua ini bisa memacu sektor tunggal putra Pelatnas Cipayung untuk meraih prestasi di ajang berikut.

Siap menggantikan pemain senior : Sony dan Simon yang sering cedera?

Saya pikir harus siap. Sudah saatnya tunggal putra berbicara. Bukan untuk saya saja, tapi juga yang lain agar dapat berbicara. Bila diberikan kepercayaan, hal itu menjadi tanggung jawab saya.