Satu demi Satu

tomy f so13 5a

“Satu demi satu Tom,” begitu sayup-sayup terdengar instruksi pelatih tunggal putra, Joko Supriyanto pada anak didiknya, Tommy Sugiarto dalam laga Semifinal kejuaraan Singapore Open Superseries 2013 menghadapi Nguyen Tien Minh pada Hari Sabtu kemarin. Kalimat ‘Satu demi satu’ yang dikeluarkan Mantan Juara Dunia tahun 1993 itu ternyata benar-benar ampuh membuat Tommy yang kalah 20-22 di gim pertama dan tertinggal 7-11 di gim kedua berhasil bangkit dan menang 21-19 dan 21-15 untuk menghantarkannya ke Final.

Tak hanya di Semifinal, kalimat ampuh Joko itu juga membuat Tommy yang tertinggal 5-11 di gim pembuka pada partai Final melawan Boonsak Ponsana siang tadi perlahan-lahan bisa menyamakan kedudukan menjadi 12-12. Begitu magisnya kalimat Joko itu mengena di hati Tommy dan anak didik Joko lainnya. Tunggal putra yang sempat terpuruk karena kembali cederanya Sony dan makin tidak stabilnya kondisi Simon akhirnya mendapatkan pengganti yang sepadan, yaitu Tommy Sugiarto yang tadi baru saja menjuarai turnamen Singapore Open 2013. Setelah meraih gelar ini, Tommy dipastikan akan menembus peringkat 10 besar dunia.

Tommy menjadi tunggal putra Indonesia keempat yang meraih gelar Superseries setelah Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat dan Simon Santoso. Sony meraih gelar Juara Superseries di Indonesia Open 2008, Japan Open 2008, China Masters 2008 dan Singapore Open 2010. Taufik Hidayat meraih gelar Juara Superseries di French Open 2010 dan Simon Santoso meraihnya di Denmark Open 2009 dan Indonesia Open 2012.

Tak hanya ucapan ‘satu demi satu’ itu yang menjadi kalimat yang mutakhir bagi Joko ketika memberi arahan pada anak didiknya. Ucapan Joko lain yang sempat membekas di hati pemain adalah ucapan ‘Kenapa harus kalah?’. Lengkapnya ada pada status Wisnu Yuli Prasetyo pada bulan Maret lalu. “Kalah juga rasanya gitu-gitu aja, jadi kenapa harus takut kalah, yang penting berani dulu,” begitu petikan ucapan Joko yang dibuat status oleh Wisnu (Flasback yuk di https://duaribuan.wordpress.com/2013/03/17/kenapa-harus-takut-kalah/). Mungkin karena kalimat motivasi hebat itu, Wisnu belakangan berhasil mencatatkan hasil yang memuaskan, seperti mencapai Semifinal di Thailand Open 2013 lalu.

Semoga dengan hadirnya Joko Supriyanto di Pelatnas, Indonesia bisa kembali memiliki Juara Olimpiade dan Juara Dunia lagi di tunggal putra setelah terakhir kali Indonesia meraihnya lewat Taufik Hidayat di Olimpiade Athena pada tahun 2004 dan Kejuaraan Dunia Atlanta pada tahun 2005.