I’m comeback!

53UN%20guru-ist

Setelah satu bulan rehat ngeblog karena persiapan menghadapi Ujian Nasional pada 15-18 April lalu, hari ini duaribuan kembali untuk mengabarkan berita-berita bulutangkis kepada anda para pembaca duaribuan. Tapi pada kesempatan pertama comeback kali ini duaribuan mau cerita dulu soal pengalaman menjalani UN tingkat SMA kemarin, terutama berbagai modus kecurangan yang dilakukan dalam proses Ujian Nasional berdasarkan pengalaman saya kemarin.

Sebelum kita menuju Modus Kecurangan UN itu, ada baiknya kita membahas mengenai kasus yang beberapa waktu santer diperbincangkan, dimana Ujian Nasional tahun 2013 ini disebut-sebut sebagai penyelenggaraan ujian terburuk dalam sejarah pendidikan di Indonesia karena untuk kali pertama, penyelenggaraan UN di Indonesia tidak serentak, dimana di 11 Provinsi, UN baru digelar 18 April. Menurut berita waktu itu, Penundaan UN di 11 Provinsi itu dikarenakan Percetakan yang ditunjuk oleh Kemendikbud, PT Ghalia tidak bisa mendistribusikan soal ke 11 Provinsi yang menjadi wilayah distribusinya.

Dampak dari Penundaan itu tentu menyulut amarah berbagai pihak, terutama dari siswa peserta UN itu sendiri karena akibat penundaan itu membuat psikis siswa ‘down’ yang pada akhirnya bisa berpengaruh terhadap hasil UN yang akan diumumkan 24 Mei mendatang. Selain dari pihak siswa, amarah juga datang dari Solidaritas Guru yang kembali mengecam adanya pelaksanaan UN. Kata mereka, beberapa tahun yang lalu Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan Kasasi bahwa UN harus dihapuskan (bener apa gak?), tetapi Pemerintah hingga tahun ini tidak menaati putusan itu, yang artinya Kemendikbud telah melanggar Hukum. Masuk penjara semua gih!!

Bagi saya sendiri, lanjutkan saja UN biar adik-adik kelas saya juga memiliki pengalaman mengikuti UN seperti yang telah saya rasakan. Jujur ini curhat, Hari pertama itu saya nerfous luar biasa dengan pelajaran Bahasa Indonesia dimana nyaris semua pilihan jawaban itu mirip-mirip dan ketika keluar dari Ruang Ujian, hati saya tidak tenang. Tapi semoga deh saya Lulus UN dengan NEM tinggi, doakan ya teman-teman!

Modus kecurangan UN

un-curang

Tahun ini UN memang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain tidak serentak, UN kali ini juga menerapkan sistem 20 paket soal, dimana setiap siswa mendapatan paket soal berbeda dan hal ini memang terbukti. Di hari pertama ketika saya pertama kali mendapatkan soal, saya mencoba mencocokan dengan teman di depan saya (saya juga masih curang… hehehe). Hasilnya, ternyata hanya 2-3 soal saja yang sama, dan selebihnya berbeda. Fantastis! Kegugupan seketika menyergap saya kala itu!

Tetapi perbedaan paket soal itu tidak menurunkan minat siswa untuk berbuat curang karena UN adalah ujian Hidup Mati bagi siswa (Jika tidak lulus, Malu Seumur Hidup!). Beberapa hari sebelum pelaksaan Ujian, mereka membeli kunci jawaban dari beberapa calo yang telah menghubungi mereka. Hasilnya, di Hari H beredarlah kunci jawaban UN tersebut. Saya sempat terhasut untuk membawa kunci jawaban itu ke Ruang Ujian, namun pada akhirnya tidak jadi karena saya terlalu takut untuk melakukan hal itu (Ketangkep bisa berabe).

Kunci Jawaban UN 20 Paket itu memang cukup ribet karena anda harus menyocokkan kunci jawaban itu dengan soal yang anda terima (Seperti yang dijelaskan seorang siswa di Metro TV beberapa pekan yang lalu). Dalam kunci 20 paket itu, pasti ada beberapa paket soal yang tidak ada kuncinya dan jika ada siswa tidak mendapatkan kunci itu, mereka meminta penggantian soal UN itu dengan soal Cadangan. Penggantian Soal UN itu dilakukan siswa dengan hal yang ekstrem, yakni menyembunyikan salah satu lembaran soal UN atau menyobek lembar jawaban UN tersebut. Kecuragan yang sangat Wah!

Tak Hanya siswa

Kecurangan UN ternyata tidak hanya dilakukan oleh siswa. Sekolah hingga Pemerintah Daerah juga sering melakukan kecurangan berkaitan dengan UN. Untuk anda ketahui, ternyata banyak sekali sekolah yang mengkoordinir siswanya dalam pembelian kunci jawaban UN. Hal ini diharapkan membuat nilai rata-rata UN sekolah tersebut tinggi, sehingga sekolah itu nanti bisa mendapet penghargaan. Hehehe…

Pemerintah daerah juga punya kepentingan soal pelaksanaan UN, dimana daerah yang akan memiliki tingkat kelulusan yang tinggi tentu lebih bergengsi dibanding daerah yang tingkat kelulusan siswanya rendah (daerah tertinggal – red). Ini lah yang membuat banyak pemerintah daerah melakukan kecurangan. Namun, kecurangan yang dilakukan oleh Pemda kebanyakan tidak berkaitan dengan Kunci Jawaban.

Sebelum UN, Pemda melakukan konsolidasi (Musyawarah) tingkat daerah, dimana dalam rapat tersebut, ada instruksi dimana Pengawasan UN itu diperlonggar sehingga siswa boleh berbuat curang. Mohon Maaf ya buat Pemda jangan tersinggung ketika saya membuat tulisan ini. Saya hanya ingin berkata jujur. Sekali lagi minta Maaf!

Cukup itu saja deh curhatannya, saya sudah banyak berbuat dosa dengan membeberkan aib kecurangan banyak orang. Kalo ada salah, saya mohon maaf lagi ya. Teman-teman BL tolong doakan Seluruh Siswa Peserta UN 2013 ini terutama saya Lulus UN dengan NEM yang tinggi ya. Jika sukses, saya akan memberikan sesuatu buat Bulutangkis yang kita sayangi ini. Terima kasih atas doanya!