Ada apa dengan Mark Alcala?

image

duaribuan – Disaat para penonton televisi waswas menyaksikan pertandingan Muhammad Rijal-Debby Susanto kontra Chan Peng Soon-Goh Liu Ying di lapangan 1 (TV Court), justru para perhatian penonton DBL Arena terutama kaum hawa tertuju di lapangan 2 dimana dimainkan nomor tunggal putra antara Filipina yang diwakili oleh Mark Alcala dengan andalan Vietnam, Nguyen Hoang Ham. Di partai itu, sempat terjadi kecelakaan yang membuat perhatian penonton tertuju kesana, dimana Mark Alcala terjatuh di lapangan dan secara tidak sengaja raketnya mengenai alat vitalnya.

Kabar ini didapat dari akun twitter @McXoem yang membuat tweet, “Awkward momen today on #AxiataCup Mark S Alcala (PHI),nahan sakit, jatuh, tititnya nindes raket.” Setelah terjatuh, Mark pun mengerang kesakitan di pinggir lapangan sambil memegangi alat vitalnya. Sontak seluruh isi DBL Arena tertawa menyaksikan tingkah Mark (mungkin ini yang nyebabin Rijal-Debby kalah, gak diperhatiin sih). Kecelakaan yang menimpa alat vitalnya ini bisa saja mempengaruhi masa depannya, apalagi Mark ini bisa dibilang masih terlalu muda karena usianya baru 13 tahun (lahir 19 Juni 1999).

Meskipun mengalami kecelakaan, Brondong manis bergigi gingsul ini masih bisa meneruskan pertandingan, bahkan ia memenangkan partai itu dua gim langsung, 21-17, 24-22. Kemenangan Mark ini adalah satu-satunya kemenangan yang diraih oleh Filipina dalam laga melawan Vietnam, karena di tiga partai lainnya (Tunggal Putri, Ganda Putra dan Ganda Campuran), rekan-rekan Mark gagal menyumbang poin. Filipina kini duduk di juru kunci klasemen Axiata Cup 2013 karena belum sealipun meraih satu kemenangan dari 3 laga yang telah dilakoni.

Mark bisa dibilang pemain potensial dan menjadi harapan masa depan Filipina karena di usianya yang masih sangat muda sekarang (13 tahun), ia sudah pernah menjuarai turnamen internasional berkelas junior dibawah usia 17 tahun di Swiss tahun lalu. Seperti kata pepatah, yakni buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bakat bulutangkis Mark ini juga tidak jauh dari bakat orang tuanya. Ayah Mark, Malvin Alcala adalah mantan pemain nasional Filipina yang kini menjadi pelatih di Timnas Filipina.

506c22e77dfeb

Selain kepada Mark, bakat Malvin juga diturunkan kepada anak perempuannya (kakak Mark), yakni Malvinne Ann Venice Alcala yang juga masih berusia muda, 17 tahun (foto kanan). Malvinne kini bermain di timnas Filipina pada nomor tunggal putri dan pada gelaran Axiata kali ini, ia juga turut diboyong ke Surabaya. Sayangnya, Di pertandingan kemarin melawan Vu Thi Rang dari Vietnam, Malvinne kalah dua gim langsung, 15-21, 17-21.

Mengulas pertandingan kemarin, Tim Filipina sebenarnya sempat memberikan perlawanan yang cukup sengit atas Tim Vietnam di nomor ganda. Paul Vivas-Peter Magnaye yang diturunkan Filipina di nomor ganda putra berhasil memenangkan gim pertama 21-18 sebelum dibalas Duong Bao Duc-Nguyen Hoag Nam di dua gim selanjutnya dengan skor yang cukup telak, 21-9, 21-15. Di nomor ganda campuran, Vietnam yang menurunkan pasangan Carlos Duong Bao Duc-Thai Thi Hong memang bermain lebih baik dibanding pasangan Filipina, Philip Escueta-Bianca sehingga mereka menang 21-18, 21-4.

Tak pasang target

Di ajang Axiata Cup 2013, Filipina memang turun dengan skuad yang berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu Negara yang terkenal dengan Basketnya itu merekrut Mathias Boe dan Marc Zwiebler dalam skuadnya, tahun ini mereka benar-benar datang dengan pemain dalam Timnas mereka sendiri. Dengan fakta seperti itu, pelatih timnas Filipina, Malvin Alcala mengatakan bahwa tahun ini, Filipina memang tidak pasang target apapun di gelaran Axiata Cup.

‘’Kami memang tak pasang target di Axiata Cup 2013 ini. Tak jadi juru kunci pada babak grup nanti sudah bagus,’’ kata Malvin yang diwawancara di DBL Arena. Dia menyadari kekuatan negaranya masih paling bawah di antara semua kontestan dalam turnamen yang memperebutkan hadiah total 1 juta dollar itu.

image

Tapi bagi Malvin, kedatangan Filipina ke Surabaya tentu tidak sia-sia, karena dengan berpartisipasi di turnamen ini, para pemain di Skuad mereka akan mendapatkan pengalaman berharga dengan bertanding dengan para pemain hebat, terutama di Asia Tenggara. Apalagi seperti kita tahu, nyaris semua skuad yang dibawa Filipina ke Surabaya adalah para gadis dan brondong, contohnya Mark Alcala (foto atas).

Filipina kini memang sedang mencoba mengejar ketertinggalan prestasi bulutangkis dari negara tetangganya di kancah Asia Tenggara. Langkah nyata yang pertama kali mereka dilakukan adalah merekrut Rexy Mainaky sebagai kepala pelatih di Timnas Filipina tahun lalu. Namun, setelah beberapa bulan bergabung di Manila, Rexy akhirnya memilih pulang untuk memenuhi permintaan dari Gita Wirjawan memperbaiki bulutangkis Indonesia. Meski ditinggal pergi, selama beberapa bulan itu Rexy berhasil menelurkan ide dan program yang cukup cemerlang, diantaranya pengadaan sponsor tim, dimana saat ini Filipina disponsori oleh Victor.

Dalam kesempatan yang sama, Malvin menuturkan bahwa saat ini Filipina memiliki harapan agar menjadi kekuatan seperti Thailand yang sukses dengan para pemain mudanya. “Kami ingin meniru jejak Thailand yang prestasinya kini mulai diperhitungkan di dunia. Hanya saja, kami menyadari untuk mencapai tingkat itu kami butuh proses,” tutup Malvin.

duaribuan