All England Semifinal Review

20130309-1633-CN2Q4362-672x489

Di akhir karir bulutangkisnya, Tine Baun (foto atas) membuat kejutan dengan melanggang ke babak Final kejuaraan All England 2013. Pada babak Semifinal yang berlangsung malam tadi, Tine berhasil mengalahkan pebulutangkis Korea Selatan, Sung Ji Hyun dalam pertarungan selama 1 jam 16 menit yang berakhir dengan skor 24-22, 19-21, 21-19.

Tine menampilkan permainan luar biasa melawan pemain berperingkat 5 dunia itu. Di gim pertama, Tine mengamankan 5 game point dari kedudukan tertinggal 15-20 untuk menutup kemenangan 24-22. Di gim kedua, Tine sebenarnya punya kesempatan untuk mengakhiri pertandingan lebih cepat ketika ia unggul 19-17. Sayangnya, Sung berhasil meraih 4 poin beruntun untuk memaksakan rubber game.

Di awal gim ketiga, Tine nampak down. Namun perlahan, Juara Eropa itu berhasil meraih poin demi poin hingga menutup kemenangan 21-19 untuk kembali menginjakkan kaki di Final All England keempatnya. “Ini adalah pengalaman luar biasa dan saya tidak menyangka ini bisa terjadi,” ungkap Tine yang tak bisa menutupi kebahagiaannya.

Sementara itu, Ji Hyun yang ditemui di kesempatan berbeda mengaku cukup kelelahan di akhir pertandingan hingga akhirnya ia kalah. “Ketika kedudukan one game all, sebenarnya saya punya kesempatan untuk memenangkan pertandingan. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai lelah. Pertandingan berlangsung lebih dari satu jam dan di akhir pertandingan saya benar-benar kehabisan energi,” tutur Sung yang lebih muda 12 tahun dari Tine.

20130309-1413-CN2Q3767-570x492

Di babak Final yang akan disiarkan oleh MNC Sport mulai pukul 19.00 WIB malam nanti, Tine Baun akan bentrok dengan pebulutangkis muda Thailand, Ratchanok Intanon yang di babak semifinal lain menyingkirkan unggulan kedua, Saina Nehwal (foto atas) dua gim langsung, 21-15, 21-19. “Saya pikir mungkin Saina cedera (lihat lutut kanan Saina – seperti MKY), dia bermain lambat. Ini akan jauh lebih ketat jika ia bergerak lebih cepat,” tutur Intanon usai pertandingan.

Kemenangan pemain Thailand yang baru berusia 18 tahun itu sekaligus membuatnya mencatatkan sejarah sebagai tunggal putri Thailand pertama yang menginjakkan kaki di Final All England. Ketika ditanya media apakah melajunya ia ke partai Final All England kali ini adalah impian yang jadi kenyataan (dream’s come true), Intanon menjawab bukan. “Impian akan menjadi kenyataan apabila saya berhasil menang di babak Final besok,” tutup Intanon.

Juara bertahan kembali ke Final

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berpeluang mempertahankan gelar Juara yang diraihnya tahun lalu setelah kembali menginjakkan kaki di partai Final All England 2013. Di babak Semifinal malam tadi, unggulan kedua ini sukes mengalahkan pasangan kakak beradik, Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet lewat pertarungan tiga gim, 18-21, 21-15, 21-19.

butet cs h5 all6a

Pertandingan sempat berlangsung menegangkan, dimana setelah kalah 18-21 di gim pertama, Owi dan Butet tertinggal jauh 8-14 pada gim kedua. Untung saja mereka bisa bermain tenang dengan meraih beberapa poin beruntun untuk mengamankan gim kedua 21-15. “Ini adalah pertandingan yang menegangkan, kami banyak tertekan dan panik,” ujar Butet dikutip dari Badminton Indonesia.

Di gim ketiga, pertandingan juga berlangsung makin seru karena kejar-mengejar angka terus terjadi meskipun pada akhirnya, Owi dan Butet bisa menang 21-19. “Pada gim ketiga juga sempat ramai, tapi kami tetap fokus dan yakin karena kami sudah memimpin. Kami juga terus menjaga kepercayaan diri kami dan akhirnya bisa menang,” tambah pemain kelahiran Manado itu.

Di babak Final malam nanti, Owi dan Butet akan berjumpa dengan musuh bebuyutan mereka, Zhang Nan-Zhao Yunlei yang mengalahkan wakil Indonesia lainnya, Muhammad Rijal-Debby Susanto di babak semifinal lain dalam pertarungan dua gim langsung, 21-17, 21-16. Meskipun kalah, Rijal mengaku cukup puas dengan penampilannya kali ini. “Walau hari ini kalah lagi, tapi penampilan kami ada kemajuan. Biasanya kami selalu tertinggal jauh. Kali ini kami sering dapat celah dan kesempatan untuk menembus mereka, sayang finishing nya kurang baik, kami harus lebih matang lagi” kata Rijal dikutip dari Badminton Indonesia.

31684_123568711003134_7421212_n

Menghadapi Zhang-Zhao malam nanti, Butet mengaku akan bermain lebih fokus lagi. “Untuk pertandingan selanjutnya, kami harus lebih fokus lagi. Semoga kami bisa tampil lebih baik di final besok dan bisa mempertahankan gelar juara,” tutur Butet yang ditemui di National Indoor Arena. Selain Misi mempertahankan gelar Juara, Butet juga punya dendam lain dari pasangan China ini di All England. Pada tahun 2010 lalu, Liliyana yang masih berpasangan dengan Nova Widianto sempat melaju ke partai Final All England, namun mereka dikalahkan oleh pasangan Zhang Nan-Zhao Yunlei, padahal pasangan China itu mengawali turnamen dari babak kualifikasi (foto atas).

Final lain Zhao Yunlei

Selain di nomor ganda campuran, Zhao Yunlei juga menginjakkan kaki di final nomor ganda putri. Berpasangan dengan Cheng Shu, mereka berhasil mengalahkan rekan senegaranya, Ma Jin dan Tang Jinhua di babak Semifinal malam tadi lewat pertarungan dua gim langsung, 21-18, 21-7. Kekalahan ini membuat Ma Jin mencatatkan hasil buruk dalam turnamen All England tahun ini setelah di nomor ganda campuran, Ma Jin yang berpasangan dengan Xu Chen lengser di babak Perempat final oleh pasangan Indonesia, Muhammad Rijal-Debby Susanto.

20130309-1233-cn2q3429

Di partai Final nanti malam, Zhao Yunlei dan Cheng Shu akan bentrok dengan unggulan teratas, Wang Xiaoli dan Yu Yang (foto atas) yang mengalahkan wakil Jepang, Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna di babak Semifinal lain dalam pertarungan dua gim langsung, 21-11, 21-16.

Chen Long berjumpa Lee Chong Wei

Final ideal terjadi di nomor tunggal putra, dimana favorit juara asal Malaysia, Lee Chong Wei akan berjumpa dengan unggulan kedua asal China, Chen Long. Lee berhasil menginjakkan kaki di Final usai mengalahkan wakil Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk dua gim langsung, 22-20, 21-8, sementara Chen Long mengalahkan wakil Denmark, Jan O Jorgensen juga lewat duel dua gim saja, 21-19, 22-20.

“Saya datang ke lapangan sedikit gugup karena saya tahu dia bermain sangat baik,” tutur Chong Wei mengomentari set pertama yang berlangsung ketat dimana ia sempat tertinggal 18-19, namun akhirnya Finalis tahun lalu itu menang 22-20. Berbeda dengan gim pertama, gim kedua berlangsung dengan cepat, dimana Lee dengan telak membantai Tanongsak 21-7.

20130309-1732-CN2Q4440-639x492

Di babak semifinal lain malam tadi, Jan O Jorgensen juga memberikan perlawanan yang ketat kepada peraih medali perunggu Olimpiade London, Chen Long hingga Chen harus jatuh bangun (foto atas) mengembalikkan shuttlecock yang dipukul oleh Jan. Menurut Chen, ada unsur keberuntungan dari kemenangannya itu. “Rasanya hebat, saya beruntung atas kemenangan saya hari ini,” ungkap Chen yang ditemui usai pertandingan.

Chen memang bisa dibilang sangat beruntung dalam pertandingan malam tadi karena selama jalannya pertandingan, sebenarnya ia selalu kalah dalam perolehan poin atas Jan. Sayang, Jorgensen tidak punya penyelesaian akhir yang baik, sehingga Chen menyalipnya di poin kritis.

Untuk partai Final malam nanti, meskipun Lee lebih difavoritkan untuk meraih gelar juara, tetapi Chen juga patut diperhitungkan karena ia punya rekor pertemuan yang bagus melawan Lee. Dari 12 pertemuan keduanya, Chen memenangkan 5 pertemuan, termasuk pertemuan terakhir mereka bulan Desember lalu di Final BWF Superseries Final 2012. Saat itu, Chen menang 21-19, 21-17.

Di nomor ganda putra, tercipta sejarah baru dimana untuk pertama kalinya, Jepang berhasil mengirimkan wakilnya di Final All England.  Mereka adalah pasangan Hiroyuki Endo-Kenichi Hayakawa yang berhasil mengalahkan pasangan Thailand, Maneepong Jongjit-Nipitphon Puangpuapech dalam pertarungan dua gim langsung, 22-20 21-15.

20130308-2329-cn2q2434

Di babak Final malam nanti, Endo dan Hayakawa (foto atas) akan berjumpa dengan pasangan China, Liu Xiaolong-Qiu Zihan yang di babak semifinal lain mengalahkan ganda Indonesia, Hendra Setiawan-Muhammad Ahsan dalam pertarungan rubber game 21-12, 13-21, 21-17.

Menurut penuturan Hendra, mereka selalu tertekan sejak awal pertandingan. “Kami tertekan dan selalu dalam keadaan tak siap, kami merasa tidak ‘in’ hari ini,” kata Hendra sambil tertunduk. Sang partner, Muhammad Ahsan yang ditemui dikesempatan yang sama mengaku bahwa kekalahan mereka lebih disebabkan karena lawan mereka memang bermain lebih baik. “Tidak menyangka hasilnya akan seperti ini, tapi lawan memang tampil lebih baik. Saya pribadi sangat kecewa dengan hasil hari ini, kami tidak bermain dengan kemampuan terbaik kami,” tutur Ahsan dikutip dari Badminton Indonesia.