All England Quarterfinal Review

20130308-2212-CN2Q3059-639x492

Malam tadi menjadi malam yang paling membahagiakan bagi Bulutangkis Indonesia karena untuk pertama kalinya, Indonesia berhasil menempatkan 3 wakil di babak 4 besar nomor ganda campuran pada turnamen bulutangkis paling prestisius, All England tahun 2013. Ketiga wakil Indonesia itu adalah Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir, Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet serta Muhammad Rijal (foto atas) dan Debby Susanto.

“Kita bersyukur tiga pasangan lolos ke Semifinal. Saya bersyukur dan bangga,” begitu ujar pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky dikutip dari Kompas.com. Richard menambahkan bahwa siapapun yang akan mencapai babak Final, yang terpenting Juara All England harus pasangan Indonesia. “Siapapun yang menang, penting Indonesia,” tambah Richard yang dihubungi via telepon.

Untuk mencapai babak Semifinal, ketiga pasangan Indonesia itu butuh kerja keras, sebut saja pasangan Muhammad Rijal dan Debby Susanto yang harus bertarung selama 50 menit melawan favorit juara asal China, Xu Chen dan Ma Jin yang berakhir dengan kemenangan 16-21, 21-13, 21-18. Menurut Rijal, kunci kemenangannya dengan Debby karena mereka bermain noting to lose. “Kami bermain nothing to lose. Kami kalah di gim pertama karena terlalu terburu-buru dan mereka lebih mengontrol permainan. Di gim kedua dan ketiga kami bermain lebih rapi dan santai.”

“Xu/Ma lebih tegang karena mereka yang harusnya menang, kelihatan dari penampilannya tadi. Sementara kami lebih lepas mainnya,” tambah sang partner, Debby Susanto dikutip dari situs Badminton Indonesia. Diambil dari sumber lain, Debby menganggap bahwa kemenangannya atas Xu-Ma kali ini melampaui target mereka sebelumnya. “Kemenangan kali ini melampaui target kami semula,” tutur Debby.

Selain Debby dan Rijal, Juara bertahan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir juga butuh usaha yang sangat keras untuk mencapai babak Semifinal. Owi dan Butet memenangkan battle antara dua pasangan yang benderanya saling terbalik itu (Indonesia = Merah Putih, Polandia = Putih Merah) dengan skor ketat 12-21, 21-14, 21-18.  “Kami start nya lambat, permainan depan saya juga kurang. Kualitas pukulan pasangan Polandia ini bagus, sekali salah buang bola bisa berbahaya,” kata Liliyana mengomentari pertandingannya itu.

20130309-0055-CN2Q2733-504x492

Di kesempatan berbeda, Robert Mateusiak (foto atas bersama Zieba) mengaku bahwa kekalahan mereka disebabkan karena mereka kehilangan fokus di akhir pertandingan. “Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, kami hanya kehilangan fokus yang kami punya di awal pertandingan. Kami juga membuat banyak kesalahan elementer di gim penentuan. Kami tidak ada masalah dengan smash mereka (=smash Owi gak keras) karena pertahanan kami bagus, tapi sangat sulit bagi kami untuk merubah pola bertahan itu menjadi menyerang,” jelas pria yang telah berusia 37 tahun itu.

Di babak Semifinal malam nanti, Unggulan kedua itu akan berjumpa dengan pasangan kakak beradik Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet yang memenangkan partai Perempat Final yang sangat menegangkan dengan Sudket Prapakamol-Saralee Thongthoungkam. Kido dan Pia memenangkan pertandingan selama 1 jam 11 menit itu dengan skor 18-21, 22-20, 22-20.

“Kemenangan hari ini karena faktor keberuntungan juga, terutama saat-saat terakhir. Tapi sebetulnya kualitas permainan kami imbang. Tadi sempat nervous tapi dilawan saja,” kata Kido dikutip dari Badminton Indonesia. Keberuntungan memang memihak pasangan Indonesia, dimana saat kedudukan match point 20-18 bagi pasangan Thailand, Sudket begitu percaya diri melakukan smash atas bola tanggung yang dikembalikan Pia.

Ia dan Saralee pun lantas melakukan selebrasi atas kemenangan mereka namun beberapa saat kemudian, wasit menganulir pukulan tersebut karena bola belum masuk ke area pertahanan Sudket-Saralee, dan adalah pelanggaran bagi Sudket untuk memukul bola yang masih berada di area Kido-Pia. Sejak kejadian ini, Sudket-Saralee tampak down, dan situasi ini dimanfaatkan betul oleh Kido-Pia yang meraih empat poin beruntun untuk memastikan terjadinya All Indonesian Semifinal.

Zhang-Zhao tumbangkan wakil Indonesia lainnya

20130308-2103-CN2Q1970-639x492

Zhang Nan dan Zhao Yunlei (foto atas) menjadi satu-satunya pemain non Indonesia yang mencapai babak Semifinal di nomor ganda campuran (agak aneh nulisnya, karena biasa nulis satu-satunya pemain non China). Zhang dan Zhao meraih spot Semifinal usai menumbangkan pasangan Indonesia lainnya, Fran Kurniawan-Shendy Puspa Irawati lewat pertarungan rubber game 21-15, 20-22, 21-16.

Dilansir dari situs PB PBSI, Fran mengaku tidak puas hanya sampai di Perempat Final. “Walaupun bisa menembus perempat final, kami masih belum puas dengan hasil ini. Seharusnya kami bisa tampil lebih baik lagi,” tutur Fran. Sementara sang pasangan, Shendy mengaku kecewa dengan permainannya tadi karena banyak melakukan kesalahan sendiri. “Permainan kami kurang safe, sebetulnya dari segi permainan kami juga tidak kalah, tapi sayang kami banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Pada gim kedua saat unggul 20-17 seharusnya kami menang tanpa deuce, tapi kami terburu-buru,” kataShendy.

Di babak Semifinal malam nanti, Zhang dan Zhao akan berjumpa dengan penjegal Xu-Ma, Muhammad Rijal dan Debby Susanto. Ditanya mengenai persiapan malam nanti, Debby mengaku akan tetap bermain nothing to lose karena pasangan China itu lebih dijagokan. “Sama seperti hari ini, kami akan mencoba bermain lepas karena Zhang/Zhao rangkingnya diatas kami,” ucap Debby dikutip dari Badminton Indonesia.

Partai semifinal lain akan mempertemukan sesama pasangan Indonesia, Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet dengan juara bertahan Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir. Meskipun bermain dengan sesama pasangan Indonesia, Sekali lagi Butet tidak mau meremehkan lawan mereka. “Kami sudah siap siapapun lawan besok di semifinal. Tetap fokus dan tidak boleh meremehkan lawan,” tegas Butet.

Hendra dan Ahsan di Semifinal

ahsn hndr h4 all1a

Di nomor ganda putra, satu-satunya wakil Indonesia, Hendra Setiawan dan Muhammad Ahsan (foto atas) berhasil melaju ke babak Empat besar usai menumbangkan pasangan Malaysia yang menempati peringkat 10 dunia, Hoon Tien How-Tan Wee Kiong dalam pertandingan dua gim langsung, 21-12, 21-16. Mengomentari kemenangannya, Hendra mengaku mereka langsung bermain menekan sejak awal pertandingan. “tadi kami menyerang lebih dulu, sementara mereka sejak awal kurang enak mainnya,” kata Hendra dikutip dari Antara.

Sementara menurut Tan Wee Kiong, kekalahannya bersama Hoon Tien How dikarenakan pasangan Ahsan dan Hendra memiliki kualitas yang lebih baik dari mereka. “Menurut kami, Hendra-Ahsan tidak bermain pada penampilan terbaiknya malam ini, hanya 50% saja. Tetapi kualitas Hendra-Ahsan memang lebih baik dari kami,” ungkap Tan dikutip dari situs Badminton Indonesia.

Di babak Semifinal malam nanti, Hendra dan Ahsan akan berjumpa dengan pasangan China, Liu Xiaolong-Qiu Zihan yang menumbangkan pasangan Malaysia lainnya, Mohd Zakry Abdul Latif-Mohd Fairuzizuan Mohd Tazari dua gim langsung, 21-12, 21-10. Pemenang partai ini akan bersua dengan pemenang partai Semifinal di poll bawah, dimana Hiroyuki Endo-Kenichi Hayakawa akan bertarung melawan pasangan Thailand, Maneepong Jongjit-Nipitphon Puangpuach.

China tak akan sapu bersih

20130308-2218-CN2Q2165-639x492

Setelah kegagalan China menyapu bersih gelar Jerman Terbuka pekan lalu, pekan ini Tim Bulutangkis China juga tidak akan menyapu bersih gelar di turnamen All England. Pasalnya satu-satunya harapan mereka di nomor tunggal putri, Wang Shixian ditumbangkan oleh pemain tunggal putri India, Saina Nehwal (foto atas) dalam pertarungan rubber game ketat 21-23, 21-19, 16-21.

Saina yang diwawancara usai melakoni partai Perempat Final itu mengaku kunci kemenangannya atas Shixian adalah tetap menjaga Fokus. “Dia punya variasi permainan yang membuatnya mungkin untuk come back, dan saya pernah melihat itu sebelumnya. Saya mencoba untuk menjaga fokus dan itu berhasil,” tutur Saina.

Di babak Semifinal malam nanti, Saina akan bersua dengan Intanon Ratchanok yang mengalahkan tunggal putri Jerman, Juliane Schenk lewat rubber game 13-21, 21-12, 21-8. “Saya merasa senang karena saya mencapai babak Semifinal di sebuah turnamen yang besar. Saya menang di pertemuan terakhir dengan Saina, sehingga saya punya kepercayadirian yang tinggi,” begitu ungkap Intanon mengomentari kemenangannya itu.

20130309-0140-CN2Q2944-586x492

Semifinal lain di nomor tunggal putri akan mempertemukan pebulutangkis Denmark, Tine Baun yang akan melawan pemain Korea Selatan, Sung Ji Hyun (foto atas). Tine memastikan tiket 4 besar setelah mengalahkan Lindaweni Fanetri dua gim telak, 21-7, 21-13. “Saya tidak berpikir akan dengan mudah memenangkan pertandingan hari ini. Dia (Fanetri) tampil baik di pertandingan terakhirnya dan saya pikir dia bisa bermain lebih baik dari permainannya tadi,” ujar Tine mengomentari kemenangannya.

Melawan Sung Ji Hyun, Tine punya rekor pertemuan yang bagus (6-1) dimana di pertemuan terakhir mereka, Tine menang mudah 21-13, 21-9 (Superseries Final 2011). Dengan rekor yang bagus ini, Tine punya kans untuk melaju ke babak Final bahkan ketika kita melihat dari segi pengalaman dan kualitas, pemain asal Denmark ini masih mungkin menjuarai turnamen yang ia menangi tahun 2008 dan 2010 lalu.

Jorgensen runtuhkan tembok China

20130308-2235-CN2Q3259-639x492

Jan O Jorgensen menampilkan permainan luar biasa ketika berjumpa dengan mantan Juara Dunia asal China, Chen Jin di babak Perempat final tadi malam. Chen yang lebih diunggulkan ternyata kalah dengan skor yang cukup telak, 7-21, 14-21. “Saya merasa bahagia, ini adalah pertandingan hebat untuk saya, saya bermain tanpa kesalahan,” ungkap Jorgensen yang tidak bisa menutupi kebahagiannya.

Di babak Semifinal, Jorgensen akan bersua dengan pemain China lainnya, Chen Long yang mengalahkan Kashyap Parupalli di babak 8 besar dengan skor 21-16, 21-10. Bagi Jorgensen, Kemenangannya atas Chen Jin ini menjadi modal berharga saat ia harus menemui unggulan kedua itu malam nanti. “Kemenangan ini membuat saya percaya diri menghadapi Chen meskipun dia (Chen Long) punya level permainan yang mendekati Chong Wei dan Lin Dan,” imbuh Jorgensen.

Satu-satunya wakil Indonesia di nomor ini, Tommy Sugiarto harus tersingkir atas wakil Thailand yang berasal dari babak kualifikasi, Tanongsak Saensomboonsuk dalam pertarungan dua gim yang cukup telak, 17-21, 11-21. Tanongsak yang mencapai babak Semifinal All England pertamanya mengaku sangat senang atas kemenangannya ini. “Hari ini pertahanan dan serangan saya bagus. Saya sangat senang karena ini Semifinal All England pertama saya. Saya hanya harus mencoba bermain yang terbaik,” ujar Tanongsak dikutip dari Badminton England.

Malam nanti, Tanongsak akan berjumpa dengan unggulan pertama asal Malaysia, Lee Chong Wei yang mengalahkan pemain Vietnam, Nguyen Tien Minh 21-17, 21-19. “Saya akan bermain nothing to lose. Saya tidak pernah mengalahkannya, tapi saya pernah mengajaknya rubber. Ini adalah pencapaian terbaik saya di level Superseries sehingga saya harus mencoba bermain yang terbaik besok,” tambah pemain yang baru berusia 23 tahun itu.

Dari sisi Lee Chong Wei yang dijumpai usai memenangkan partai Perempat Final malam tadi, ia mengaku akan sangat waspada terhadap Tanongsak karena ia berasal dari babak kualifikasi. “Lawanku selanjutnya sangat berbahaya karena ia berasal dari babak kualifikasi namun bisa sampai ke Semifinal dan sangat penting untuk tidak meremehkannya,” kata Chong Wei.

China dominasi ganda putri

20130308-2103-CN2Q1957-639x492

Meskipun dominasi China di nomor tunggal putri tidak ada di All England kali ini, Namun di nomor ganda putri, China masih sangat perkasa karena punya 3 wakil di babak Semifinal, yakni pasangan Wang Xiaoli-Yu Yang (foto atas), Cheng Shu-Zhao Yunlei dan Ma Jin-Tang Jinhua.  Satu-satunya pasangan non China yang sampai di babak 4 besar adalah Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna. Di babak Semifinal malam nanti, Wang-Yu akan berjumpa Miyuki-Satoko, sementara Cheng Shu-Zhao Yunlei akan berjumpa Ma Jin-Tang Jinhua.

Di nomor ganda putri, pasangan Wang Xiaoli dan Yu Yang adalah pasangan yang bisa dibilang tidak terkalahkan, dan pasti kalian berpikir karena pasangan China inilah nomor ganda putri kalah pamor dibanding keempat nomor lain di bulutangkis. Tapi pernyataan kalian berbanding terbalik dengan apa yang dituturkan oleh Gillian Clark. Bagi Clark, gaya permainan Wang dan Yu dibutuhkan karena gaya permainan mereka bisa menaikkan pamor nomor ganda putri.

Bagi Gill, permainan ganda putri yang hanya mengandalkan reli-reli panjang dengan bola-bola yang tidak terlalu cepat membuat nomor ini tidak terlalu menarik. Tapi Setelah Wang dan Yu diduetkan, permainan ganda putri berubah mendekati permainan ganda putra dengan drive-drive cepat dan smash-smash yang makin tajam. Meskipun ini tidak sesuai kodrat asli permainan ganda putri, tapi kenyatannya permainan inilah yang lebih disukai oleh penonton.