Liang Chiu Sia : Pemain China juga bisa dikalahkan

9d782934-bebb-4d35-82eb-e3975ace9042

Pelatih tunggal putri Indonesia, Liang Chiu Shia (foto atas) yang ditemui usai kemenangan Lindaweni Fanetri atas Wang Yihan mengeluarkan statement yang tidak asing lagi bagi para pecinta bulutangkis Indonesia. Chiu Shia mengungkapkan bahwa kemenangan Linda atas pemain China itu tidak mengagetkannya, karena pemain China sebenarnya juga bisa dikalahkan.

“Pemain China adalah pemain bagus, tapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan asalkan kita yang mengendalikan dan mengatur permainan,” kata Liang dikutip dari situs PB PBSI. Menurut Chiu Shia, kunci keberhasilan Linda yang menang 21-12, 21-19 adalah ia mampu mengendalikan Yihan yang sempat mengubah permainan. “Linda itu pemain yang ulet, ia bisa menjalankan taktik yang benar. Dia juga bisa menahan Yihan yang ingin bermain cepat. Selain itu, Linda juga banyak memberi bola yang tidak mengenakkan posisi Yihan, jadi saya tidak kaget Linda menang,” tambah mantan pemain China tersebut.

Pernyataan yang serupa juga dituturkan oleh anak didik Chiu Shia yang telah mendunia, yakni Susi Susanti. Susi juga mengaku tidak kaget Linda bisa mengalahkan pemain sekaliber Yihan, karena Susi menganggap banyak pemain yang tampil di All England masih labil. “Saya tidak heran jika Lindaweni dan Bellaetrix bisa mengatasi lawan-lawannya yang dari segi peringkat lebih tinggi dari mereka. Saya melihat Wang Yihan, Li Xuerui dan Saina Nehwal belum stabil dalam menghadapi pertandingan,” kata peraih medali emas Olimpiade Barcelona itu dikutip dari Tribunnews.

“Saya pernah melihat Wang Yihan bermain di Indonesia Open tahun lalu, saat itu saya jadi komentatornya. Saat itu dia menghadapi  pemain Thailand yang peringkatnya jauh di bawahnya. Tapi Wang bisa dipaksa bermain tiga set dengan skor ketat. Dengan predikat peringkat tiga dunia, ternyata dia masih tidak stabil menghadapi pemain yang peringkatnya jauh di bawah dia,” tambahnya.

Lagi, teringat Maria Kristin Yulianti

Ketika ada tunggal putri yang tiba-tiba menjegal pemain China, pasti kita teringat nama Maria Kristin Yulianti. Sepak terjangnya di Olimpiade Beijing lalu sempat meyakinkan kita bahwa prestasi tunggal putri akan segera kembali. Tetapi, karena terus dibekap masalah cedera lutut yang tak kunjung sembuh, Maria harus berhenti lebih cepat dari dunia yang membesarkannya.

wpid-4475_1089957044518_4059235_n.jpg

“Para pemain China itu tipenya hampir sama. Pukulan mereka komplet. Yang harus kita lakukan adalah menahan dan mengembalikkan semua pukulan mereka. Itulah cara satu-satunya,” begitu salah satu jawaban yang dituturkan oleh Maria tatkala puluhan media mewawancaranya usai raihan perunggu di Olimpiade Beijing kala itu. Sama seperti Chiu Shia atau Susi, Maria juga menganggap bahwa pemain China juga bisa dikalahkan. “Kalo lawan China, yang paling penting bolanya jangan mati saja karena pemain China juga bukan tidak mungkin dikalahkan,” begitu tuturnya.

Meskipun Linda telah berhasil mengalahkan pemain China sekaliber Wang Yihan, tetapi jalannya masih panjang jika ia mau menjadi seorang Susi Susanti yang baru. Kini ia baru mulai memasuki tahap dimana ia sudah bisa mengukur bagaimana menghadapi lawan-lawan yang berbeda. Ia baru bisa menyamai Susi apabila ia bisa membawa setiap lawannya mengikuti gaya permainannya…