Tine Baun dan All England

image

Bagi tunggal putri asal Denmark, Tine Baun, turnamen All England adalah turnamen yang sangat spesial, karena Mantan pemain peringkat 1 Dunia itu berhasil meraih gelar juara di turnamen yang menjadi satu dari tiga trinitas olahraga bulutangkis (selain World Championship dan Olimpiade). Tak tanggung, Tine meraihnya 2 kali, yakni di tahun 2008 dan 2010. Karena kemenangan besarnya ini, Tine pun memilih All England sebagai turnamen terakhir dalam karirnya.

“All England sangat spesial untuk saya karena disini saya meraih kemenangan terbesar dalam karir saya. Karena inilah saya memilih untuk mengakhiri karir saya disini,” kata Tine dikutip dari Badminton Denmark. Kemenangan Tine di All England itu membuatnya menjadi satu-satunya pemain tunggal putri non China yang bisa menjuarai gelar All England dalam satu dekade terakhir.

Di tahun 2008, Tine berhasil meraih gelar juara usai menundukkan Lu Lan dalam pertarungan tiga gim, 21-11, 18-21, 22-20, sementara di tahun 2010, Tine mengalahkan Wang Yihan juga dalam rubber game 21-14, 18-21, 21-19. Di tahun 2009, Tine sebenarnya punya kans untuk mempertahankan gelar juaranya tatkala kembali menginjakkan kaki di Final All England. Sayangnya, di partai puncak itu, ia dikalahkan oleh Wang Yihan juga dalam rubber game 19-21, 23-21, 11-21.

Seperti jodoh, Yihan dan Tine kemungkinan kembali dipertemukan di turnamen All England tahun ini. Dalam draw yang dirilis, Jika keduanya mulus di dua babak pertama, Wang Yihan dan Tine Baun bakal bentrok di Perempat Final. Tapi kemungkinan ini dirasa sulit bagi Tine, karena di babak kedua, kemungkinan lawan yang dihadapinya adalah pemain asal China, Li Han.

“Tentu saja akan sangat menyenangkan untuk bermain melawan Wang di babak delapan besar. Tapi terlebih dahulu saya akan mendapat kesulitan di babak kedua karena kemungkinan saya akan melawan Li Han dari China. Sekarang begitu banyak pemain bagus, sehingga tiap babak akan semakin sulit,” ungkap Tine yang juga Juara Eropa 2012 itu.

tine-baun-830

Enjoy the game

Menghadapi turnamen kali ini, Tine tidak geger untuk ngotot meraih gelar, karena ia hanya ingin menikmati pertandingan terakhirnya dalam dunia bulutangkis internasional. “Saat ini hal utama adalah pergi ke lapangan dan menikmati pertandingan, mengingat semua kenangan indah dan tersenyum,” kata wanita yang meraih 8 titel Superseries (Japan Open 2007, Malaysia Open 2008, All England 2008, Singapore 2008, Malaysia Open 2009, Korea Open 2009, Denmark Open 2009 dan All England 2010).

Bagi Tine, merobohkan dominasi China adalah sesuatu yang ia anggap hal yang besar, dan di masa depan, pemain dari Taiwan dan Jepang menurutnya akan dua negara yang punya kans untuk melakukan hal tersebut. “Saya pikir banyak pemain akan datang dan Taiwan punya beberapa pemain yang bagus,” kata Tine. “Jepang juga memiliki pemain yang bagus. Sekarang akan sulit untuk memenangkan babak pertama di turnamen Superseries,” tambahnya.

Masa depan Denmark

Sepeninggal Tine dari dunia bulutangkis, Denmark mungkin akan sulit menemukan penggantinya karena kebanyakan pemain tunggal putri Denmark adalah pemain muda. Mereka perlu sekitar lima tahun untuk bisa menjadi pemain kelas dunia.”Denmark punya beberapa pemain bertalenta, tapi akan sulit untuk bisa langsung masuk ke Top 10. Menurut saya, Mereka perlu sekitar lima tahun untuk itu,” jelas Tine.

Meskipun menutup karir sebagai pebulutangkis profesional, Tine masih akan melakoni beberapa pertandingan invitasi, diantaranya di Liga India dan Axiata Cup. Layaknya Peter Gade, Tine rencananya juga akan melakoni Farewell Match pada tanggal 18 April mendatang melawan Camila Martin (Sydney silver medalist) di Farum, Denmark.

Masa Depan Tine sendiri mungkin akan berbanding terbalik dengan dunia yang membesarkannya (bulutangkis – red). Usai pensiun, ia berniat untuk mempelajari tentang gizi dan membina keluarga dengan Martin Baun yang ia nikahi tiga tahun lalu. “Saya berharap saya bisa menyelesaikan pertandingan dengan baik, dan bermain sesuai permainan yang saya mau. Jika saya kalah, maka lawan saya lebih baik, bukannya saya yang bermain buruk,” tutup Legenda Eropa itu.

Tine, I am proud of you