Indonesia Tak Beruntung di Kota Vienna

Picture2

Pebulutangkis Indonesia tidak berhasil membawa pulang gelar dari turnamen berkarpet biru, Austrian International Challenge 2013 setelah dua wakil Indonesia yang bertarung dalam turnamen yang digelar 20-23 Februari itu kandas. Kedua wakil Indonesia itu adalah Andre Kurniawan Tedjono dan pasangan ganda putra Christopher Rusdianto-Tri Kusuma Wardana (foto atas). Andre gugur di babak 16 besar, sementara Christo dan Dana kalah di babak 8 besar.

Andre Kurniawan Tedjono yang tampil di nomor tunggal putra sukses menyingkirkan pemain tuan rumah, Luka Wraber di babak pertama lewat pertarungan rubber game 22-24, 21-8, 21-12. Sayangnya di babak kedua, Unggulan ketiga itu tumbang ditangan pebulutangkis mantan surviver Kanker, Petr Koukal yang mengalahkannya dua gim langsung 21-14, 21-17. Langkah Koukal sendiri dijegal oleh Juara Dunia Junior 2012, Kento Momota yang akhirnya menjadi jawara dalam turnamen itu.

Picture5

Usai mengikuti turnamen kelas International Challenge ini, rencananya pemain asal PB Djarum Kudus ini bakal tampil di turnamen Jerman Terbuka GP Gold yang digelar 26 Februari hingga 3 Maret mendatang. Di babak pertama, Andre harus berjumpa dengan sahabatnya sendiri, Yuhan Tan (Belgia).

“Saya optimis Andre bisa melewati Yuhan Tan,” ucap Ketua PB Djarum Kudus, Yoppy Rosimin ketika ditanya mengenai peluang Andre menghadapi pemain berdarah Indonesia itu.

Wakil Indonesia lainnya, Christopher Rusdianto-Tri Kusumawardana harus terhenti di babak Perempat Final setelah dijegal oleh pasangan Jepang, Takeshi Kamura-Keigo Sonoda dua gim langsung 11-21, 16-21. Kamura dan Sonoda sendiri sukses melaju ke partai Final, namun dikalahkan kompatriotnya, Hiroyuki Saeki-Ryota Taohata.

Picture4

Meskipun kalah, penampilan Tri Kusumawardana (foto atas) yang menggandeng mantan pemain Pelatnas, Christopher Rusdianto di turnamen ini sempat membuat kejutan ketika berhasil mengandaskan unggulan keempat, Adrian Liu-Derrick Ng dari Kanada dua gim langsung 21-19, 21-19 di babak 16 besar.

Selain Kento Momota dan Hiroyuki Saeki-Ryota Taohata, Jepang juga berhasil mengoleksi 2 gelar lain di nomor tunggal dan ganda putri. Di nomor tunggal putri, Yu Hashimoto dengan mudah mengalahkan unggulan teratas asal Bulgaria, Petya Nedelcheva dalam pertarungan 28 menit yang berakhir dengan skor 21-11, 21-3. Petya memang terlihat kelelahan dalam partai Final itu, pasalnya di babak Semifinal yang digelar pada sesi pagi hari, ia butuh 71 menit untuk mengalahkan pemain asal Hongkong, Ngan Yi Cheung lewat rubber game 18-21, 24-22, 23-21.

Di nomor ganda putri, bertemu pasangan nonunggulan asal Jepang, Aratama Misato-Megumi Taruno dengan unggulan pertama asal Malaysia, Chow Mei Kuan-Lee Meng Yean. Pertarungan dimenangkan oleh Misato-Taruno dua gim langsung 21-14, 22-20.

Satu-satunya gelar yang lepas dari tangan Jepang adalah nomor ganda campuran, dimana terjadi All Hongkong Final antara Chan Yun Lung-Tse Ying Tsuet dengan Lee Chun Hei-Chao Hoi Wah yang dimenangkan Chan-Tse lewat pertarungan rubber game 15-21, 21-16, 21-16.

Mengenal Duet racikan Suryanaga Surabaya

Duet Tri Kusumawardana dan Christopher Rusdianto memang tidak terlalu mengejutkan, itu wajar karena pasangan ini adalah pasangan yang baru dipasangkan oleh klub mereka, Jaya Raya Suryanaga Surabaya. Tri Kusumawardana memang nama lama dalam dunia perbulutangkisan di tanah air. Ia telah menjuarai berbagai gelar juara di tingkat Sirnas, namun pria yang kerap dipanggil ‘Dana’ ini tidak sekalipun dilirik masuk ke Pelatnas Cipayung.

Picture3

Berbeda dengan Dana, Duet barunya kini, Christopher Rusdianto (foto atas) adalah mantan pemain Cipayung yang awal tahun ini harus didegradasi dari Pelatnas. Christopher kembali ke klubnya, Jaya Raya Suryanaga Surabaya. Meski ini hanya rumor, tapi sempat beredar kabar bahwa masuknya mantan pasangan Andre Adistia ini ke Cipayung karena Christopher adalah putra dari Mantan Sekjen PB PBSI, Yacob Rusdianto.

Yacob Rusdianto terpilih sebagai Sekjen PBSI pada masa Kepemimpinan Djoko Santoso di akhir tahun 2008 lalu. Setahun kemudian pada Seleknas 2009, Christopher langsung masuk menjadi bagian dari Pelatnas Cipayung. Inilah yang membuat media sempat memperbincangkan masalah ini.

“Saya tidak pernah berpikiran seperti itu dan yakin pemanggilan ini berdasarkan kemampuan saya selama mengikuti seleknas beberapa waktu lalu,” ujar Christoper dikutip dari tabloid Bola tahun 2009 lalu. Sang Ayah juga menyangkal berita ini. “Semua tahapan seleknas dilakukan secara fair play dan tidak ada pemain yang diistimewakan. Christopher juga melalui tes yang sama dengan pemain lainnya dan saya tidak pernah ikut campur dalam proses seleknas,” kata Yacob kala itu.

Kenyataannya, Prestasi Christopher memang tidak terlalu wah sehingga PBSI pun memutuskan untuk mendegradasi Christo di saat Yacob tidak lagi menjabat sebagai Sekjen PB PBSI. Selama kurang lebih empat tahun di Cipayung, prestasi terbaik Christo yang berpasangan dengan Andre Adistia adalah menjadi Finalis di India Open GP Gold 2011.