Mengintip Bulutangkis di Iran

DSC01123-580x343

Ditengah-tengah gelaran Iran Fajr International Challenge 2013, duaribuan akan mencoba memberikan informasi yang mungkin belum anda ketahui mengenai sisi lain dari Bulutangkis di negeri yang sangat kental dengan kultur Islam, yakni Iran, termasuk dari turnamen internasional ini.

Sejak diputuskan tampil di Barcelona 1992, Bulutangkis mulai mendapatkan perhatian serius dari berbagai negara, termasuk pula Iran, negeri yang sama sekali memiliki sejarah berkaitan dengan olahraga ini.

Iran pun mulai fokus mengembangkan Bulutangkis di negeri Islam itu, dan tindakan nyata mereka adalah mendatangkan orang dari negara-negara Bulutangkis ternama, salah seorang diantaranya adalah Dian Ayu Mayasari, pemain Indonesia yang kini menjadi pelatih di Iran.

Bagi anda pecinta Bulutangkis, pernah mendengar nama Dian Ayu Mayasari? Tidak bukan.. Nama itu memang terasa asing bagi kita. Namun Dian sendiri pernah menghuni Pelatnas Cipayung sebelum akhirnya didegradasi karena permainannya tidak berkembang. Siapa sangka, justru sosok terbuang inilah yang penting bagi perkembangan Bulutangkis di Iran.

Cuma 2 Orang

Lewat tulisannya di sebuah blog, Dian menceritakan bahwa pertama kali menginjakkan kaki di Pelatnas Bulutangkis Iran, ternyata hanya ada 2 orang pemain putri yang berlatih.

Ketika Mbak Dian bertanya kepada Presiden Federasi Bulutangkis Iran, sang ketua hanya tersenyum dengan jawaban, “Cuma ini saja timnas putri sekarang.” Kondisi ini tentu sangat jauh apabila dibandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Mbak Dian pun kembali bertanya kepada sang Ketua, “Dimana atlet putranya? Kenapa tidak ada yang latihan juga?” begitu tuturnya. Sang Ketua menjawab sambil tersenyum lagi, “Disini negara Islam dan Pemerintah melarang laki-laki dan perempuan berlatih bersama.” Sebegitu ketatkah?

Tidak ada Ganda Campuran

Nomor yang menjadi salah satu keistimewaan cabang olahraga Bulutangkis adalah adanya nomor ganda campuran yang memainkan pemain putra dan putri dalam satu lapangan. Namun, di Iran ini tidak diperbolehkan.

090204_badminton

Sebagai negara Islam, wanita dan pria dilarang bermain bersama. Akhirnya, berdampak pula pada nomor yang dipertandingkan di turnamen yang ada di Iran. Sebut saja di Iran Fajr International Challenge, selain nomor ganda campuran ditiadakan, banyak peraturan-peraturan yang membuatnya berbeda dari turnamen lain di dunia, diantaranya :

  • Dipertandingkan hanya 4 nomor, yakni tunggal dan ganda putra serta tunggal dan ganda putri.
  • Dibelakukannya perbedaan jam tanding antara pria (14.00 – 21.00) dan wanita (10.00 – 13.00)
  • Khusus pertandingan perempuan hanya boleh ditonton oleh perempuan dengan penjagaan yang sangat ketat (tidak boleh membawa kamera, termasuk handphone yang berkamera)

Seleksi ketat buat Pemain Iran

Dilansir dari Mbak Dian, ternyata buat pemain Iran agar tampil di kejuaraan mereka sendiri (Iran Fajr International Challenge – red) cukup memakan proses yang berbelit. Para pemain harus melewati 3 tahap seleksi selama kurang lebih satu bulan, yakni :

  • Seleksi di pertandingan lokal
  • Seleksi oleh Federasi Badminton Iran
  • Mengikuti Tes yang diberikan oleh pihak Komite Olimpiade Iran

Penyeleksian yang ketat ini memang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Indonesia. di Indonesia, KOI bahkan tidak memiliki kepentingan soal pengiriman pemain, karena sepenuhnya diserahkan kepada PBSI, bahkan klub pun diperbolehkan mengirimkan pemain mereka.

Indonesia dan Iran Fajr International Challenge

Setiap tahun, Indonesia rasanya tak pernah absen untuk mengirimkan pemain di turnamen ini. Selain mengasah kemampuan bertanding atlet, diharapkan para pemain juga bisa menaikkan ranking mereka di turnamen kelas Challenge ini.

tommy-sugiarto-bersama-supporter_indonesiaproud

Selain pelatih Iran yang kebanyakan adalah para pemain Indonesia, ada hal lain yang membuat Iran mengenai Indonesia sebagai negara bulutangkis. Produk-produk bulutangkis yang ada di Iran, khususnya raket dijual dengan foto Taufik Hidayat.  Raket dengan foto Taufik itu ternyata menjadi raket kelas atas di Iran dengan harga jual yang tinggi, yakni sekitar 3,5 juta real.

Di tahun 2012, Indonesia sukses meraih gelar lewat pasangan ganda putra Agripina Prima Rahmanto Putra-Gideon Markus Fernaldi. Khusus untuk Gideon dan Agri, ada kisah lucu dari kedua pemain itu di Iran.

Tidak suka dengan makanan Iran yang terkenal berbau kambing, Agri menyiasati hal tersebut dengan membawa balado teri dari Indonesia. Khusus untuk Gideon yang beberapa waktu lalu memutuskan untuk keluar dari Pelatnas Cipayung, hampir setiap hari selama berada di Iran itu, ia selalu membeli Icepack yang berada di seberang Hall tempat pertandingan berlangsung.

Menurut Gideon, minuman yang merupakan campuran dari es krim, susu, buah-buahan, cokelat atau vanila itu merupakan Icepack terenak yang pernah ia minum, sehingga ia selalu ketagihan untuk meminumnya.