Sony : Usia hanya sebuah angka

Olympics+Day+8+Badminton+GglvEWcDBHfl

Lewat perjuangan yang sangat panjang, akhirnya pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Sony Dwi Kuncoro berhasil kembali menduduki tempat dimana seharusnya ia berada, peringkat 4 BWF. Posisi itu ia dapatkan usai mencapai Final Malaysia Open bulan lalu. Di turnamen itu pula, ia sempat diwawancara oleh salah satu media Malaysia soal target kedepannya. Pemain yang meraih medali perunggu di Olimpiade Athena itu mengaku ingin tampil di Olimpiade Rio 2016.

“Target saya kedepannya adalah terkualifikasi ke Olimpiade 2016. Saya ingin memenangkan medali Olimpiade kedua saya sebelum saya pensiun,” begitu ujar Sony. Disinggung mengenai usianya yang tidak akan muda lagi di Olimpiade mendatang, Sony menjawab dengan santai.

“Saya akan berusia 33 dalam empat tahun depan, tapi usia hanya sebuah angka dan itu tidak berarti saya tidak bisa mewujudkan mimpi ini,” komentar pria kalem suami Gading Safitri itu. Di debut Olimpiade pertamanya (2004), Sony sukses meraih medali perunggu dengan mengalahkan Boonsak Ponsana dalam partai perebutan tempat ketiga. Empat tahun kemudian, ia mendampingi Taufik Hidayat di Olimpiade Beijing, namun kalah di Perempat Final oleh Lee Chong Wei.

Kepercayadirian Sony untuk lolos ke Rio didukung oleh langkah PBSI yang memasukkan mantan Juara Dunia, Joko Supriyanto untuk kembali melatih tunggal putra Pelatnas. Joko Supriyanto adalah pelatih yang menghantarkan Sony ke podium Olimpiade di usia yang masih sangat muda, 20 tahun.

Soni+Dwi+Kuncoro+Boonsak+Ponsana+Olympics+YpqBVFacgcNl

“Saya berada di bawah beliau (Joko – red) saat saya memenangkan medali perunggu di Olimpiade Athena sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan Pelatnas tahun 2005 lalu. Beliau adalah pribadi yang disiplin, dan saya yakin beliau akan membantu meningkatkan permainan saya,” ujar Sony.

Saat ini, pebulutangkis kelahiran Surabaya itu sedang mengikuti turnamen Djarum Superliga Badminton Indonesia 2013 yang digelar di kampung halamannya, Surabaya. Disela-sela turnamen itu, Sony menyempatkan diri untuk diwawancara oleh salah satu situs media Nasional. Dalam wawancara itu, ia mengaku sempat dibuat frustasi ketika cedera yang menimpanya tak lekas sembuh, bahkan pernah terpikir olehnya untuk gantung raket dari dunia tepok bulu. Berikut adalah beberapa kutipan wawancara dengan Sony Dwi Kuncoro.

Bagaimana perasaan Anda ketika mendapatkan cedera itu?

Cedera itu menjadi pengalaman paling pahit buat saya. Waktu itu, saya kurang perhitungan untuk program latihan. Pemulihan otot saya kurang bagus, tapi saya paksakan untuk terus latihan. Saya tidak bisa menolak cedera itu.

Apa Anda sempat merasa frustrasi?

Biasanya, cedera seperti itu bisa sembuh dalam waktu dua sampai tiga minggu. Tapi ini kok lama? Jujur, saya sempat terlintas untuk rehat selama satu tahun karena permainan saya tidak berkembang.

20130204Superliga-Badminton-040213-ip-1

Lalu, Apa yang terjadi sehingga Anda bisa bangkit?

Saya percaya, dari setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Saya juga punya kemauan untuk bangkit. Selain itu, saya coba untuk merubah pola pikir. Saya lebih menghargai diri saya sendiri. Saya berlatih lebih giat dan keras, tapi saya harus punya waktu istirahat yang cukup. Lama-kelamaan, cedera itu bisa teratasi.

Ketika Anda terpuruk, apakah ada komentar negatif dari lingkungan Anda?

Pasti. Mulai dari pengurus (PB PBSI), atlet, dan masyarakat. Mereka menghargai saya ketika saya sedang di atas, tapi giliran saya ada di bawah, mereka terkesan meremehkan. Tapi itu wajar. Saya mencoba ubah menjadi hal positif saja.

Seberapa besar dukungan keluarga terhadap karier Anda?

Keluarga menjadi motivasi terbesar saya. Dari kecil, harapan keluarga ingin yang terbaik bagi saya. Hanya keluarga yang mau mendukung saya saat kondisi saya naik atau pun turun. Senang atau sedih.

Waktu sedang terpuruk, saya merasa bersalah kepada orangtua, istri, dan anak saya. Saya kasihan sama mereka. Karena balasan apa yang bisa saya berikan kepada keluarga kalau keadaan saya seperti itu? Lalu, saya bertekad memperbaiki semuanya dari pengalaman tersebut.

Target ke depan?

Kalau untuk target di turnamen tertentu tidak ada. Saya hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik di setiap turnamen. Saya kerahkan konsentrasi sepenuhnya ke pertandingan. Target lain, saya ingin meningkatkan fisik saya menjadi lebih sempurna.

484 sony h5 mo

Sony memperlihatkan semangat pantang menyerah yang sudah sepatutnya kita tiru. Berada di bawah tentu bukan pilihan jika kita bisa memilih (termasuk Sony), tetapi hidup sudah ditakdirkan seperti roda, yang akan terus berputar dan hanya Tuhan yang tahu kapan akan berhenti.