Tinggalkan Kemiskinan dengan Bulutangkis

420153

Debut pertama Saina Nehwal di Olimpiade Beijing lima tahun lalu mengejutkan banyak pihak. Anak didik Pulella Gopichand itu berhasil mengalahkan unggulan keempat, Wang Chen di 16 besar namun harus mengakui kehebatan Maria Kristin Yulianti di Perempat Final padahal ia sudah unggul 11-3 di gim penentuan. Partai epik itu ternyata terulang di Olimpiade London, Agustus tahun lalu. Kali ini sosok Ratchanok Intanon, yang nyaris saja menginjakkan kaki di Semifinal Olimpiade pertamanya, namun Wang Xin terlalu tangguh.

Sama seperti Saina, Ratchanok Intanon berhasil mengalahkan lawan yang kuat di babak 16 besar, yakni Juliane Schenk dengan skor 21-16, 21-15 untuk menginjakkan kaki di Perempat final pada debut Olimpiade pertamanya. Di partai perempat Final, ia berjumpa dengan unggulan kedua, Wang Xin. Penampilannya saat itu membuat kita terkejut. Ia sudah mengantongi gim pertama 21-17 dan tinggal beberapa poin untuk mencapai Semifinal pertamanya.

Tapi di poin kritis itu, Wang Xin bangkit untuk meraih poin beruntun hingga balik menutup gim kedua 21-18 dan memaksakan rubber. Di gim penentuan, Xin menutup kemenangan 21-14 untuk memastikan All Chinese Semifinal. “Kekalahan itu terus menghantuiku hingga kini, padahal aku sangat dekat dengan kemenangan,” ujar tiga kali Juara Dunia Junior itu.

Usai kekalahan itu, ia sempat menangis ketika melihat wajah kedua orang tuanya. “Saya merasa seolah-olah saya telah mengecewakan mereka, dan begitu aku melihat wajah ibu dan ayah, aku tidak bisa menahan tangis,” begitu ujar Ratchanok.

url3

Tapi ia memutuskan untuk tidak terus kecewa. Di Olimpiade Rio, ia menargetkan untuk membawa pulang medali ke Bangkok. “Saya berhasil mencapai perempat final di Olimpiade pertama saya. Empat tahun kedepan, saya akan mencoba untuk membawa pulang medali sebagai hadiah untuk Thailand. Jika saya tidak bisa melakukannya (di Rio), masih ada Olimpiade 2020 dan Olimpiade selanjutnya,” tutur pemain yang masih berkarir sangat panjang itu.

Kisah perjalanan yang mirip dengan Saina itu membuat saya optimis bahwa Ratchanok Intanon kemungkinan besar akan menggantikan posisi Saina di podium peraih medali di Olimpiade Rio 2016. Soal perjalanan di Olimpiade, kisah Intanon mungkin mirip dengan Saina, tapi tidak untuk kisah kehidupan nyata Intanon. Kalau anda mendengarnya, mungkin anda akan terinspiratif.

Datang dari desa yang terpencil di Thailand, dimana penduduknya kebanyakan tertinggal, kedua orang tua Ratchanok memutuskan pindah untuk bekerja di salah satu pabrik kecil sebagai buruh. Ratchanok kecil pun harus ikut dengan kedua orang tuanya, termasuk saat kedua orang tuanya sedang bekerja di pabrik kecil yang memproduksi makanan tradisional Thailand itu.

Bukan hanya Ratchanok, banyak anak-anak kecil lain yang berlalu lalang di pabrik kecil itu. Pemilik pabrik pun waswas, pasalnya banyak bagian pabrik yang berbahaya, seperti karamel, gas dan api yang panas. Untuk mengatasi hal itu, akhirnya anak-anak (termasuk Intanon) disekolahkan di Sekolah Bulutangkis Banthongyord yang juga dimiliki oleh pemilik pabrik itu.

url2

“Beberapa pemain bulutangkis adalah anak-anak dari pekerja saya. Saya melihat mereka bermain di dekat orang tua mereka ketika kedua orang tuanya bekerja dan kecelakaan bisa saja terjadi. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk mengirim mereka bermain bulutangkis,” kata Kamala, sang pemilik.

Tak terduga, bakatnya ternyata terasah di sana. Sekolah Bulutangkis ini pun dikenal karena menghasilkan Juara Dunia Junior, Ratchanok Intanon dan beberapa bakat lain, seperti Pisid Potchalad yang menjadi peraih medali emas Olimpiade Pemuda 2010. “Dia pasti hanya seorang gadis biasa jika tidak diberi kesempatan ini,” tambah Kamala.

Pelatih pertamanya, Xie Zhinhua mengaku bahwa apa yang telah diraih oleh Ratchanok bukan dari bakat, tapi kerja keras. “Di dunia ini, Tidak ada orang yang berbakat, hanya ada kerja keras. Tidak ada seorang pun yang bisa berlatih 365 hari dalam setahun seperti dia.  Dia berlatih setiap hari,” kata Xie.

OLY-2012-THA-BADMINTON

Lalu yang paling membuat hati saya terenyuh, sosok yang masih kecil ini mengaku bermain bulutangkis demi mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan. “Saya ingin menjadi pemain nasional dan bermain untuk negara. Itu adalah satu-satunya cara saya membantu orang tua untuk meningkatkan status sosial kami dan meninggalkan kemiskinan,” katanya dengan emosional.

“Saya ingin orang tua saya untuk memiliki rumah sendiri dan mobil. Saya ingin memberi mereka kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak pernah memiliki apa-apa,” tutupnya. Sekarang ia berhasil melakukannya. Bukan saja menjadi pemain nasional, ia sudah menjadi pemain tunggal putri papan atas yang menduduki peringkat 8 dunia. Saat ini orang-orang menghormati keluarganya, dan tentu saja, ia mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan.

Setiap prestasi yang diraih seseorang, ada kerja keras dibelakangnya. Untuk tujuan yang baik, Tuhan akan selalu mengambulkannya. Lihat apa yang dilakukan Ratchanok, dengan Bulutangkis, ia mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan…

Iklan