Extra Eyes siap digunakan

badminton-210113-Bernama_0

Ajang Malaysia Open Superseries 2013 menjadi turnamen yang penting bagi dunia Bulutangkis, pasalnya dalam turnamen ini, akhirnya teknologi untuk melihat garis masuk atau keluar yang sebelumnya digembar-gemborkan oleh BWF akhirnya diujicobakan. Teknologi itu bernama Extra Eyes.

Wakil Presiden BWF Paisan Rangsikitpho mengatakan bahwa cara kerja teknologi ‘Extra Eyes’ itu adalah dengan memasang kamera-kamera di sekeliling lapangan (sama dengan di arena tenis) untuk merekam posisi jatuhnya ‘shuttlecock’, di mana nantinya pemain diperkenankan untuk mempertanyakan keputusan wasit jika dinilai meragukan.

Menurut Paisan, terwujudnya penggunaan teknologi ini adalah impian para pemain. “Para pemain benar-benar memimpikan ini, sesuatu yang bahkan mungkin sudah diminta sejak 5 tahun lalu. Kami sudah mencobanya di sini (Malaysia Open), dan hasilnya sangat memuaskan. Saya harap nanti bisa diterapkan di Piala Sudirman,” tutur orang yang akan maju mendampingi Justian di Pilpres BWF, Mei mendatang.

Para pemain yang mengikuti turnamen Malaysia Open ternyata tidak menyadari bahwa ‘Extra Eyes’ sedang diuji coba di turnamen tersebut. Keseriusan pihak Malaysia untuk teknologi ini berkaitan dengan peningkatan level turnamen yang tahun depan sudah berstatus Superseries Premier itu.

24435_10151264807258860_53420518_n

Menurut Paisan, Teknologi ini akan dipergunakan dalam turnamen resmi pertama kali pada ajang Piala Sudirman 2013 yang berlangsung bulan Mei, di Kuala Lumpur, Malaysia, tepatnya di Stadium Putra ini.

Cikal bakal dipergunakannya teknologi Extra Eyes ini berawal dari kekisruhan yang terjadi di turnamen Bulutangkis Final Korea Open Superseries 2008 yang mempertemukan Lin Dan dan Lee Hyun Il. Saat itu, Lin Dan melakukan protes saat pukulannya dinyatakan keluar oleh hakim garis di kedudukan 20-20 pada gim ketiga.

Namun protes itu tidak ditanggapi dengan baik oleh wasit yang tetap memutuskan bahwa shuttlecock berada di dalam. Juara Dunia 2006, 2007, 2009 dan 2011 itu pun naik pitam. Dia marah-marah dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas dalam bahasa ibunya. Dia pun kemudian bersitegang dengan Li Mao, pelatih yang menangani Hyun-il.

Dihina, Li Mao pun membalas cibiran Lin Dan. Perang mulut itu pun sempat diwarnai tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Lin Dan dengan melemparkan raket ke arah pelatih Korea itu. Untung, lemparan itu tidak mengenai orang. Pertandingan saat itu terhenti sejenak.

66414_10151264809018860_52685852_n

Namun, pada akhirnya Lee Hyun Il berhasil meraih titel Korea Open dengan skor yang sangat ketat 4-21, 23-21, 25-23. Alhasil, sama seperti skandal Olimpiade, skandal Korea Open itu menyebar dengan luas. Publikasi dimana-mana, merusak citra bulutangkis.

Kejadian serupa terjadi pada Finalis Malaysia Open, Chan Peng Soon yang juga pernah melakukan protes terhadap wasit karena menganggap bola yang ia lepas benar-benar keluar, tetapi protesnya itu malah berujung kartu kuning.

“Saya pernah diganjar kartu kuning karena memprotes keputusan hakim garis. Padahal, saya yakin dan melihat dengan jelas, kok yang meluncur di luar garis bidang lapangan saya, tetapi hakim garis justru menyatakan masuk,” ungkap Peng Soon.

Protes paling banyak ditujukan buat turnamen di Korea yang menurut para pemain yang pernah tampil disana bisa dibilang syarat dengan kecurangan. Tidak jauh-jauh, Jawara Malaysia Terbuka, Muhammad Ahsan-Hendra Setiawan dipaksa kalah tragis 19-21, 19-21 di partai pertama Korea Open atas Kim Ki Jung-Kim Sa Rang.

314163_10151264755868860_2034081622_n

Dengan adanya teknologi garis ini, diharapkan tidak akan terjadi lagi keputusan wasit yang merugikan pemain, karena pemain bisa meminta line call atau melihat video jatuhnya shuttlecock. Tetapi, regulasi mengenai line call ini masih dibahas oleh BWF. Yang pasti, jangan sampai ketika teknologi ini sudah dipergunakan, justru yang terjadi adalah kisruh yang lebih parah.