Buat Anak Jangan Coba-Coba

DSC07714

Bagi pecinta bulutangkis, bagaimana perasaan anda melihat foto diatas? Seorang anak kecil menggendong tas raket menuju sebuah GOR untuk bermain bulutangkis. Pasti tanggapan para BL berbeda-beda, ada yang mendukung sekali, ada pula yang kasihan.

Jujur, kalo boleh bilang saya sedikit kasihan dengan sang anak, karena harus melihat sang anak menggendong tas yang hampir seukuran dengan tubuhnya. Tapi saya juga setuju karena perilaku itu bisa membuat anak lebih mandiri, itulah salah satu watak utama dari seorang olahragawan.

Itulah yang membuat prihatin salah satu legenda bulutangkis putri Indonesia, Ivana Lie yang mencetuskan ide Badmini, olahraga bulutangkis untuk anak kecil, dimana olahraga itu menyesuaikan seluruh peralatan bulutangkis dengan anak-anak.

Tahun 2005 lalu, peraih medali emas Asian Games 1982 ini menyodorkan konsep baru untuk pembinaan dan pengembangan olahraga bulutangkis di Indonesia di saat ini dan masa mendatang, yang ia namakan Badmini.

”Alasan utama saya mengembangkan badmini adalah membuat anak-anak merasakan permainan bulu tangkis yang lebih mudah dimainkan. Dengan demikian, mereka termotivasi dan lebih atraktif. Apalagi ukuran lapangan, raketnya disesuaikan dengan kondisi anak-anak. Artinya, anak-anak diperkenalkan main bulu tangkis melalui proses pembinaan yang tidak dipaksakan,” ujar Ivana yang juga memiliki sekolah bulutangkis di Bandung itu.

2587_60255498854_8054324_n

Promosi Badmini makin tersiar tatkala Sutiyoso naik menjadi Presiden Bulutangkis Asia (ABC) beberapa tahun lalu. Program Badmini yang kemudian dikenal dengan Kids Badminton menjadi salah satu andalannya saat itu. Menurutnya Sutiyoso, Kids Badminton akan membuat popularitas bulutangkis meningkat di Asia.

“Untuk mempopulerkan bulutangkis, ABC harus mempromosikan Kids Badminton, dengan lapangan yang lebih kecil, net yang rendah dan raket yang pendek. Ini akan membantu pemain untuk berkarir di level Junior,” ujar Sutiyoso saat itu.

Memang dalam Badmini, permainan dibuat lebih simpel dari Bulutangkis orang dewasa. Angka kemenangan untuk tunggal dan ganda putra adalah 11, sedangkan untuk tunggal dan ganda putri 9. Sistem yang digunakan the best of three. Pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan dua set kemenangan terlebih dahulu.

Sementara raket yang digunakan untuk usia 9 -12 tahun dengan ukuran sekitar 23 inci (57,5 cm) dengan kok lebih kecil serta pelan dari kok biasa. Jaring net yang dipergunakan pun lebih rendah, yakni hanya 140 cm. Luas lapangannya pun lebih sempit dari lapangan biasa, yakni 11,8 x 5,18 m.

DSC07715

Di tahun 2010 lalu, Ivana Lie sempat diwawancara soal promosi Badmini ini. Pelatih yang memfokuskan diri untuk melatih anak-anak ini punya cerita mengenai gagasan munculnya Badmini. Menurutnya, Kendala utama anak-anak tidak bisa bermain bulutangkis dengan baik sewaktu anak-anak adalah raket yang ukurannya lebih panjang (dari ukuran tubuhnya??? hahaha).

“Akibat menggunakan raket orang dewasa yang tidak proporsional, banyak teknik-teknik yang dilakukan jadi salah,” ujar Runner Up Kejuaraan Dunia 1980 itu.

Dijelaskannya, salah satu teknik salah yang akhirnya terlanjur anak-anak lakukan adalah titik pukul yang berakibat pada tekniknya yang memukul dengan siku yang membengkok.

“Kalau anak-anak pakai raket yang panjang, untuk menemukan titik pukul yang benar, titik itu akan jauh dari badan dia. Karena itu sulit, akhirnya si anak menunggu (luncuran kok- Red) lebih dekat. Nah, kalau tunggu lebih dekat, sikunya jadi harus membengkok dan ini awal teknik yang salah,” lanjut Ivana.

Jika menggunakan lapangan dan net ukuran standar, akan sangat menyulitkan bagi anak-anak untuk melatih kekuatan smash nya. Oleh karena itu, penyebarluasan Badmini perlu dilakukan. “Dengan lapangan yang lebih kecil dan tinggi net yang lebih rendah, anak-anak juga dapat merasa mampu melakukan smes dengan lebih keras,” ujar Ivana yang baru-baru ini memutuskan mundur sebagai Staf Menpora.

CIMG0668

Salah satu anak yang menganggap Badmini ini sangat bermanfaat adalah Ernes Sulivan. Sebut saja tatkala ia masih bermain dengan raket dan lapangan normal, ia hanya bisa bermain bulutangkis seadanya. “Saya main asal masuk saja. Kalau ada bola tanggung, barulah saya smes,” ujarnya.

Kendala lain dari penggunaan raket normal adalah saat servis. Kata Yanto Aryanto, pelatih di Sekolah Bulu Tangkis Ivana Lie, dengan raket yang panjang, anak-anak akan memukul menyamping karena takut ujung raket terbentur tanah. (Hahahah.. tuhh… bisa ngebayangin gak??). “Nah, dengan raket mini, mereka bisa melakukan servis yang benar, dari bawah ke atas membentuk busur yang lurus,” kata Yanto.

Namun begitu beralih ke lapangan ini, banyak anak-anak pemain Badmini mengaku memiliki kesan positif. Sebut saja Muhammad Amin Istighfar Rahmadani (9 tahun) yang menjadi Juara tunggal putra dalam kejuaraan badmini di Surabaya 2010 lalu. Mulanya ia kikuk karena ruang gerak di Badmini dinilai terlalu terbatas. “Tapi, main di lapangan mini asyik juga karena tidak terlalu capek,” kata pemain dari klub Gemilang Surabaya ini.

Pemain yang baru-baru ini dipromosikan ke Pelatnas, Ruselly Hartawan yang meraih titel Juara Nasional Junior lalu mengawali karir perbulutangkisannya dengan Badmini. Pemain dari PB Jaya Raya ini pernah menjadi bintang untuk syuting pembuatan VCD tentang badminton mini.

Pada akhirnya, inovasi Ivana Lie ini jauh lebih menguntungkan bagi atlet itu sendiri. Menggunakan raket panjang tentu tidak salah, tapi dari perilaku itu bisa muncul kesalahan teknik yang sangat fatal. “Memperbaiki teknik jauh lebih susah,” tegas Ivana. Jadi, bagi anda-anda yang memiliki anak kecil yang dicita-citakan untuk menjadi seorang pebulutangkis, kalimat yang perlu anda ingat adalah Badmini dulu, Baru Badminton, karena buat anak Jangan Coba-coba..