Fitri ingin jadi Pemain Dunia

fitriani-580x333

Marleve Mainaky tak hanya meramu Maria Kristin Yulianti hingga meraih medali perunggu di Olimpiade Beijing (Hendrawan itu bisa dibilang kepala pelatih tunggal putri sih kalo gak salah), tapi setelah keluar dari Pelatnas dan mendirikan PB Exist, ia kembali menelurkan bakat lain. Sosok yang berhasil ia orbitkan adalah tunggal putri yang baru 14 tahun, Fitriani.

Di usia yang keempatbelas, Fitriani telah memborong rentetan gelar juara. Dari wawancara yang dikutip dari teenvoice, Ia mengungkapkan daftar gelar juara yang telah ia koleksi. “Tahun 2009 pernah ikut Sirnas (Sirkuit Nasional) di Balikpapan juara 1, di Tegal juara 1 juga, Sirnas di Medan juga juara 1, di Pekanbaru juara 3, Astek (Alan Susi Tekhnologi) 2009 juga juara 1. Tahun 2010 Astek open juara 1 terus tahun 2011 ikut Sirnas di Semarang lagi juara 1 dan juga astek 2011 juara 1 ,Jakarta Open juara 1,Tahun 2012 Sirnas di Semarang Juara 1 dan Singapura juara 3,” tutur Fitri.

Prestasinya mulai mencuat di Singapura tahun 2011 lalu, yakni di turnamen Singapore International Challenge, dimana saat itu ia mengejutkan berbagai pihak. Di usia yang belum 15 tahun, ia berhasil mencapai babak Semifinal di kelas U17, kelas yang isinya tentu pemain-pemain yang lebih berpengalaman daripadanya.

Menurut sang ayah, Dede Abdullrohzi, sang anak mulai tertarik dengan bulutangkis karena melihat sang kakak, Rahmat Abdurahman bermain bulutagkis. “Awal mulanya pada umur 6 tahun Fitri melihat kakaknya Rahmat Abdurahman bermain Bulutangkis, dari situ Fitri tertarik untuk bermain, saya sendiri yang melatihnya untuk tekhnik-tekhnik dasar, Hingga Fitri umur 8 tahun saya masukan ke club Kurniawan di Serang,” ujar ayah Fitri.

Karena menganggap di klub itu Fitri tidak dilatih dengan maksimal, akhirnya sang ayah menarik Fitri dari klub itu dan memutuskan untuk melatihnya sendiri. “Fitri saya tarik dan selama 6 bulan saya latih sendiri. Hingga ada kawan yang menawarkan Fitri untuk bermain di PB Ganesha di Serang, dari situ Fitri sudah mulai dikirim ke kejuaraan sekelas Sirnas,” lanjut Dede.

Dari situ permainan Fitri terlihat semakin membaik dan pada akhirnya pertengahan tahun 2011 lalu, Klub PB Exist yang dilatih Marleve Mainaky dan Thomas Indratjaya mengajak Fitriani bergabung, hingga sekarang Fitri masih di Exist yang memberikan fasilitas yang nyaman untuk pemain,” tutup ayah Fitri dikutip dari situs badmintonlovers.com.

ber_155

Selain membeberkan daftar gelar juara yang ia koleksi, Fitriani juga mengungkapkan berbagai fakta menarik tentang dirinya saat teenvoice mewawancarainya di PB Exist, diantaranya adalah pendidikan yang tetap ia tekuni lewat homeschooling, atau cerita mengenai sang ibu yang ternyata pencuci baju dan sang ayah yang bekerja di PB Exist.

Kamu kan bilang kamu homeschooling, itu gimana?

Jadi gurunya itu dateng ke asrama tiap hari Sabtu atau kadang Senin atau Rabu.

Latihan Bulutangkisnya tiap berapa kali sih seminggu sih?

Seminggu latihannnya 5 kali tapi kalo hari Sabtu latihannya di asrama aja untuk jogging, kalo waktu latihannya pagi sama sore. Kalo pagi tiap jam 8 sampai 11 atau bisa jam 9 sampai jam 12, kalo sore jam 3 sampai jam 5 atau jam 4 sampai jam 6.

Ceritain dong tentang keluarga kamu ?

Ibu Fitri bekerja sebagai pencuci baju anak di asrama kalo Bapak sebagai asisten pelatih di PB (Persatuan Bulutangkis) Exist ini. Fitri sangat bangga sama mereka, Fitri juga ingin ngebuktiin kalo Fitri juga bisa jadi atlet

Kamu kan hampir tiap hari latihan itu kan pasti suka bosen, gimana sih untuk hilangin rasa bosen?

Ya kalo latihan dibawa seneng aja terus dinikmati aja.

Harapan kamu apa?

Fitri ingin jadi pemain dunia, dan ingin membawa bangsa Indonesia sampah kancah internasional.

Pesan buat teman-teman di rumah supaya bisa jadi atlet kayak kamu dan berprestasi apa?

Berlatih lebih keras, rajin latihan, pantang menyerah, rendah hati dan jangan sombong kalo sudah berprestasi.

Karena prestasinya menelurkan berbagai pebulutangkis hebat itu, termasuk Fitriani, Marleve Mainaky pun dipilih masuk ke Pelatnas untuk kembali melatih di Cipayung. Di Cipayung, Marleve menjadi pelatih di nomor tunggal putra bersama Imam Tohari, pelatih yang menelurkan Kento Mamota, Juara Dunia Junior tahun lalu itu. Selain dirinya, dipanggil pula salah seorang saudaranya, Reony Mainaky yang akan menangani nomor ganda putri, bersama dua asisten pelatih, yakni Aryono Miranat dan Chafidz Yusuf.

Begitu hebatnya sosok Fitriani yang bisa menginspirasi para pebulutangkis muda Indonesia untuk lebih berprestasi, mirip dengan yang terjadi di Thailand. Siapa sangka, sosok Ratchanok Intanon, pemain berusia 17 tahun dan berada di peringkat 8 Dunia adalah inspirator putri-putri Thailand yang saat ini bisa dibilang menguasai bulutangkis di Asia Tenggara.