Dokter Juara Dunia

314438_10151006778638860_225894331_n

Meskipun jarang membuat artikel di tengah kesibukan persiapan menjelang turnamen Ujian Nasional (cie turnamen..) bagi siswa SMA sederajat yang akan dilaksanakan April mendatang, duaribuan tetap membaca informasi-informasi menarik seputar bulutangkis, termasuk yang duaribuan temukan hari ini, sang Dokter yang Juara Dunia.

Ini bukan cerita nyata, karena kita tahu jarang sekali atlet yang sesuai meraih gelar Juara Dunia, mau disibukkan dengan perkuliahan apalagi untuk Kedokteran. Tapi cerita fiksi ini tentu akan membuka mata kita tentang Bulutangkis.

Kisah yang diambil dari togaretta.multiply.com ini mengandung tamparan yang besar kepada pemerintah mengenai jaminan kehidupan atlet, dan tentunya makna mendalam lain yang bisa kita petik sebagai pecinta bulutangkis.

Berikut adalah Cerita yang tidak bisa dibilang pendek sih.. sekali lagi Cerpen ini diambil dari togaretta.multiply.com :

——————————

Inilah yang ke-sembilan kalinya aku kemari. Masih bersama Ayah dengan motor butunya. Tiga tahun yang lalu saya kesini untuk pertama kalinya. Hanya memandangi papan pengumuman yang lusuh itu. Berharap namaku tertulis rapih disana, ataupun acak-acakan, tidak mengapa, asalkan namaku ada. Namun, ternyata setelah tiga tahun berturut-turut ikut, namaku belum tertulis pula disana. Beruntung aku punya ayah yang hebat, ayah juara satu sedunia.

Aku tak berani mendekat, hanya ayah yang maju, menerobos kerumunan orang. Aku menunggu dibelakang, berharap-harap cemas, sambil mencengkram ujung baju kaosku. Umurku 12 tahun kini. Aku sangat mengidolakan jawara bulutangkis saat ini, Liliyana Natsir. Karena dialah yang sering aku tonton bermain dilapangan, saya tidak mengenal permainan Susi Susanti, tapi saya tau beliau sangat tersohor waktu itu. Aku hanya kenal kak Butet, tetangga saya pula.

——————————

Aku sangat menyukai olahraga tepok bulu ini. Dahulu waktu aku masih kecil, masih TK kalau tidak salah, aku suka diajak ayah bermain di GOR dekat rumah kami. Ayah, ibu, dan ketiga saudara lelaki saya akan bermain bersama, sementara aku akan asyik memain-mainkan kok yang rusak. Asyik berlari kesana kemari, atau ikut berlari-lari dilapangan berwarna hijau itu. Sesekali aku diangkat keluar lapangan, tapi dengan cepat aku akan berada di tengah lapangan lagi, ikut berlari kesana kemari. Kalau ada yang berani mengganggu aku akan menangis, dan semua akan rela saya ganggu.

Menjadi anak bungsu dan satu-satunya wanita sungguh menyenangkan. Aku punya kakak-kakak yang perkasa, yang bisa melindungi saya dari bahaya. Ada ayah dan ibu yang selalu menyayangi dan memberikan apa yang aku butuhkan. Tapi tidak untuk yang satu ini. Menjadi atlet badminton. Yang pertama mencak-mencak adalah ibu, kemudian ayah akan dimarah-marahi hingga akhirnya ayah pun tak setuju. Kaka-kakak ku? Tentu mereka juga setuju dengan ibu.  Kata ibu, aku boleh aja sering ikut main bulutangkis, tapi tidak menjadi atlit. “Ibu mau kamu jadi dokter, nduk” katanya suatu ketika.

Aku tak menolak menjadi dokter, aku sungguh ingin jadi dokter, tapi aku juga sangat mau jadi atlit. Di hari ulang  tahunku yang ke sepuluh, aku berbisik kepada mama, “ Ma, aku mau jadi dokter yang juara bulutangkis dunia”. Ternyata, tidak memandang ini adalah hari ulang tahunku, mama tetap tidak setuju. “Nduk, mana ada dokter yang sekaligus juara bulutangkis?”. Aku tak kehabisan akal, “kalau begitu, aku akan jadi yang pertama, Dr. Syvanna, Rank 1 BWF”. Ibu hanya tersenyum, lantas mengalihkan kgiatan kami, membuka kado malam itu.

Aku kaget, ada sebuah kado yang dibungkus tidak rapih, memanjang. Sepertinya aku kenal benda ini. Hm,, aku buka pelan-pelan, aku bersorak..’Horeeee!!, ma lihat ma..lihat…” sambil menari narikan raket yang berkilau-kilau itu. Pegangannya terbungkus kain handuk berwarna pink, dengan senar warna putih yang menyelip-nyelip tersulam indah. Di pegangan nya tertulis pesan, “untuk dinda tercinta, Syivanna, semoga bermanfaat, Kak Butet”. Aku girang bukan kepalang..berlari-lari tak jelas. Padahal tadi aku tak melihat kak butet, yang aku tau kak butet tetanggaku itu, sedang berlaga di All England. Aku mau sekali menonton dia malam ini, namun sayang tak ada media tv yang menayangkannya.

——————————

Ayah mendekatiku, keluar dari kerumunan orang-orang itu. Seperti biasa ekspresinya datar, seperti tahun-tahun sebelumnya. Harapanku kembali meredup, tapi segera menyala lagi, bukankah aku memakai raket pemberian kak butet untuk audisi kemarin, harusnya aku bisa! Aku main baik-baik saja, bahkan terbaik menurutku, dan aku tidak kalah kok, aku selalu menang, meskipun bukan menang kalah yang dinilai tapi bakatnya, tapi aku merasa memiliki itu. “Kamu diterima nduk” Kata ayah, yang membuatku melambung. Aku bahagia sekali, tak hentinya aku bersyukur pada Allah, betapa senangnya hatiku. Tapi kenapa ayah tak begitu bahagia? Tapi tak apalah yang penting aku diterima, mungkin ayah sedang tidak enak badan.

“Kenapa sih ma?”  seru ayah samar-samar terdengar dari kamarku, tak lama kemudian kudengar ibu menangis.

“Apa papa sudah lupa, apa yang menimpa mama, mama tak ingin terjadi lagi, lebih-lebih pada putri kita satu-satunya..pokoknya mama tak rela”

“Ma..tenang dong ma, mungkin nasib anak kita tak seperti nasib kita, jangan disamakan lah”

“Mungkin juga akan lebih buruk. Pa, kalau saja mama tak turut nafsu tuk jadi atlit kala itu, mama sudah bisa jadi dokter sekarang, tapi apa, mama tak dapat dua-duanya”

Sejenak mereka berdua terdiam. Aku kini tepat berada didepan pintu kamar mereka. Aku tau ini adalah situasi yang sulit untuk mereka.

“Tapi ma, kasian anak kita ma. Tadi pagi saya sudah ditelpon pak Bambang, panitia audisi. Anak kita ini berbakat ma, sudah 3 kali berturut-turut lulus, dan ini kesempatan terakhir dari mereka. Jangan lah kita halangi langkahnya lagi”

Aku tak tahan, aku berlari ke kamarku, aku banting pintu sekencang kencangnya, dan melemparkan badanku ke tempat tidur. Malam itu aku tulis sebuah janji, aku akan buktikan, aku bisa, aku bisa jadi atlit hebat, pun juga nanti bisa jadi dokter. Kata-kata itu berpilin melewati pembuluh-pembuluh darahku yang halus menuju ulu hati, dan tertulislah kata-kata itu, terpatri.

——————————

614791_10151009304438860_1298290313_o

Kini aku berada di Hyderabad India, kota yang indah. Kota pertama yang kubesuk diluar negeri. Bahkan kota kedua diluar Jakarta, aku biasanya hanya ke Solo, jenguk mbah ku disana. Aku bersama mama kini. Beliau sudah mulai merelakan jalanku, setelah aku buktikan nilaiku disekolah baik-baik saja. Dan juga setelah aku buat janji padanya, lulus SMA aku akan ikut tes kedokteran, maka tentram lah hatinya.

Ini adalah tahun ketiga aku bergabung dengan pelatnas kebanggaan Indonesia di Cipayung. Akhirnya aku dipercaya untuk ikut tournament tingkat dunia. Meskipun aku harus memulai dari babak kualifikasi, tapi aku tetap senang, Aku pun tak sendiri. Untuk tunggal putri, aku bersama temanku Maria, dan kedua kakak tingkat kami yang sudah sering menjuarai tournament dunia. Hanya aku dan Maria yang memulai dari babak Qualifikasi. Aku akan menghadapi pemain Korea dilaga pertama. Aku tau dia lebih tua setahun dariku, tapi aku tak gentar. Mama selalu membesarkan hatiku. Dan aku tak merasa punya beban.

Rintangan pertama bisa kuhadapi, aku harus menundukkan pemain India untuk bisa masuk ke babak 16 besar kali ini. Bermain melawan pemain tuan rumah sedikit berbeda rasanya. Hiruk pikuk gemuruh sorak sorai penonton tuan rumah begitu membahana, meskipun ini hanya babak penyisihan qualifikasi. Tapi ini belum seheboh supporter senayan waktu aku menjuarai kejuaraan tangkas. Aku berusaha fokus dibabak kedua, setelah dibabak pertama kalah menyakitkan dengan skor 22-20. Poin demi poin kuraih, dan celah permainan lawan sudah mulai kubaca. Aku menang mudah dengan 21-10, begitu juga di babak penentuan  babak ketiga aku menyudahi permainan dengan skor 21-15. Kulihat mama bersorak gembira. Kuhapus peluh dimukaku, dan tak sadar aku berteriak sekencang-kencangnya, seolah-olah aku lebih keras dari sorak sorak pendukung pemain tuan rumah itu.

Nasib baikku dihari pertama ini tak diikuti rekanku Maria. Dia terhenti di babak menuju 16 besar ini, dari tangan pemain China. Tapi tak mengapa, dia jadi punya waktu mendukung dan menontonku. Begitulah dia selalu menjadi sahabat yang baik. Lawanku berikutnya dari Negara tetangga Malaysia. Dia pernah mengalahkan kak Anna di Malaysia setahun yang lalu. Kak Anna pernah cerita kalau lawanku ini punya smash yang kencang, namun tak kuat bermain bola panjang. Jadi menghadapinya, aku harus bermain bola panjang, dan tak boleh memancingnya untuk smash.

Upayaku berhasil, setidaknya di babak pertama, aku berhasil menguncinya dengan skor 21-17. Namun babak kedua dia terus memaksaku mengikuti gaya bermainnya, dan aku pun tak berdaya dan takluk sangat mudah 21-10. Aku lihat mama mulai cemas. Aku tenangkan pikiran, kali ini, tak ada sorak sorai penonton tuan rumah. Sampai pergantian lapangan aku masih unggul 11-9, kami pun berganti tempat. Aku ingat, seringnya bola keluar karena pendingin ruangan tidak mendukung. Aku putar strategi, aku tantang dia didepan net. Dan ternyata sangat manjur, aku mengunci set terakhir ini dengan skor 21-18. Kembali senang tidak kepalang. Beberapa langkah lagi aku akan menjadi juara dunia, meskipun masih juara dunia junior, tapi aku ingin sekali menjadi juara dunia.

Kak Butet pernah cerita, kalau dulu dia juga memulai dengan menjadi juara dunia. Aku semakin terpacu. Pagi ini kutatap papan drawing permainan, di babak perempat final ini aku akan menghadapi pemain Thailand yang diunggulkan ditempat ke-5. Tak ada cerita dan informasi yang kudapatkan kali ini. Tapi kata pelatih, kami memilikki gaya permainan yang sama. Itu artinya yang berperan adalah kesabaran dan keuletan. Seperti biasa, selalu ada waktu kata-kata motivasi dari mama sebelum bermain, dan itu selalu membakar semangatku. Namun entah mengapa pemain Thailand ini tidak setangguh yang saya bayangkan. Mungkin terlalu lelah setelah menandaskan unggulan lainnya dibabak 16 besar. Aku memanfaatkan itu, dan membuat kejutan pertamaku dengan menandaskan pemain unggulan dengan skor 21-19 dan 21-18.

Lengkap sudah kebahagiaan malam ini, ketika ayah menelepon menjanjikan akan hadir jika aku bisa menembus babak final. Ayah bangga sekali, pertama kalinya aku dengar semangat menderu-deru itu. Aku yakin sekali, aku akan menantang unggulan lainnya dari China, Unggulan dua ini terkenal begitu tangguh. Tapi aku yakin, aku akan menang, karena aku bertiga dengan ayah dan mama. Di partai lain, kak Anna yang diunggulkan di tempat ketiga akan menghadapi unggulan teratas yang tak lain adalah pemain terbaik tuan rumah.

Pertandingan pun dimulai. Beberapa saat diawal permainan, tangan dan kakiku terasa kaku. Sampai aku dengar suara mama memecah ketegangan para penonton. “Syifa!!!”, Ajaib aku seperti terbangun. Dan mulai mengejar ketertinggalan. Tak salah dia menjadi unggulan kedua, dia begitu tangguh, ulet dan mempunyai variasi pukulan yang banyak. Meskipun permainan sudah berlangsung 15 menit, dan set pertama hampir usai, aku belum menemukan titik lemahnya. Hanya kejar-mengejar point akibat kesalahan-kesalahan kecil diantara kami. Aku berusaha menekan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, sementara lawan terjebak dan terpaksa mengembalikan bola tanggung. Aku pun menutup set ini 21-19. Babak kedua tak se-alot babak pertama. Pemain bermata sipit ini terus memaksaku menjalani set ketiga, dan dia berhasil. Babak ketiga pun dipertandingkan. Aku paksa dia bermain bola panjang kali ini, Aku sangat menyukai permainan seperti itu. Sedikit berimbas, setidaknya sampai perpindahan lapangan, aku masih unggul meski hanya selisih satu poin.  Setelah menginjak angka 15, poin kami terus berkejar-kejaran sampai pada angka 20-20. Aku paksakan sedikit, mengeluarkan segenap tenaga yang kumiliki, namun tetap tenang. Ku tatap mata lawanku penuh emosi. Dari matanya aku melihat aku mengangkat trophy kemenangan tournament ini. Dari sudut kiri aku coba layangkan dropshot ke sisi kanan depan lawan, berhasil dikejar, disilangkannya kearah kiri lapanganku, dengan susah payah aku menggapainya, nyaris tidak dikejar, aku tempatkan di sisi kiri belakangnya, dia pun mundur dan masih dapat dijangkau, namun beruntung pengembaliannya tanggung, dan berhasil aku tutup dengan smash, dan akhirnya aku menang dengan skor 25-23. Tak lupa aku bersujud, bersyukur pada Allah.

——————————

Ayah akhirnya memenuhi janjinya. Pagi waktu India, dia mengetuk pintu kamar kami. Aku langsung memeluknya. Ayah telah menjual motor butut kesayangannya untuk datang kemari. Di babak puncak aku akan menghadapi unggulan teratas, pemain India yang berhasil menaklukkan kakak kelasku Anna, dengan skor sangat tipis. 19-21, 22-20 dan 19-21. Kak Anna pun berbagi tips padaku, dalam menghadapinya. Kak Anna yakin bisa mengunci lawannya itu, namun karena tekanan penonton begitu kuat, Kak Anna akhirnya menyerah.

Pukul 16.00 waktu setempat, partai final pun digelar. Partai pertama adalah ganda campuran mempertemukan temanku dipelatnas dengan pasangan dari China. Pertandingan begitu alot sampai akhirnya Indonesia merebut gelar pertama. Partai selanjutnya tunggal putra, mempertemukan unggulan satu dari Indonesia dan pemain non unggulan dari Korea Selatan. Namun, pertandingan terlihat sangat timpang, dan Indonesia merebut gelar keduanya. Aku semakin gugup di belakang panggung. Disana sedang berlangsung upacara pemberian medali. Ayah menggenggam tanganku, mama memelukku erat, mereka serentak menyemangatiku. Tak lama kemudian suara protokol memanggil finalis untuk tunggal putri. Aku angkat kaki menunduk, tidak akan terpengaruh gemuruh supporter tuan rumah. Ada ribuan orang disini, sesak penuh dengan orang. Entah mengapa ayah, berhasil melobby pelatihku, dan dia duduk disebelah pelatih dibelakang area permainanku. Terima kasih ayah, akan kutunjukkan padamu, pekikku dalam hati.

Babak pertama dimulai. Inilah lawan tersulit yang kuhadapi. Gemuruh penonton lebih berat dari yang kubayangkan dan kurasakan sebelumnya. Sudah aku coba bermain bola panjang, namun dia tidak terpengaruh. Kutantang didepan net, malah aku yang diserang. Dan babak pertama ini miliknya, telak 21-7. Ayah tak berhenti berteriak-teriak penuh semangat, sampai ditegur wasit. Babak kedua hampir menjadi milik pemain unggulan ini jika saja aku tak menemukan titik lemahnya. Aku tertinggal 5 poin kali ini di posisi 13-18. Pelan-pelan aku paksakan douce. Dan babak kedua ini milikku, 27-25. Gemuruh penonton mengawali babak ketiga, namun tidak berpengaruh banyak, aku sudah membaca kelemahannya, dan aku lihat kelelahan diwajahnya. Dengan mudah aku mengunggulinya 17-11. Dia mencoba memainkan bola di bibir net, kemudian mengangkat kebelakang, namun masih bisa aku jangkau, diulanginya dari sisi kanan, aku kembalikan ke sisi kiri, begitu berulang-ulang, sampai penonton menahan nafas kali ini. Diangkatnya bola kebelakang, aku smash, dan masuk. Namun aku terjatuh, sepertinya kakiku terkilir, aku sempat merasakan ada yang berbunyi disana. Aku meringis kesakitan, mencoba bangkit, namun tak kuat. Aku lihat mama menutup mulutnya, penuh khawatir. Aku butuh 3 point lagi Tuhan. Pelatih datang padaku, megikat kakiku dengan perban menggerak-gerakkannya, sambil menyemangati. Ayah menghapus peluh diwajahku, dan menggenggam tanganku penuh semangat. Gemuruh penonton membuatku tak mendengar teguran wasit. Namun ayah dan pelatih cepat meninggalkan lapangan, aku berdiri, dan menghampiri wasit. Aku menyanggupinya. Aku butuh 3 poin lagi, aku bisa! Lima poin diraih lawan berturut-turut, dengan mudah, hingga aku meraih poin pertama ku dari 3 poin yang aku butuhkan. Point berikutnya masih ditanganku, namun segera berpindah. Aku butuh satu point lagi, terpisah dua poin dari lawan. Poin berikutnya menjadi milik lawan, dan kami terpaut satu poin kini. Aku tatap ayah, kemudian mama, mereka mengangguk yakin.  Aku rebut poin ini atau aku akan menjadi pecundang selamanya. Namun lawan memanfaatkan kakiku ini. Dimainkannya bola depan belakang, tapi aku masih bisa menjangkau, sampai akhirnya lawan mengangkat bola jauh ke belakang, tidak bisa kujangkau, aku pun lemas, tak kuat menjangkau, hanya menatap bola yang jatuh. Penonton bersorak, namun aku lihat penjaga garis mengangkat tangan kesamping, artinya bola keluar. Wasit membenarkan, aku seperti tak percaya, penonton riuh, lawan pun protes. Aku hanya terpaku ditengah lapangan, nafasku sepertinya sudah habis. Dan wasit kukuh, dan akulah pemenangnya. Aku dipapah keluar lapangan. Aku juara dunia!!! Junior tentunya.

——————————

Hari ini aku tatap foto itu, foto yang dibingkai cantik, aku mengangkat medali kebanggaan itu setinggi kupingku. Raket yang kupakai, raket pemberian kak Butet masih tergantung di dinding. Kini aku tengah bersiap mengenakan seragam Koas ku di hari pertama ku masuk rumah sakit. Kakiku yang sempat cidera akut, akhirnya sembuh, dan itu semakin mengukuhkan niatku menjadi dokter.

Itulah pertandingan internasionalku pertama dan terakhir. Dan aku telah memenuhi janjiku mejadi dokter yang juara dunia badminton. Tapi mungkin terbalik, Juara dunia Badminton yang menjadi dokter.

TAMAT

——————————

Bagaimana ceritanya? bagi saya sendiri menarik untuk dibaca.. Sekali lagi, Cerpen ini saya salin dari togaretta.multiply.com