Kisah Degradasi Alrie Guna Dharma

thumb-alrie%202ewq

Beberapa hari yang lalu, para pebulutangkis Indonesia dibuat degdegan dengan rencana Binpres pimpinan Rexy Mainaky yang akan melakukan promosi dan degradasi kepada para pemain Pelatnas. Namun Degradasi dan Promosi pemain juga sempat terjadi awal tahun ini, dimana saat itu beberapa pemain muda, salah satunya Alrie Guna Dharma (foto atas) dicoret dari Tim Pelatnas. Mari kita ikuti kisahnya.

Saat hendak didegradasi, ternyata atlet yang tahun lalu menjuarai Bangladesh International Series 2011 itu mengaku tidak tahu. Bahkan ia kaget mengetahui didegradasi, karena beberapa hari sebelumnya PBSI mengumumkan akan ada perpanjangan kontrak.

“Saya langsung merasa tenang (waktu itu), karena setidaknya masih akan bertahan di pelatnas setahun lagi,” ujar Alrie, seperti dikutip dari beritasatu.com

Tapi ketika mendengar keputusan pelatih pada saat itu, Li Mao, ia merasa sangat kaget. “Saya kaget banget. Nggak nyangka,” begitu ungkapnya. Saat itu, namanya dicoret bersama 4 pemain muda lain, yakni Febriyan Irvannaldy, Putri Muthia Restu Pangersa, Ayu Wanda Tika Wulandari dan Yulia Yosephine Susanto.

Alrie makin kecewa ketika Li Mao tak memberitahunya alasan pencoretan dirinya. “Dia hanya minta maaf kalau saya termasuk yang didegradasi. Dia hanya bilang, pelatnas cuma punya jatah delapan tempat untuk pemain pratama,” ujar Alrie.

bulu

Meskipun kecewa, Alrie mengaku tidak akan protes. Sang pelatih memintanya untuk membuktikan lewat prestasi. “Saya diminta sabar oleh pelatih, dan membuktikan ke depannya kalau keputusan mereka salah,” ujarnya.

Saya akan kembali dengan satu syarat

Alrie Guna Dharma, pemain kelahiran Bandung ini ternyata punya klub sendiri, yakni PB Guna Dharma yang didirikan pada tahun 2004. Seusai dicoret dari Pelatnas, ia kembali berlatih di klubnya.

Saat dijumpai di Bandung, Alrie mengaku memang siap kembali ke Pelatnas apabila suatu hari nanti dipanggil, tetapi ia punya syarat, yakni PBSI harus berbenah diri.

Menurutnya, PBSI saat ini sangat subjektif dalam merekrut pemain. Bahkan dalam hal pengiriman pemain pratama ke turnamen di luar negeri. Bayangkan saja, dari 8 turnamen yang diikutinya sepanjang musim 2011, PBSI hanya mengirimnya ke Malaysia. Selebihnya, ia berangkat dengan uangnya sendiri, termasuk ketika menjuarai Bangladesh International. “Ke depannya, PBSI harus lebih obyektif,” ujarnya.

Ketika dikonfirmasi oleh beritasatu, Wong Tat Meng menyebutkan bahwa banyak faktor yang mendasari pendegradasian itu. “Misalnya, kondisi fisik mereka selama latihan, prospek ke depannya, attitude (sikap) sewaktu latihan, apakah dia bersemangat atau tidak. Jadi, tidak hanya prestasi di pertandingan,” ujar Wong.

Iklan