Gillian Clark : Just be yourself

gillian-clark-05-div-mp-europeanchampionships2010

Sudah sangat lama sekali duaribuan mengidolakan sosok voice of Badminton ini, saya berharap ketika menjadi dewasa bisa masuk ke kancah jurnalisme televisi untuk menjadi komentator Bulutangkis sepertinya. Mendengar suaranya saja, kita yang sedang berada di Warnet seolah-olah merasakan eforia ketika berada di Stadion Bulutangkis. Sosok selalu selalu berkomentar secara emosional itu adalah Gillian Clark.

Gillian Margaret Clark, MBE (gelar istimewa dari Kerajaan) saat ini diakui oleh dunia bulutangkis sebagai pawangnya komentator Bulutangkis, karena beliau sungguh sangat hebat ketika berkomentar lewat suaranya yang mantap dan tenang, ditambah dengan deskripsinya cerdas dan ringkas dari semua drama, intensitas, sensasi, tumpahan, sukacita dan penderitaan yang berlangsung di lapangan.

Sebelum menekuni dunia penyiaran, ia adalah seorang mantan atlet Bulutangkis yang telah berkarir sepanjang 14 tahun di dunia.Ia meraih banyak sekali titel, diantaranya World No #1 di ganda putri dan ganda campuran pada masanya, 12 medali Commonwealth Games (6 diantaranya emas), 9 medali di European Championship (diantaranya 4 emas), Perempat Finalis Olimpiade dan 10 kali Juara Nasional Inggris.

Bahkan seusai pensiun, Ia tetap terus berkontribusi membawa nama Olahraga Britania Raya, diantaranya menjadi Presiden wanita pertama dari International Badminton Players’ Federation (1990-1995), Chairman dari English Badminton Players’ Association (1990-1993), Founder member of the British Olympic Association’s Athletes Commission (1992-1994) hingga Member of The Olympians (British) Committee. Jasa-jasanya itulah yang membuatnya diberikan tanda kehormatan MBE dari Kerajaan.

4ec1694c5a477_Gill_Clark

Kapan anda memulai memutuskan untuk menjadi komentator Bulutangkis?

Semuanya dimulai ketika saya masih berkompetisi. Lalu, saya menjadi presiden perempuan pertama dari Players’ International Commission. Aku dipandang sebagai orang yang suka berpendapat dan tidak takut untuk mengungkapkannya. Sehingga Saya diminta untuk berkomentar tentang sebuah pertandingan pada tahun 1994.

Mengapa anda menekuni dunia itu?

Saya memiliki passion besar untuk olahraga. Menjadi komentator layaknya menjadi pemain. Orang tidak bisa bermain tanpa latihan yang tepat. Saya menerapkan hal yang sama untuk berkomentar.

Yang berbeda adalah saya memang tidak perlu untuk berkeringat.. dan bagian yang terbaik adalah saya dibayar lumayan untuk menonton pertandingan dan mengomentarinya.

Apakah anda belajar untuk menjadi Komentator handal seperti saat ini?

Saya menghabiskan banyak waktu melakukan penelitian. Saya juga menonton banyak pertandingan olahraga lain dan melihat apa yang komentator lain lakukan. Saya biasanya mengambil beberapa tips yang berguna … tidak ada akhir untuk belajar

Pernahkah anda bosan dalam mengomentari sebuah pertandingan?

Saya tidak pernah menganggap setiap pertandingan membosankan karena setiap pemain memiliki kekuatan masing-masing dan saya terpesona dengan semua kepribadian yang berbeda itu untuk berjuang dalam mengatasi tekanan.

gillclarkws

Menjalani sebuah pekerjaan tentu memiliki suka dan duka tersendiri, termasuk menjalani profesi sebagai komentator. Gill mengaku bagian tersulit menjadi koemntator adalah tidak pernah pindah tempat duduk. “Bagian yang tersulit adalah saya tidak pernah pindah dari tempat duduk saya sampai acara selesai … bahkan jika ada kebutuhan mendesak,” ujarnya.

Gill juga menceritakan saat dimana dirinya harus 5 jam duduk melihat dan mengomentari pertandingan seperti di turnamen Beregu Thomas dan Uber Cup atau Piala Sudirman, dirinya harus terus bercerita dan tetap menghidupkan suasana. Gimana susahnya tuh..

14 tahun berkarir sebagai pemain tentu bukan waktu yang singkat. Sebagai seorang pemain, Gill memiliki sosok idola, yakni Li Lingwei, yang kini sukses menjadi Member IOC dan terus berjuang untuk mempertahankan Bulutangkis di Olimpiade 2020 yang terancam.

“Sebagai pemain, aku mengidolakan Li Lingwei dari Cina. Dia punya bergerak indah dan skill yang hebat. Saya belajar sedikit darinya. Ini sama dengan menjadi seorang komentator. Ini bukan tentang menjiplak tetapi mengambil beberapa titik di sana-sini dan kemudian membuat hal yang berbeda,” ujarnya.

“Jadi, untuk semua calon komentator olahraga, saran saya sederhana : Just Be yourself (jadilah dirimu sendiri). Bersikaplah jujur dan tunjukkan passion dari dalam dirimu,” tambah Clark. [Buat saya sendiri.. amin]

Gillian Clark dimata duaribuan

Emms Robertson

Dia adalah komentator yang hebat, duaribuan tahu sosok Gillian Clark saat ia mengomentari pertandingan hebat antara Gail Emms dan Nathan Robertson melawan pasangan unggulan kedua yang juga andalan tuan rumah, Zheng Bo-Gao Ling di babak pertama Olimpiade.

Lewat komentar-komentarnya, ia menghidupkan suasana.. Sampai sekarang, kata-kata Gill saat Match yang populer di Youtube itu masih teringat.. Di akhir match yang dimenangkan Emms-Robertson dengan skor 21-16, 16-21 dan 21-19 padahal di gim ketiga tertinggal jauh 12-17, Gill berkata yang intinya memuji mental Emms dan Robertson saat ketinggalan jauh 5 poin di gim penentuan pada babak pertama di Olimpiade, mereka bisa balik unggul menjadi 19-17 lalu menang 21-19 (foto atas)

Di Pembukaan Olimpiade, Gillian Clark diberi kehormatan untuk menjadi pemandu jalannya Upacara Pembukaan. Komentarnya tentang Indonesia disaat Parade negara-negara peserta membuat saya terkenang. “Indonesia have 6 gold medal, and all of them come from Badminton,” begitu ujar Gill. Sayang, di Rio 2016, Gill mungkin menyinggung kegagalan total Bulutangkis untuk mempertahankan medali emasnya..

Atau saat Kontroversi Olimpiade, Gillian Clark mengungkapkan kata-kata yang menusuk. Kalo tak salah komentarnya seperti ini, “Yang saya lihat malam ini bukan olahraga, ini aib!!” begitu menusuknya komentar Gill.

Gillian Clark, saya ingin seperti anda…