Taufik Hidayat : Bulutangkis bukan hidup saya

20120415TAUFIK

Legenda hidup Indonesia yang segera Pensiun, Taufik Hidayat, beberapa tahun lalu sempat diwawancara oleh salah seorang reporter asal India, Dev Sukumar yang meraih penghargaan BWF Award tahun 2011 lalu. Dalam wawancara yang cukup panjang itu, Taufik mengaku bahwa bulutangkis bukan merupakan hidupnya. Terkejutkah anda, tapi tunggu lanjutannya..

“Ini (bulutangkis) bukan hidup saya. Ini sesuatu yang saya cintai. Ini adalah jembatan untuk mencapai apa yang ingin saya lakukan. Tapi begitu banyak pemain tidak bisa hidup dari itu. Aku bisa, jadi bagi saya itu adalah sarana untuk kehidupan yang lebih baik. Ini tentang mencari nafkah,” ungkap Taufik tegas pada Dev.

Ini tentu menjadi tamparan tegas, bahwa Bulutangkis adalah sarana Taufik untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Ia melakukannya, ia memang memiliki kehidupan yang lebih baik saat ini, tapi ia sangat menyayangkan begitu banyak pemain yang tidak bisa hidup dari bulutangkis.

Dalam wawancara Dev itu, ia juga menemukan hal baru dari sosok Taufik. Jika para pemain luar negeri sering melihat permainan lawan untuk bisa dikalahkan. Berbeda dengan sosok Taufik Hidayat. Ia mengaku tidak suka melihat pertandingan orang lain.

“Aku tidak suka menonton pertandingan (bulutangkis). Saya mencoba untuk tetap mengingat bagaimana saya memainkan pertandingan terakhir saya, karena aku bukan tipe yang suka menonton orang lain dan belajar dari mereka,” kata Taufik.

58821_taufik_hidayat_663_382

Yah pantas Taufik berkata demikian, karena sebenarnya banyak para legenda bulutangkis yang mengatakan bahwa Taufik tidak membutuhkan pelatih, karena ia memiliki kemampuan yang berlebih, yang ia butuhkan adalah teman, dan Mulyo Handoyo lah yang cocok jadi temannya.

Itu hanya dua kutipan dari wawancara Taufik, berikut saya beberkan beberapa pertanyaan menarik Dev Sukumar, sosok wartawan India hebat yang sukses menyabet BWF Awards.

Anda terlihat sangat santai saat bermain Bulutangkis. Bagaimana cara anda menjaga kebugaran anda?

Ini tidak terlalu sulit. Saya berlatih dan bermain dengan hati saya. Jika saya menikmatinya, saya bisa bermain. Jika saya tidak ingin bermain, jika saya tidak merasa seperti itu, saya pikir itu nasib buruk saya, dan saya kalah. Jika saya merasa seperti itu, saya bisa melakukan apa saja.

Lebih dari satu dekade setelah anda memulai karir, anda masih menjadi andalan Indonesia. Apakah anda khawatir bahwa tidak akan ada pemain muda masa depan?

Ya, tapi ini juga terjadi di Malaysia. Mereka hanya memiliki Lee Chong Wei (dunia No.1). Organisasi kami (PBSI) tidak benar. Dari Piala Thomas tahun 2002, Indonesia masih Taufik, Sony (Dwi Kuncoro) dan Simon (Santoso). Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tentu saja aku khawatir.

183403_pembukaan-taufik-hidayat-arena_663_382

Anda adalah bagian dari tradisi besar pahlawan bulu tangkis, seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, dan lain-lain dari Indonesia. Bagaimana Anda melihat diri Anda dalam jajaran yang hebat itu?

Saya tahu sejarah bulutangkis Indonesia. Namun ada yang berbeda beberapa waktu terakhir. Jika Anda melihat video saya atau Lin Dan, dan Rudy Hartono, rasanya seperti … mereka tampak slow. Ini seperti sepak bola, Anda melihat Pele atau Maradona, atau sekarang Messi atau Cristiano Ronaldo, itu berbeda. Era berbeda, gaya mereka juga berbeda.

Apa pendapat anda tentang pemain China?

Saya tidak suka para pemain China (mungkin dalam arti dominannya). Ini seperti, ketika Anda berjalan di jalan, mereka akan menjemput Anda dan membuat Anda menjadi juara dunia. Kamu tahu, Mereka seperti mesin. Pemain memiliki karir yang singkat, mereka hanya bisa empat atau lima tahun maksimal.

Dan Lin Dan?

Saya memiliki rasa hormat untuknya. Dia punya semua titel besar, seperti Kejuaraan Dunia sebanyak tiga kali, emas Olimpiade, All England dan emas Asian Games. Dia beruntung. Anda tahu, Pemain dunia No.1 Lee Chong Wei. Dia punya begitu banyak gelar Super Series, tetapi ia tidak pernah memiliki emas Olimpiade, Kejuaraan Dunia atau Asian Games atau bahkan emas SEA Games. Dia tidak beruntung. Aku beruntung. Anda dapat memenangkan sepuluh gelar Super Series tapi tak seorang pun akan tahu, tapi jika Anda memenangkan satu emas Olimpiade, setiap orang akan tahu.

Apakah Anda masih menikmati permainan?

Ya, aku menikmatinya, meski Kadang-kadang membosankan. Di Jakarta saya punya keluarga, saya punya anak. Saya tetap berlatih setiap hari. Dan selama turnamen ketika saya bepergian, aku rindu keluargaku, aku rindu anakku. Ini sangat sulit. Tapi keluarga saya mendukung saya. Ketika saya tidak mengikuti turnamen, saya ingin tinggal di rumah, menghabiskan waktu dengan anak saya. Sebelumnya, aku bisa melakukan apapun yang saya inginkan. Sekarang saya tidak punya waktu banyak.

1894834

Anda seorang selebriti di Asia. Seberapa sulit untuk menghandle perhatian itu?

Di Indonesia, bulutangkis adalah olahraga no.1. Dalam sepakbola, kita bukan apa-apa. Tapi di bulutangkis, saya telah juara dunia, Asian Games dan juara Olimpiade. Saya merasa normal. Kadang-kadang saya menikmati perhatian (itu), tapi kadang-kadang saya (merasa) tidak memiliki privasi. Di Jakarta tidak apa-apa. (Tapi) jika saya pergi ke sebuah kota kecil, setiap orang akan mendatangi saya. Aku harus berlibur di negara lain.

Siapa idola anda?

Idola saya adalah Poul Erik Hoyer Larsen. Juga, ada Joko Suprianto. Joko adalah pemain yang lengkap. Dia adalah seorang penghibur.

Sebelum interview itu pula, Dev Sukumar menyisipkan narasi yang tentu akan membuat kita terharu. Dimana setiap turnamen yang diikuti Taufik, para wartawan pasti sangat ingin menginterview sosok Taufik. Wawancara dengan Taufik Hidayat adalah impiannya, dan baru terwujud 5 tahun ketika ia mulai meliput turnamen internasional (belum dihitung karirnya di dalam negeri India loh). Jadi, Dev sangat apreciate Taufik.

Taufik Hidayat, jelang akhir karirmu, saya tetap akan mengidolakanmu…