Linda dan Kashyap naik tajam

vbk-Kashyap_jpg_1311934f

Dua Pebulutangkis yang menjuarai India Open GP Gold pekan lalu, Lindaweni Fanetri dan Kashyap Parupalli (foto atas) mencatatkan kenaikan peringkat yang tajam di daftar Ranking BWF yang dirilis Federasi Bulutangkis Dunia itu Kamis (27/12) kemarin.

Berdasarkan rilis terbaru BWF itu, Perempat Finalis Olimpiade London, Kashyap Parupalli yang menikmati gelar bergengsi pertamanya naik 6 peringkat ke posisi 14 besar dunia.

Sementara sang lawan di Final, yakni Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand, juga naik tajam 7 peringkat ke posisi 34 dunia. Belakangan, performa tunggal putra Thailand ini menanjak, usai dua kali menjadi Finalis di kelas GP Gold (di Korea dan India).

Di nomor tunggal putra ini, nama Indonesia memang masih mengandalkan nama-nama lama seperti Simon, Taufik dan Sony, bahkan Sony yang tahun lalu cedera, kini sudah menempati peringkat 13 dunia, diatas Tommy (22) maupun Hayom (25).

Prestasi yang tidak terlalu membanggakan juga dicatatkan di nomor putra lain, yakni ganda putra. Mendominasi di Perempat Final India Open lalu, nyatanya Korea lah yang memastikan gelar usai menciptakan All Korean Final yang dimenangkan Lee Yong Dae-Ko Sung Hyun.

704634165

Di Tour Indianya ini, Lee-Ko sukses menaikkan peringkat mereka dari posisi 21 ke posisi 12 Dunia, usai menjuarai dua turnamen di India, yakni TATA Open India International Challenge (foto atas) dan India Open GP Gold, dimana kedua turnamen itu memiliki jumlah poin yang sama dengan Kejuaraan Superseries Premier.

Tentu ini sangat menguntungkan bagi mereka, karena lawan-lawan yang mereka temui di India ini tidak terlalu berat, meskipun mereka harus maraton bermain selama dua pekan ini.

Ganda Putra Indonesia saat ini memang menjadi salah satu nomor yang akan dirombak besar-besaran oleh kepemimpinan Binpres Rexy Mainaky. Di turnamen Korea Open Superseries 2013, hanya satu pasangan pemain, yakni Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan yang bisa dipastikan tetap di Pelatnas. Jadi, pasangan lain di Pelatnas kemungkinan banyak yang akan dirombak, didegradasi dan digantikan (diumumkan hari ini).

Mitos buat Tunggal Putri?

Meraih gelar Juara usai mengalahkan andalan tuan rumah, Sindhu PV dalam rubber game 21-15, 18-21, 21-18. Akibat kemenangan itu, Linda sukses menapaki peringkat 25 dunia (naik 8 dari pekan sebelumnya).

Tapi, entah memang ini mitos atau bagaimana, setelah era Susi Susanti, tunggal putri yang baru berprestasi mengalami sedikit musibah, seperti yang terjadi pada Linda kemarin. Saat di babak Semifinal menghadapi Nozomi Okuhara, kaki Linda ternyata mengalami kapalan yang parah hingga berdarah.

“Ketika melawan Okuhara saya sempat mengalami kondisi yang kurang fit. Saat itu kedua telapak kaki kanan dan kiri saya sedang kapalan yang cukup parah. Saat bermain ternyata kapalannya pecah semua dan ketika minta izin wasit dan buka sepatu, kaki saya sudah berlumuran darah dan rasanya perih sekali, apalagi kalau dipakai untuk menapak,” tutur pemain berusia 23 tahun itu.

thumb-gp linda 1l

Ia sempat berniat untuk mundur karena rasa sakit yang ia rasakan, tetapi pelatih yang mendampinginya terus menyemangati Linda. “Saya sempat bilang sama pelatih kalau perihnya tak tertahankan tapi pelatih terus menyemangati. Saat itu saya berpikir saya tak mau menyia-nyiakan perjuangan saya, akhirnya saya tahan sakitnya dan terus bermain hingga menang,” tambah Linda.

Karena kapalan itu lah, Linda harus menunda untuk berlatih, padahal ia harus mengikuti turnamen Korea Open 2013, awal Januari mendatang.

“Saat ini saya akan mempersiapkan diri untuk turnamen Korea Open Super Series Premier 2013. Sejak kembali dari India maunya langsung latihan tapi karena telapak kaki saya masih perih saya mau lihat dulu kondisinya, memungkinkan atau tidak, tapi secepatnya kembali latihan karena turnamennya sudah dekat,” begitu ujar Linda beberapa hari usai menjuarai India Open.

Selain kakinya yang kapalan, ia ternyata juga mengalami cedera pinggang, ini yang membuat saya sedikit waswas di partai Final, karena ia terus menerus memegang pinggangnya. “Saya juga mau mengurus pengobatan untuk cedera pinggang yang saya alami beberapa bulan lalu, saya direkomendasikan dokter ke KONI untuk pengobatan cedera ini,” tutupnya.

maria

Linda seperti juga akan menjadi penerus nama-nama seperti Mia Audina, Lydia Djaelawijaya, Elen Angelina, Cindana Hartono dan Maria Kristin Yulianti (foto atas), dimana nama-nama itu adalah para tunggal putri Indonesia yang pernah berprestasi di kancah internasional, tetapi ketika sudah berprestasi, mereka didera masalah yang panjang hingga harus pensiun.

Sebut saja Mia Audina, si anak ajaib yang harus keluar dari Indonesia dan membela Belanda karena kondisi Pelatnas yang tidak kondusif bagi dara yang meraih perak Olimpiade di usia 16 tahun itu (peraih medali Olimpiade termuda, tapi untuk peraih medali EMAS termuda ya Lee).

Lalu nama Elen Angelina, Cindana Hartono maupun Lidya yang ketiganya satu angkatan di awal era 2000 juga harus pensiun. Cindana Hartono mundur akibat cedera berkepanjangan, diikuti Elen dan Lidya. Kalo tak salah, Elen dan Lidya ini pernah meraih gelar Juara Indonesia Open.

Maria Kristin kisahnya sudah kita ketahui panjang lebar, bagaimana sosok ini begitu fenomenal di tahun 2008, ketika membawa Tim Indonesia ke Final Uber 2008, Runner Up Indonesia Open 2008 hingga ditutup dengan medali perunggu di Olimpiade Beijing. Namun setelahnya, sosok ini didera cedera yang akhirnya membuatnya harus gantung raket.

Dominasi yang semu di Ganda Campuran

25661_slide

Indonesia berhasil menempatkan 3 ganda campurannya di 10 besar Ranking BWF usai pasangan Fran Kurniawan dan Shendy Puspa Irawati meraih gelar Juara di India Open GP Gold pekan kemarin. Fran-Shendy yang di partai Final membungkam pasangan Thailand dengan dua gim langsung 21-12, 24-22, naik 4 peringkat ke posisi 10 dunia.

Dua ganda Indonesia lainnya, yakni Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir dan Muhamma Rijal-Debby Susanto menempati peringkat 2 dan 7 BWF. Namun dibalik dominasi Indonesia yang bisa menempatkan 3 wakilnya di nomor ini, Indonesia harus mengakui bahwa pasangan Indonesia sangat sulit untuk menembus kekuatan pasangan ganda campuran dari China dan Denmark.

Sepanjang 2012, memang ganda campuran menjadi penyumbang titel terbanyak bagi Indonesia, namun titel yang didapat Indonesia tahun ini kebanyakan berasal dari turnamen yang tidak diikuti oleh pasangan dari China (ini ZZ dan XuMa) atau Denmark (Joachim-Christina).

Lebih baik punya satu wakil yang selalu mencapai babak Final, daripada punya tiga wakil, tapi hanya mendominasi di Perempat Final (kayak di Hongkong lalu, semuanya tumbang di Perempat Final, padahal ada 3 wakil).