Sang Pelopor Terdegradasi

sato1

Kekalahan Tim Thomas Indonesia di Perempat Final Piala Thomas 2012 lalu di Wuhan menjadi salah satu peringatan besar buat Tim Indonesia untuk melihat batapa besarnya kekuatan tim Bulutangkis putra Jepang saat ini, terutama di nomor tunggal, salah satunya adalah Kenichi Tago. Bahkan pemain nomor 1 dunia, Lee Chong Wei pun sudah sempat mengatakan bahwa Tago adalah salah satu sosok yang digadang-gadang menjadi bintang masa depan.

Tapi tak ada yang pernah tahu bahwa sebelum nama besar seperti Kenichi Tago maupun Sho Sasaki yang kini menduduki peringkat 10 besar BWF Ranking, Jepang memiliki pelopor bagi Tim Putranya, Shoji sato (gambar atas).

Awal mengenal Sato terjadi saat gelaran Piala Thomas dan Uber 2006 di Jepang yang juga menandai titik balik bagi Bulutangkis Putra Jepang. Di Piala Thomas dan Uber itu, Sato berhasil mengalahkan Taufik Hidayat yang saat itu masih pengantin baru di babak Perempat Final.

Meskipun berhasil mengalahkan Taufik di partai pertama, Indonesia berhasil membalas di tiga partai selanjutnya dan kembali menginjakkan kaki di Semifinal.

Dua tahun selanjutnya di Jakarta, Jepang lewat Shoji Sato kembali membuat kita semua terkejut. Di Penyisihan Grup C Piala Thomas, tak disangka Sato menyumbang poin lewat kemenangan atas Peter Gade dengan skor ketat 19-21. 21-14, 22-20 meskipun pada akhirnya Jepang kalah 2-3. Tapi jangan salah, 3 partai usai Sato berlangsung sangat ketat… Lihat inih!

sato6

Jepang baru menuai hasil di dua gelaran Piala Thomas selanjutnya, yakni di Kuala Lumpur 2010 dan Wuhan 2012 dengan menginjakkan kaki di Semifinal dan meraih perunggu (foto atas di Kuala Lumpur), setelah menunggu nyaris 31 tahun (terakhir Jepang mencapai Semifinal tahun 1979).

Dan Sato adalah Pahlawan bagi Jepang di Stadium Putra Kuala Lumpur tahun 2010. Di Penyisihan Grup B, Jepang menang 3-2 atas tuan rumah Malaysia.

Tertinggal 0-2 atas kekalahan Kenichi Tago dari Lee Chong Wei dan Hashimoto-Hirata atas Koo-Tan, Jepang membalas di dua partai untuk menyeimbangkan kedudukan 2-2 lewat kemenangan Sho Sasaki dan Kenta Kazuno-Kenichi Hayakawa.

Di partai terakhir, Shoji Sato turun untuk melawan Muhammad Hafiz Hashim, pemain jangkung peraih Trofi All England 2003 untuk memastikan tempat Juara Grup.

sato5

Pertanyaan sebenarnya sempat datang pada Sato (foto atas) diturunkan di nomor tunggal, padahal mulai awal tahun ia sudah berpindah di nomor ganda.

“Salah satu tunggal kami sikunya sakit. Tunggal yang lain adalah pendatang baru yang tidak memiliki pengalaman bermain di luar negeri. Jadi ini alasan staf meminta saya untuk bermain tunggal,” ujar Sato dalam wawancara pasca Piala Thomas itu.

“Orang-orang juga beranggapan bahwa saya memiliki performa yang baik apabila bermain beregu, karena sempat mengalahkan Taufik dan Gade, padahal saya tidak bisa mengalahkan mereka di turnamen individual seperti Superseries maupun Olimpiade,” tambah Sato.

Pada akhirnya keajaiban Sato di ajang Piala Thomas kembali terjadi saat melawan Hafiz. Ia berhasil mengalahkan pemain jangkung itu dalam tiga gim 21-10, 14-21, 21-18 dan memastikan Juara Grup bagi Tim Jepang.

sato2

Gelar Juara Grup menghindarkan Jepang dari Tim Kuat. Di Perempat Final, Jepang mengalahkan Jerman 3-1 dan menginjakkan kaki di Semifinal setelah menunggu selama 31 tahun. Di Semifinal, Jepang ditekuk Indonesia 1-3. Semua karena Sato, sosok yang saat itu dianggap sebagai Pahlawan Piala Thomas 2010.

Lagi, tahun 2010 Tim Jepang merangsek ke 4 Besar dengan secara mengejutkan mengalahkan Tim Thomas Indonesia dengan skor ketat 3-2, meskipun saat itu tidak ada Sato dalam jajaran skuad Jepang.

Pengalaman yang luar biasa dengan tampil di tiga Olimpiade, 2004 dan 2008 sebagai pemain tunggal dan 2012 sebagai pemain ganda tentu menjadi salah satu prestasi lain yang dicatatkan oleh Sato meskipun di ajang itu ia tidak terlalu banyak berbicara.

Di usia ke 30 nya ini, sang pelopor Bulutangkis Putra Jepang itu kalah saing dari para junior-junior Jepang yang mulai menunjukkan prestasi ketika turun di turnamen internasional. Alhasil, nama Sato dicoret dari daftar Tim Nasional Jepang yang tandanya Sang Pelopor Terdegradasi.

image

Usai gelaran All Japan Championship beberapa waktu lalu, Jepang mengumumkan susunan skuad Tim Nasional mereka. Selain nama Sato, sang pasangan Naoki Kamawae, Ai Goto, duo Shizuka Matsuo-Mami Naito dan Shintaro Ikeda pun dicoret. Kemungkinan adalah faktor usia, dimana kesemua pemain yang terdegradasi itu adalah para pemain yang sudah veteran di Jepang dan tidak jua menunjukkan prestasi yang bagus.

Berikut daftar skuad baru Tim Nasional Jepang yang dirilis kemarin :

MS : Kenichi Tago, Sho Sasaki, Takuma Ueda (foto atas), Kazuma Sakai, Kento Mamota, Riichi Takeshita, Akira Koga, Kenta Nishimoto

WS : Eriko Hirose, Minatsu Mitani, Sayaka Takahashi, Nozomi Okuhara, Kaori Imabeppu, Aya Ohori, Akane Yamaguchi, Yui Hashimoto

MD : Hiroyuki Endo-Kenichi Hayakawa, Noriyasu Hirata-Hirokatsu Hashimoto, Keigo Sonoda-Takeshi Kamura, Ryota Taohata-Hiroyuki Saeki, Takuto Inoue-Yuki Kaneko, Keiichiro Matsui-Koshun Miura

WD : Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna, Misaki Matsutomo-Ayaka Takahashi, Reika Kakiiwa, Naoki Fukuman-Kurumi Yonao, Megumo Taruno-Misato Aratama

Untuk ganda campuran, Tim Jepang biasanya melakukan kombinasi para pemain ganda putra dan putri.

Di Indonesia, tahun depan juga akan terjadi perombakan besar-besaran yang akan dilakukan oleh Rexy Mainaky yang kemarin tiba di Jakarta. Dari berita yang beredar, Pelatnas akan dikecilkan dan dirampingkan (terjadi degradasi) dan para pemain ganda putra dan putri bisa bermain di ganda campuran.

Rexy juga sempat menambahkan bahwa beberapa pemain senior tetap akan dipertahankan (mungkin kayak Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir). Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya…