Saatnya Orang Indonesia (Kembali) Memimpin BWF

ferry-sonneville-_111108130111-309

Setelah era kepemimpinan Ferry Sonneville (foto atas) di BWF tahun 1971-1974, belum ada orang Indonesia lain yang menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi itu. Selain sebagai diplomat olahraga ternama, karir sebagai atlet bulutangkis pun tidak bisa dipandang remeh, apalagi segudang bisnis yang diturunkan kepada anak-anaknya. Pak Ferry memang pantas untuk jabatan itu.

Semasa menjadi atlet, Ferry telah membawa Piala Thomas tiga kali beruntun dari 1958, 1961 dan 1964. Beliau juga menjuarai berbagai gelar individual, diantaranya sampai ke Final All England tahun 1959, meskipun pada akhirnya dikalahkan Tan Joe Hok.

Sosok Ferry seperti tampilan di foto atas itu memang sejak muda (19 tahun) telah berambut putih (stress kali ya). Apalagi kita tahu bahwa Ferry itu pernah berkuliah di Amerika, namun memutuskan untuk berhenti karena memperkuat Tim Thomas Indonesia dalam keikutsertaan pertama kali di Piala Thomas 1958.

ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed

Di keikutsertaan  pertama kalinya, Tim Indonesia yang diperkuat Ferry Sonneville (foto kiri), Tan Joe Hok, Eddy Yoesoef, Nyoo Kim Bie, Tan King Gwan, Lie Po Djian, dan Olich Solihin tampil menggemparkan ketika membabat sang juara bertahan Malaya, 6-3 di final.

Ferry tampil empat kali, 2 kali di tunggal dan 2 kali di nomor ganda dari 9 partai yang dipertandingkan (sistem saat itu). Indonesia berhasil mengalahkan Malaya dengan agregat 6-3. Klik untuk lebih jelas.

Usai gantung raket dalam dunia bulutangkis, karirnya berlanjut dengan mendirikan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di tahun 1951 bersama Dick Sudirman, Ramli Rikin, Sumantri, dan kawan-kawan.

Karir diplomasinya naik ketika ia masuk ke lingkaran organisasi IBF. Ia Menjadi Wakil Presiden tahun 1965-1971, lalu Ferry naik ke posisi Pimpinan untuk periode 1971-1974. Selanjutnya, ia kembali ke posisi Wakil Presiden untuk masa jabatan 1974-1976. Pada masanya, Bulutangkis sempat diuji cobakan di Olimpiade Muenchen 1972, meskipun baru dipertandingkan secara resmi 20 tahun kemudian di Barcelona 1992.

Setelah keluar dari BWF yang kala itu masih bernama IBF, ia lalu masuk bursa Pemilihan Ketua Umum PB PBSI dan memenangkan untuk periode 1981-1985. Saat menjabat Ketua Umum PBSI, ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat akomodatif dan mampu melakukan pendekatan-pendekatan personal kepada para pemain.

Setidaknya hal ini tercermin dari pengakuan Icuk Sugiarto, juara dunia bulu tangkis 1983. Icuk mengatakan, “Beliau selain bertindak sebagai ketua umum, juga mampu bertindak sebagai bapak. Beliaulah yang mengantarkan saya menjadi juara dunia 1983,” begitu ujar Icuk.

Sonneville_1962_3

Tak hanya dalam bidang olahraga dan diplomasinya, Ferry juga sukses dalam bidang bisnis, terutama properti. Dia adalah Chairman Executive Board pada PT. Lippo Cikarang, yang mengembangkan kota baru di Cikarang, Bekasi.

Ia juga pemilik perusahaan PT. Ferry Sonneville & Co yang antara lain mengembangkan perumahan Feery Sonneville di Bukit Sentul. Ia pernah menjabat Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) periode 1986-1989, dan Presiden dan Anggota Executive Committee Federasi Realestat Internasional (FIABCI) sejak 1989.

Meskipun hebat, tidak pernah sedikitpun Ferry yang berdarah Indonesia, Jawa dan China itu memutuskan untuk berpindah dari Indonesia. “Ia berdarah Belanda, Cina, dan Indonesia, tetapi nasionalismenya tak diragukan,” kata Tan Joe Hok, lawan Ferry di Final All England 1959.

Justian Calonkan diri (lagi)

medium_sorot-tajam-kegagalan-indonesia_20120523_big__20120523215557_vino_cms_

Tahun depan, BWF akan kembali menggelar Pemilihan Presiden BWF, tepatnya Bulan Mei mendatang disela-sela turnamen Sudirman Cup 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan secara resmi, Pemilik PB Tangkas Specs asal Indonesia, Justian Suhandinata (foto atas) mencalonkan diri sebagai Presiden BWF.

“Saya siap mencalonkan diri karena banyak dukungan,” begitu ujar Justian saat Konpres di Jakarta beberapa waktu lalu. Tercatat, sudah ada dukungan dari 15 negara anggota BWF, termasuk dari China.

Justian yang menjadi anggota dewan BWF sejak tahun 2008 hingga kini, memilih Deputi Presiden BWF, Paisan Rangsikitpho asal Amerika Serikat untuk menjadi wakilnya. Tentu duet dengan Paisan ini sangat menguntungkan, dimana pihak Amerika Serikat dan para sekutunya akan mendukung Justian.

Justian sebelumnya sempat mencalonkan diri di tahun 2001, namun kalah dari Korn Dabbaransi (Thailand). Kesempatannya kali ini makin besar, apalagi sang Pertahana (tahu gak? >> Incumbent) memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi.

kang-young-joong

Dialah Kang Young Joong (foto atas) dari Korea yang menjadi salah satu Presiden BWF dengan pembaharuan yang sungguh sukses, sebut saja BWF Superseries atau pembaharuan sistem poin yang menguntungkan bagi adanya iklan.

Namun, orang ke-16 terkaya di Korea tahun 2009 itu tidak akan mencalonkan diri lagi. Hingga saat ini, Justian masih menjadi satu-satunya orang yang mencalonkan diri secara resmi sebagai Presiden BWF. Pendaftaran Calon Presiden BWF akan ditutup pada 28 Februari 2013.

Menurut penuturan Kang, Pergantian pada masa ini sangat tepat. “Ini Waktu yang tepat untuk melakukan transisi karena BWF sedang berada dalam posisi yang stabil,” ujarnya.  Ia percaya dan yakin bahwa masa depan BWF dan Bulutangkis akan cerah. “Masa depan terlihat cerah bagi BWF dan bulu tangkis,” tambahnya.

20121220badminton_copy

Jika Justian Suhandinata berhasil menjadi Presiden BWF, ia menjanjikan untuk mempertahankan bulutangkis di Olimpiade dan makin mempromosikan olahraga ini ke kancah dunia. “Kami ingin mempertahankan bulu tangkis di Olimpiade, meningkatkan jumlah kepesertaan Olimpiade.”

Keuntungan lain yang akan didapat adalah kebijakan yang pasti menguntungkan pihak Indonesia. “Keuntungan dari segi komunikasi dan informasi. Dan kalau ada aturan-aturannya yang merugikan Indonesia, kita bisa menolak,” tegasnya.

Yang terpenting bukan kepentingan siapapun atau golongan apapun, yang terpenting adalah sportifitas dalam olahraga tetap akan terjaga (hentikan kecurangan China Pak!!).