Konflik dan Keprihatinan

thumb-ahsan%201c%20hk

Di tengah konflik panas antara Fans Bulutangkis dan Atlet yang dinilai mandeg prestasi, Keprihatinan justru datang dari spesialis Ganda Putra Pelatnas Cipayung, Muhammad Ahsan yang kini dipasangkan dengan Hendra Setiawan. Melihat berita sedih dari Kompas.com berjudul “Dulu Juara Dunia, Kini Buruh Cuci” Ia langsung membuat tweet berisi rasa sedih bercampur kecewa.

“dulu juara dunia,skrng buruh cuci..kompas.com..olahraga..kejamnya!!!” begitu tweet Ahsan lewat account twutternya @ahsanbad09. Memang ketika membaca berita itu, kita pasti dibuat marah atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap para atlet yang sempat mengharumkan nama bangsa.

Dalam berita itu, dikisahkan Leni Haini, mantan atlet perahu naga yang meraih 3 medali emas di Kejuaraan Dunia 1997 di Hongkong yang memiliki seorang anak yang menderita penyakit langka, Habibatul Fasihah (2 tahun 8 bulan). Kulit Habibatul sangat rapuh dibandingkan kulit normal sehingga mudah melepuh atau terkelupas jika digaruk. Jari-jari kakinya menyatu, sampai ke-10 jarinya sudah tak berbentuk. (udah ya.. jangan diceritakan.. sangat ekstrem.. kalo mau lihat search aja di google)

Leni dan suaminya berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita sang buah hati dengan dana pribadi. Leni sampai menjual rumah dan tanah hasil kerja suaminya demi pengobatan putrinya. Kini ia menjadi buruh cuci, kadang jadi buruh di perusahaan katering. Banyak pekerjaan ia lakoni guna mencukupi kebutuhan keluarga. Suaminya, M Ikhsan (35), hanyalah petugas kebersihan di kompleks DPRD Jambi dengan penghasilan Rp 1 juta per bulan. Miris melihatnya.

Leni-Haini-dan-putrinya

Kemiskinan yang menimpa atlet nasional seperti Leni (gambar atas) adalah realitas dalam dunia olahraga Indonesia. Masa muda atlet dihabiskan dengan latihan dan latihan. Pendidikan kognitif terabaikan. Tanpa pendidikan, atlet terjun tanpa keterampilan dan wawasan menghadapi realitas hidup setelah pensiun dari dunia olahraga.

Inilah mengapa pilihan menjadi atlet adalah pilihan yang sangat berat, karena nyatanya mereka harus meninggalkan bangku sekolah, terutama bagi mereka yang sudah di Pelatnas.

Untung saja ada berita baik di PBSI yang kedepannya dipimpin oleh Gita Wirjawan. Gita juga akan memperhatikan pendidikan atlet. Para atlet harus diberi bekal pendidikan yang cukup untuk bekal masa mendatang setelah tak berprestasi atau pensiun. Saat ini, dirinya tengah merangkul pakar-pakar pendidikan seperti Johannes Surya, untuk menyusun kurikulum dan program pendidikan yang akan dibangun di Pelatnas Cipayung.

“Saya berupaya memperhatikan keperluan pendidikan untuk atlet-atlet. Mungkin nanti kurikulumnya dan metode pengajarannya akan disesuaikan dengan jadwal latihan,” ujar Ketua Umum PBSI Terpilih itu. Jika rencana itu disetujui, kemungkinan awal Januari ia siap merealisasikan. “Kalau rencana ini bisa disetujui, awal Januari 2013 kita siap tempur,” ujar pria yang juga menjadi Menteri Perdagangan RI itu.

Kalau Kalah, Ngomong apa aja salah

Keprihatinan yang diungkapkan Ahsan itu tentu membuka mata kita betapa kehidupan atlet memang kejam. Jadi, ketika saat ini di dunia maya, konflik antara Fans dengan Atlet kembali memanas (apa gara-gara gue bikin artikel Adistia itu ya? kalo ya gue yang musti minta maaf), seharusnya kita sebagai pecinta Bulutangkis bisa bercermin dari apa yang terjadi pada Kasus diatas, betapa kita tidak tahu apa yang terjadi pada atlet papan atas di masa mendatang. Bisa saja sukses, atau …..

Ini gue kasih lihat tweet-tweet positif buat gue sendiri (yang bikin tuh artikel) sama temen-temen Pecinta Bulutangkis yang kemarin sempet ‘maki-maki’ atlet yang kalah.

Picture13

Iklan