Adistia Curhat di Twitter

Pemain spesialis ganda putra Pelatnas Cipayung, Andre Adistia (foto kiri dengan Christopher Rusdianto) yang turun di turnamen Macau Open Grand Prix Gold 2012 di Macau Forum harus gagal melangkah ke babak 16 besar usai ditaklukkan pasangan Malaysia, Kah Ming Chooi-Yao Han Ow dalam dua gim ketat 20-22, 19-21. Akibat dari kekalahan itu, kritik pedas berdatangan pada pemain yang kerap dipanggil Bule ini.

Kritik datang pada pemain berusia 23 tahun ini karena kekalahannya disebabkan kerap bergentayangannya ia di dunia maya, terutama jejaring sosial twitter. Banyak kritikan pedas itu mengganggu Adistia, alhasil ia mengungkapkan curhatannya di account twitternya @Adistiaaa.

“Ga ada orang yang mau kalah dalem tanding !!! Kita semua usaha buat juara kalo cuman mau kritik doang ga usah jd fans bulutangkis !!!!” begitu tweet yang dikeluarkannya Kamis siang. Lalu pada Kamis petang, ia kembali membuat tweet yang juga menyinggung tweet sebelumnya. “Semua juga gpp di kritik asal kata2nya biasa aja ga usah nyolot !!!” ujar Adistia.

Melihat kata-kata seperti itu, saya kadang terbengong-bengong sendiri membandingkan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Dulu Bulutangkis itu orang-orangnya kalem dan sopan, seperti Simon, Sony atau Maria Kristin. Tidak pernah ada kata-kata kasar kepada para pecinta bulutangkis dari seorang atlet. Dan peragaan sopan dan kalem itu yang menciptakan kemenangan di lapangan. Itulah Lazy Indonesian Style.. Style dimana karena kesopanan dan kekaleman mereka, mereka selalu tenang dan tidak pernah grasak grusuk saat di lapangan.

Berbeda dengan para pemain sekarang.. Maunya cepet-cepet, alhasil mainnya tidak pernah bersih (selalu bikin kesalahan elementeri) dan selalu emosi (ampe diungkapkan di dunia maya). Jika dulu pemain saat tertinggal atau dalam tekanan, ekspresi tetap datar dan tenang, alhasil malah lawan yang terkecoh. Beda dengan pemain sekarang, tiap main tertinggal ya pasti tambah bikin error, atau kalo gak pasti wajahnya udah terlihat patah semangat, ya lawan lah yang tambah PeDe. Ayolah, kembalikan Lazy Indonesian Style..

Kembali ke masalah curhatan Adistia. Meskipun gak sepenuhnya tweetnya salah. Tapi yang sangat saya sayangkan adalah hal yang dilakukannya di hari itu juga. Ternyata di hari itu pula, saya melihat ada foto Adistia sedang berfoto di Macau, sepertinya berada di sebuah objek wisata (gambar bawah)

Meskipun lumrah ketika disela-sela bertanding, para atlet yang kalah diperbolehkan untuk berjalan-jalan, tapi ketika kita flashback ke curhatan para atlet zaman Kejayaan Bulutangkis Indonesia (zaman Susi masih belasan tahun), ketika atlet yang dikirim dengan biaya yang tidak murah harus kalah dan pulang tanpa gelar atau piala, pasti atlet itu akan kecewa berhari-hari, bukan malah pergi jalan-jalan menikmati gaji PBSI.

Banyak atlet yang beralasan bahwa acara jalan-jalan itu untuk menghilangkan kekecewaan mereka, apakah tidak lebih bijaksana jika kekecewaan itu dibalas dengan latihan yang lebih keras?? Atau jika memang tidak ada lapangan yang tersedia, lebih baik introspeksi kekalahan (melihat video pertandingan misal).

Minta Maaf

Selain curhatan seperti itu, biasanya para atlet usai kalah meminta maaf lewat account jejaring sosial. Kali ini ucapan permintaan maaf dikeluarkan oleh pebulutangkis ganda putra juga, Berry Angriawan yang kalah dari pasangan unggulan pertama, Vladimir Ivanov-Ivan Sozonov saat berpasangan dengan Yohanes Rendy Sugiarto. Berry-Rendy kalah 14-21, 18-21 dari wakil Rusia itu pada babak 16 besar Kamis sore. “maaf belum bisa memberikan hasil yg maksimal :(“ begitu ujar Berry.

Soal kekalahan mereka, ini tidak terlalu buruk, pasalnya lawan yang mereka hadapi adalah unggulan pertama dan selain itu pula Berry dan Rendy (foto atas) ini adalah pasangan duet baru.

Selain kekalahan Berry-Rendy hari ini, pasangan unggulan ketiga, Yohantan Suryatama Dasuki-Hendra Aprida Gunawan juga kalah. Kali ini, Yoke-Hendra dikalahkan Vountus Indramawan-Mohd Fairuzizuan Mohd Tazari. Vountus-Tazari menang 14-21, 22-20, 21-11. Secara individual, Mohd Tazar memang bagus, apalagi kali ini ia dipasangkan dengan pasangan lain yang lebih muda.. Sehingga kalo kalah, tidak usah terkejut..

Selain itu, kekalahan yang bisa dibilang wajar juga terjadi di partai selanjutnya, dimana unggulan kedua Ricky Karanda Suwardi-Muhammad Ullinuhha gagal melangkah ke Perempat Final usai ditaklukkan Semifinalis Hongkong Terbuka, Lee Sheng Mu-Tsai Chia Hsin dalam pertarungan dua gim langsung 19-21, 11-21.

Namun Indonesia masih memiliki 2 wakil di nomor ini, yakni lewat pasangan Markis Kido-Alvent Yulianto Chandra yang mengalahkan juniornya, Hafiz Faisal-Putra Eka Rhoma dengan 21-16, 21-8 serta unggulan ketujuh, Gideon Markus Fernaldi-Agripinna Prima yang mengalahkan ganda Taipei, Liang Jui Wei-Liao Kuan Hao dengan 22-20, 22-24, 21-16.

Di babak 8 besar, Kido-Alvent akan berjumpa Vountus Indramawan-Mohd Fairuzizuan Mohd Tazari, sedangkan Gideon-Agri akan berjumpa Vladimir Ivanov-Ivan Sozonov untuk memperebutkan tiket Semifinal.

Iklan