Owi-Butet Tatap Hattrick di Macau

Rehat tidak mengikuti turnamen Hongkong Open pekan lalu, pekan ini Juara All England asal Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir akan mencoba mempertahankan gelar Juara yang didapatkannya tahun 2010 dan 2011 di Macau dalam turnamen Macau Open Grand Prix Gold 2012. Owi dan Butet diprediksi berhasil meraih gelar ketiga buat keduanya di Macau karena dalam turnamen ini, mereka berstatus unggulan pertama.

Buat pasangan peringkat dua Dunia itu, Macau menjadi tempat yang istimewa karena di tempat ini, pasangan ganda campuran terbaik Indonesia itu meraih gelar Juara pertama, padahal mereka baru pertama kali bermain sebagai pasangan baru.

Di tahun 2010 lalu, Liliyana Natsir harus berpasangan dengan tiga partner sekaligus dalam jangka waktu 2 bulan, dan ketiga-tiganya membuahkan hasil yang tidak bisa dibilang buruk. Bulan Juni, Liliyana Natsir yang masih berpasangan dengan Nova sukses menembus Final Singapura Terbuka dan Semifinal Indonesia Open.

Menginjak awal Juli, Liliyana Natsir dipasangkan dengan Devin Lahardi untuk bermain di Malaysia Open GP Gold dan mereka berhasil meraih gelar Juara dengan mengalahkan Sudket Prapakamol-Saralee Thonghtoungkam dengan 13-21, 21-16, 21-17.

Meskipun duet Devin dan Liliyana berprospek, namun duet ini tidak berlanjut karena Devin memutuskan untuk keluar dari Pelatnas. Devin keluar karena memutuskan menikah dengan dr. Fenny Novita Dewiand yang berpraktek di Jawa Timur pada tanggal cantik 10 Oktober 2010. Keluarnya pemain yang tahun ini berusia 29 tahun ini menurut media kala itu karena ia harus mengikuti sang istri yang praktek di Surabaya.

Tapi sebenarnya hal itu bukan alasan utama Devin (atas), karena di Pelatans saat itu ada sedikit konflik (kayaknya masalah gaji pemain), sehingga tidak hanya Devin yang memutuskan untuk mundur dari Pelatnas, nama seperti Vita Marissa atau duet Kido-Setiawan pada akhirnya juga memutuskan untuk keluar dari Pelatnas.

Akhir Juli, Liliyana Natsir kembali tampil dengan partner baru di Macau Open. Kali ini ia dipasangkan dengan Tontowi Ahmad dan kembali meraih gelar juara, setelah di babak Final menumbangkan sesama pasangan Indonesia, Hendra Aprida Gunawan-Vita Marissa (yang udah keluar Pelatnas) dengan skor 21-14, 21-18 (gambar judul).

Saat itu Liliyana berpikir bahwa duet itu hanya duet coba-coba, tetapi ternyata duet itu berlanjut saat sang pelatih, Richard Mainkay mengumumkan bahwa duet Tontowi-Liliyana lah yang dikirim ke Asian Games 2010, bukan duet Nova-Liliyana. Terbukti, duet itu beruntun meraih gelar Juara. Terhitung sejak pertama kali dipasangkan di Macau Open 2010, mereka telah meraih 10 gelar, dan yang paling prestisius adalah gelar Juara All England bulan Maret lalu.

Selain raihan gelar All England dari 10 gelar itu, mereka juga telah mempertahankan dua gelar Juara beruntun, yakni di India Open dan Macau Open ini. Di India Open, mereka meraih gelar Juara tahun 2011 dengan mengalahkan rekan senegaranya, Fran Kurniawan-Pia Zebadiah Bernadet dan di tahun 2012, mereka berhasil mengalahkan duet Sudket Prapakamol-Saralee Thonghtoungkam.

Setelah mengalahkan duet Hendra-Vita di Macau Open 2010, setahun setelahnya mereka kembali meraih gelar di Macau Open, yakni di tahun 2011. Kali ini mereka menerima kemenangan cuma-cuma atas mundurnya lawan mereka di babak Final, yakni Chen Hung Ling-Cheng Wen Hsing dikarenakan Chen mengalami cedera. (atas)

Dan tahun ini, mereka berkesempatan untuk mempertahankan gelar untuk ketiga kalinya. Dari draw yang telah dikeluarkan oleh pihak Panitia Kumpoo Macau Open 2012, Owi dan Butet akan berjumpa dengan pasangan Rusia, Vitalij Durkin dan Nina Vislova (perunggu ganda putri Olimpiade) di babak pertama. Rekor pertemuan tidak bisa dibilang bagus. Meski Pasangan Owi-Butet unggul 1-0, namun mereka menang dengan skor  21-11, 22-20 yang didapat di Malaysia Open 2012.

Dari draw yang dikeluarkan itu pula, Owi-Butet diprediksi akan berjumpa unggulan kedelapan, Markis Kido-Pia Zebadiah Bernadet di babak Perempat Final. Namun seperti kita tahu, pekan lalu Pia mengalami cedera pada kakinya sehingga kalah dari pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen di Hongkong Open. Jika saja mereka berjumpa, kemungkinan besar Owi-Butet akan memperbesar rekor pertemuan menjadi 4-0 setelah 3 kali pertemuan sebelumnya dimenangkan oleh Owi-Butet.

Bersinarnya Indonesia di Macau Open 2010

Macau Open 2010 mungkin menjadi salah satu turnamen yang istimewa bagi pebulutangkis Indonesia, karena Indonesia berhasil meloloskan 5 wakilnya di babak Final, bahkan terjadi All Indonesia Final di ganda campuran. Sayang Indonesia tidak menempatkan wakilnya di nomor tunggal putra, karena Simon Santoso terhenti oleh Lee Chong Wei di Semifinal.

Di nomor ganda putri, duet Greysia Polii-Meiliana Jauhari (gambar) sukses melaju ke Final sebelum ditaklukkan wakil Taipei, Cheng Wen Hsing-Chien Yu Chin dalam pertarungan tiga gim. Ini adalah duet ganda putri yang cukup meyakinkan usai dipasangkan pasca Uber Cup 2010 di Kuala Lumpur.

Sementara nomor tunggal putri yang jarang-jarang memberikan gelar, berhasil mengirimkan satu wakil ke Final atas nama Adrianti Firdasari. Dalam perjalannya ke Final, Firda sempat membekuk Eriko Hirose yang saat itu menjadi unggulan ketiga di Perempat Final dengan skor 21-17, 21-15. Sayang di Final, Firda gagal di tangan Li Xuerui dengan 18-21, 15-21.

Meskipun mengirimkan paling banyak wakil di Final, sayangnya Indonesia hanya mampu meraih gelar di ganda campuran. Sementara tiga wakil lain dikalahkan oleh wakil China (Li Xuerui, tunggal putri), Taiwan (Cheng-Chien, ganda putri) dan Korea (Ko-Yoo, ganda putra). Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong (atas) yang baru beberapa bulan dipasangkan sukses mengalahkan Alvent Yulianto Chandra-Hendra Aprida Gunawan dengan 21-17, 21-15. Saat itu Ko-Yoo tidak diunggulkan, mereka dalam waktu setahun sudah mencapai Final Kejuaraan Dunia 2011, bahkan menjadi unggulan di Olimpiade, meskipun di London mereka harus terhenti di babak penyisihan Grup, karena dikalahkan Ahsan-Bona dan Bodin-Jongjit. Mirip dengan apa yang menimpa Owi-Butet, meyakinkan dalam perjalanan namun di puncak harus gagal.

Zhang Nan dipasangkan dengan Li Gen

Putra kesayangan Li Yongbo, Li Gen akan bermain di Macau Open bersama pasangan baru, Zhang Nan, peraih medali emas nomor ganda campuran. Seperti kita tahu, akhir-akhir ini Zhang Nan di fokuskan di ganda putra dengan Chai Biao, namun untuk kali ini ia dipasangkan dengan Li Gen.

Dari daftar drawing yang dibuka, Zhang Nan-Li Gen menempati unggulan kedelapan dan akan berjumpa Phillip Chew-Sattawat Pongnairat dari Amerika Serikat. Jika mereka mulus ke Perempat Final, kemungkinan Li Gen-Zhang Nan akan berjumpa dengan unggulan kedua asal Indonesia, Ricky Karanda Suwardi-Muhammad Ullinuhha.

Tuan Rumah mengandalkan ganda putri mereka, Zhang Zhibo (gambar kanan dengan Zhang Dan) yang kali ini dipasangkan dengan pasangan yang lebih muda, Wang Rong. Ganda Putri yang baru-baru ini meraih gelar di Bitbulger Open di Jerman akan menantang ganda putri unggulan ketiga asal Indonesia, Greysia Polii-Meiliana Jauhari.

Di Macau Open 2010, Polii-Jauhari sempat mengalahkan Zhang Zhibo yang masih berduet dengan Zhang Dan yang saat itu menjadi unggulan keenam. Greysia-Meiliana menang 17-21, 21-18, 21-18 di Semifinal. Namun keadaan saat itu tidak akan sama dengan keadaan pekan ini, pasalnya pasangan baru Zhang Zhibo-Wang Rong ini telah membuktikan diri mereka patut diperhitungkan lewat gelar Juara di Bitburger Open lalu.

Duet Zhang Dan-Zhang Zhibo sempat fenomenal di tahun 2009 saat berhasil meraih medali emas di East Asian Games 2009 nomor ganda putri di cabang Bulutangkis. Duo Zhang ini mengalahkan ganda putri top asal China, Ma Jin dan Wang Xiaoli dengan dua gim langsung 22-20, 21-16 di partai Final. Di arena itu pula, Choi Ho Jin secara mengejutkan menaklukkan Lin Dan dengan 21-19, 21-18. Tahun depan China bakal jadi tuan rumah East Asian Games 2013, jadi kita lihat siapa yang bakal turun. (Lagi-lagi China jadi tuan rumah).

Duet Zhang Dan-Zhang Zhibo ini juga merupakan warga Imigran asal China. keduanya Berpindah bendera mewakili Macau itu sejak awal 2008. meski telah berpindah, mereka tetap tidak terlalu memiliki prestasi yang bagus, bahkan kalah saing dari para pemain ganda putri asal China.

Iklan