Kuning-Kuning Kelabu

Di Final Hongkong Terbuka yang berlangsung hari ini, empat partai pertama mempertemukan dua Finalis yang memakai dua warna yang berbeda, yakni sama-sama warna merah dan kuning. Dan keempat partai itu dimenangkan oleh pemain yang menggunakan warna Merah, sementara warna Kuning rasanya tak bersahabat untuk Hongkong Coliseum hari ini, termasuk untuk favorit Juara asal Malaysia, Lee Chong Wei (gambar) yang juga kalah.

Parade Kuning Kelabu dimulai oleh Wang Xiaoli-Yu Yang yang dipertemukan dengan Juara Olimpiade, Tian Qing-Zhao Yunlei. Tian-Zhao menggunakan pakaian merah bekas Olimpiade lalu. Wang Xiaoli-Yu Yang awalnya memimpin jalannya pertandingan di paruh awal gim pertama. Namun pasca interval gim pertama, Tian-Zhao mulai mengambil alih jalannya pertandingan, hingga berhasil lebih dulu game point 20-17. Wang-Yu berhasil mengamankan 3 kali game point sebelum akhirnya gagal 20-22.

Di gim kedua, pasangan Wang-Yu terus menerus melakukan tekanan terhadap pasangan kompatriotnya ini, sedangkan pasangan Tian-Zhao lebih terlihat pasrah melepas gim kedua ini sambil sesekali menekan balik pasangan Wang-Yu. Wang-Yu mengambil gim kedua 21-14 untuk memaksakan gim ketiga.

Di gim penentuan, Tian-Zhao menerapkan permainan agresif layaknya titel Juara Olimpiade yang dimilikinya. Mereka pun berhasil meraih gelar usai menutup gim penentuan ini dengan skor 21-17.

Yu mengungkapkan bahwa dirinya lelah. Dalam keadaan lelah pun mereka bisa memaksakan tiga gim, apalagi dalam keadaan prima. “Kami sudah lelah, karena kami belum banyak berlatih setelah Olimpiade. Kami akan memperbaiki penampilan (untuk Superseries Final),” ujar Yu Yang.

Di partai kedua, terjadi ulangan Semifinal Tunggal Putra Olimpiade London, dimana Favorit juara asal Malaysia, Lee Chong Wei berjumpa dengan unggulan kedua asal China, Chen Long. Berbeda dengan hasil di Semifinal Olimpiade yang dimenangkan Lee Chong Wei, kali ini di Hongkong, Lee harus kalah dari Chen Long 19-21, 17-21.

Seperti yang kita ketahui, Lee baru saja usai menggelar hajatan pernikahan 10 November lalu, sehingga staminanya kemungkinan masih belum stabil. Ini pula yang diakui oleh Tago kemarin, dimana Tago mengaku bahwa Lee tidak tampil dalam keadaan 100%.

Seusai pertandingan, saat Konpres Lee mengungkapkan bahwa sebenarnya ia tidak berencana untuk tampil di sini. Hasil yang dicapainya kini juga sudah bagus menurutnya. “Saya hanya ikut dan mencoba bermain serta menikmati Hongkong Terbuka. Mampu lolos ke final saja sudah bagus,” ujar suami Wong Mew Choo itu.

Usai pertandingan Final ini, rencananya Lee Chong Wei akan kembali rehat dan berencana untuk tidak mengikuti beberapa turnamen seperti Macau Terbuka dan mungkin juga Superseries Final. “Mungkin tidak ada, karena saya sangat lelah, dan ingin rehat,” ujar Lee. Ketika ditanya kapan akan kembali, Lee tidak tahu. “Saya tidak tahu kapan akan kembali, pelatih akan mengadakan pertemuan untuk membahasnya nanti,” tambahnya.

Dengan tidak tampilnya Lee Chong Wei di Macau, peluang Tommy Sugiarto, Alamsyah Yunus, Taufik Hidayat dan Andre Kurniawan Tedjono yang berada satu pot dengan Lee akan mendapat keuntungan di babak-babak selanjutnya.

Sementara Chen Long yang juga diwawancara mengaku mungkin lebih siap tampil di Final ini. “Mungkin saya lebih siap dan lebih beruntung,” ujar Chen. Meskipun telah memenangkan gelar atas Lee, ia mengaku masih perlu belajar lagi karena target terbesarnya kini adalah Kejuaraan Dunia tahun depan.

“Saya harus banyak belajar dari pemain seperti Lin Dan dan Lee Chong Wei,” kata Chen Long. “Target terbesar saya adalah Kejuaraan Dunia. Ini (Hong Kong Terbuka) hanya untuk lebih mendapatkan pengalaman,” tambah peraih perunggu Olimpiade London itu.

Di partai ketiga, terjadi ulangan Final Tunggal Putri Olimpiade London antara Wang Yihan dengan Li Xuerui. Yihan masih tampil dengan balutan pengaman lutut yang memprihatikan, sementara Li Xuerui tampil dengan agresif, berbanding lurus dengan titel Juara Olimpiade yang telah tersematkan kepadanya.

Di gim pertama, permainan masih berlangsung ketat di paruh awal. Menginjak paruh kedua gim pertama, Li Xuerui langsung tancap gas mengambil 8 poin beruntun dari 8-7 menjadi 16-7 hingga berhasil menutup gim pertama dengan skor 21-12.

Di gim kedua, Li Xuerui masih terus mendominasi jalannya pertandingan lewat smash-smash pojok yang sangat akurat di baseline. Li memimpin jauh 11-3 di interval gim kedua. Kali ini Yihan terlihat terganggu dengan cedera yang menimpa lutut kanannya itu. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk memberikan gelar kepada Li Xuerui.

“Saya telah melakukan yang terbaik,” kata Wang. “Tapi aku tidak ingin memperburuk diri saya, jadi saya memutuskan untuk mundur,” tambah Wang yang memang terkena cedera lutut kanan. Sementara Li merasa beruntung memenangkan gelar. “Saya merasa sangat beruntung untuk memenangkan gelar karena di gim kedua lawan memutuskan mundur,” ujar peraih emas Olimpiade itu.

Di partai keempat, kembali terjadi ulangan Final Olimpiade, kali ini untuk nomor ganda campuran. Zhang Nan-Zhao Yunlei kali ini memakai pakaian warna merah, dan sindrom kuning kembali menimpa Xu Chen-Ma Jin. Meskipun sebelumnya telah bermain tiga gim di ganda putri, Zhao Yunlei yang didukung sang pacar berhasil mengalahkan Xu-Ma dalam dua gim langsung 21-17, 21-17.

Ia mengaku tidak lelah menjalani dua partai Final ini. “Saya terbiasa bermain dua nomor, jadi itu tidak masalah,” kata Zhao. “Meskipun kita tidak intensif berlatih setelah Olimpiade, saya tidak terlalu lelah hari ini.”

Di partai terakhir terjadi ulangan Semifinal Olimpiade London antara Koo Kean Keat-Tan Boon Heong yang berjumpa dengan unggulan kedua asal China, Cai Yun-Fu Haifeng. Berbeda dengan empat partai sebelumnya, kali ini Koo-Tan maupun Cai-Fu tidak memakai pakaian warna merah atau kuning. Cai-Fu memakai pakaian dengan merk FedEx, pakaian yang biasa digunakan pemain China sebelum Olimpiade, sementara Koo-Tan memakai pakaian sponsor YONEX warna hitam.

Tapi yang pasti, persamaan dengan keempat partai sebelumnya adalah pemenang partai ini adalah pemain China sekaligus membuat turnamen edisi terakhir dari 12 edisi OSIM BWF World Superseries ini disapu bersih oleh China. Kali ini Cai Yun-Fu Haifeng yang awalnya tertinggal atas Koo-Tan 4-10 di gim pertama mampu membalikkan keadaan saat menyamakan kedudukan 12-12. Sejak menyamakan kedudukan, Cai-Fu berhasil mengatasi Koo-Tan dan menutup pertandingan 21-16.

Di gim kedua, pasangan China terus menerus memimpin jalannya pertandingan. Cai Yun maupun Fu Haifeng yang melakukan permainan cepat membuat mereka terus unggul karena lawan banyak melakukan kesalahan sendiri, atau kalo tidak mereka hanya tidak berdaya dengan smash keras Fu.

Sempat unggul jauh 17-10, Cai-Fu sedikit lengah sehingga Koo-Tan mampu meraih 5 angka beruntun untuk menipiskan tetertinggalan menjadi 15-17. Dari kedudukan itu, beberapa angka diraih oleh Cai-Fu sehingga mampu menutup pertandingan dengan skor 21-17. Usai menang, Cai Yun mengungkapkan kegembiraannya dengan melemparkan raket dan bajunya ke arah pirsawan di Hongkong Coliseum.

Meskipun telah menikmati banyak kemenangan dalam sepanjang karirnya, termasuk emas Olimpiade dan 4 kali titel Juara Dunia, ia mengaku setiap kemenangan selalu mengesankan. “Bagi saya setiap kemenangan seperti selalu menjadi yang pertama,” ujar Cai Yun. Kemenangan ini adalah ulangan Final Olimpiade, dimana keempat Juara Olimpiade asal China meraih gelar mereka, sementara di nomor tunggal putra, Chen Long menggantikan tempat Lin Dan.

Iklan