New Force in the Final

Viktor Axelsen menjadi satu dari 6 non unggulan yang berhasil mengalahkan para unggulan untuk sampai di babak Final malam nanti. Pemain Junior Denmark dengan tinggi 195 cm ini sukses menginjakkan kaki di babak Final usai mengalahkan unggulan kelima, Kenichi Tago dengan 21-8, 21-17.

Melawan Tago, si jangkung ini langsung menerapkan permainan menyerang dan membuat Tago tidak berkutik meladeni pukulan-pukulan Axelsen, hingga dengan mudah menutup gim pertama dengan skor telak 21-8.

Dibuli di gim pertama, Tago mencoba bangkit di gim kedua. Ia mengungguli Axelsen 10-7 hingga menutup interval game dengan skor 11-10. Tapi usai interval game, Axelsen balik mengungguli Tago hingga berhasil menutup kemenangan 21-17 untuk meraih tiket Final Superseries pertamanya di usia yang baru 18 tahun.

“Siap untuk Superseries Final pertama saya setelah menang melawan Tago 21-8, 21-17. Sekali lagi, saya sangat senang dengan penampilan dan cara untuk menghadapi setiap masalah dalam pertandingan hari ini. Besok saya akan melawan Daren Liew dari Malaysia yang mengalahkan rekan senegara saya, Jan O hari ini. saya akan mempersiapkan diri untuk pertandingan yang sulit besok dan akan menikmati setiap detik di lapangan. Takjub dengan dukungan di Paris.. Terima kasih untuk semua pesan anda! Saya hargai itu!” Begitu ujar Axelsen di account Fanpage Facebooknya.

Pertemuan Daren dengan Axelsen malam nanti tentu akan istimewa, pasalnya dua non unggulan ini belum pernah berjumpa sebelumnya.

Daren menuntaskan perlawanan Jorgensen lewat pertarungan tiga gim 18-21, 21-17, 21-10 dalam pertarungan yang nyaris memakan durasi selama satu jam itu. Jorgensen awalnya menuntaskan gim pertama 21-18, namun sempat tidak berkutik oleh smash-smash yang dihujamkan oleh Daren di lapangan miliknya. Alhasil, Daren menang 21-17 untuk memaksakan gim ketiga.

Di gim penentuan, tunggal putra peringkat 24 dunia itu membuli Jorgensen dengan catatan 14 smash yang membuahkan poin. Jorgensen pun harus terima kalah 10-21 untuk menyerahkan tiket Final pada Daren. Mungkin Jorgensen kalah stamina dari Daren, apalagi melawan Peter Gade di Perempat Final dengan tiga gim rasanya sangat menguras tenaga.

Meskipun kalah, Denmark memiliki wakil lain selain Axelsen di Final Perancis Terbuka malam nanti. Mereka adalah Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl yang melaju ke Final Superseries kedua tahun ini, setelah Malaysia Open, Januari lalu.

Pedersen dan Juhl berhasil menginjakkan kaki di Final usai menundukkan unggulan ketiga, Shizuka Matsuo-Mami Naito dari Jepang dengan dua gim ketat 24-22, 21-18 dalam 50 menit. Pasangan yang agresif ini sempat unggul jauh 11-6, namun berhasil disamakan di saat-saat akhir, yakni saat Denmark unggul 19-16, justru pasangan Jepang yang mencapai game point 20-19 terlebih dahulu. Pasangan Denmark balik mendapatkan game point dua kali, sebelum menutup gim pertama 24-22 saat game point ketiga.

Di gim kedua, Mami dan Shizuka tertinggal cukup jauh dari pasangan Denmark 11-6, namun kali ini mereka sulit untuk menyamakan kedudukan karena pasangan Denmark sudah percaya diri atas kemenangan di gim pertama. Mereka mencapai match poin 20-15, namun baru  mampu menang saat kedudukan 21-18 untuk memastikan tiket Final Superseries kedua mereka.

Lawan yang akan dihadapi unggulan teratas di Final malam ini adalah kekuatan baru dari China, Ma Jin dan Tang Jinhua yang di babak Semifinal mengalahkan Bao Yixin-Zhong Qianxin dengan 18-21, 21-15, 21-9 dalam durasi 72 menit.

Ma Jin kembali menatap dua Gelar

Meraih dua gelar di Denmark pekan lalu, Ma Jin kini kembali menatap raihan dua gelar lain di Paris setelah dua nomor yang ia geluti, ganda putri dengan Tang Jinhua dan ganda campuran dengan Xu Chen, kedua-duanya kembali sampai di babak Final.

Di Babak Semifinal ganda Campuran, Ma Jin yang berpasangan dengan Xu Chen (gambar) berjumpa dengan Pasangan England-Scotland, Chris Adcock dan Imogen Bankier. Pasangan China berhasil menang 21-15, 21-19 dalam 41 menit. Di gim pertama, pasangan China sempat dibuat kerepotan oleh pasangan Britania yang bermain dengan baik malam kemarin, bahkan perolehan poin dari smash pun jarang terjadi pada babak Semifinal kemarin.

Baru di gim kedua, pasangan Britania sempat in hingga sempat unggul 11-8 di interval game. Usai interval game, pasangan Britania justru balik tertinggal, dan pada akhirnya harus kalah 19-21.

“Kalah di Semifinal hari ini! Kami ketat di gim kedua, tapi kami tidak bisa menang! Pekan yang baik dengan beberapa kemenangan yang hebat, di ganda putra maupun ganda campuran. Ingin lebih baik di pekan selanjutnya,” begitu tweet yang dikeluarkan oleh Adcock mengomentari kekalahannya itu.

Di Final, lawan yang dihadapi oleh Ma Jin-Xu Chen adalah rekan senegara mereka, yang juga kekuatan baru asal China, Qiu Zihan-Bao Yixin yang mengalahkan Shin Baek Cheol-Eom Hye Won dengan 21-13, 21-19 di babak semifinal.

Shin-Eom tidak bisa melawan kekuatan baru China yang terus menembus pertahanan mereka lewat smash-smash keras dari Qiu Zihan ditambah potongan-potongan taktis dari Bao Yixin yang juga bermain di nomor ganda putri, hingga mereka kalah cukup jauh 13-21 di gim pertama.

Gim kedua, pasangan Korea mencoba bangkit dengan menerapkan pola permainan menyerang yang sempat membuat mereka mengalahkan Zhang Nan-Zhao Yunlei di babak Perempat Final, jumat lalu. Beberapa kali tertinggal, beberapa kali pula serangan mereka membuat kedudukan sama.

Shin-Eom nyaris saja memaksakan deuce di gim kedua saat berhasil mengamankan 5 kali match point dari kedudukan 15-20 menjadi 19-20. Poin terakhir menjadi milik Qiu-Bao sekaligus memastikan gelar ganda campuran buat China.

French Open Final

  • WD : Christinna Pedersen-Kamilla Rytter Juhl [DEN] vs Ma Jin/Tang Jinhua [CHN]
  • MS : Viktor Axelsen [DEN] vs Daren Liew [MAS]
  • WS : Saina Nehwal [IND] vs Mitani Minatsu [JPN]
  • XD : Chen Xu-Ma Jin [CHN] vs Qiu Zihan-Bao Yixin [CHN]
  • MD : Bodin Issara-Maneepong Jongjit [THA] vs Ko Sung Hyun-Lee Yong Dae [KOR]

Bye Bye Pi Hongyan

Di sela-sela Semifinal Perancis Terbuka kemarin, pihak Federasi Bulutangkis Perancis yang diwakili oleh Presiden FFBad, memberikan penghargaan luar biasa kepada Pebulutangkis veteran asal China yang membela Perancis, yakni Pi Hongyan. Pi sangat terharu menerima penghargaan itu, diiringi tepukan luar biasa dari seisi stadion.

Ia menjadi salah satu pioner Perancis soal Bulutangkis yang tidak terkenal di Eropa, apalagi di Prancis. Pi meraih tiga titel di depan publiknya sendiri tahun 2003 hingga 2005, serta sempat menembus partai Final di tahun 2007 saat pertama kali Perancis berstatus Superseries. Bye bye Pi Hongyan..

Iklan