Pembalasan Dendam di Paris

Stade Pierre de Coubertin kemarin menjadi tempat pembalasan dendam yang tepat bagi para pebulutangkis yang sempat dikalahkan oleh para pemain lain. Mereka adalah Christinna Pedersen (gambar) dan Kamilla Rytter Juhl yang sukses membalas dendam atas kegagalan mereka di babak pertama Indonesia Open lalu.Di Indonesia Open lalu, Pedersen-Juhl dikalahkan Pia Zebadiah-Rizky Amelia Pradipta dengan dua gim langsung 17-21, 18-21. Kemarin dalam babak Perempat Final, Jumat malam, Pedersen-Juhl sukses membalas dendam atas kegagalannya di Indonesia Open dengan menang 21-17, 25-23.

Di gim pertama, Pasangan Denmark langsung mencuri start dengan unggul 6-1 hingga 11-7 di interval gim. Berada di atas angin, pasangan Denmark mengunci gim pertama 21-17.

Pia-Rizky yang merupakan andalan Indonesia ini sebenarnya punya kans untuk kembali mengalahkan unggulan teratas di Perancis ini pada saat di gim kedua mereka memimpin 11-7 hingga sempat unggul jauh 16-12. Kendor, Pia-Rizky pun kebobolan poin hingga pasangan Denmark bisa menyamakan kedudukan 19-19. Sempat meraih tiga kali game point, pasangan Indonesia tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu. Justru pasangan Denmark membalikkan keadaan saat match point 24-23. Satu sambaran pasangan Denmark mengantarkannya ke babak Semifinal Perancis Terbuka.

Kemenangan ini membuat rekor pertemuan mereka berubah menjadi 1-1. Di Semifial, lawan yang akan dihadapi oleh Juara Malaysia Open ini adalah pasangan ganda putri Jepang, Shizuka Matsuo-Mami Naito yang mengalahkan Cheng Shu-Luo Yu dengan 11-21, 21-18, 21-18.

Dendam yang terbalaskan juga ada di nomor ganda putra, dimana pasangan Korea, Lee Yong Dae-Ko Sung Hyun sukses mengalahkan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong dari Malaysia yang mengalahkan mereka pekan lalu di babak pertama Denmark Open. Kali ini, Ko-Lee menang dengan skor yang ketat, 25-23, 16-21, 23-21 dalam durasi satu jam 26 menit.

Kemenangan ini membalas kekalahan mereka di Denmark Terbuka pekan lalu, dimana saat itu Ko-Lee kalah 21-8, 16-21, 19-21. Selain membalas kekalahan atas Koo-Tan, mereka juga memastikan tiket Final buat ganda putra Korea, setelah sebelumnya pasangan unggulan keempat, Kim Ki Jung-Kim Sa Rang berhasil menumbangkan ganda baru China, Chai Biao-Zhang Nan dengan 21-18, 14-21, 21-17.

“Kondisi saya sangat baik saat ini. Kami bermain sangat keras dan selalu berharap jauh di sebuah turnamen. Pemain China bermain bagus hari ini, jadi kami senang bisa masuk ke Semifinal,” ujar Kim Ki Jung usai pertandingan.

Di babak Final nanti, pemenang duel Perang Saudara ini akan berjumpa pemenang antara unggulan kelima, Hong Wei-Shen Ye melawan Bodin Issara-Maneepong Jongjit.

Pembalasan Dendam lain juga dilakukan oleh tunggal putra Denmark berusia 18 tahun, Viktor Axelsen (gambar) yang berhasil mengalahkan Wang Zhengming dari Cina lewat pertarungan tiga game 21-7, 13-21, 21-15 dalam 52 menit. Di dua pertemuan sebelumnya, Axelsen selalu kalah straight game, dan kedua-duanya terjadi di Singapura, tahun 2011 dan 2012.

“Kau tahu rasanya benar-benar baik untuk bisa mengalahkan pemain yang telah mengalahkan kita dua kali. Hari ini saya benar-benar ingin menang dan saya kira itu yang membuat saya menang, meskipun ia sempat bangkit di set kedua,” ujar Axelsen dalam wawancara usai memenangkan perandingan itu.

Axelsen bisa dibilang salah satu anak emas dari Bulutangkis Denmark. Sejak usia muda ini sering membuat kejutan besar, bahkan Lee Chong Wei sempat dibuat kerepotan atas tampilan bocah 18 tahun ini. Mirip-mirip ama Intanon dari Thailand.

Lewat account Fanpage miliknya, Axelsen sangat puas terhadap penampilannya kemarin.

“Wow, sangat senang mengatakan pada kalian bahwa aku memenangkan partai perempat Final malam ini melawan Wang Zhengming dalam 3 gim. Aku memulai dengan baik di gim pertama, tidak memberinya kesempatan untu menyerang. Lalu ia mulai bermain dengan agresif di gim kedua, dan aku tertinggal. Di gim ketiga saya mencoba untuk menyerang dan berhasil memanfaatkannya dengan baik meskipun susah pada beberapa saat. Tapi saya sangat senang dengan penampilan saya hari ini. Itu berarti saya siap untuk Semifinal besok dimana saya akan bertemu Tago. Tidak sabar untuk kembali ke lapangan di Paris lagi. Arena yang hebat untuk bermain!,” begitu ujar Axelsen.

Tago dan Axelsen berjumpa terakhir kali di All England lalu, dimana saat itu Tago berhasil menang 21-12. 24-22. Denmark punya wakil lain di Semifinal, yakni Jan O Jorgensen yang memenangkan duel All Danish QF melawan Peter Gade yang sudah pantas disebut Great Gade.

Melawan Legenda Eropa itu, Jorgensen sebenarnya selalu memimpin di gim pertama, tapi pemuda berusia 25 tahun itu sempat membuat beberapa kali kesalahan saat unggul jauh 18-13, sehingga Gade berhasil meraih 8 poin beruntun untuk menutup gim pertama dengan 21-18.

Di gim kedua, Jorgensen dalam tekanan sehingga sempat dibuat kewalahan oleh taktik yang dilancarkan oleh Gade hingga ia sempat tertinggal jaug 9-14. Ini yang membuat saya mengaguminya. Sosok Gade yang di usia 35 tahun masih berada di Top 10, sangat jarang bagi seorang pemain tunggal putra.

Diambang kemenangan, Gade justru tidak bisa memanfaatkan poin-poin kritis. Jorgensen meraih enam angka beruntun dari 15-17 hingga berbalik menang 21-17 untuk memaksakaan rubber set. Di set penentuan, Gade kelelahan dan harus menyerahkan kemenangan pada kompatriotnya dengan 15-21.

Inilah turnamen terakhir Gade di Bulutangkis (sebenarnya masih ada lagi di Copenhagen Master bulan Desember, tapi ini turnamen resmi terakhirnya).

“Datang ke pertandingan ini, saya pikir saya harus memainkan pertandingan ini seperti pertandingan lainnya, tapi sekitar jam 10 pagi, saya memikirkan banyak hal, perasaan juga tidak tentu,” kata Gade.

“Ketika saya datang ke lapangan saya merasa benar-benar baik. Saya bisa menyelesaikan pertandingan ini di game kedua, saya tidak bisa, tetapi saya masih berjuang yang terbaik yang saya bisa dan saya bangga saya dapat bermain pada tingkat ini pada pertandingan terakhir saya. Kadang-kadang Anda melakukan hal-hal yang Anda tidak biasanya lakukan. Ada banyak perasaan yang terlibat di sini, dan tentu saja saya senang telah menyelesaikan karir saya di sini, di Paris. Ini adalah tempat yang fantastis,” tambahnya.

Lewat account Facebook Fanpage nya, Gade mengumumkan secara resmi bahwa ia pensiun. “Pada semuanya, malam ini di Stade Pierre de Coubertin adalah waktu dan tempat untuk mengakhiri karir saya di turnamen Bulutangkis. Saya berpikir tidak ada tempat yang lebih baik untuk pensiun, dan meskipun saya gagal atas Jorgensen, 21-18, 17-21, 15-21, tapi saya menikmati setiap detik di lapangan. Ini akan menyenangkan jika menang pada pertandingan hari ini dan saya sempat memiliki kesempatan untuk melakukannya, tapi pada akhirnya saya gagal, jadi lebih baik saya mengucapkan selamat tinggal. Terima kasih banyak untuk salam dan komentar anda usai pertandingan. Saya menghargai mereka semua, khususnya para penggemarku di Paris! Aku mencintaimu dan kalian akan tetap berada dalam pikiranku selamanya,” tutup Gade.

Seusai pertandingan, Gade melempar raketnya pada kemurunan penonton di Stade Pierre de Coubertin. Alhasil kerumuman penonton yang dilempari raket mencoba mengambil raket dari sang Legenda Eropa itu.

Berbicara mengenai masa depan, Gade masih mempertimbangkan untuk menjadi pelatih, tapi ada juga tawaran untuk bekerja di salah satu perusahaan Denmark.

“Saya masih tidak yakin saat ini dengan masa depan saya. Saya mungkin akan menjadi pelatih untuk asosiasi Denmark. Tapi saya juga diusulkan menjadi duta untuk beberapa perusahaan Denmark di Cina, jadi aku masih tidak tahu pasti saat ini, tapi sekarang saya hanya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga saya,” ujar Gade.

Rencananya pada Hari Minggu mendatang, Gade akan diberikan penghargaan atas dedikasi tingginya di dunia Bulutangkis selama lebih dari 18 tahun menjadi pemain kelas dunia. Good bye Gade.. You are Wonderfull!

 Adcock-Bankier pisah sementara tahun 2014

Finalis Kejuaraan Dunia tahun lalu, Chris Adcock-Imogen Bankier berhasil melanjutkan hegemoninya di Perancis Terbuka usai menundukkan andalan Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir di babak Perempat Final kemarin. Adcock-Bankier menang 21-18, 22-20.

Pasangan Indonesia sebenarnya mendominasi awal set pertama hingga sempat unggul 8-4 namun balik tertinggal 9-11. Pasca interval gim, pasangan Indonesia sempat balik unggul 13-11, tapi di poin kritis, mereka tidak bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik sehingga kalah 18-21.

Kalah di gim pertama, otomatis motivasi menang sedikit kendor di gim kedua (tahu lah.. gimana mentalnya). Pasangan Indonesia tertinggal cukup jauh 7-12, namun mampu menyamakan kedudukan di poin 15-15. Setelah poin itu, kejar mengejar poin terjadi hingga poin imbang 19-19. Adcock-Bankier mencapai match poin terlebih dahulu 20-19, namun bisa disamakan kedudukannya 20-20. Untuk kali kedua, pasangan beda bendera itu match point 21-20. Kali ini keberuntungan ada pada pasangan Britania Raya, mereka menang 22-20 untuk memastikan tempat di Semifinal.

Lewat account twitternya, Imogen Bankier memuji Adcock yang tampil luar biasa kemarin. “Senang bisa melaju ke Semifinal Superseries dengan kemenangan atas pasangan No. 3 Dunia … Pujian kepada Chris yang luar biasa hari ini!”

Sementara Adcock sendiri senang bisa mengalahkan Semifinalis Olimpiade dan World No #3. “Kami menang pertandingan Perempat Final malam ini! Kami bermain bagus dan mengalahkan Semifinalis Olimpiade dan World No 3 21-18, 22-20! Semifinal besok!!!”

Berkaitan dengan judul diatas, Pasangan Adcock dan Bankier memang akan pisah tahun 2014, tapi bukan untuk Pemilu kayak di Indonesia, tapi berkaitan dengan turnamen Bulutangkis Commowealth Games yang tahun 2014 digelar di depan publik Bankier, Scotland, tepatnya di Kota Glasgow. Pisahnya gak lama, paling satu bulan, turnamennya setelah Kejuaraan Dunia kalo tak salah.

Tapi Venue pertandingan untuk cabor Bulutangkis ini nantinya menggunakan venue baru, yakni Emirates Arena. Venue itu akan dipergunakan untuk turnamen Scottish Open 2012 pada 21-25 November mendatang, menggantikan tempat lama, Kelvin Hall International Sports Arena. Pada 7 Oktober lalu, venue ini resmi dibuka.

“Turnamen tahun ini diharapkan dihadiri para pemain yang tampil di Commonwealth Games untuk bermain di arena ini pertama kali dan mendapatkan perasaan yang bagus untuk dua tahun mendatang,” ujar Anne Smillie, Chief Executive of BADMINTONscotland dikutip dari situs BWF.

“Tentu, bukan hanya pemain Commonwealth Games saja yang bisa datang, seluruh pemain dunia dipersilahkan ikut. Kami berharap 30 atau 40 negara tampil di turnamen tua kami (turnamen tertua ketiga di dunia) dan kami berharap turnamen tahun ini akan lebih baik dari sebelumnya. Kami menargetkan lebih dari 250 pemain tampil di Emirates Arena,” tambahnya.

Karena hal itu lah, nantinya pasangan yang mewakili Britania Raya di Olimpiade lalu harus berpisah, karena mereka beda bendera. Adcock akan wakili England, sementara Imogen Bankier akan mewakili Scotland. Di India tahun 2010 lalu, Scotlandia tidak mencapai hasil positif. Beregu Campuran mereka gagal di Perempat Final.

Hasil terbaik yang didapat Scotland di Commonwealth Games tahun 2010 lalu adalah di tunggal putri, dimana Susan Egelstaff menjadi Semifinalis. Di Semifinal ia dikalahkan Saina Nehwal 10-21, 17-21 dan di Perebutan medali perunggu, dikalahkan Liz Cann dengan 18-21, 16-21.

China dan Jepang pastikan satu tempat di Final

Tiga kekuatan Bulutangkis Asia Timur, China, Jepang dan Korea memastikan satu tiket Final karena terjadi perang saudara antarpemain di babak Semifinal malam nanti. China memastikan tiket di ganda putra, Korea memastikan tiket di ganda putra juga serta Jepang memastikan tiket di tunggal Putri.

Adalah Minatsu Mitani yang sukses menumbangkan unggulan ketiga, Tine Baun dalam pertarungan Perempat Final, jumat malam. Mita menang dalam dua gim langsung 21-7, 21-18 dalam 31 menit.

Tine terlihat tidak bisa bermain dengan baik, apalagi di gim pertama, terlihat ketika semua penempatan bola pemain tinggi asal Denmark itu berhasil dikembalikan sempurna oleh si ulet Mitani Minatsu. Alhasil, Mita menang mudah 21-7. Di gim kedua, pemain yang pensiun usai All England tahun depan itu tidak menyerah. Tapi, Mitani memang bermain lebih baik malam itu. Ia menutup kemenangan dengan skor 21-18.

Kemenangan Mitani diikuti oleh andalan Jepang lainnya, Eriko Hirose yang menumbangkan Wang Shixian di babak 16 besar, Kamis lalu. Eriko yang dipertemukan dengan wakil Hongkong, Tsz Ka Chan, berhasil menang dua gim langsung 21-15, 21-18. Mita dan Eriko akan saling berjumpa di Semifinal Perancis Terbuka malam nanti. Prediksi sih, nanti malam Minatsu Mitani bakal menang dari Eriko, karena perjumpaan terakhir di Jepang Terbuka, Eriko menangnya deuce di gim ketiga.

China juga langganan Finalis di Superseries, dimana di Paris kali ini, nomor ganda putri terjadi All Chinese Semifinal, dimana berjumpa Ma Jin-Tang Jinhua dan Bao Yixin-Zhong Qianxin, ulangan partai Semifinal Denmark Open lalu. Bao Yixin-Zhong Qianxin mengalahkan ganda Korea, Choi Hye In-Kim So Young dengan 21-7, 21-18.

Ma Jin-Tang Jinhua berhasil mengalahkan Misaki Matsumoto-Ayaka Takahashi di babak Perempat Final dengan 21-11, 21-13. Ini adalah kemenangan satu-satunya dari pemain China yang berada di TVCourt 2, karena pemain lain yang tampil di TVCourt 2 harus gugur semuanya, termasuk Juara Olimpiade Zhang Nan-Zhao Yunlei.

Pasangan Juara Olimpiade itu dikalahkan oleh pasangan Korea, Shin Baek Cheol-Eom Hye Won dalam pertarungan dua gim langsung 21-13, 21-19, padahal kita tahu bahwa Zhao Yunlei tidak tampil di ganda putri, jadi harusnya staminanya cukup bagus.

Nama Shin Baek Cheol juga sudah pernah mengalahkan Zhang-Zhao, yakni di partai Final Asian Games Guangzhou dua tahun lalu. Saat itu, Shin berpasangan dengan Lee Hyo Jung, berhasil mengalahkan ZZ untuk meraih medali emas. Sementara Eom Hye Won, namanya juga sudah tak asing di ganda putri maupun ganda campuran. Khusus untuk Ganda Campuran, ia sempat menginjakkan kaki di Semifinal Indonesia Open lalu, berpasangan dengan Ko Sung Hyun mengalahkan Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen di Perempat Final.

Keduanya pernah berpartner di Ganda Campuran dan menghasilkan prestasi yang cukup bagus , yakni Emas Universiade Shenzen 2011, dimana kala itu Indonesia juga membawa emas di Beregu Campuran, mengalahkan China di Final dengan 3-1.

Di babak Semifinal, Shin-Eom akan berjumpa pasangan China lainnya, Qiu Zihan-Bao Yixin yang mengalahkan rekan senegaranya, Hong Wei-Luo Yu dengan 21-12, 21-17.

Iklan