Dibalik Kaca Stade Pierre de Coubertin

Dari arena Stade Pierre de Coubertin di Paris, Perancis, gelaran French Open Superseries memasuki hari kedua atau babak 32 besar. Sebelum kita melihat berbagai hal menarik dari pertandingan 32 besar, lebih dulu kita akan membicarakan venue pertandingannya, yakni Stade Pierre de Coubertin.

Stade Pierre de Coubertin ini adalah salah satu venue indoor tertua di Paris, dimana bangunannya ternyata sudah dibuka sejak 1937. Sejak 2007, BWF memilih Perancis sebagai salah satu penyelenggara BWF Superseries season, dan tahun itu pula, Perancis sempat mengirimkan satu-satunya wakil Perancis di Final, yakni Pi Hongyan. Namun Pi harus puas sebagai Runner Up usai takluk di tangan Xie Xingfang dengan 13-21, 13-21.

Sebelum 2007, Perancis Terbuka sempat digelar dari tahun 2001-2005, dimana salah satu juaranya ternyata adalah istri Nova Widianto, yakni Eny Widyowati yang berpasangan dengan Nabil Lasmari yang berkebangsaan Perancis di tahun 2005.

Di tahun 2010 lalu, Paris sempat menggelar suatu hajatan besar, yakni BWF World Championship, dimana saat itu China menyapu bersih gelar. Tapi uniknya, Taufik Hidayat sempat mengejutkan dunia ketika kembali berhasil sampai di Final, meski dikalahkan Lin Dan. Perjalanan Taufik ke Final saat itu tidak mudah, di Perempat Final ia berjumpa dengan Lee Chong Wei. Tak terduga, Taufik menang 21-15, 11-21, 21-12. Oleh karena itulah, publik Perancis sangat exited terhadap Taufik Hidayat, hingga gambar Taufik didaulat menjadi poster untuk turnamen Perancis Terbuka bebepara tahun yang lalu (kalo tak salah 2011 lalu)

Sekarang kita akan melihat ke venue nya kemarin. Melihat gambar diatas ini? anda pasti mengira ruangan ini berada di sebuah studio televisi, tapi perhatikan lebih detil. Di belakang wawancara itu ternyata adalah sebuah kaca yang langsung menghadap ke lapangan pertandingan di Stade Pierre de Coubetin.

Selidik dari hal itu, ternyata kaca itu dari luar nampak tak terlihat seperti sebuah ruangan, lebih mirip tembok. Apalagi tembok itu diberi hiasan dengan tulisan-tulisan label YONEX Internationaux de France de Badminton seperti gambar paling atas. Tak terbayangkan ternyata dibalik tembok kaca itu ada sebuah ruangan yang mewah untuk siaran.

Di hari kemarin, pihak Stade Pierre de Coubertin mengundang Brice Leverdez yang kalah di babak Kualifikasi untuk turut berkomentar dari balik tembok kaca itu. Untuk segi penyiaran, Perancis bisa dibilang sangat bagus. Selain 2 TVCourt yang disediakan, kamera-kamera yang dipakai sangat berkualitas, seperti gambar dibawah ini.

Dari segi efektifitas, ruangan itu terlihat sangat berguna bagi penyiar karena penyiar langsung bisa mengabarkan secara langsung bagaimana jalannya pertandingan. Sebenarnya di Istora mungkin ada ruangan untuk penyiaran, tapi tidak seperti yang ada di Paris ini, karena di Paris ini ada nilai estetikanya juga.

Berkaitan dengan TV Court, ternyata para pemain Indonesia mendominasi 2 TVCourt itu, sebut saja Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir atau Muhammad Ahsan-Hendra Setiawan yang memenangkan partai babak pertama mereka. Sementara ada juga para pemain yang tampil di TV Court yang harus mengalami kekalahan, seperti Dionysius Hayom Rumbaka dan Adrianti Firdasari.

Ciyus.. Pilih kalah?

Kekalahan memang tidak diharapkan oleh para pebulutangkis, tetapi khusus di Paris kemarin, mereka harusnya kalah dari para unggulan saja. Tapi lihat saja nama-nama seperti Dionysius Hayom Rumbaka dan Adrianti Firdasari yang dikalahkan oleh pemain non unggulan. Hayom dikalahkan oleh Boonsak Ponsana, sementara Firda gagal di tangan Gu Juan.

Indahnya Paris tentu bukan suatu alasan buat para pebulutangkis itu untuk mengalah demi bisa berjalan-jalan riang di kota Romantis, Paris. Firda yang kemarin sempat berkicau mengenai penghargaan buat para pebulutangkis meskipun kalah, kemarin masih saja tetap mengulang kegagalannya di babak awal. “Salut luar biasa utk penonton denmark/eropa,mng atau kalah dgn jauh pun sang atlit ttp disupport luar biasa,dbrkan tepuk tangan smpai brdiri,” begitu tweet yang dikeluarkan Firda 19 Oktober lalu.

OK lah Find melihat tweet diatas, kita pasti akan setuju. Tapi tweet selanjutnya begitu menusuk bagi para pecinta bulutangkis. “Tdk sprti di negri tercinta saya yg jka sang atlit menang dipuja2 berlebihan dan jika kalah dicaci maki habis2an :(“

Tentu saja kita sebagai pecinta bulutangkis akan protes atas tweet Firda yang memojokkan para BL itu. Masyarakat Eropa tentu akan bertepuk tangan sambil berdiri melihat seorang legenda, Peter Gade atau Tine Baun, yang memberikan dedikasi yang tinggi, walaupun mereka kalah. Kalau pemain yang kalah itu terus terusan kalah, apalagi sama sesama non unggulan, perlukah kita memberi standing applause?

Jawabannya perlu, tapi ketika gue melihat tweet diatas, buat Firda rasanya wegah-wegahan gitu.. Dia aja gak nganggep kita, buat apa kita tepukin dia.. Gue cuma berharap si Firda gak jalan-jalan beli oleh-oleh dari Perancis sih.. Sudah terlalu jelek image nya..

Bagi atlet, cuma dua pilihannya, Menang atau Kalah.. Semuanya ditentukan atlet itu sendiri.. Terus terusan mengeluh tanpa ada prestasi sangat memalukan bagi atlet itu sendiri, berbeda dengan Taufik yang memang penampilannya memang menurun, tapi melihat ia sudah punya prestasi, rasanya gak perlu diragukan lagi, mau berkicau seberapa keras pun, kicauannya itu tetap kicauan seorang yang Berprestasi!!

‘Jim Morrisson’ bawa Jorgensen petik kemenangan

Jan O Jorgensen melanjutkan hegemoninya di Perancis Terbuka kemarin. Melawan Andre Kurniawan Tedjono, Semifinalis Denmark Terbuka pekan lalu ini berhasil menang 21-19, 21-15. Tampilan Jorgensen kemarin terlihat berbeda dari penampilannya pekan lalu. Ia terlihat mengenakan pakaian lengan buntung yang menampilkan gambar tato di lengannya.

Gue awalnya tahu bahwa ia bertato saat di Indonesia Open lalu. Ia waktu itu didaulat untuk menjadi Yudhistira dalam Welcome Dinner Indonesia Open. Saat itu, Jorgensen terlihat tidak nyaman memakai pakaian yang serba ketat. Tato yang berada di lengan kanannya itu adalah gambar vokalis The Doors, Jim Morisson.

Seperti kita tahu, Morrison pernah membuat kontroversi besar, dimana tahun 1969 lalu saat ia melakoni Konser, ia menunjukkan kelakuan yang tidak wajar, yakni menampilkan bagian tubuhnya yang vulgar kepada para penonton.

Meski berbuat kontroversi besar, Jim disebut Jorgensen sebagai seorang yang jenius. Ia begitu kagum hingga merajah wajah Morrison di tangan kanannya. Menurut Jorgensen, musik Morrison telah memengaruhi hidupnya sejak masa sekolah. “Dia mengingatkan saya tentang ayah saya. Bagaimana ia mencintai musik dan menggunakan musik itu untuk mengekspresikan jiwanya,” kata Jorgensen dikutip dari Kompas bulan Juni lalu..

Di babak kedua hari ini, rencananya Jorgensen akan berjumpa dengan pebulutangkis India, Ajay Jayaram yang mengalahkan Suppanyu Avihingsanon dari Thailand dengan 21-16, 21-17.

Di nomor ini, Indonesia hanya diwakili oleh tunggal putra Sony Dwi Kuncoro yang di babak pertama menghempaskan Sourabh Varma dari India dengan 22-20, 21-16. Tapi dari kabar yang beredar menyebutkan bahwa Sony memutuskan untuk walkover dari Perancis sehingga Indonesia tidak menempatkan wakil untuk nomor tunggal putra ini. Rekan Sony, Hayom dikalahkan Boonsak sementara Simon mengundurkan diri karena tidak enak badan.

Boe-Mogensen out

London silver medalist, Mathias Boe-Carsten Mogensen gagal di babak pertama turnamen Perancis Terbuka kemarin. Mereka dikalahkan oleh pasangan duet baru asal Indonesia, Hendra Setiawan-Muhammad Ahsan dengan 16-21, 15-21.

Tak terduga, Hendra begitu ciamik di depan net, bahkan ia dijuluki oleh technical master. Tampilan mereka tidak memberi kesempatan pada Boe-Mogensen yang terkenal dengan flick smash yang keras. Pasangan Denmark dipaksa untuk menampilkan pola bertahan yang tidak menguntungkan mereka.

Di babak kedua hari ini, mereka akan berjumpa dengan pasangan Malaysia, Hoon Tien How-Tan Wee Kiong. Bersama Bona, Ahsan sempat kalah dari pasangan ini. Bagaimana ketika berpasangan dengan technical Master Hendra Setiawan? Kita lihat livescor malam ini..

Unggulan lain, yakni Du Pengyu, Finalis Denmark Terbuka pekan lalu harus gagal di babak pertama atas Wong Wing Ki. Wing Ki berhasil menang 23-21, 16-21, 21-10. Alasan kegagalan Du kemungkinan karena staminanya yang terkuras setelah bermain penuh di Denmark Terbuka kemarin. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Wong Wing Ki melaju ke babak Perempat Final dengan cuma-cuma, setelah Sony Dwi Kuncoro mengundurkan diri dari turnamen ini.

Hal menarik lain ternyata datang dari Viktor Axelsen. Si kecil lincah atraktif ini hari Selasa lalu didapuk menjadi coach dadakan buat Joachim Persson, namun justru di babak utama kemarin, Joachim Persson lah yang tampil memberi wejangan pada Juara Dunia Junior 2010 itu. Axelsen menang 21-10, 21-15 atas Pablo Abian dari Spanyol.

Iklan