Teknologi Garis buat Bulutangkis

Melalui sebuah wawancara, Wakil Presiden BWF, Paisan Rangsikitpho menuturkan beberapa hal, dan salah satu yang menarik adalah akan digunakannya teknologi garis untuk pertandingan bulutangki pada masa depan, selain itu ia juga menuturkan mengenai adanya pembaharuan di sistem kompetisi Olimpiade mendatang.

Berbicara mengenai teknologi garis, olahraga tetangga bulutangkis, yakni Tenis sudah lebih dulu menggunakan teknologi garis, yakni Hawk-Eye technology. Namun ketika menuturkan mengenai hal ini, Paisan menolak berkata bahwa sistem teknologi garis di bulutangkis akan serupa Hawk-Eye di Tenis.

“Kami akhirnya membuat proposal untuk penggunaan teknologi ini. Kita tidak mengadopsi Hawk-Eye tetapi akan berinvestasi di teknologi serupa – kombinasi dari manusia dan metode ilmiah yang baru dari perusahaan Amerika,” ujar pria kelahiran Thailand itu.

Paisan juga menambahkan bahwa biaya yang dikeluarkan akan besar, namun ia percaya penggunaan teknologi itu tidak akan sia-sia. “Ini akan membutuhkan biaya besar tapi saya percaya itu tidak akan sia-sia. Jika dewan menyetujui, kita akan mulai dengan pengujian dalam beberapa turnamen. Kami akan mulai dengan satu lapangan dan memantaunya.”

Seperti kita tahu, banyak sekali protes dari para atlet yang bertanding mengenai keluar atau masuknya shuttlecock, sehingga kadang memicu konflik di lapangan. Diharapkansetelah dipasang teknologi ini, diharapkan protes akan berkurang, sehingga pertandingan tidak memakan waktu terlalu lama. Jika Proposal ini benar-benar disetujui, rencananya tahun 2014, semua turnamen besar kemungkinan sudah menggunakan teknologi garis ini.

Jutaan dollar buat turnamen

Impian bahwa Bulutangkis akan segera menjadi salah satu olahraga profesional nampaknya menjadi salah satu misi utama BWF. Paisan mengungkapkan dalam kesempatan yang sama bahwa turnamen seri Grand Prix pun menawarkan total hadiah yang akan menguntungkan bagi para pemain, khususnya pemain kelas dua.

“Acara GP Gold biasanya diikuti oleh pemain lapis kedua tapi kami ingin mereka juga membawa hadiah uang yang besar. Sehingga kami akan meningkatkan total hadiah uang. Kami telah menuai sukses besar dengan Super Series dan kami berharap dapat menciptakan hal yang sama dalam GP Gold,” ujar Paisan.

Selain itu, beberapa kabar juga menyebutkan bahwa tiga negara, yakni Australia, Malaysia dan Singapura berminat untuk menawarkan total hadiah Jutaan dollar jika mereka benar-benar mendapatkan status Premier dari BWF. Tapi sayangnya bukan hanya total hadiah saja yang menjadi penilaian buat BWF menetapkan status premier ini, karena banyak sekali faktor, salah satunya fanatisme penonton dan bagaimana para pemain tuan rumah bisa menyaingi para pebulutangkis papan atas yang diwajibkan hadir.

Bagi duaribuan, Malaysia mungkin bakal lebih baik nasibnya jika benar-benar didapatkan status Premier, karena wakilnya kemungkinan bisa berada di partai Semifinal atau Final, sehingga uang jutaan dollar tidak akan terbuang sia-sia. Tapi ketika kita melihat Australia dan Singapura, yang gaung bulutangkisnya tidak terlalu wah, justru akan rugi karena pemainnya sering tidak bisa menembus partai Perempat Final sekalipun, sehingga uangnya pun bakal masuk ke kantong pebulutangkis negara lain.

BTW.. Penting ini.. Melihat tenis yang sudah bisa dibilang olahraga profesional, sayangnya orientasi ketika olahraga sudah benar-benar profesional itu adalah uang, bukan prestasi. Lihat saja Tenis saat ini, turnamen seperti Grand Slam dirasa lebih diminati para petenis papan atas dibanding Olimpiade, karena ketika menjuarai sebuah Grand Slam saja, uang yang didapatkan sebanyak puluhan juta dollar.

Bendera pun tidak banyak dipermasalahkan oleh para petenis itu karena sistem ranking yang diperkenalkan oleh WTA maupun ATP itu kebanyakan memang ranking individual. Kalo di bulutangkis, sistem itu terlihat di BWF World Junior Ranking, dimana pasangan ganda itu rankingnya sendiri-sendiri, tidak mewakili pasangan.

Sistem Olimpiade baru

Usai kasus yang menimpa empat ganda putri di Olimpiade London lalu, Paisan juga mengungkapkan bahwa Sistem Olimpiade empat tahun yang akan datang akan serupa dengan Olimpiade London, namun berbeda dalam format knockout.

Jika di Olimpiade lalu, Sistem knockout sudah ditentukan, kemungkinan di Olimpiade Rio, setelah sistem grup akan ditentukan sistem knockout tapi tidak ditentukan, alias drawing lagi. Mirip-mirip ama sistem di Piala Sudirman atau Piala Thomas-Uber. Yang jelas Paisan mengungkapkan bahwa sistem grup ini tidak akan dihapus, karena menguntungkan buat promosi bulutangkis kedepannya, karena banyak pertandingan kelas dunia ditampilkan.

“Kami memutuskan bahwa kami tidak merubah format seutuhnya, tapi kita akan membuat beberapa perubahan. Kami akan tetap dengan sistem grup karena kami melihat banyak pertandingan berkualitas ditampilkan,” katanya.

“Kami mengusulkan untuk membuat drawing setelah pertandingan grup, sehingga tidak ada celah lagi bagi pemain untuk memanipulasi,” tambahnya.

Iklan