Gangnam style sampai di Odense

Final Ganda Putra di turnamen Denmark Open 2012 menjadi Final yang paling komplit, dari hal yang kontroversial sampai hal yang paling lucu dikemas menarik dalam 66 menit pertandingan yang akhirnya dimenangkan Shin Baek Cheol-Yoo Yeon Seong dengan 19-21, 21-11, 21-19. Pertandingan sebenarnya terlihat didominasi oleh pasangan Malaysia, terutama Koo Kean Keat di depan, ditambah kombinasi smash dari Tan Boon Heong yang keras. Tapi siapa yang duga, dominasi Koo di depan net ternyata juga membuatnya sering error sehingga membuahkan banyak poin bagi pasangan Korea.

Ketat di gim pertama, akhirnya pasangan Malaysia, Koo-Tan berhasil mengamankan gim pertama dengan skor tipis 21-19. Di gim kedua, pasangan Malaysia terlihat tidak menunjukkan permainan asli mereka yang sempat membuahkan gelar All England dan Asian Games Doha beberapa tahun silam.

Mereka justru takluk dan membiarkan serangan Shin Baek Cheol dan Yoo Yeon Seong mendarat di lapangan hijau milik pasangan Malaysia hingga kedudukan 18-7 untuk keunggulan Korea.

Hingga wasit pun memberikan sebuah peringatan pada pasangan Malaysia (gambar) saat jelang game point. Shin-Yoo menuntaskan game kedua 21-11 untuk memaksakan rubber game.

Di gim penentuan, pasangan Korea terlihat diatas angin saat unggul jauh 11-6 di interval game. Usai pindah tempat, pasangan Malaysia mencoba menaikkan tensi hingga berhasil menyamakan kedudukan di poin 14-14. Di point itu, kejar mengejar angka terjadi hingga membuat Tan Boon Heong frustasi.

Tan pun melampiaskan frustasi dengan membuang raketnya ke lantai. Dilihat wasit, akhirnya wasit memberi kartu kuning tanda peringatan buat pasangan Malaysia. Frustasi Tan membuat Korea berhasil mencapai game point lebih dulu 20-19.

Di kedudukan itu, sebuah tembakan Shin Baek Cheol (gambar) menabrak bibir net dan jatuh di bidang permainan pasangan Malaysia, dan membuahkan poin buat pasangan Korea. 21-19, pasangan baru Korea menang.

Selebrasi pasangan ini lah yang menjadi suatu hal unik, usai membuat pukulan tembakan hoki, Shin Baek Cheol tersungkur di lapangan lalu berlari menghampiri sang pelatih di pinggir lapangan. Wasit pun tersenyum melihat selebrasi pasangan Korea ini.

Sang pasangan, Yoo Yeon Seong, seusai melompat untuk selebrasinya, ia menarikan tarian yang sedang fenomenal di dunia, termasuk di Indonesia, yakni gangnam style ala k-Pop Korea.

Inilah yang gue maksud Final yang lengkap, lucky ball, entertaint (gangnam style), pertandingan kelas dunia, kartu kuning  hingga mentalitas di poin kritis, semua komplit di Final ganda putra ini.

“Senior kami (Chung Jae Sung) pensiun setelah Olimpiade. Tim sedang mencoba untuk membuat pasangan baru. kami menguji duet baru di turnamen ini, dan kita senang kita menang” kata Shin Baek Choel mengomentari kemenangannya ini.

Gelar ini tentu menjadi pembuka jalan yang baik buat duet baru mereka ini. Selain itu, mereka juga membalas dendam atas kekalahan rekan duet baru mereka, Ko Sung Hyun-Lee Yong Dae yang digagalkan oleh Koo Kean Keat-Tan Boon Heong di babak pertama.

2 Titel buat Ma Jin

Denmark Open Superseries 2012 menjadi turnamennya Ma Jin. Tampil di dunia nomor, bersama Xu Chen di ganda campuran dan Tang Jinhua di ganda putri, ia berhasil menyabet dua gelar.

Di partai pertama, Ma Jin berpasangan dengan Xu Chen yang menjadi unggulan pertama berhadapan dengan Juara All England asal Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir.

Menghadapi pasangan Indonesia, persaingan ketat tentu sangat terlihat di gim pertama. Dari statistik yang tercatat, pasangan China mendapatkan setengah poin lebih dari smash winner, sementara hanya sedikti poin bagi pasangan Indonesia yang didapatkan dari pukulan smash.

Indonesia lebih dulu mencapai game point 20-18, namun pasangan China mampu mengamankan game pertama dengan skor akhir 23-21 setelah smash Liliyana membentur net (Liliyana ditarik ke belakang).

Pertarungan kelas dunia kembali terjadi di gim kedua, dimana pasangan Indonesia tidak mudah menyerah usai kalah tipis 21-23 di gim pertama tadi. Di gim kedua ini, Tontowi terus menerus melakukan smash meskipun perolehan poin dari Smash buat pasangan China lebih banyak.

Indonesia kembali meraih game point 20-18, tapi lagi-lagi pasangan China mampu memaksakan deuce, bahkan meraih 4 match point sebelum akhirnya pasangan Indonesia memaksakan rubber usai menang 26-24. Inilah mengapa Liliyana Natsir adalah Double world Champion, mentalitasnya tak perlu diragukan lagi.

Di partai penentuan, Tontowi Ahmad terlihat sangat letih, sehingga Tontowi memperbanyak error yang seharusnya dikurangi (apalagi targetnya Juara Dunia 2013 > Juara Dunia harus siap, ada luck, mental dan tidak boleh sering membuat kesalahan elemeter). sementara Liliyana lah yang sendirian harus mengcover bola sampai terjatuh di lapangan (gambar).

Keletihan itu tentu dimanfaatkan betul oleh pasangan China. Unggul jauh 11-6 di interval game, pasangan Indonesia sudah tidak bisa berbuat banyak. China menang 21-11 untuk meraih titel ketiganya tahun ini.

“Saya pikir itu adalah pertandingan 3 set yang luar biasa. Kami sedikit lelah, tapi kami sangat senang. Tahun lalu kami runner-up dan sekarang kami telah memenangkannya. Kami senang,” ujar Ma Jin mengomentari kemenangannya itu.

Sementara duetnya di ganda putri bersama Tang Jinhua ini juga berhasil membuahkan hasil. Dari berita yang beredar, Ma Jin dipasangkan dengan Tang Jinhua dikarenakan partner reguler Tang Jinhua, Huan Xia mengalami cedera.

Menghadapi pasangan Misaki Matsumoto-Ayaka Takahashi yang mengalahkan Zhao Yunlei-Tian Qing di Semifinal kemarin, Ma Jin-Tang Jinhua ternyata mudah untuk mengalahkan pasangan Jepang ini dengan skor telak 21-8, 21-12.

Di tengah jalannya pertandingan, Ma Jin sempat mengganti raket, namun raket ganti itu ternyata bukan miliknya, sehingga ia pun sempat meminta maaf kepada Tang Jinhua karena raket itu adalah raket cadangan milik Tang.

“Pertama, terima kasih untuk pelatih kami, yang memberi kami taktik yang baik sehingga kami bisa melakoni pertandingan. Dan terima kasih kepada fans. Kami bisa mendengar mereka sepanjang pertandingan,” begitu kata pasangan ganda putri China ini.

Happy Birthday Chong Wei

Pebulutangkis tunggal putra Malaysia, Lee Chong Wei berhasil mengalahkan tunggal putra China, Du Pengyu di partai terakhir pada Final hari minggu itu lewat pertarungan panjang 72 menit dengan skor yang ketat 15-21, 21-12, 21-19.

Di Hari ulang tahunnya, Lee Chong Wei berhasil meraih titel, namun perjuangannya tidak mudah. Di gim pertama, pertarungan ketat sebelum interval gim. Usai interval gim 11-10, Du Pengyu langsung meroket 19-11 hingga mampu menutup gim pertama 21-15.

Di gim kedua, Lee memperlihatkan kelasnya. Pola keras dan agresif dipertontonkan di depan publik Odense. Lee pun menang 21-12 dan memaksakan gim ketiga.

Di gim penentuan, kejar mengejar angka terjadi silih berganti. Du sempat unggul 11-8 di interval gim, namun balik tertinggal 12-14. Di kedudukan itu, Lee terus meraih poin namun Du sering menyamakan kedudukan hingga poin sama 19-19. Di poin itu, Lee mampu meraih dua poin beruntun untuk meraih gelarnya tahun ini. Ini tentu menjadi kado istimewa bagi Lee yang hari itu berusia 30 tahun. Di usia itu, Lee akan segera menikah dengan mantan pebulutangkis Malaysia, Wong Mew Choo, tepatnya 10-11 November mendatang di Kuala Lumpur, Malaysia.

Itu adalah pertandingan yang sulit, dan saya merasa sangat lelah. Hari ini ulang tahunku, jadi saya senang saya menang. Saya tidak beristirahat setelah Olimpiade (persiapan pernikahan), tetapi saya berhasil menemukan kekuatan dalam diri saya untuk memenangkan gelar,” ujar Lee.

Eropa tak bawa gelar

Harapan terakhir Eropa, Juliane Schenk gagal meraih gelar usai ditaklukkan oleh Saina Nehwal di Babak Final Denmark Terbuka pada hari Minggu, 21 Oktober 2012 di Odense. Schenk yang membuat kejutan dengan mengalahkan dua tunggal putri China di Perempat Final dan Semifinal kemarin tidak mampu mengimbangi permainan cepat dari Saina. Ia kalah 17-21, 8-21.

“Saya santai karena saya telah mencapai mimpi saya untuk memenangkan medali Olimpiade. Lutut kanan saya tidak dalam kondisi sempurna. Saya harus berterima kasih kepada para fans karena telah memberi saya semangat untuk menang,” ujar Saina membeberkan kunci kemenangannya, yaitu santai.

Jika Saina santai, Schenk justru tidak santai sehingga ia tidak bisa menemukan ritme permainannya. “Aku tidak santai dan tidak bisa menemukan ritme meskipun aku mencobanya. Mungkin dia mendapat 15 poin karena kesalahanku sendiri,” ujar Schenk.

Kalah bukan berarti ia putus semangat, justru Schenk merasa senang karena performanya pekan ini. “Tapi saya sangat senang tentang kinerja saya minggu ini,” tambahnya.

Iklan