No title for Home, Olympic and defending Champion

Semifinal Denmark Open 2012 sangat tragis bagi tuan rumah, Denmark karena dari 2 wakil tuan rumah yang melakoni partai Semifinal, keduanya harus gugur di tangan pebulutangkis Malaysia. Odense sepertinya juga tidak ramah terhadap para Juara Bertahan tahun lalu serta para Juara Olimpiade 2012, setelah Chen Long kemarin dikalahkan Du Pengyu dan Zhao Yunlei harus angkat koper dari dua nomor yang ia lakoni.

Partai pembuka adalah partai ganda putra dimana andalan tuan rumah, Mathias Boe-Carsten Mogensen menjalani pertarungan melawan pasangan ganda Malaysia, Koo Kean Keat-Tan Boon Heong. Dari rekor pertemuan sebelumnya, Koo-Tan unggul 8-4, namun tiga pertemuan sebelumnya dimenangkan oleh Boe-Mogensen.

Namun kemenangan di tiga pertemuan terakhir ternyata tidak bisa diulang Boe-Mogensen di depan publik sendiri. Mereka harus takluk dari pasangan Malaysia dalam pertarungan ketat tiga gim 21-19, 11-21, 24-26 dalam pertarungan terpanjang malam itu, 81 menit.

Di gim pertama, pertarungan berjalan alot, dimana saat itu Denmark sempat memimpin 15-11, namun Koo-Tan mampu menyamakan kedudukan di 19-19. Dari poin itu, Denmark berhasil mengambil 2 poin untuk menutup gim pertama dengan skor 21-19.

Di gim kedua, pasangan Malaysia langsung melancarkan serangan-serangan hingga unggul jauh 11-6 di paruh pertama gim kedua. Usai istirahat pun, mereka masih melanjutkan dominasi hingga menang 21-11.

Di gim ketiga, kedua pasangan mencoba mengeluarkan kelebihan masing-masing, pasangan Malaysia yang dimotori Koo melawan dengan net shoot nya, sementara Denmark mengambil banyak poin dari flick smash keras mereka.

Pasangan Denmark awalnya lebih dulu mencapai match point di kedudukan 20-18, namun sempat berbalik tertinggal 20-21. Dari kedudukan itu, pasangan Denmark mampu menahan 5 kali match point Malaysia sebelum harus menyerahkan tiket Final kepada Koo-Tan setelah gagal 24-26.

Mengomentari kekalahannya, kedua pasangan Denmark mengaku kecewa karena tidak tampil dalam permainan terbaiknya. “Kami sangat kecewa. Kami tidak bermain baik hari ini. Kami tahu itu akan sulit, dan kami berjuang dengan apa yang kita punya,” ujar Mogensen.

“Kami tidak tampil 100% dan mereka melihatnya. Itu memberi mereka keyakinan bahwa mereka bisa menang,” tambah Boe.

Di Final, Koo-Tan akan berjumpa pasangan baru muka lama asal Korea, Shin Baek Cheol-Yoo Yeon Seong yang mengalahkan Muhammad Ahsan-Hendra Setiawan dengan 21-17, 21-15 di Semifinal lainnya.

Asa tuan rumah juga harus terhenti di tangan Malaysia tatkala Jan O Jorgensen kalah ketika berjumpa unggulan teratas, Lee Chong Wei di partai Semifinal. Namun tak ada yang mengira penampilan Jorgensen malam itu mampu membuat Lee Chong Wei harus menang deuce 22-20, 21-15 dalam 45 menit.

Di gim pertama, Jorgensen memaksa Lee untuk bermain netting dan itu terbukti membuahkan poin buat Jorgensen. “Saya sangat puas dengan set pertama saya. Aku bisa melihat ia terengah-engah. Jadi saya benar-benar akan menyukai jika bisa memainkan set ketiga,” ujar Jorgensen.

Sayang, Jorgensen hanya kalah di finishing touch, dimana di kedudukan 20-20, mentalitas Lee mampu membuat ia menang 22-20.

Di gim kedua, awalnya Jorgensen sempat unggul 5-3, namun titik balik dominasi Lee Chong Wei dimulai pada poin 6-6. Dari kedudukan itu, Lee terus melaju hingga menutup pertandingan dengan 21-15.

“Dia adalah penyerang yang hebat dan Anda harus benar-benar siap untuk bisa mengalahkan dia. Tapi saya masih yakin saya bisa melakukannya. Saya telah melakukannya sekali (China Open 2009),” tambah Jorgensen.

Kekalahan Jorgensen ini membuat tuan rumah tidak memiliki wakil di babak Final. Tapi meskipun kalah, kedua andalan Denmark tersebut diberikan standing applause oleh para pirsawan di Odense.

China melihat jangka panjang

Penampilan buruk yang ditampilkan Chen Jin yang harus tersingkir dari Suppanyu Avihingsanon di babak pertama Denmark Terbuka membuat Kepala Timnas China, Li Yongbo kini melihat siapa pemain tunggal putra yang benar-benar pantas dikirim untuk Olimpiade 2016.

Selain Lin Dan yang sudah memastikan tampil di Rio dan pensiun setelahnya, Chen Long mungkin menjadi pemain kedua yang dikirim mewakili China di nomor tunggal putra. Tapi siapa yang ketiga?

Rasanya Du Pengyu inilah yang menjadi salah satu kandidat kuat menggantikan Chen Jin untuk berangkat ke Rio de Janeiro, 2016 mendatang. Oleh karena itulah, kemenangan Du Pengyu atas rekan satu negaranya, Chen Long yang juga juara bertahan tadi malam mungkin adalah suatu rekayasa Li Yongbo guna memuluskan jalan Du Pengyu.

Juara bertahan satu-satunya yang masih tersisa itu awalnya sudah lebih dulu unggul 10-6, namun perlahan Du Pengyu bisa menipiskan kedudukan 10-11. Usai interval, Du Pengyu langsung tancap gas dan menang 21-14.

Gim kedua, Chen Long rasanya tidak terlihat memberikan perlawanan berarti, hingga harus kalah 10-21.

“Saya bermain baik dan siap untuk hari ini. Kami berada pada tingkat yang sama dan (kemenangan) itu tergantung pada current form,” ujar Du usai bertanding.

Berkaitan soal rekayasa diatas, China melihat untuk jangka panjang, yakni raihan emas Olimpiade, dimana kemenangan Du Pengyu tentu akan menaikkan rankingnya dan itu sangat berarti buat kedepannya (terutama saat turnamen perhitungan poin Olimpiade), karena dalam turnamen itu ia akan mendapatkan status unggulan, dan terhindar dari unggulan lain sebelum babak-babak akhir.

Pemikiran China soal kepentingan jangka panjang lain juga terjadi di nomor ganda putri, dimana Ma Jin (gambar) yang kali ini dipasangkan dengan Tang Jinhua berhasil menginjakkan kaki di Final ganda putri usai mengalahkan rekan satu negaranya, Bao Yixin-Zhong Qianxin dengan dua gim langsung 21-15, 21-19.

Di gim kedua, Bao-Zhong sebenarnya sempat unggul 9-5, namun Ma Jin-Tang Jinhua menyamakan kedudukan 10-10. Dari kedudukan itu, Ma Jin-Tang Jinhua langsung unggul jauh 16-10 sampai menutup pertandingan dengan 21-19 untuk memegang tiket Final.

Kemenangan Ma Jin-Tang Jinhua yang merupakan pasangan nonunggulan ini tentunya menjadi kecurigaan kita karena sepertinya Bao-Zhong disuruh untuk mengalah agar Ma Jin-Tang Jinhua bisa naik rankingnya, mungkin juga untuk kepentingan 2016.

Kemenangan Ma Jin di nomor ganda putri ini ini merupakan tiket Final keduanya, setelah sebelumnya di nomor ganda campuran, Ma Jin yang berpasangan dengan Chen Xu, berhasil mengalahkan Chan Peng Soon-Goh Liu Ying (gambar) dari Malaysia dengan telak, 21-7, 21-16 dalam 37 menit.

Pasangan Malaysia ini akhir-akhir ini menunjukkan prospek yang bagus, dimana mereka sudah menjadi salah satu ganda campuran papan atas (kini peringkat 5 dunia), meskipun belum pernah sekalipun mengalahkan pasangan China, Zhang Nan-Zhao Yunlei dan Xu Chen-Ma Jin serta ganda Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir.

Odense tidak ramah pada Juara Olimpiade

Setelah absennya Lin Dan dan cederanya Wang Xiaoli dan Cai Yun, ditambah gugurnya Li Xuerui di tangan Juliane Schenk pada babak perempat Final, malam tadi ganti Zhao Yunlei, peraih dua emas Olimpiade di nomor ganda putri dan ganda campuran harus angkat koper dari Odense setelah kalah dalam babak Semifinal.

Zhao mengawali perjuangan di nomor ganda putri, dimana ia dan Tian Qing (gambar) harus gagal ke Final usai ditaklukkan oleh ganda putri Jepang yang beda dari para seniornya, yakni Misaki Matsumoto-Ayaka Takahashi dalam pertarungan panjang 67 menit.

Di gim pertama pasangan Jepang langsung in, dan terus memimpin dari awal gim hingga menutup pertandingan 21-15. Saat itu, pasangan Jepang mengkominasikan tipe strongest shield (perisai kuat) ala senior-seniornya di Jepang dengan tipe permainan menyerang yang membuat pasangan China tidak tahu harus berbuat apa untuk meruntuhkan perisai itu.

Di gim kedua, kombinasi itu tidak diterapkan dengan baik oleh Misaki-Ayaka, hingga Tian-Zhao bisa menekan pasangan Jepang dengan 21-13.

Di gim penentuan, pasangan Juara Olimpiade sudah tidak bisa berbuat banyak. Pasangan Jepang selalu menurunkan bola dan menekan pasangan China hingga unggul jauh 11-1 di interval gim hingga menutup pertandingan 21-10 untuk memastikan tiket Final Superseries Premier pertama mereka.

Dibandingkan senior-seniornya seperti duet Mizuki Fujii-Reika Kakiiwa, Miyuki Maeda-Satoko Suetsuna dan Mami Naito-Shizuka Matsuo, pasangan Misaki-Ayaka memang terlihat berbeda karena pertahanan mereka kuat, namun serangan mereka juga tidak kalah kuat.

Kedua kombinasi itu makin komplit ketika instruksi-instruksi pelatih rasanya mudah sekali masuk ke pasangan ini, sangat terlihat ketika di babak pertama, mereka melawan Pia Zebadiah-Rizky Amelia, sudah tertinggal cukup jauh 11-8 hingga 16-11 di gim ketiga, usai mendapatkan wejangan pelatih malah berhasil menang 21-19.

Tak sampai satu jam usai kalah di Semifinal ganda putri itu, Zhao Yunlei sudah harus tampil lagi, kali ini bersama sang pacar, Zhang Nan di Semifinal ganda campuran. Wajah kekelahan tentu sangat terlihat di raut wajah Zhao Yunlei saat melawan andalan Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir.

Melawan ganda Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir (gambar), Zhao menjadi titik lemah dari pasangan China. Bertubi-tubi serangan, baik dari Owi maupun Butet ditujukan kepada peraih dua medali emas Olimpiade itu.

Akhirnya, pasangan Indonesia unggulan keempat itu berhasil menghentikan Juara Olimpiade dengan dua gim langsung, 21-12, 21-17.

Dalam 6 kali pertemuan, Zhang-Zhao mencatatkan empat kali kemenangan, namun empat kemenangan itu didapatkan lewat pertarungan rubber gim, sedangkan 2 kekalahan mereka diderita dalam dua gim langsung, termasuk di Denmark Terbuka ini.

Hasil ini membawa pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir ke Final ganda campuran untuk berjumpa unggulan teratas, Chen Xu-Ma Jin yang menjadi Finalis tahun lalu.

Juliane Schenk harapan terakhir Eropa

Juliane Schenk menjadi satu-satunya wakil Eropa yang tampil di Final turnamen Denmark Open Superseries Premier 2012. Di Babak Semifinal kemarin, Schenk memperlihatkan penampilan luar biasa saat melawan tunggal putri China, Jiang Yanjiao.

Kalah di gim pertama 13-21 tidak membuat Schenk patah arang. Di gim kedua, Schenk memperlihatkan pola bertahan yang luar biasa atas smash-smash keras yang dilancarkan Jiang hingga mampu memaksakan gim ketiga usai menang 21-14.

Di gim ketiga, Schenk memaksakan permainan panjang reli-reli yang menguras tenaga, hingga ia pun berhasil memastikan tiket Final usai menang 21-15.

“Saya benar-benar senang. Saya tidak pernah sampai sejauh ini. Saya menikmati berada di sini dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para penonton. Mereka pendukung yang hebat,” ujar Schenk.

Usai Olimpiade, Schenk memang dilanda dilema, akankah pensiun atau tetap melanjutkan karir. Namun sepertinya pilihan untuk tetap melanjutkan karir ada pada Schenk. Ia terus menerus latihan, hingga anda lihat bagaimana kekarnya tubuh Schenk pasca Olimpiade.

Meski bertubuh kekar, Schenk tetap wanita, jari lentiknya masih saja terlihat saat ia berpelukan dengan Jiang usai memenangkan pertandingan itu (lihat gambar).

Lawan yang dihadapinya di Final adalah Saina Nehwal yang tak perlu menguras banyak keringat untuk menaklukkan Wang Yihan yang harus terkena cedera lutut kanan dalam babak Semifinal itu.

Partai Semifinal penutup itu rasanya tidak menarik karena sejak awal Yihan memang tidak tampil dalam penampilan terbaiknya. Ia yang sudah sempat unggul 5-0 malah berbalik tertinggal 6-12 dari Saina.

Saina pun melanjutkan dominasi hingga menang di gim pertama 21-12. Di gim kedua Yihan sudah seperti menahan rasa sakit di lutut kanannya itu, hingga sempat meminta menghentikan permainan untuk dirawat oleh medis.

Yihan pun akhirnya memutuskan retired di kedudukan 12-7 untuk keunggulan Saina. Saina pun menginjakkan kaki di Final Denmark Terbuka untuk menghadapi Juliane Schenk.

Mengomentari lawannya ini, Schenk bertaruh pemenang Final besok adalah yang paling bisa menyimpan energi.

“Kami berdua pernah memenangkan turnamen besar sejauh ini, jadi kita akan melihat siapa yang berhasil menyimpan energi yang paling berpeluang untuk besok,” ujar Schenk.

Jika dilihat dari pertandingan Semifinal, tentu Saina yang memiliki stamina yang berlebih dibandingkan Schenk yang harus melakoni 3 gim melawan Jiang Yanjiao. Tapi itu bukan jaminan buat Saina untuk menang, Schenk punya dukungan dari banyak penonton di Odense karena Schenk satu-satunya wakil Eropa.

Iklan