Kamilla ikuti langkah Liliyana

Kamilla Rytter Juhl memulai sebuah langkah baru dengan menjuarai turnamen Dutch Open Grand Prix 2012 dengan pasangan barunnya, Mads Pieler Kolding hari Minggu kemarin. Mereka berhasil menjuarai turnamen itu pasca mengalahkan unggulan keenam, Marcus Ellis-Gabrielle White dengan 21-15, 21-13.

Dutch Open menjadi awal bagi duet Denmark, usai Kamila ditinggal pensiun oleh Thomas Laybourn. Duet Kamila-Thomas telah mengantarkan mereka menjadi Juara Dunia 2009 dan pernah menjadi Ganda Campuran No. 1 Dunia. Agresifitas Kamila inilah yang membuat Rieke Olsen, bintang bulutangkis Denmark yang kini menjadi pelatihnya akhirnya memasangkannya dengan Mads Pieler Kolding.

Ketika tahu debut mereka telah membuahkan hasil, duaribuan melihat Kamila memiliki prospek untuk mengikuti jejak Liliyana Natsir yang sukses berpartner dengan Tontowi Ahmad hingga membuahkan hasil Trofi All England bagi Indonesia setelah 9 tahun menanti.

Saat pertama kali dipasangkan dengan Tontowi tahun 2010, Liliyana mengira saat itu hanya sebatas tampil sekali turnamen (seperti Rijal-Liliyana kemarin), karena sebelum Tontowi, ia juga pernah dipasangkan dengan Devin Lahardi yang meraih gelar di Malaysia GPG namun akhirnya duet itu tidak berlanjut. Barulah ketika menjelang turnamen Asian Games 2010, nama Liliyana Natsir tidak dipasangkan dengan Nova Widianto, tapi dengan Tontowi Ahmad. Ia pun sedikit kecewa, namun pada akhirnya mengerti bahwa ia dipersiapkan untuk Olimpiade 2012.

Ketika kabar Nova-Butet dicerai, media mendatangi Richard Mainaky dan menanyakan perceraian itu. “Tontowi mungkin belum sekuat pemain China, tetapi dia punya ketahanan menghadapi mereka,” ujar Richard di beberapa media. Memang pemain China saat itu tidak dapat membendung kekuatan ganda campuran Indonesia yang semua tekniknya terbilang komplit, sehingga selama perjalanan 5 tahun duet mereka nyaris tidak pernah keluar dari 5 besar dunia.

Satu-satunya cara pemain China untuk membendung Nova adalah dengan adu ketahanan fisik. “Secara teknik dia tidak tertandingi, maka dari itu pemain China memaksa bermain adu fisik,” tambahnya.

Duet Liliyana-Tontowi ini memang baru memanas jelang Asian Games 2010 (gambar), padahal beberapa bulan sebelumnya mereka telah membuahkan 2 gelar dan 1 Runner Up dari 3 turnamen yang diikuti (semua level GPG), yakni di Macau, Chinese Taipei dan Indonesia GPG. Di Asian Games itu, Owi-Butet tidak berhasil mempersembahkan medali, mereka kalah di 16 besar oleh Chen Hung Ling-Cheng Wen Hsing.

Baru setahun setelah dipasangkan, tak terduga mereka menembus peringkat 2 dunia dengan meraih tiga titel beruntun, India Superseries, Malaysia GPG dan Singapore Superseries hingga mencapai Final Indonesia Premier Superseries. Puncaknya mereka berhasil menyabet gelar All England 2012 pada Maret lalu.

Melihat hal itulah, Kamila bisa saja mengikuti jejak Liliyana Natsir. Dari pertarungan Dutch Open kemarin, Kamila-Pieler Kolding selalu menang straight game dari babak pertama hingga Final. Dan skornya pun tidak terlalu ketat.

Sama seperti Liliyana, Kamila juga mengaku ada perbedaan saat bersama Thomas dan Pieler Kolding. Saat diwawancara usai bertanding, ia mengaku dibantu dengan berbedanya tipe permainan Thomas dan Pieler Kolding, karena menguji kemampuan adaptasinya.

“Ini adalah turnamen pertama saya dengan Mads, dan hasilnya tidak buruk.. kita menang. Mads memiliki tipe permainan yang berbeda dibandingkan dengan Thomas. Thomas lebih pendek dan bermain cepat. Namun, saya pikir itu baik bagi saya untuk bermain dengan mitra dengan berbagai jenis permainan, jadi saya bisa belajar untuk beradaptasi dengan cepat.. “ ujar Juhl.

Hasil ini akan menjadi pijakan yang bagus bagi mereka di turnamen berikutnya, dimana si jangkung Mads Pieler Kolding mungkin bisa cepat mengimbangi permainan Juara Dunia ala Juhl, seperti Tontowi mengimbangi permainan Butet.

Turnamen selanjutnya bagi mereka adalah di Denmark Open Premier Superseries yang tentu akan menguntungkan mereka sebagai salah satu andalan tuan rumah. Di draw yang telah ditentukan bahwa mereka akan berjumpa Michael Fuchs-Birgit Michels, yang tentu levelnya lebih baik dibandingkan para lawannya di Dutch Open lalu.

Jika menang, Kamila akan berjumpa dengan andalan Indonesia, Liliyana-Tontowi di 16 besar. Pieler Kolding memang tidak sebagus permainan Thomas, namun tubuh jangkung tentu menguntungkan bagi Pieler Kolding mengcover bagian belakang lapangan. Hal ini harus menjadi perhatian bagi Owi-Butet yang berusaha mengganti kegagalan di Olimpiade lalu. Semifinal ideal adalah ZZ akan berjumpa Owi-Butet di poll bawah. Terakhir kali, ZZ jumpa Owi-Butet di Superseries Final yang berakhir rubber game.

Gelar pertama buat pasangan Baru

Alvent Yulianto Chandra-Markis Kido yang baru dipasangkan mulai Vietnam Open lalu berhasil menyabet gelar pertama di Dutch Open kemarin. Melawan pasangan Malaysia, Gan Teik Chai/Ong Soon Hock dengan pertarungan tiga gim 18-21, 21-13, 21-14. Ini menjadi gelar satu-satunya bagi Indonesia setelah wakil-wakil Indonesia lainnya sudah bertumbangan di Perempat Final.

Di Semifinal, sebenarnya Indonesia sempat memiliki asa lewat Markis Kido yang berpasangan dengan Pia Zebadiah Bernadet, sang adik. Namun mereka kalah dari pasangan Inggris, Marcus Ellis-Gabrielle White dengan 12-21, 19-21. Namun dalam pertarungan yang sempat disiarkan oleh Indosiar pada Sabtu malam itu, Pia sempat membuat status yang menyatakan tidak fairnya pertandingan, dimana banyak service fault yang dikeluarkan oleh wasit.

“@bernadetttt : Pembunuhan mental main disini hadeeh..astagfirullah”

“@bernadetttt : Not fair loh semua nya..aku tak bisa main terus @areyep22: @bernadetttt kenapa sih??”

“@bernadetttt : Iya lo ak service foult terus bang kido pun sama,ck @areyep22: @bernadetttt not fair knp?umpire ya?”

Meski begitu, Pia menutup tweet nya malam itu dengan kalimat, “But it’s oke lah disyukuri saja :)”.  Kekalahan ini tentu wajar bila dilihat dari segi stamina Pia, karena Pia sudah melakoni serangkaian turnamen yang panjang dan berpindah-pindah, mulai dari Palembang ke Chinese Taipei dan kini di Belanda. Besok, ia sudah harus berangkat ke Denmark untuk mengikuti turnamen Denmark Open Superseries, dan lagi-lagi ia tampil di dua nomor, bersama Rizky Amelia di ganda putri, akan melawan Misaki Matsumoto-Ayaka Takahashi dan di ganda campuran, melawan Tarun Kona-Ashwini Ponappa.

Acara diakhiri oleh kegiatan apresiasi dari Bulutangkis Denmark kepada bintang bulutangkis Belanda, Jie Yao dan Lotte Jonathans yang mengumumkan mengundurkan diri dari Bulutangkis. Jie Yao telah menorehkan catatan istimewa bagi Bulutangkis Belanda, meraih gelar Juara Eropa tahun 2002 dan menghantarkan Belanda ke Final Piala Uber 2006. Yao Jie adalah salah seorang imigran dari China yang memutuskan keluar dari sana karena persaingan yang sangat ketat.

Sementara Lotte Jonathans adalah pemain ganda yang sempat berkibar kala diduetkan dengan Mia Audina, dan menjadi salah satu duet yang cukup kuat untuk Eropa. Beberapa bulan mendatang, kita juga akan melihat hal seperti ini di Jakarta, untuk retirement nya Taufik Hidayat, Badminton best legend.

Dutch Open Final Results:

  • XD: Mads Pieler Kolding / Kamilla Rytter Juhl (DEN) beat Marcus Ellis / Gabrielle White (ENG) 21-15, 21-13
  • WS: Kristina Gavnholt (CZE) beat Judith Meulendijks (NED) 14-21, 21-13, 21-17
  • MS: Eric Pang (NED) beat Dicky Palyama (NED) 21-14 21-10
  • WD: Selena Piek / Iris Tabeling (NED) beat Samantha Barning / Eefje Muskens (NED) 19-21, 21-16, 22-20
  • MD: Alvent Yulianto Chandra / Markis Kido (INA) beat Gan Teik Chai / Ong Soon Hock (MAS) 18-21, 21-13, 21-14

 

Iklan