Li Yongbo angkat bicara

Minggu kemarin, Li Yongbo akhirnya angkat bicara setelah sekian lama terdiam pasca konflik Ganda Putri yang berujung terdiskualifikasinya empat pasangan ganda putri, dimana salah satunya adalah ganda putri asal China, Wang Xiaoli-Yu Yang. Ia bicara di CCTV saat sesi wawancara dengan pelatih yang telah 19 tahun ada di Timnas China itu.

Dikutip dari China daily, ia mengaku hanya mengambil keuntungan dari aturan yang berlaku (sistem setengah gugur), sehingga ia tidak mau disalahkan. “Kami hanya mengambil keuntungan dari aturan dan tidak memikirkan hal-hal lain,” ujar Li. Ia membandingkan dengan beberapa contoh strategi memanfaatkan aturan lain di cabang olahraga berbeda.

“Usain Bolt tidak berjalan dengan upaya penuh di 20 meter terakhir – apakah itu kecerobohan? tim sepak bola mengganti pemain setelah mereka lolos ke babak berikutnya (untuk mengistirahatkan pemain), salahkan saya hanya mengambil sedikit keuntungan dari aturan??” ujar Li.

Ia juga mengatakan kecurangan yang terjadi di Piala Thomas antara Indonesia dan Malaysia. Kedua Tim sama-sama tidak ingin menghadapi China, sehingga membuat taktik untuk memainkan pemain tunggal di nomor ganda, atau sebaliknya, dengan harapan meraih skor agregat 3 terlebih dahulu.

“Ketika Indonesia dan Malaysia bermain di Piala Thomas, keduanya tidak ingin menghadapi tim Cina, sehingga mereka memainkan partai tunggal dengan pemain yang biasa bermain ganda, dan memainkan partai ganda dengan pemain tunggal. Apakah ini pertandingan-dumping?” ucap Li.

Berkaitan dengan hukuman terdiskualifikasinya empat pasangan itu, ia menyayangkan keputusan dari BWF yang terkesan tergesa-gesa untuk mendiskualifikasi atlet dari Olimpiade. “Itu hal yang buruk, tapi tidak pernah ada standar (untuk penghukuman pemain) … Itu adalah keputusan tergesa-gesa dari BWF. Mereka tidak pernah menghukum setiap pemain yang memiliki perilaku serupa dalam dekade terakhir,” ujar Li.

Pecinta Bulutangkis juga sering mencemooh Li karena pelatih China ini dinilai terlalu keras dan kasar ketika melatih anak didiknya. “Saya lebih suka menjadi kasar jika itu bisa mendorong pemain untuk maju. Medali emas adalah satu-satunya hal yang penting,” tutur pelatih yang berhasil menyapu bersih medali emas dari Bulutangkis Olimpiade London.

Memang tak ada yang akan memungkiri, kekerasan dan kedisiplinan dalam latihan itu membuahkan hasil besar, Li mencetak 16 peraih medali emas dan 73 Juara Dunia dalam 19 tahun karir melatihnya.

Sayang ia sendiri hanya mentok di Perunggu Olimpiade Barcelona. Saat itu ia sangat terpukul akan hasil itu. “Tidak ada yang peduli tentang saya ketika saya kembali dengan kaki pincang – itu terlalu kejam. Hanya dengan berdiri di podium kejuaraan dapat Anda dihitung sebagai sukses. Jika tidak memenangkan kejuaraan, Anda kalah,” ujarnya mengingat memori dari Barcelona.

Oleh karena itu, ia menganggap medali emas sebagai satu-satunya hal yang penting, meskipun dengan berlatih keras. “Medali emas tampak kecil, dan upacara penghargaan untuk hal itu sangat singkat, tapi membawanya adalah hal yang luar biasa, besar seperti yang bisa anda bayangkan. Pertama-tama, ia mengakui pekerjaan Anda. Lebih penting lagi, itu berarti Anda memiliki cara latihan dan manajemen yang tepat, dan orang-orang akan mengikuti kepemimpinan Anda,” begitu kata-kata inspiratifnya.

“Jika Anda gagal untuk memenangkan emas, maka pelatihan anda akan berada di bawah pengawasan (baik media, pemerintah, KONI akan menyorot seperti di Indonesia), Anda akan meragukan diri sendiri, pemain Anda akan meragukan Anda, dan masyarakat akan mempertanyakan Anda. Jika orang terus ragu antara apa yang salah dan apa yang benar, mereka bisa menemukan arah yang benar,” tutupnya.

Tidak semua kesalahan dari kecurangan di Olimpiade dan berbagai turnamen adalah kecurangan Li, bisa jadi ini strategi dari Tim Cina sendiri. Strategi dan Kecurangan adalah dua hal yang tipis bedanya.

Iklan