Duka di Wembley Arena

Perasaan sedih tak hanya dirasakan para pecinta bulutangkis Indonesia yang gagal mempertahankan tradisi medali emas atau publik Korea yang harus menerima atlet ganda putri idolanya terkena sanksi akibat kasus main sabun, tapi kisah duka juga datang dari para pemain yang harus menerima terkena cedera di event tertinggi, Bulutangkis Olimpiade.

Tiga pebulutangkis yang berlaga di London, yakni Wang Xin, Sayaka Sato dan Michael Logosz adalah tiga pemain yang kurang beruntung di London. Mereka harus tersingkir bukan karena kalah kualitas, mereka harus kalah karena terkena cedera. Wang Xin terkena cedera di perebutan medali perunggu melawan Saina Nehwal, Sayaka Sato harus gugur di paruh gim pertama melawan Tine Baun di perdelapan final dan Michael Logosz yang berpasangan dengan Adam Cwalina terjatuh saat melawan Bodin Issara-Maneepong Jongjit di penyisihan Grup B nomor ganda putra.

Wang Xin

Unggulan kedua dalam turnamen yang paling bergengsi ini mengalami cedera ketika melakoni laga melawan peraih medali perunggu asal India, Saina Nehwal di bronze medal match pada 4 Agustus lalu. Menurut penuturan sang kepala pelatih Tim China, Li Yongbo di kantor berita Xinhua, Xin terjatuh karena terpeleset keringatnya sendiri di lapangan.

“Ketika Wang meminta wasit agar keringat di lantai dibersihkan, ia (wasit) menolak, dan itu sebabnya ia terpeleset dan melukai dirinya sendiri,” ujar Li Yongbo. “Itu konyol. Pemain yang membutuhkan waktu untuk menyeka keringat di wajah bisa diduga sengaja menunda pertandingan. Tapi ketika ada keringat di lantai, wasit harus setuju untuk mengizinkan membersihkan lantai,” tambah ia sambil memaki-maki wasit.

Selama jalannya pertandingan, Wang Xin selalu memimpin. Saat terjadi cedera pun, Wang Xin dalam keunggulan 21-18, 1-0. Tragedi itu bermula di akhir gim pertama, ketika ia mencoba mengejar bola, lutut kirinya terkilir dan ketika mendarat ekspresinya terlihat sangat kesakitan. Di pingir lapangan, lutut Xin dibungkus dengan pengaman lutut. Kembali ke pertandingan, ia menuntaskan gim pertama 21-18.

Menginjak gim kedua, ia tak terlihat kesakitan. Namun, Saat menerima netting dari Saina, Xin terjatuh. “Aku terjatuh ketika saya mencoba untuk mengembalikan pukulan net,” ujar Wang. Menurut dokter Tim China, Li Quanxi, Cedera Xin adalah cedera baru yang cukup serius, sehingga saat itu Li Yongbo tidak meminta Wang untuk meneruskan bertanding. “Cedera serius, kalau tidak dia tidak akan menyerah,” ujar Li.

Ia terduduk dan memutuskan mundur dari pertandingan, memberikan medali perunggu secara cuma-cuma kepada pebulutangkis India, Saina Nehwal. Seketika itu ia dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani nuclear magnetic resonance test. Setelah tes itu, Wang Xin pun langsung dibawa ke Jerman untuk pengobatan. Gambar diatas diambil ketika tabung yang berada di lutut Xin dilepas. Kakinya bisa ditekuk untuk kali pertama (kiri atas), belajar berjalan (kanan atas dan kiri bawah) serta foto ronsen lututnya. Btw ada kayak paku ya disana.. mirip anak kecil di Indonesia yang ada pakunya.. (curiga nih ada susuk dari Li Yongbo)

Sayaka Sato

Di nomor tunggal putri, para pemain cenderung lebih sering terkena cedera karena tipe bermain di nomor ini lebih mengandalkan reli-reli panjang, sedangkan kondisi mereka (kaki atau stamina) terkadang tidak memungkinkan, itu yang bisa menyebabkan cedera. Apalagi jika modal utama bermain tunggal, yakni langkah kaki (footwork) pemain di lapangan tidak sempurna, sudah pasti akan terjadi cedera. Dan ini yang dialami oleh Sayaka Sato di Perdelapan Final Olimpiade melawan Tine Baun. Saat kedudukan 15-14, Sato memutuskan untuk retired karena terkena cedera yang serius di bagian kakinya.

Kronologinya terjadi saat Sayaka hendak melakukan dropshot, pijakan kakinya kurang sempurna (gambar bawah), sehingga Sato pun terjatuh, bahkan sempat terguling di lantai. Seketika ia mengerang dan tersungkur di tengah-tengah lapangan. Ia sempat menerima pengobatan sementara dan mencoba meneruskan pertandingan. Namun tak dapat dipungkiri, ia benar-benar kesakitan.

Hhingga akhirnya ia menangis ketika harus memutuskan retired dari pertandingan ini. Tine memeluk Sato sebelum Sato dituntun keluar lapangan menggunakan kursi roda. Tine berduka atas cedera yang dialami Sato. “Ini tidak bagus untuk melihat lawan terluka. Aku merasa sangat kasihan padanya dan berharap dia cepat sembuh,” ujar pemain Denmark berusia 33 tahun itu.

Cedera memang sakit luar biasa, semua pemain yang pernah merasakannya tentu tahu. Tapi tangisan itu lebih sakit karena ia harus gagal di ajang yang sangat penting, yakni Olimpiade yang memperebutkan medali emas, impian semua atlet. Ia berjuang empat tahun untuk lolos ke Olimpiade, membanggakan daerahnya, daerah di Jepang yang tahun lalu terkena musibah Tsunami yang mungkin merenggut salah satu saudaranya.

Michal Logosz

Pebulutangkis ganda putra Polandia, Michal Logosz harus menerima cedera di hari ketiga gelaran Olimpiade. Melakoni babak Penyisihan Grup B melawan Bodin Issara-Maneepong Jongjit, Logosz yang berpasangan dengan Adam Cwalina terjatuh saat hendak mengembalikan bola dropshot dari pasangan Thailand. Seketika tendon Achilles kirinya terkena cedera.

Logosz seketika menggeliat kesakitan di tengah-tengah lapangan dan harus keluar menggunakan kursi roda (gambar bawah). Namun sang pasangan, Adam Cwalina mengaku sang pasangan telah menderita cedera itu sebelumnya. “Pasangan saya sudah menderita cedera tendon Achilles sebelum pertandingan ini,” jelas Cwalina kecewa.

Padahal dalam pertandingan itu bisa dibilang sangat seru, dimana gaya bermain pasangan Thailand yang selalu menekan dengan gaya bermain cepat, berhadapan dengan pemain Eropa yang identik dengan tipe bermain lambat namun smash yang lumayan keras. Pasangan Thailand awalnya terkejut dengan permainan pasangan Polandia sehingga harus kalah 14-21 di gim pertama.

Namun mereka bisa mengatur ritme pertandingan di gim kedua dengan pukulan drive cepat yang akhirnya mengantarkan mereka menang 21-13. Di gim ketiga, dropshot mengejutkan membuat kambuhnya cedera Logosz dan membuat pertandingan berhenti di kedudukan 17-15 saat keunggulan pasangan Thailand.

Maneepong Jongjit yang berkata cukup terkejut dengan gaya bermain pasangan Eropa yang baru pertama kali ditemuinya itu. “Saya harap dia akan baik-baik saja. Pemain Eropa menjaga shuttlecock berjalan lambat, drive mereka terlalu rendah (menyulitkan kami). Kami tidak terbiasa dengan gaya bermain seperti itu,” ujar Jongjit.

Sayangnya ada berita bahwa Logosz akan pensiun akibat mengalami cedera ini. Mereka bertiga hanya seberapa kecil dari atlet yang berlaga di Olimpiade yang harus mengalami cedera yang tentunya sangat sakit. Kita hanya bisa berharap mereka bisa segera sembuh dan kembali mengayunkan raket.

Iklan