Munas PBSI digelar Pasca PON

Di Tengah-tengah dinding Hall Latihan di Pelatnas Cipayung, terpampanglah foto dari para Komandan tertinggi dari federasi bulutangkis di Indonesia dan tahun ini, foto baru akan terpajang di dinding gedung yang telah melahirkan para Juara Dunia itu. Kepastian itu didapatkan ketika PBSI lewat Sekjen Yacob Rusdianto mengumumkan bahwa Musyawarah Nasional PBSI akan dilaksanakan pada 20-21 September 2012, pasca PON.

Rumor mengenai pelaksanaan Munas yang beberapa waktu lalu dikabarkan digelar sebelum pelaksanaan PON, demi menjaga kelangsungan tampuk kepemimpinan Djoko Santoso akhirnya berhasil ditepis PBSI. Lewat Sekjen PBSI, Yacob Rusdianto mengatakan bahwa Munas akan digelar pasca PON, yakni pada 20-21 September 2012 di Yogyakarta. “Saya informasikan bahwa Munas akan digelar 20-21 September di Yogyakarta. Setelah liburan selesai (27 Agustus), kami akan segera mengedarkan undangan kepada Pengprov,” papar Yacob.

Bulutangkis PON ke 18 akan dilaksanakan 8-10 dilanjutkan 12-19 September di Gelanggang Remaja Pekanbaru, Riau. Jadi setelah selesainya PON, Para Kontingen Pengprov harus langsung terbang ke Yogyakarta. Alasan dipilih Yogyakarta sebagai tempat diselenggarakan Munas, lanjut Yacob, karena tempatnya tidak terlalu jauh dari Jakarta dan memudahkan semua pihak yang terlibat.

Dan di event Munas ini lah, Ketua Umum PBSI yang baru periode 2012-2016 akan dipilih oleh para pemegang 34 hak suara yang terdiri atas 33 pengprov dan 1 dari PBSI, Berbeda dengan PSSI yang juga mengikutsertakan klub sepakbola. “Salah satu tujuan digelar Munas adalah mencari Ketua Umum baru periode 2012-2016. Tapi, agenda Munas bukan itu saja. Ada beberapa hal lain yang akan dibahas,” ujar Yacob. Agenda lain yang akan dibicarakan antara lain penyempurnaan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga).

Ditanya mengenai pencalonan kembali Djoko Santoso sebagai Ketua Umum PBSI lagi, Yacob menjawab dengan menyinggung mengenai persyaratan Ketua Umum federasi sepakbola PSSI. “Itu hak beliau karena siapapun punya hak untuk maju atau tidak. Berbeda dengan PSSI yang harus memiliki pengalaman 5 tahun berkecimpung di dunia PSSI sebelumnya, di PBSI tidak ada persyaratan seperti itu. Tapi, bisa saja berubah di Munas nanti untuk periode 2016-2020,” ujar Yacob yang mengindikasikan bahwa akan ada pasal tambahan mengenai persyaratan itu di AD/ART PBSI mendatang.

Mengenai pembukaan pendaftaran calon Ketua Umum PBSI baru periode 2012-2016, Yacob mengaku belum ada calon Ketua Umum yang mendaftar karena kantor PBSI masih tutup dan baru akan aktif lagi Senin, 27 Agustus mendatang. “Kami akan segera mengedarkan surat resmi saat kantor sudah aktif kembali. Calon pemilih bisa mengambil formulirnya di kantor PBSI. Tidak ada syarat tertentu bagi yang ingin mendaftar. Yang jelas, ia harus warga negara Indonesia,” ujar Yacob dikutip dari situs inilah.com.

Dengan digelarnya Munas setelah PON, maka akan ada kesempatan bagi para Pengurus Pengprov PBSI pada PON di Riau mendatang untuk berkumpul melakukan lobi-lobi untuk memajukan salah seorang calon Ketua Umum baru, menggantikan Djoko Santoso. Calon kuat pengganti Djoko kini adalah Icuk Sugiarto yang empat tahun lalu berminat mencalonkan diri namun harus terganjal aturan saat itu. (lihat artikel https://duaribuan.wordpress.com/2012/08/17/indikasi-buruk-percepatan-munas).

Sentuhan Militan yang sudah tak cocok

Djoko Santoso adalah generasi Ketua Umum kesekian yang berasal dari dunia militer. Sepanjang kurun waktu 1985-2012, tercatat ada 6 orang Ketua Umum PBSI dimana 5 diantaranya berasal dari kalangan militer. Mereka adalah Tri Sutrisno (1985-1989, 1989-1993), Soerjadi (1993-1997), Soebagyo H.S. (1997-2001), Sutiyoso (2004-2008) dan Djoko Santoso (2008-2012). Dari dari masa kepemimpinan para militan itu, bulutangkis yang mengalami penurunan.

Tri Sutrisno mengawali prestasi PBSI dengan cukup bagus. Lewat sentuhannya, Bulutangkis mempersembahkan dua emas, dua perak dan satu perunggu di Olimpiade Barcelona 1992, serta masih ada para Juara All England, Juara Dunia dan Piala Sudirman bagi Indonesia saat itu. Hal yang serupa terjadi di era kepemimpinan Soerjadi, ia tinggal menikmati prestasi pemain dari era PBSI Tri Sutrisno. Mempersembahkan emas Olimpiade, Juara All England, Juara Dunia dan mengawinkan Piala Thomas dan Uber.

Menginjak era Soebagyo, PBSI mulai mengalami kebobrokan. Karena terjadinya kerusuhan dan krisis moneter tahun 1998, Pemain dari pelatnas jarang dikirim ke luar negeri karena kekurangan dana dan berakibat pada mandeknya regenerasi pebulutangkis. Hingga akhirnya pebisnis handal Chairul Tanjung menjadi Ketua Umum PBSI menggantikan Soebagyo. Di Era Chairul, Bulutangkis benar-benar berada di titik nadhir, namun kita patut mengapresiasi dana segar yang diberikan oleh konglomerat pemilik CT Corp untuk memajukan bulutangkis Indonesia itu, hingga Indonesia masih mampu mempertahankan Piala Thomas untuk kelima kalinya di tahun 2002.

2004 adalah masa kelam Bulutangkis Indonesia, di tahun itu Piala Thomas gagal dipertahankan, Tim Uber gagal lolos ke Perempat Final, dan Indonesia tidak memiliki harapan meraih medali emas Olimpiade Athena. Kemenangan Taufik atas Shon Seung Mo di Final Olimpiade Athena 2004 disebut-sebut sebagai Final Olimpiade yang sangat tidak ideal, apalagi ia diuntungkan oleh kekalahan rivalnya saat itu, yakni Lin Dan, Lee Hyun Ill, Bao Chunlai dan Chen Hong di babak awal.

Sukses itu membakar semangat PBSI untuk bangkit di era Sutiyoso, ia pun berhasil menghantarkan Indonesia mempertahankan medali emas Olimpiade Beijing 2008, Juara Dunia 2005 dan 2007 serta membangkitkan kembali supremasi tunggal putri Indonesia yang sempat hilang akibat pensiunnya Susi Susanti dan berpindahnya Mia Audina lewat kemenangan Maria Kristin Yulianti atas medali perunggu di Beijing.

Namun dari segi regenerasi, atlet hasil bidikan di masa kepemimpinan para Jendral PBSI tidak banyak berhasil menaklukkan tembok besar China, muara besarnya terjadi di Olimpiade London 2012, dimana Djoko Santoso menjadi Ketua Umum PBSI dianggap menjadi yang paling gagal karena tidak berhasil mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade, bahkan mencoreng nama baik Bulutangkis Indonesia karena terdiskualifikasinya Meiliana Jauhari-Greysia Polii akibat dugaan main sabun di babak penyisihan grup nomor ganda putri.

Sentuhan 5 Jendral yang menjadi ketua federasi bulutangkis itu kini cukup memperlihatkan pada kita bagaimana sosok militan yang biasa mengarahkan para tentara harus mengarahkan para atlet bulutangkis. Kini, pada momentum Munas PBSI tahun 2012 adalah kesempatan besar bagi PBSI untuk melakukan perubahan pada tubuh federasi bulutangkis Indonesia itu. Mau militan atau tidak, hanya pemegang hak suara yang berhak.

NB : tambahan dikit, di foto paling atas ada foto Koh Alvent yang lagi duduk buka bajunya

Iklan