Olympic Badminton Day 9

Lin Dan untuk kedua kali memupuskan harapan Lee Chong Wei untuk meraih medali emas pertama di Olimpiade bagi Malaysia. Mengulang partai Final Olimpiade Beijing empat tahun lalu yang berakhir dengan kemenangan mudah 21-8, 21-12. Kali ini di Wembley Arena Lin Dan dipaksa bekerja keras selama 79 menit untuk mengalahkan Lee Chong Wei dengan 15-21, 21-10, 21-19.

“Saya tidak dapat berpikir apa-apa saat ini. Saya sangat, sangat bahagia. Medali emas ini adalah buah dari kerja keras saya sejak 2008. Sangat berat menjadi pemain China karena kami bekerja sangat keras dan mengorbankan banyak hal,” ucap pemain yang dijuluki Super Dan mengomentari kemenangannya ini.

“Saya tidak berpikir terlalu banyak selama pertandingan. Saya hanya ingin memberikan semua yang saya bisa dan mencoba yang terbaik,” tambahnya. Mengomentari mengenai diskualifikasi rekannya, ia berharap bulutangkis tidak terpengaruh. “Saya sangat berharap bulutangkis tidak terpengaruh oleh diskualifikasi di turnamen ini. Medali ini merupakan confirmation dari olahraga. Saya berharap bahwa performa saya dan kerja keras Lee hari ini adalah bukti dari itu.”

Semenjak kekalahan telak di Beijing empat tahun lalu, Lee Chong Wei bersama Lin Dan menunjukkan rivalitas mereka yang sangat dominan di nomor tunggal putra. Jika ada turnamen yang Lee atau Lin ikuti, keduanya biasanya langganan bertemu di Final. Tercatat, mereka sudah bertemu sebanyak 30 kali dimana 21 pertemuan dimenangkan oleh Lin Dan, termasuk Final Olimpiade ini.

Kekalahan ini tentu pukulan berat bagi Malaysia, karena ia menjadi satu-satunya harapan meraih medali emas, apalagi disaksikan secara langsung oleh Pimpinan Negeri Malaysia di Wembley Arena. Melawan Lin Dan, Lee terlihat tampil lebih agresif dan berbeda, memenangkan satu poin sering ia berteriak-teriak, tidak seperti Lee yang biasa tenang di lapangan. Sementara Lin Dan terlihat lebih berkonsentrasi daripada biasanya, bahkan sang pelatih meminta sang Mama Lin Dan untuk tidak menonton anaknya di Wembley Arena, padahal sang bunda datang ke London. Menurut ofisial Tim China, hal ini untuk menjaga konsentrasi dari Lin Dan yang berpeluang meraih medali emas lagi.

Selepas kalah, Lee Chong Wei kembali menangis, hal yang sama seperti di Wembley Arena setahun yang lalu (World Championship 2011). Kedua pelatih yang mendampinginya mencoba menenangkan pemain Malaysia itu. Sampai di podium pun, matanya masih terlihat sembab, berbeda dengan Lin Dan yang terus tersenyum atas medali emas keduanya.

Kemenangan Lin Dan mengikuti kemenangan beberapa seniornya yang fenomenal, seperti Ge Fei, Gu Jun, Zhang Jun, Gao Ling, dan Zhang Ning yang sama-sama mengoleksi dua emas di Olimpiade yang berbeda. Ini adalah Olimpiade terakhir yang diikuti oleh Lee, dan targetnya harusnya emas untuk melengkapi berbagai gelar turnamen yang ia ikuti. Meski tidak memiliki gelar Juara Olimpiade, Lee mengaku akan tetap mengincar gelar Juara Dunia di tahun 2013 dan 2014 serta medali emas Asian Games Incheon, seperti yang pernah diraih oleh Taufik dan Lin Dan. Setelah Asiad Incheon, kemungkinan Lee akan gantung raket.

Dalam Konferensi pers yang dilaksanakan setelah menjuarai Olimpiade, Lin Dan mengaku akan istirahat panjang untuk menikmati kemenangannya. Rencananya, ia akan membuat pesta pernikahan dengan Xie Xingfang. Mereka memang telah menikah, namun kesibukan Lin Dan sebagai atlet membuatnya tidak bisa membuat Pesta pernikahan.

Pesta Pernikahan ini mungkin akan mengundang Lee Chong Wei dan Peter Gade (Kemana Taufik?), namun Lin Dan mungkin memaklumi apabila kedua sobatnya itu sibuk. “Tapi Lee Chong Wei dan Gade mungkin sibuk, jadi belum tentu bisa datang. Kalau datang juga tidak usah repot-repot bawa kado buat saya, ucapan selamat juga sudah cukup,” ujar Lin. Sementara Lee Chong Wei sendiri juga dikabarkan akan menikah pasca Olimpiade ini, Hal ini semakin nyata ketika pacarnya yang merupakan mantan pebulutangkis tunggal putri, Wong Mew Choo hadir di Wembley Arena.

Lee Hyun Ill lost to Another Chen

Setelah empat tahun lalu di Beijing, Lee Hyun Ill kalah dari pebulutangkis tunggal putra Chen Jin di bronze medal playoff, kali ini ia seperti mengalami dejavu dengan kembali kalah atas another Chen, yakni Chen Long pada laga perebutan medali perunggu di Wembley Arena, minggu pagi waktu London.

Menghadapi unggulan ketiga, sebenarnya Lee Hyun Ill punya kans untuk menang, apalagi Chen terlihat kesusahan mengembalikan smash-smash tak terduga dan netting tipis dari pemain kidal asal Korea itu. Start lebih awal, Chen mengambil gim pertama 21-12 namun berbalik kalah 15-21 di gim kedua. Di gim penentuan, Chen Long pun mengakhiri pertarungan dengan skor 21-15 dan meraih medali perunggu satu-satunya bagi Tim Bulutangkis China.

“Semua orang yang mengikuti Olimpiade ingin mencapai hasil terbaik mereka,” kata Chen Long setelah memenangkan perunggu. “Performa Kemarin bukanlah kemampuan terbaik saya. Ada penyesalan (tapi) saya sangat senang,” tambah pemain yang mengincar medali emas di Olimpiade Rio 2016. Tentu kekalahan Lee Hyun Ill meraih medali perunggu atas Chen Long ini sama rasanya dengan kekalahan Lee Chong Wei atas Lin Dan.

Top 3 on Top Podium

Cai Yun dan Fu Haifeng mendapatkan third time lucky setelah kegagalan di Olimpiade Athena dan Beijing. Di Olimpiade London, Cai-Fu berhasil meraih medali emas pertama bagi China di nomor ganda putra. Di Final, mereka mengalahkan pasangan Mathias Boe-Carsten Mogensen dengan skor 21-16, 21-15. Ini menjadi pertandingan terakhir yang dilaksanakan oleh Bulutangkis Olimpiade.

“Sekarang kita telah menjadi lebih berpengalaman dengan Kejuaraan Dunia dan titel Superseries, itu telah menjadi keinginan jangka panjang dari kami. Hari ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” ujar Fu Haifeng yang membutuhkan waktu 45 menit untuk memenangkan medali emas. “Terakhir kali di Beijing kita hanya meraih medali perak. Ini sepuluh tahun saya telah berpasangan dengan Fu Haifeng dan kami akhirnya mewujudkan mimpi kita,” ujar Cai Yun menambahkan.

Permainan yang maksimal di semifinal melawan Chung-Lee kemarin tidak ditunjukkan oleh Mathias Boe-Carsten Mogensen di Final lalu. Fu dan Cai memperagakan permainan mereka yang satu level diatas Boe-Mogensen, bahkan smash-smash pasangan Denmark yang mematikan bisa dikembalikan dan berbalik menyerang. Di gim pertama, Boe-Mogensen ketinggalan start, bahkan sempat tertinggal jauh 6 poin. Namun di gim kedua, mereka sempat merapatkan poin, bahkan unggul 2 poin sebelum interval gim.

Namun setelah kedudukan 11-9, poin Cai-Fu melaju terus atas kesalahan-kesalahan tidak perlu dari pasangan Denmark. Pasangan China pun menang 21-16, 21-15 untuk pertama kali meraih medali emas China di nomor ganda putra yang selama 20 tahun dikuasai Korea dan Indonesia. Di Beijing empat tahun lalu, pasangan China ini kalah di babak Final oleh pasangan Markis Kido-Hendra Setiawan dari Indonesia dengan skor 21-12, 11-21, 16-21 sehingga harus puas dengan medali perak.

Sementara medali perunggu diraih oleh pasangan ganda putra Korea, Chung Jae Sung-Lee Yong Dae yang dengan dramatis mengalahkan pasangan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong dari Malaysia dengan dengan skor 23-21, 21-10 dalam durasi 46 menit. Pasangan Korea masih terlihat tegang sehingga di awal gim pertama sempat tertinggal 18-20 namun berhasil mengamankan tiga kali match poin dan berbalik menang 23-21. Di gim kedua, permainan terbaik keduanya muncul dan hanya butuh waktu 23 menit bagi Pasangan Korea untuk menyudahi pertandingan dan meraih perunggu satu-satunya bagi Tim Bulutangkis Korea di Olimpiade 2012.

“Aku sudah dengan Lee Yong Dae selama tujuh tahun. Medali ini memiliki arti khusus bagi saya. Aku tidak ingin gagal dua kali (setelah kalah di Beijing). Saya menganggap bronze medal match seperti gold medal match,” ujar Chung Jae Sung. Sementara Lee Yong Dae hanya mengucapkan sangat beruntung memiliki kakak seperti Chung Jae sung.

“Selama empat tahun terakhir, kami telah memfokuskan pada medali emas, tapi sayangnya kami kalah di semi final. Kami mendapat medali perunggu sebagai hiburan. Aku senang kami menang perunggu. Chung Jae Sung adalah pasangan terbaik saya. Ini adalah keberuntungan saya bersama kakak Jae Sung. Aku bertemu dengannya saat saya masih di kelas 10 ketika saya masih tidak sebagus saya sekarang,” ujar Lee Yong Dae yang akan mendapatkan pasangan baru pasca Olimpiade dikarenakan Chung akan pensiun.

China menyapu bersih

Kontingen China mengalami kejayaan di cabang Bulutangkis. 2 Medali emas tambahan yang didapatkan China hari ini mendongkrak kembali posisi mereka ke peringkat pertama klasemen sementara medal standing Olimpiade London 2012. Dari 15 medali yang diperebutkan, China menjadi Juara umum cabor Bulutangkis dengan perolehan 5 emas, 2 perak dan 1 perunggu, disusul Denmark yang berada di peringkat kedua dengan 1 perak, 1 perunggu. Di peringkat ketiga ada dua negara yang sama-sama meraih medali perak, yakni Jepang dan Malaysia.

  • China : 5 emas, 2 perak, 1 perunggu
  • Denmark : 1 perak 1 perunggu
  • Jepang : 1 perak
  • Malaysia : 1 perunggu
  • India : 1 perunggu
  • Rusia : 1 perunggu
  • Korea : 1 perunggu

Indonesia sendiri tidak satu pun medali dari cabang olahraga yang menjadi andalan Indonesia di Olimpiade. Di nomor tunggal, Simon Santoso, Taufik Hidayat dan Adrianti Firdasari terhenti di 16 besar masing-masing oleh Lee Chong Wei, Lin Dan dan Wang Xin. Ganda putra Muhammad Ahsan-Bona Septano terhenti di Perempat Final, kalah oleh Chung Jae Sung-Lee Yong Dae sekaligus membuat sejarah untuk pertama kali nomor ini tidak menyumbang medali di Olimpiade.

Nomor ganda putri mengalami dilema yang cukup parah, Meiliana Jauhari-Greysia Polii harus terdiskualifikasi karena dianggap tidak mencoba semua usaha untuk memenangkan pertandingan. Pasangan ini terhenti bersama dua pasangan Korea dan Wang Xiaoli-Yu Yang dari China. Sementara nomor ganda campuran yang menjadi andalan untuk emas tahun ini, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir kalah di Semifinal oleh Xu Chen-Ma Jin dan gagal di perebutan medali perunggu atas Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen. Kekalahan ini tentu akan berdampak besar bagi dunia Olahraga Indonesia, bahkan di Olimpiade 2016 mendatang cabor andalan Indonesia bukan bulutangkis, tetapi angkat besi.

Iklan