Olympic Badminton Day 6

Bulutangkis Indonesia sedang diuji akhir-akhir ini, setelah Susi Susanti memulai perjuangan meraih emas di tahun 1992, dua puluh tahun kemudian tradisi emas Indonesia terhenti. Harapan Indonesia, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir kalah di babak Semifinal Olimpiade dari pasangan China, Xu Chen-Ma Jin dengan pertarungan yang memakan waktu selama 75 menit.

Melawan pasangan Xu-Ma, Indonesia memimpin di awal gim pertama 5-0, maka dari itu saya pun menganggap bahwa gim pertama akan dimenangkan oleh Indonesia, karena ketika mereka leading di awal, mereka pasti bisa memastikan kemenangan di gim itu, terlihat di beberapa turnamen. Namun sebaliknya yang terjadi di gim kedua dan ketiga. Mereka memulai dengan tidak bagus, ketertinggalan walaupun 1 poin atau 2 poin membuat pressure pada pasangan Indonesia sendiri, sehingga sudah pasti jika tidak leading mereka tak akan menang.

Pertarungan berlangsung sangat seru, kedua pasangan menampilkan pertandingan kelas dunia dengan pertahanan yang luar biasa hingga Tontowi Ahmad dan Xu Chen terjatuh di lapangan. Di Gim pertama, Indonesia sebenarnya sudah leading 20-18 namun China mampu mengamankan dua kali game point bahkan berbalik 21-20 untuk China, tetapi pasangan Indonesia yang sudah percaya diri leading di awal game berakhir menang 23-21.

Lin Dan of China returns a shot against Sho Sasaki of Japan in their men's singles Badminton quarter-final

Di gim kedua, pasangan Indonesia mendapatkan pressure, meskipun pasangan China juga sering membuat kesalahan terutama Ma Jin. Kegugupan terlihat ketika tertinggal 15-18 hingga game berakhir dengan skor 18-21. Di gim ketiga, jarak poin yang didapat cukup jauh, yakni 2-6 bahkan 3-10. Ketinggalan cukup jauh di gim ketiga membuat pasangan China sudah percaya diri tingkat dewa dan menang 21-23, 21-18, 21-13.

Dari pertandingan itu, kita melihat bagaimana pasangan Indonesia begitu tertekan ketika ketinggalan dan tidak mampu mengamankan game point seperti ketika pasangan China mengamankan dua kali game point di gim pertama. Jadi intinya, Kunci kemenangan Indonesia adalah leading. Karena jika leading, kesalahan yang mereka buat tidak akan membuat tekanan, tetapi jika berbuat kesalahan dalam ketertinggalan, jarak poin bertambah dan tekanan pada mereka bertambah tinggi.

“Kami sudah banyak tertekan, sudah terlalu jauh untuk mengejar ketertingalan, sudah terlalu berat. Saya pribadi tegang, merasa tekanan terlalu besar di gim ketiga, memikirkan menang kalah, jadi error-error sendiri,” ujar Tontowi. Owi sendiri setelah bertanding terlihat kecewa, ia menenangkan diri dengan jongkok di pinggir lapangan sambil menutup mukanya dengan handuk sementara Liliyana Natsir terlihat berkaca-kaca matanya. “Pastinya kecewa, tapi kalau lihat dari permainan kami juga sudah berusaha maksimal, mainnya sudah all out. Tapi ya hasilnya begini, inilah permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. Kami tidak mau down, karena besok masih ada perebutan medali perunggu,” ujar Liliyana dikutip dari situs PB PBSI.

https://i2.wp.com/www.thehindu.com/multimedia/dynamic/01163/badminton_1163998f.jpg

Kalahnya Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir membuat tradisi emas bulutangkis Indonesia terputus. Pimpinan Kontingen Indonesia di Olimpiade London, Erick Thohir mengaku siap mengundurkan diri lewat sambungan telepon di acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne. Owi-Butet tidak mau berkecil hati atas kekalahan ini, mereka tidak membawa emas, tetapi mereka berkesempatan meraih perunggu. Liliyana mengaku akan mempersembahkan perunggu. “Kami mohon maaf tidak bisa pertahankan tradisi medali emas.

Namun perjuangan belum berakhir, kami tidak bisa kasih emas, tapi kami coba untuk persembahkan perunggu. Tetap fokus karena besok akan tanding lagi,” ujar Liliyana yang meraih perak di Olimpiade 2008 lalu. Pertandingan memperebutkan perunggu akan dilaksanakan pada 3 Agustus pukul 16.30 WIB. Pengalungan medali alias victory ceremony bakal dilaksanakan sekitar tengah malam waktu Jakarta. Bulutangkis tidak membawa emas, tapi kita yakin Bulutangkis akan membawa medali.

Zhao Yunlei menatap dua emas

Pebulutangkis ganda China, Zhao Yunlei yang bertarung di dua nomor, ganda campuran dan ganda putri lolos ke babak Final Olimpiade London 2012. Sekarang ia sudah memastikan dua medali, dan keduanya mungkin adalah medali emas. Di nomor ganda campuran, China yang sudah meloloskan pasangan Xu Chen-Ma Jin akhirnya memastikan emas setelah pasangan Juara Dunia Zhang Nan-Zhao Yunlei memastikan tiket Final mengalahkan Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen dari Denmark dengan skor 17-21, 21-17, 21-19 dalam waktu 82 menit.

Di gim pertama, sangat terlihat bahwa pasangan Denmark menekan lewat smash-smash keras dari Fischer Nielsen yang sangat mematikan hingga membuat Zhang-Zhao kalah 17-21. Di gim kedua, menganalisa kekalahan itu, mereka menekan Pedersen dengan bermain netting yang terbukti membuat pasangan Denmark kalah. Di gim ketiga, pasangan Denmark dalam tekanan dan sempat tertinggal 5 poin. Tetapi karena ada angin kedua, Fischer Nielsen-Pedersen mampu menyamakan kedudukan 18-18 di gim penentuan itu. Akan tetapi kesalahan-kesalahan yang dilakukan di akhir gim membuat Zhang-Zhao menang 21-19 dan memastikan tiket Final.

Kekalahan ini tentu membuat pasangan Denmark akan mati-matian mendapatkan medali perunggu melawan Indonesia. “Sangat dekat, 18-sama, 19-sama pada game ke-3 dan anda memiliki kesempatan ke Final yang merupakan mimpi besar setiap orang sehingga kita benar-benar kecewa. Kami bermain baik tetapi ada kesalahan-kesalahan kecil Ada nerfeus yang kita bisa rasakan dan saya pikir mereka juga merasakannya. Kami masih memiliki kesempatan meraih medali dan saya tahu besok kita akan melakukan segala kemungkinan untuk mendapatkan medali itu,” ujar Pedersen.

Sementara di nomor ganda putri, Zhao Yunlei berpasangan dengan Tian Qing kini favorit juara setelah seniornya, Wang Xiaoli-Yu Yang tersingkir secara dramatis lewat diskualifikasi karena dianggap menciderai semangat sportifitas. Zhao-Tian yang juga melaksanakan semifinal di hari Kamis itu mengalahkan Valeri Sorokina-Nina Vislova dari Rusia dengan skor cukup mencolok 21-19, 21-6. Lawan yang mereka hadapi di  Final adalah pasangan ganda putri Jepang, Mizuki Fujii-Reika Kakiiwa yang mengalahkan pasangan A.lBruce-Li Michelle dari Kanada dengan 21-12, 19-21, 21-13. Jepang untuk pertama kali akan meraih medali, setidaknya medali perak di cabang olahraga bulutangkis yang dipertandingkan sejak tahun 1992.

Zhao mengaku bahagia tampil di dua Final dan akan mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya. “Final Olimpiade adalah prestasi besar, saya pasti bermain baik dalam dua final – saya hanya akan memberikan semua yang saya miliki!” ujar Zhao Yunlei dikutip dari live tweet @bwfmedia. Sementara Nina Vislova sudah merasa bahagia bisa tampil di Semifinal Olimpiade. “Zhao-Tian main di kecepatan tinggi, kami memberikan semua yang kami bisa di game pertama, namun kita tidak bisa tetap bagus pada game kedua. Berada di Semifinal Olimpiade adalah pengalaman yang luar biasa!” ujar Vislova yang menjadi favorit peraih perunggu di Olimpiade kali ini.

Sementara Korea tidak akan meraih medali di nomor ganda putri setelah empat tahun lalu meraih medali perak, karena kedua waki ganda putri mereka harus terhenti karena terdiskualifikasi dari turnamen, termasuk pasangan Lee Yong Dae di ganda campuran, Ha Jung Eun. Diminta untuk mengomentari kontroversi ganda putri yang melibatkan kedua pasangan Korea yang dikeluarkan dari turnamen, Lee menjawab, “Saya tidak peduli tentang apa yang terjadi. Saya merasa menyesal tentang orang-orang yang didiskualifikasi tapi saya harus berkonsentrasi pada permainan saya. ”

Cheng Long kalahkan Gade

Mitos Olimpiade tinggal menunggu waktu ketika Chen Long menamatkan karir pebulutangkis veteran asal Denmark, Peter Gade di Perempat Final Olimpiade London 2012. Kini semua akan bertanya, akankah sejarah kembali terulang pada tahun ini ketika pemain yang mengalahkan Gade di Olimpiade akan menjadi Juara Olimpiade seperti yang terjadi di Olimpiade sebelumnya, dimana di tahun 2000, Gade dikalahkan Ji Xinpeng, tahun 2004 dikalahkan Taufik Hidayat dan tahun 2008 kalah dari Lin Dan.

Melawan Gade, Chen Long menang straight set 21-16, 21-13. Menghadapi Chen, Gade mendapat dukungan penuh dari penonton karena Gade adalah legenda Eropa. Chen menganggap itu wajar. “Saya pikir itu wajar jika Peter mendapat dukungan penonton lebih banyak karena ini adalah Eropa, rumahnya. Saya sudah siap mental untuk ini,” ujar favorit Juara versi duaribuan itu. Dengan kalahnya ia, kini ia cuma punya empat turnamen terakhir sebelum memutuskan gantung raket, yakni turnamen di Jepang, Denmark, Perancis dan terakhir di Copenhagen Master untuk berjumpa Lin Dan.

Di Semifinal, Chen Long akan berhadapan dengan Lee Chong Wei yang mengalahkan Kashyap Parupalli dengan skor 21-19, 21-11. Melawan Chen, Lee sudah mempersiapkan strategi. “Ada baiknya melakoni pertandingan sulit sebelum bertemu Chen Long, itu sesuai persiapan saya,” ujar andalan emas Malaysia itu. Duel veteran bertemu di babak Semifinal poll bawah dimana Lee Hyun Ill akan menghadapi peraih medali emas Olimpiade 2008, Lin Dan. Lee Hyun Ill mengalahkan Chen Jin di Perempat Final Olimpiade London 2012. Ini merupakan laga ulangan Bronze Medal Playoff Olympic 2008 yang dimenangkan Chen Jin. Namun kali ini Lee Hyun Ill yang berbalik menang 21-15, 21-16. Lee Hyun Ill sekarang menargetkan meraih medali, namun Lin Dan akan menjadi batu sandungan yang besar untuknya ke Final.

Lin Dan sendiri harus menguras keringat sebelum menginjakkan kaki di Semifinal Olimpiade. Ia melakoni laga rubber atas Sho Sasaki yang berakhir kemenangan 21-12, 16-21, 21-16. Sasaki yang kalah mengaku malu atas kekalahan ini karena ia sudah berlatih keras untuk mengalahkan andalan China itu. “Saya belum pernah mengalami nerfeus seperti sebelumnya. Saya telah berlatih untuk mengalahkan Lin Dan, hasil itu memalukan bagi saya,” ujar Sasaki pasca kekalahannya.

Saina dan Putri-Putri China

Nomor tunggal putri benar-benar sesuai skenario Li Yongbo. Ketiga tunggal putri China masuk ke babak Semifinal, meskipun Wang Xin menjadi pemain yang harus menguras keringat sebelum sampai ke Semifinal. Melawan putri Thailand, Ratchanok Intanon, Wang harus bermain rubber gim sebelum menang 17-21, 21-18, 21-14. “Ratchanok bermain sangat baik saat saya melakukan terlalu banyak kesalahan di gim pertama. Untungnya saya berhasil mengatasi itu,” ujar Wang Xin.

Intanon sendiri mengaku kakinya sedikit kesakitan. “Saya bermain sangat baik tapi kaki saya sakit di saat yang menentukan. Wang Xin mengubah taktik dan saya sangat frustrasi karena berbalik tertinggal di gim kedua. Saya bisa menang dalam dua gim. Sekarang aku hanya ingin beristirahat, saya telah banyak bermain,” ujar Intanon.

Di Semifinal, Wang Xin akan menghadapi rekan senegaranya, Li Xuerui yang harus bermain deuce melawan Yip Pui Yin dari Hongkong dengan kemenangan 21-12, 22-20. “Ketika Yip memimpin, saya benar-benar ingin kembali menunjukkan kemampuan saya, saya merasa lega sekarang.” Unggulan teratas, Wang Yihan melaju ke Semifinal setelah mengalahkan peraih medali perak Kejuaraan Dunia tahun lalu, Cheng Shao Chiech dengan 21-14, 21-11.

Yihan akan berjumpa dengan unggulan keempat, Saina Nehwal yang mengalahkan Tine Baun dengan skor 21-15, 22-20. “Kekalahan di Perempat Final Olimpiade Beijing masih menghantui saya, memberiku mimpi buruk. Aku lega itu masa lalu. Olimpiade berlangsung sangat baik, Semifinal nanti akan menjadi lebih sulit karena China lebih kuat dan memiliki segalanya. Aku akan berbuat yang terbaik dan tidak terlalu banyak berpikir.”

Tine Baun yang telah berusia 33 tahun belum tahu akan memutuskan terus bermain bulutangkis atau lebih memilih berhenti dari dunia bulutangkis internasional seperti Peter Gade. “Sulit untuk bangkit setelah itu.. saya tidak yakin apakah aku masih akan terus bulutangkis,” ujarnya di tweet @bwfmedia. Tine Baun adalah salah satu pemain tunggal putri Denmark yang berhasil menjegal para pemain China yang terkenal kuat setelah era Camila Martin. Ia menjadi orang diluar pemain China yang pernah menjuarai All England di era tahun 2000an ini.

China tidak optimis di ganda putra

Lin Dan of China returns a shot against Sho Sasaki of Japan in their men's singles Badminton quarter-final

Di lima nomor yang dipertandingkan di Olimpiade, empat emas yang diperebutkan, China mungkin akan meraih keempatnya. Sementara satu nomor yang diperkirakan tidak diraih adalah nomor ganda putra dimana pasangan Chung Jae Sung-Lee Yong Dae yang akan menjadi batu sandungan Cai Yun-Fu Haifeng meraih medali emas. Chung-Lee melaju ke Semifinal setelah mengalahkan pasangan Indonesia, Muhammad Ahsan-Bona Septano dengan skor 21-12, 21-16.

Menurut Lee, lawan memiliki kekuatan yang lebih lemah sehingga pasangan Korea mudah menyerang. “Pihak lawan memiliki kekuatan lebih lemah dari kita sehingga lebih mudah untuk menyerang mereka,” kata Lee Yong Dae setelah pertandingan. Ahsan mengaku bahwa pertahanan kedua pasangan Korea sangat baik. “Kami mencoba segalanya untuk mendobrak pertahanan mereka, tetapi kita tidak bisa menemukan ruang terbuka, bahkan ketika Chung Jae Sung jatuh di lantai,” ujar Ahsan.

Di Semifinal, mereka berjumpa pasangan Mathias Boe-Carsten Mogensen yang menjadi harapan Denmark meraih medali. “Tekanan sangat tinggi. Kami membaca surat kabar di Denmark dan kita tahu bahwa kita adalah harapan medali bulutangkis terbesar di Denmark sekarang,” ujar Mogensen. Sementara Boe sendiri mengaku target 4 besar sudah dicapai, jadi sekarang mereka tinggal menikmati pertandingan. “Kami mengatakan dari awal bahwa tujuan kami adalah untuk masuk  empat besar dan kami telah melakukan itu sekarang, jadi sekarang kami hanya akan menikmatinya.”

https://i0.wp.com/www.washingtonpost.com/rf/image_606w/2010-2019/WashingtonPost/2012/08/02/Sports/Images/London_Olympics_Badminton_Men_02765.jpg

Boe-Mogensen mengalahkan Fang Chiech Min-Lee Sheng Mu dari Taipei di babak Perempat Final dengan skor 21-16, 21-18. Boe-Mogensen mengaku sudah mengetahui gaya permainan reli yang bagus disertai pukulan-pukulan cepat dari mereka, sehingga Boe-Mogensen mencoba untuk memperlambat pertandingan. “Kami berbicara banyak tentang gaya mereka sebelum pertandingan. Kami mencoba untuk mengambil langkah keluar dari reli, karena mereka sangat baik dalam hal itu,” ujar Mogensen. Lee Sheng Mu mengaku gugup masuk ke 8 besar Olimpiade ini, ditambah pengalaman dari Denmark yang lebih baik dari pasangan Taipei. “Mereka lebih berpengalaman dari kami dan kami gugup hari ini. Kami hanya mencoba yang terbaik,” ujar Lee.

Sementara semifinal lain mempertemukan Cai Yun-Fu Haifeng dari China dengan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong dari Malaysia. Cai Yun-Fu Haifeng di Perempat Final mengalahkan rekan sesama negaranya, Chai Biao-Guo Zhendong dengan skor 21-15, 21-19. Sementara sang lawan, Koo Kean Keat-Tan Boon Heong menginjakkan kaki di Semifinal pertamanya setelah mengalahkan pasangan Thailand, Bodin Issara-Maneepong Jongjit dengan skor 21-16, 21-18.

Iklan