Yu Yang akhiri karir dengan tragis

Peraih medali emas dan perunggu di Olimpiade Beijing 2008, Yu Yang mengakhiri karir di bulutangkis dengan tragis. Menginginkan medali emas keduanya di London, ia malah tersingkir dengan tidak terhormat karena mencoba mengalah demi menghindari rekan sesama China di Semifinal. Ia mengumumkan mengakhiri karirnya lewat account jejaring sosial Weibo miliknya.

“This is my last time competing. Goodbye Badminton World Federation, goodbye my beloved badminton.  You have heartlessly shattered our dreams.” (Ini menjadi terakhir kali saya berkompetisi, selamat tinggal BWF, selamat tinggal bulutangkis tercinta. Kamu tanpa perasaan menghancurkan impian kita). Kalimat terakhir nya mungkin menjadi salah satu kontroversi. Kamu yang dianggap Yu Yang menghancurkan perasaan kita (dengan Wang Xiaoli – red), mungkin adalah Li Yongbo. Kata-kata Yu bertambah pedas, “Tanpa perasaan, Anda telah menghancurkan mimpi kami. Sesimpel itu, sama sekali tidak rumit. Namun, ini tak termaafkan,” kata Yu dikutip dari detik.com.

Li sendiri telah meminta maaf mewakili Tim Chin. ‘’Sebagai pelatih kepala, saya berhutang permintaan maaf kepada penggemar dan masyarakat China,’’ ujarnya dikutip dari Xinhua. Berkaitan dengan sistem grup yang diterapkan di London, Yu juga mengkritik format grup ini. Menurutnya, format itu telah membuka celah adanya strategi pilih-pilih lawan. “Ini kali pertama Olimpiade mengubah format pertandingan. Apakah mereka tak mengerti kerugian yang dialami para atlet?” ujarnya.

Yu Yang adalah salah satu pemain berbakat dari China, meraih medali emas di ganda putri Olimpiade Beijing serta perunggu di nomor ganda putri. dia sangat ramah terhadap para fans, termasuk fans di Jakarta. Ia tidak menghindari fans yang meminta untuk tanda tangan atau sekedar berfoto. Sayang sekali, di usia yang baru 26 tahun ia gantung raket, mungkin malu karena harus tersingkir di Olimpiade karena terdiskualifikasi. Memang tidak ada aturan yang menunjukkan apabila atlet yang terkena diskualifikasi di ajang Olimpiade tidak dapat tampil di turnamen berikutnya.

Ini akan menjadi catatan buruk Li Yongbo sepeninggal Yu Yang karena pemain sebagus Yu Yang tidak selamanya ada. Sang pasangan pun, Wang Xiaoli pun sepertinya akan mengikuti jejak Yu Yang tetapi bukan gantung raket, ia akan tetap mengayunkan raket di usia ke 23 ini, tetapi ada rencana untuk berpindah bendera, meninggalkan China yang kental dengan kontrol Li Yongbo.

https://i2.wp.com/images.icnetwork.co.uk/upl/liverpoolecho/aug2012/1/2/badminton-300-image-3-894414693.jpg

Pemain lain yakni Meiliana Jauhari memang sudah merencanakan untuk pensiun setelah Olimpiade, tapi ini bukan karena adanya kasus ini, tetapi memang sudah sejak lama ada tanda-tanda bahwa ia akan pensiun pasca Olimpiade. Greysia Polii menjadi sangat inspiratif di saat seperti ini. Rentetan tweet yang dikeluarkannya Rabu lalu menjadi cerminan perasaan hatinya. “Tidak peduli apa yang terjadi. Kami telah melakukan segala yang kami bisa, kami tidak pernah ingin menjadi pecundang. Kami ingin kemenangan dari setiap pertandingan yang kami mainkan.”

“Terima kasih untuk China dan Korea yang membuat kami kuat di setiap jalan di hidupku sejak kualifikasi Olimpiade setahun yang lalu hingga hari ini,” ujar Greysia Polii di account twitternya @greyspolli. Kita sebagai pecinta bulutangkis tentu prihatin akan hal ini, bulutangkis Indonesia tidak hanya membutuhkan kritikan, tetapi dukungan lebih berarti.

Iklan