Olympic Badminton Day 1

Bulutangkis Olimpiade London 2012 memulai babak penyisihan Grup pada 28 Juli di Wembley Arena, sehari pasca Pembukaan Olimpiade 2012. Dari 3 sesi yang disediakan oleh Panitia pertandingan (pagi, siang, sore), sudah dipertandingkan 37 partai dimana 4 wakil Indonesia sudah tampil di hari pertama pelaksanaan Olimpiade. Pertandingan yang berlangsung Sabtu kemarin, Tim Indonesia akhirnya menampilkan jersey yang ditunggu-ditunggu. Tunggal putra (Taufik Hidayat) dan ganda putra (Muhammad Ahsan-Bona Septano) kemarin memakai jersey warna dominan merah sedangkan ganda putri dan ganda campuran memakai jersey warna dominan hitam.

Sayangnya, ketiga putri kita memilih memakai celana untuk bertanding, seperti yang kita tahu bahwa aturan rok memang tidak diwajibkan karena banyak mendapat protes dari atlet bulutangkis di Indonesia. Tapi untuk Tunggal Putri kita, Adrianti Firdasari yang tampil pada Minggu petang waktu Jakarta, apakah dia ikut memakai celana atau memilih rok seperti yang biasa ia pakai di turnamen yang ia ikuti??

Menengok empat tahun lalu di Beijing, Liliyana Natsir dan Vita Marissa tidak memakai rok, tapi Maria Kristin Yulianti memakai rok di beberapa pertandingan, seperti saat melawan Juliane Schenk dan Zhang Ning. Namun saat bronze medal match melawan Lu Lan, Maria Kristin memakai celana. Tapi entah ini kebetulan atau tidak, saat memakai rok, Maria tidak punya luck. Melawan Schenk, ia harus melakoni laga super ketat 18-21, 21-13, 22-20 sedangkan melawan Zhang Ning, Maria kalah 15-21, 15-21. Memakai rok atau celana, yang terpenting bagi Firda adalah kenyamanan yang bisa mendukung ia untuk menang.

Haduh, ada yang mirip nih..

Jika anda mengira jersey yang dikenakan adalah buatan Indonesia, ternyata ada negara lain yang mempunyai jersey yang sama, apakah Indonesia juga mengeskpor? Jawabannya tidak. Kesamaan jersey ini kemungkinan karena negara-negara memesan dari satu sponsor yang sama, yakni YONEX. Bedanya cuma bendera yang ada di dada sebelah kanan.

Nih, ada gambar Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir yang bersama dengan dua pemain tunggal negara lain, Kahsyap Parupalli dan Kevin Cordon yang memakai jersey warna dominan hitam yang persis dengan yang dipakai pasangan ganda campuran Indonesia. Terima sajalah, penting dapat emas. PBSI kan lagi hemat untuk mengeluarkan uang. Uang PBSI digunakan untuk nutrisi atletnya biar borong medali dari London. Ada juga uang yang digunakan untuk bonus emas Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir *amin*

Btw, ini masih seputar jersey. Tahu gak kemarin waktu Tontowi-Liliyana tampil, sang lawan V Diju-Jwala Gutta (si gutta udah kurusan), masak pakaian pasangan India ini beda. Mungkin itu kali yang nyebabin mereka kalah 16-21, 12-21 dari Owi-Butet. Tapi khusus yang ini perlu digaris bawahi, Jersey itu merupakan aksesoris yang menandakan kekompakan, jadi kalo bisa harus sama dong.. Nih gambarnya, maaf kalo bisa jelas…

Di gambar itu jelas terlihat bahwa Jersey Gutta berwarna merah jambu sedangkan jersey Diju berwarna lebih kuning. Berbeda dengan jersey Indonesia yang sama-sama dominan hitam. Kalo masalah jersey sudah, kita lihat tampilan Wembley yuk.. Pin ky-pinky girly giimana gitu ya..

Dari luar Wembley Arena, terlihat logo Olimpiade dan olympic ring terlihat di depan Gedung itu. Di sebelah kiri logo, terlihat pictogram dari cabang olahraga Badminton yang diselenggarakan di venue ini. Sementara di sebelah kanan logo juga ada pictogram, tapi cabang olahraga lain yang tampil di Wembley juga, yakni gymnastic ritmik

Taufik kalahkan Surviver Kanker

Taufik Hidayat, sang Jawara Olimpiade 2004 melakoni laga perdana di stadium indoor Wembley melawan wakil dari Ceko, Petr Koukal yang sama-sama menempati Grup O. Melawan Koukal, Taufik menang dengan percaya diri 21-8, 21-8. Koukal terlihat frustasi karena semua serangan pemain jangkung ini mampu dipatahkan bahkan berbalik menjadi serangan bagi Koukal. Mantan Surviver Kanker bahkan memuji Taufik akan memenangkan medali disini.

“Dia (Hidayat menakjubkan hari ini dan saya tidak memiliki jawaban lain. Dia memukul setiap umpan dan dia terlihat begitu haus untuk memenangkan medali di sini,” ujar Koukal di situts BWF. Setelah pertandingan ini, ia menuju ke ruang media dimana berbagai pertanyaan ditujukan kepada salah satu legenda hidup bulutangkis yang masih mengayunkan raketnya itu.

“Pertandingan hari ini saya manfaatkan untuk penyesuaian lapangan, angin, dan coba-coba pukulan. Meskipun saya lebih unggul tapi tidak boleh menganggap enteng lawan, yang penting saya harus bisa memenangkan semua pertandingan dan menjadi juara grup.” Jawab Taufik menjawab mengenai persiapan menghadapi Koukal. Taufik sendiri juga disinggung mengenai kepindahannya ke hotel semdiri dan tidak memilih ikut di rombongan tim di penginapan yang disediakan di Wembley. PBSI sendiri mengijinkan karena memang Taufik sekarang adalah pemain profesional yang memiliki privasi lebih.

Ketika diberi tahu mengenai Lin Dan yang diam-diam menonton alias ‘mengintai’ permainan Taufik, aa sendiri berkomentar dengan candaan. “Memang menyenangkan mendengar bahwa Lin Dan keluar untuk menonton saya jadi saya harus keluar untuk menonton dia dalam permainannya juga.”

Hurskainen bertekad kalahkan Rajiv

Silver medalist European Championship 2012. Henri Hurskainen yang kalah di babak pembuka Grup M atas Kevin Cordon dengan 21-15, 12-21, 14-21. Kekalahan itu memaksa Hurskainen untuk mengalahkan Rajiv agar peluang ke Perdelapan Final terbuka. “Aku tahu aku sudah untuk memenangkan pertandingan berikutnya melawan Rajiv saya akan mempersiapkan diri dengan baik, mencoba dan melakukan yang terbaik, tapi aku tahu orang banyak akan bersamanya,” ucapnya sambil menunjuk panggung stadion dimana para pendukung Ouseph dipastikan datang mendukung tunggal putra tuan rumah itu.

Cordon sendiri begitu suprise atas kemenangan di partai perdana Olimpiade. “Memenangkan pertandingan pertama saya di Olimpiade begitu tak terlukiskan. Aku benar-benar berterima kasih terhadap keluarga saya dan semua, dukungan itu diperlukan.” ujar peraih medali emas Pan American Games itu.

Niemen the fourth in woman

https://i1.wp.com/www.bwfbadminton.com/file.aspx

Selain Saralee Thongthoungkam, Anu Niemen adalah pebulutangkis Findlandia yang berlaga di Olimpiade empat kali sejak Sydney 2000 lalu. Di beberapa Olimpiade lalu, ia sering gagal di babak awal. Namun kali ini, ia membuka pertandingan dengan kemenangan atas Victoria Montero dari Meksiko dengan 21-12, 21-18. “Saya merasa sangat gugup hari ini. Sebelumnya saya tidak pernah berharap untuk menang tapi tahun ini berbeda dengan format grup baru. Saya beruntung untuk memenangkan pertandingan pertama, “kata wanita berusia 34-tahun itu.

Kemenangan ini baginya menjadi kebahagiaan tersendiri, meskipun ia tidak percaya diri mengulangnya di pertandingan lain. “Pertandingan kedua adalah mengerikan tapi setidaknya saya akhirnya memenangkan pertandingan di Olimpiade yang saya dapat bahagia.”

Di pertandingan kedua, ia akan melawan pebulutangkis muda, Tzu Ying Tai dari Taipei yang menjadi unggulan 10 dalam turnamen nomor tunggal putri. Anu Niemen adalah pebulutangkis istri dari petenis Jarkko Kalervo Nieminen. Jarkko yang lebih muda dua tahun dari Anu itu mengaku tidak pernah menang ketika melawan sang istri di lapangan bulutangkis.

Masih di nomor tunggal putri, Wakil tuan rumah, Susan Egelstaff menggulung wakil dari Slovenia, Maja Tvrdy dengan 21-15, 21-10. Tvrdy mengaku bahwa Susan bermain lebih baik.tembakan Susan berada tepat di garis. saya mencoba merubah taktik tetapi tidak berhasil .. Saya hanya harus maju terus dan mencobanya lagi ... Aku sedikit terganggu oleh kerumunan bersorak untuk GB tapi itu bukan alasan saya kalah. Aku hanya tidak bermain normal.”

Prediksi Ganda Putra tetap realistis

Meskipun pasangan Indonesia, Muhammad Ahsan-Bona Septano digulung pasangan Thailand Bodin Issara-Maneepong Jongjit dengan 11-21, 16-21 di pertandingan pembuka, namun prediksi duaribuan yang menjadikan mereka juara Grup itu realistis namun punya syarat. Sudah saya tekankan pada prediksi bahwa penentuan juara grup dan runner up kemungkinan lewat adu gim dan adu poin.

Meskipun begitu, terlihat pasangan Indonesia memang dibuat kewalahan berjumpa pasangan Thailand. “Lawan bermain lebih baik, mereka memiliki pertahanan yang bagus dan bermain lebih berani, terutama di depan net”, ujar Ahsan. Sementara Bona tak ingin melihat kekalahan ini, ia ingin menang di dua partai selanjutnya. “Kami tak ingin terus memikirkan kekalahan hari ini, dan akan fokus pada dua pertandingan lainnya untuk lolos penyisihan grup. Peluang masih ada untuk kami, kekurangan teknis tentunya tak dapat langsung diperbaiki di sini, mungkin dari faktor mental bertanding, harus lebih ditingkatkan”

Di Grup B, juga bertanding Adam Cwalina-Michal Logosz melawan Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong. Ko-Yoo harus menang lewat rubber gim 17-21, 21-7, 21-13 atas Cwalina-Logosz. Logosz mengaku percaya diri memenangkan dua pertandingan sisa. “Kami bermain cukup baik saya pikir itu sudah cukup untuk membuat saya percaya bahwa kita masih dapat memenangkan dua pertandingan sisa.”

Prediksi duaribuan menempatkan Muhammad Ahsan-Bona Septano di posisi Juara Grup B. Itu realistis apabila 3 pasangan (Ko-Yoo, Ahsan-Bona, Bodin-Jongjit) memiliki dua kali kemenangan. Jika tiga pasangan punya dua kali kemenangan, Ini dapat dimanfaatkan oleh Muhammad Ahsan-Bona Septano supaya mengalahkan Ko-Yoo dan Cwalina-Logosz dengan dua gim langsung agar bisa lolos sebagai Juara Grup. Posisi Juara Grup akan menghindarkan mereka dari Jung Jae Sung-Lee Yong Dae yang kemungkinan menjadi Juara Grup D.

Ko Sung Hyun yang berteriak-teriak pasca kemenangannya itu merasa kecewa akan penampilannya. Sebagai unggulan keempat, ia telah bekerja keras untuk tampil. “Kami telah berlatih sangat keras karena itu kemenangan ini keluar dari harapan kami. Kami akan fokus pada pertandingan berikutnya, satu per satu.”

Di Grup maut, Grup D, pasangan Koo Kean Keat-Tan Boon Heong mengalahkan pasangan Jepang, Naoki Kawamae-Shoji Sato dari Jepang dengan 21-12, 21-14. Sementara Lee Yong Dae-Jung Jae Sung harus melakoni laga berat melawan Juara Dunia 2005, Tony Gunawan-Howard Bach namun berakhir dengan kemenangan 21-14, 21-19. “Pertandingan pertama selalu terasa lebih berat bebannya tapi kami pasti akan berusaha berbuat lebih baik di pertandingan berikutnya,” ujar Lee Yong Dae. Semetara Tony Gunawan sudah merasa senang mampu mengajak pasangan peringkat 2 dunia bermain ketat di gim kedua. “Bermain dengan unggulan 2 selalu akan sulit tapi kami dekat pada game ke-2 dan saya sangat senang dengan itu.”

Sementara di Grup A, Cai Yun-Fu Haifeng tidak seperti para kompatriotnya dari China yang menang telak, pasangan Cai-Fu menang dengan skor ketat 21-11, 21-17 atas pasangan Australia, Rose Smith-Glenn Warfe. Smith sendiri merasa ia bisa tampil lebih baik karena mampu mengajak ketat Cai-Fu. “Kami bermain lebih baik pada babak kedua dan kami 17-17 melawan 4-kali Juara Dunia, itu menunjukkan kita bisa tampil di tingkat yang lebih tinggi.”

Maeda tidak lengah

Miyuki Maeda yang berpasangan dengan Satoko Suetsuna, peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 2011 akan mencoba membalas kekalahannya di Bronze Medal Match di Olympic 2008. Ia bertekat meraih medali pertama di bulutangkis bagi negeri sakura. Kemarin ia mengawali langkahnya itu dengan mengalahkan pasangan Denmark di Grup D yang disebut grup maut. Melawan Christina-Kamilla, mereka menang 18-21, 21-14, 21-17.

Miyuki Maeda - Olympics Day 1 - Badminton

Maeda sendiri menanggapi dengan rendah hati atas kemenangannya ini. “Ini hanyalah salah satu kemenangan. Kita perlu tetap fokus karena tidak ada yang pasti dalam format grup ini. Kami beristirahat besok untuk mempersiapkan diri melawan Cina.” Sang partner, Satoko Suetsuna merasa nerfeus padahal empat tahun lalu mereka menggulung unggulan pertama sekaligus Juara Bertahan, Yang Wei-Zhang Jiewen di Perempat Final. “Kami nerfes terutama terhadap pasangan yang belum pernah kita kalahkan. Ketika kami memimpin 17-15 di ke-3 saat itulah kami pikir kami bisa menanga.”

Laga seru di Grup B terjadi ketika Mizuki Fujii-Reika Kakiiwa mengalahkan World Champion bronze medalist, Jwala Gutta-Ashwini Ponappa dari India dengan 21-18, 21-16. “Orang banyak bersorak untuk kami, itu membuat kami merasa nyaman seolah-olah kami berada di liga Jepang, aku bisa mendengar pelatih saya dan suara rekan tim saya!”

Sementara Jwala Gutta mengungkapkan bahwa “Tidak ada yang tak terkalahkan, kita benar ada, itu hanya seberapa kuat Anda secara mental karena secara fisik semua orang cukup sama.” Ia sendiri memang tidak menargetkan emas, tapi ia berharap mendapatkan medali di Olimpiade. “Jika Anda ingin menang medali emas Olimpiade Anda harus mengalahkan semua orang, tidak peduli siapa itu.” begitulah tutur Jwala Gutta.

Pertandingan lainnya, Runner Up Singapura Terbuka, Cheng Wen Hsing-Chien Yu Chin akan membalas dendam atas kekalahan di Kejuaraan Dunia tahun lalu dari pasangan India, Jwala Gutta-Ashwini Ponappa. “Kami berharap dapat memenuhi Gutta / Ashwini berikutnya karena mereka mengalahkan kami tahun lalu di tempat yang sama di Kejuaraan Dunia.” Mereka berkesempatan menjadi kuda hitam di turnamen ini setelah menang dari Shinta Mulia Sari-Lei Yao dengan 18-21, 21-15, 21-15.

Di Grup C, pasangan Indonesia Meiliana Jauhari-Greysia Polii harus dibuat kewalahan menghadapi pasangan Australia. Melawan Leanne Choo-Renuga Veeran, pasangan Indonesia menang 21-11, 20-22, 21-13. Choo menuturkan bahwa pasangan Indonesia berubah taktik pertandingan di gim ketiga. “Orang Indonesia mengubah taktik dalam pertandingan ke-3, kami tidak bisa menyesuaikan Tapi dapat memaksakan 3 gim tentu memberikan kami kepercayaan diri..”. Meiliana sendiri mengaku ada pressure yang dirasakannya di gim kedua, tapi itu datang dari dirinya sendiri, bukan dari lawan. “Kami sempat merasakan pressure pada gim kedua, bukan dari lawan, tapi mungkin karena kami sedang bermain di olimpiade. Selain itu, lawan selalu unggul saat posisi terima service, terutama Veeran.”

Sementara pasangan Kanada, Alex Bruce-Li Michelle takluk di tangan pasangan peringkat 1 Dunia, Wang Xiaoli-Yu Yang di penyisihan Grup A dengan 11-21, 7-21. Kekalahan ini dianggapnya kesempatan langka, yah memang langka karena jarang-jarang pemain berperingkat  yang jauh dibawah bertemu unggulan pertama. “Datang ke Olimpiade dan memainkan No 1 Dunia – tidak ada yang lebih baik dari itu. Kami tim underdog dan tidak akan rugi!.”

Nikolaenko berterima kasih

Russia's Alexandr Nikolaenko (R) kisses his partner Valeria Sorokina (L) after victory during their badminton mixed doubles match against Great Britain's Chris Adcock (front L) and Imogen Bankier

Pasangan ganda campuran Rusia, Alexandr Nikolaenko-Valeri Sorokina memainkan pertandingan yang luar biasa. Mereka mengalahkan pasangan andalan tuan rumah yang diharapkan membawa medali, Chris Adcock-Imogen Bankier. Sorokina-Nikolaenko menang 14-21. 21-9, 21-18.Ini adalah Olimpiade sehingga kami harus siap. Setiap poin memberi kami kepercayaan diri dan mereka tampak gugup. Kami memanfaatkan hal itu (untuk menang),” ujar Nikolaenko-Sorokina bergantian. Kemenangan ini membuat Nikolaenko berterima kasih lewat ciuman di pipi yang dilakukannya pasca pertandingan.

Adcock sendiri menyatakan sangat kecewa atas kekalahannya ini.Kami sangat, sangat kecewa. Kami datang ke sini untuk menang,” sementara sang pasangan, Imogen Bankier menyinggung kesetiaan pendukung Britania Raya. reaksi penonton benar-benar membantu kami & dukungan yang fantastis Menang atau kalah mereka selalu di belakang kami..”

Di Grup maut, Cheng Wen Hsing-Chen Hung Ling berhasil mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon-Goh Liu Ying dari Malaysia dengan 21-12, 6-21, 21-15. Dalam pertandingan itu, Goh mengaku banyak kesalahan, apalagi di gim ketiga sehingga itulah yang menyebabkannya kalah.”Dalam pertandingan pertama kami membuat banyak kesalahan dan pada game ketiga, kami takut mengambil resiko Itulah sebabnya kami kalah..” Cheng Wen Hsing sendiri menganggap pasangan Malaysia memang gugup. “Saya pikir pertandingan kita di Australia Terbuka akhir bulan April mencerminkan standar nyata dari keduanya. Keduanya (Malaysia) gugup hari ini..”

Di Grup B, Robert Mateusiak-Nadiezda Zieba mungkin akan menjadi ancaman di Perempat Final Olimpiade. Juara Eropa itu menang atas Shintaro Ikeda-Reika Shiota dari Jepang dengan kemenangan 21-18, 22-20. Terlihat pasangan Jepang sangat nerfeus menghadapi Mateusiak-Zieba yang tampil dengan taktis. Peluang menjuarai Grup B semakin besar, pasalnya Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen sempat mereka kalahkan di Perempat Final European Championship 2012 di Swedia lalu.

Dari Grup C, pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir menang atas pasangan V. Diju-Jwala Gutta dari India dengan dua gim langsung 21-16, 21-12. Menurut Tantowi yang memulai debutnya, ia tidak merasa ada beban. “Saya tidak terlalu memikirkan bahwa kami sedang bermain di olimpiade, namun lebih berusaha menikmati permainan di lapangan, ‘enjoy’ saja. Inilah yang membuat saya bisa tampil lebih tenang.” Liliyana pun mengakui penampilan Owi lebih baik, namun ini juga didukung pemain India yang banyak melakukan kesalahan sendiri. “Kami merasa tampil cukup baik hari ini, kami bermain ‘bersih’, sementara pasangan India tidak dalam permainan terbaiknya, mereka banyak melakukan kesalahan sendiri. Kunci kemenangan kami adalah bermain tenang, sehingga kemampuan kami keluar semua.”

Charles berkunjung

Calon Pewaris tahta Britania Raya, Pangeran Charles datang berkunjung ke Wembley Arena pada hari pertama pelaksanaan Bulutangkis Olimpiade London 2012. Bulutangkis menjadi agenda dari Pangeran Charles karena bulutangkis ditampilkan dalam Pembukaan Olimpiade lalu sebagai salah satu olahraga tradisional terkenal dari Britania Raya.

Disana, ia disambut oleh Presiden BWF Kang Young Joong yang berulang tahun beberapa hari lalu. Selain bertemu petinggi BWF itu, ia berbincang dengan atlet dari tiga negara persemakmuran dibawah Ratu Britania Raya, yakni Kanada, Australia dan tentu saja Britania sendiri. Beberapa atlet secara istimewa berbincang dengan Prince Charles, diantaranya Rajiv Ouseph, Glenn Warfe dan Li Michelle.

Beliau juga duduk menonton pertandingan bulutangkis Britania Raya saat Susan Egelstaff, mengalahkan pemain Slovenia Maja Tvrdy dengan 21-15, 21-10. Itu mungkin juga yang membuat Susan gugup, ditonton oleh calon Raja. “Saya melihatnya saat saya melakukan pemanasan tapi saya tidak gugup. Aku tahu dia akan datang dan rekan tim saya yang menggodaku, menanyakan apakah aku akan membungkuk memberi hormat,” ujar Susan sambil bercanda.

 

Iklan