Wembley ‘the Pinky’ Arena

Wembley Arena siap menyambut ajang akbar Olimpiade London 2012, dari gambar diatas, nuansa pinky sangat dominan di arena indoor yang akan memperebutkan 5 medali emas Olimpiade itu. Kini, perhatian para pecinta bulutangkis dan seluruh masyarakat Indonesia yang mengharapkan medali emas Olimpiade tertuju ke arena ini. Akankah Bendera Merah Putih berkibar disini?

Wembley Arena telah menjadi salah satu ‘landmark‘ Kota London sejak tahun 1934. Gedung ini dibangun untuk British Empire Games pada tahun yang sama (yang sekarang lebih dikenal sebagai Commonwealth Games). Layaknya gedung lama di Indonesia, kita berharap Wembley Arena punya tuah yang bisa membantu pemain Indonesia agar bisa meraih medali emas.

“Wembley punya kharisma tersendiri karena kita pernah punya tradisi juara All England. Semoga kali ini kita bisa mengulang sukses di sana,” ujar Koh Chris berharap akan ada keajaiban di Wembley Arena mendatang bagi pemain Indonesia untuk mempertahankan medali emas Olimpiade.

Tuah itu khususnya datang dari nomor tunggal putra, tercatat  lima pebulu tangkis Indonesia yang menjadi Jawara All England bertanding disini. Mereka adalah Tan Joe Hok (1959), Rudy Hartono (1968 sampai 1974 dan 1976), Lie Swie King (1978, 1979, dan 1981), Ardy B. Wiranata (1991), serta Heryanto Arbi (1993 dan 1994). Empat belas dari 15 gelar juara itu diraih di Wembley Arena, Wembley, London (satu di Birmingham diraih Heryanto tahun 1994).

Dan tahun ini, Simon diharapkan membawa kejutan untuk meraih medali di Wembley Arena. Simon sendiri sekarang diwaspadai tim China karena menurut Li Yongbo,  Simon Santoso adalah pemain berbakat yang mungkin bakal menjadi kuda hitam dalam ajang empat tahunan itu, apalagi kemenangan di Indonesia Open 2012 tentu menjadi salah satu pemicu ia percaya diri akan kemampuannya meraih medali di Olimpiade. (Kalo ini setuju, sebelum Olimpiade punya track record bagus kayak MKY tahun 2008, dapet perunggu, jadi deh Pengantin Perunggu Olimpiade.. u,u)

Bagi China, Lee Chong Wei mungkin masih kuat, tetapi menurut Yong Bo cedera yang menimpanya akan mempersulit ia dalam meraih medali emas, apalagi negeri Yang dipertuan Agong itu terkesan bertumpu Chong Wei untuk meraih keping emas pertama bagi Malaysia, bertambah parahlah pressure yang diterima Chong Wei.

Chong Wei layaknya Owi-Butet di Indonesia, tapi karena disini pemerintahnya kayak acuh tak acuh akan tradisi Emas, ya beritanya dikit, paling pol di media online kayak ini.. Disana Malaysia beritanya jorjoran, apalagi pemerintahnya dukung banget ampe dibuatin iklan di TV sana sini.. Memang di Indonesia, Bulutangkis itu diam, tapi bukan berarti tidak bisa bicara, karena diam adalah emas.. (Silent is gold) dan Bulutangkis berbicaranya bukan di dalam negeri, tapi di kancah dunia..

Pinky = Yong Dae legacy ??

Wembley Arena berkapasitas 12.500 kursi itu dihiasi lantai berwarna pinky yang biasa identik dengan sosok Jawara Olimpiade 2008, Lee Yong Dae yang tahun ini kembali tampil mewakili Korea bersama Chung Jae Sung dan Ha Jung Eun.

Tapi untuk seragam Tim Korea tahun ini tidak berwarna pinky, ntar malah ketangkep kamera jadi mati. Tapi rasanya, Wembley yang serasa ‘Pinky arena’ ini bakal membantu kemenangan Lee Yong Dae, seperti kemenangannya di All England 2012. Di All England, Lee memakai baju warna pinky bersama Chung, mereka meraih gelar juara All England keduanya menundukkan Juara Dunia 2011, Cai Yun-Fu Haifeng.

Chung-Jee hanya berharap dapat mengakhiri duet mereka akhir tahun ini dengan medali emas. Setelah Olimpiade, Chung akan gantung raket sementara Lee Yong Dae masih berpotensi tampil di Rio 2016. Melawan Cai-Fu akan menjadi final ideal ganda putra Olimpiade 2012. Tapi pertanyaannya, di beberapa ajang besar, utamanya Kejuaraan Dunia, Lee-Chung kalah 2 kali di partai Puncak, yakni di tahun 2007 kalah dari Kido-Setiawan dan 2009 oleh Cai-Fu. Rekor head to head Lee-Chung dengan Cai-Fu adalah 11-10. Jika menang, mereka akan mengakhiri rekor H2H dengan 12-10, namun jika kalah H2H menjadi 11-sama. (Chung pensiun)

Mengingat ke Olimpiade 2008, masih bocah (19 tahun) dan belum se K-Pop sekarang, Lee Yong Dae melakukan seremonial kemenangan atas Nova Widianto-Liliyana Natsir di Final Olimpiade dengan mengedipkan mata di kamera, saat itu pula ia serasa menyihir para jutaan pasang mata pirsawan. Yong Dae’s Wink menjadi sangat fenomenal. Dan tahun ini, jika saja Yong Dae akan meraih medali emas lagi, bagaimana selebrasi pria yang menyayangi ibunya itu? Kita tunggu saja….

Tim Bulutangkis Thailand berwarna 

Tim Bulutangkis Thailand terlihat sangat berwarna di Olimpiade 2012. Terlihat dari yang paling muda sampai yang dedengkotan terkualifikasi ke Olimpiade. Saralee menjadi yang paling tua umurnya dengan 33 tahun, disusul pasangannya Sudket dengan 32 tahun dan Boonsak dengan 30 tahun.

Maneepong Jongjit dan Bodin Issara, Juara India Terbuka tampil di Olimpiade dengan usia emasnya, sekitar 20 tahunan. Sementara Ratchanok Intanon baru 17 tahun, menjadi yang termuda. Di Olimpiade 2012, Sudket, Boonsak dan Saralee akan menjadikan target utamanya, karena kemungkinan mereka akan gantung raket, sementara tiga pemain lain masih potensial tampil di Rio 2016.

Dari keenamnya, Sudket-Saralee yang punya kesempatan besar meraih medali, apalagi kemenangan atas ZZ dan Owi-Butet di Indonesia Terbuka membuat mereka percaya diri. Bagi Saralee dan Boonsak, ini adalah Olimpiade keempatnya setelah Sydney, Athena dan Beijing. Boonsak masih menjadi rekor terbaik Thailand di Bulutangkis Olimpiade ketika finish di posisi keempat di Athena delapan tahun lalu.

Gail Emms-Nathan Robertson

Athena 2004 : Meraih medali Perak di Olimpiade, pencapaian terbaik Bulutangkis Inggris hingga kini

Beijing 2008 : mampu menundukkan pasangan Zheng Bo-Gao Ling di depan publik China

Bersaudara di Olimpiade

Tahun 2012, dua pemain Belgia yang juga kakak beradik, Yuhan Tan dan Lianne Tan akan mewakili negaranya tampil di Bulutangkis Olimpiade London 2012. Yuhan akan berpartisipasi di nomor tunggal putra sedangkan Lianne akan tampil di nomor tunggal putri. Kebersamaan kedua kakak beradik ini seperti yang terjadi di tahun 2008.

Tahun 2008, ada juga kakak beradik yang tampil di Olimpiade Beijing. Mereka adalah kakak beradik asal Thailand, Boonsak Ponsana dan Salakjit Ponsana. Boonsak saat itu tersingkir di babak kedua oleh unggulan keenam Sony Dwi Kuncoro dengan 16-21, 14-21. Sementara sang adik, Salakjit Ponsana juga kebagian drawing yang tidak enak, ia langsung bertemu unggulan kedua, Zhang Ning, namun dapat memaksakan rubber gim meski kalah 23-21, 17-21, 7-21.

Kali ini Lianne dan Yuhan yang akan tampil sebagai saudara di Olimpiade 2012. Akankah nasib mereka sama seperti Boonsak-Salakjit di tahun 2008 yang harus dipertemukan dengan lawan yang kuat? lihat saja drawing yang akan dilakukan Senin petang waktu Jakarta.

Iklan