Menanti Emas dalam Sanubari

Dalam hati kita saat ini pasti dag-dig-dug menantikan medali emas Olimpiade London 2012, tapi menurut saya yang paling cemas akan hal ini adalah sosok Christian Hadinata (gambar), kepala pelatih Pelatnas Cipayung. Mungkin ketika berbagai media mewawancarai Koh Chris, begitu ia dipanggil, ia menjawab ‘ganda campuran’, ‘mixed’ atau Tontowi-Liliyana.

Dalam setiap wawancara itu, ia pasti terlihat tenang menjawab dengan logat medog khas Purwokerto. Tapi dibalik ketenangannya itu, dalam sanubari terdalamnya kecemasan mendalam pasti terasa, bahkan orang-orang disekitarnya pun mengakuinya.

Kecemasan tahun 2012 ini mirip dengan yang terjadi di tahun 2004, saat itu Kontingen Indonesia cemas mengenai tradisi medali emas, apalagi jawara bertahan ganda putra, Candra Wijaya yang sebenarnya berpotensi mempertahankan medali emas tidak lolos Olimpiade (Kido-Hendra juga gagal terkualifikasi), pasangannya Tony Gunawan sudah pindah membela Amerika Serikat sambil kuliah. Setahun kemudian, Tony dan Candra dipertemukan di Anaheim 2005 World Championship, dimana Tony berpasangan dengan Howard Bach mengalahkan Candra yang berpasangan dengan Sigit Budiarto di Final.

Sementara harapan ganda putra lain, Eng Hian dan Flandy Limpele sebenarnya berbendera Inggris dua tahun sebelumnya loh.. akhirnya dirayu PBSI dan kembali berbendera Indonesia untuk Olimpiade 2004. Kecemasan bahkan terlihat ketika tidak ada wakil tunggal putri yang dikirim, ditambah Taufik Hidayat yang saat itu masih ‘bad boy’ tertangkap kamera sedang berpesta di suatu tempat hiburan malam di Jakarta, beberapa pekan sebelum Olimpiade. Semakin meningkat lah pesimisme mempertahankan emas.

Tetapi entah ini suatu keajaiban, Tim Bulutangkis Indonesia berhasil mempertahankan medali emas lewat Taufik Hidayat (semoga terjadi keajaiban lagi di tahun 2012). Koh Christ tak luput dari kemenangan ini, ia bersama PBSI lah yang merayu-rayu Mulyo Handoyo yang sempat melatih Singapura untuk kembali melatih si anak emas, Taufik Hidayat.

Dedikasi Koh Christ itu lah yang membuatnya menjadi Pelatih Kepala di Pelatnas Cipayung, memayungi ratusan atlet berbakat dari seluruh Indonesia. Kadang saya berpikir, dibanding beberapa Kepala Pelatih di negara lain, sebut saja Razif Sidek, Rexy Mainaky, Park Joo Bong atau Li Yongbo, Koh Christ mungkin yang tidak punya raihan baik di ajang Olimpiade, padahal ia adalah salah satu pelatih penghasil para Juara Olimpiade.

Eitttssss. ternyata setelah search sana sini.. Christian Hadinata lebih dari semua pelatih itu, dia Juara Olimpiade tanpa medali emas. Ia mendapatkannya saat bulutangkis menjadi olahraga yang didemonstrasikan di Munich tahun 1972. Saat itu umurnya 23 tahun, berpasangan dengan Ade Candra, ia menjuarai ajang eksebisi itu.

Di nomor ganda putra, demostrasi Olimpiade 1972 diikuti oleh 7 wakil, Koh Christ berpasangan dengan Ade Candra menjadi unggulan teratas, mengalahkan Tan Aik Mong [MAS]-Bandid Jaiyen [THA] di babak pertama dengan 15-7, 15-1. Di Semifinal, ia mengalahkan pasangan Britania Raya, Elliot Stuart-Derek Talbot dengan 15-8, 15-12 dan di Final, dengan memeras keringat ia menang atas pasangan Malaysia Ng Boon Bee-Punch Gunalan dengan 15-4, 2-15, 15-11.

Koh Christ lebih dari kepala pelatih yang lainnya, ia seorang Juara Olimpiade tanpa medali emas. Meskipun dari segi gaji dan kesejahteraan, ia tak lebih baik dibanding Rexy Mainaky atau Park Joo Bong. Tapi menanggapi hal itu, ia cuma mengatakan, “Terlalu banyak yang negara sudah berikan kepada saya, jadi jangan tanya apa yang akan negara berikan tetapi bertanyalah apa yang akan anda berikan kepada negara”, sebuah kalimat yang menginspirasi kita.

Kalo kita pikir-pikir dan meneliti kata demi kata Koh Chris itu, Kepala Pelatih berusia 62 tahun itu benar, bayangkan, negara sudah memberi kita tempat lahir, tempat hidup dan menjadi tempat peristirahatan terakhir kita, mengapa kita terus bertanya apa yang negara berikan kepada kita.

Ia pernah berkata, tanpa fasilitas-fasilitas bulutangkis yang negara berikan, seperti Pelatnas Cipayung, ia tak mungkin bisa menjuarai berbagai turnamen. Maka dari itu, ia ingin seumur hidupnya ia isi dengan mengabdi pada negara, dan salah satunya setelah pensiun adalah menjadi pelatih. “Tidak ada jalan lain selain mengabdi bagi negara,” kata Christian.

Begitu pula dengan kita kini, sekarang Indonesia menuntut emas Olimpiade, kalo mereka bisa memberikan medali emas, itu merupakan pembalasan atlet kepada negara atas segala sesuatu yang telah Indonesia berikan. Sudah untung negara beri bonus 1 M bagi yang menang Olimpiade.. Banyak yang menganggap bonus 1 Miliar bagi peraih medali emas itu tidak cukup.. Dalam hati gue tuh ngeyel banget ama yang bilang gitu.. Duit PBSI tuh dikit dan harus mikir banyak hal, termasuk regenerasi, gaji atlet dan pengiriman atlet keluar.. Kalo gak mikir hal-hal lain, 50 miliar buat gold medalist udah gue jamin… (Ntar pasti banyak yang copas, tapi bagian akhir ini diilangin)…

Saat Bulutangkis di demonstrasikan

Dalam Olimpiade 1972 itu, Bulutangkis mempertandingkan 4 nomor, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra dan ganda campuran. Ganda putri tidak ditampilkan, karena mungkin nomor ini kurang populer di zaman itu (sampai sekarang juga tidak sih, karena dominannya China).

Ganda putra dimenangkan Koh Chris tadi, sedangkan nomor tunggal putra dimenangkan oleh Rudy Hartono, tujuh kali Juara All England. Tunggal putri dimenangkan oleh Noriko Nakayama dari Jepang yang mengalahkan Utami Dewi. Utami Dewi ini menikah dengan Christ Kinand dan menjadi WN Amerika sana.. Ia menghantarkan tim Indonesia meraih Piala Uber di tahun 1975, merubuhkan kuatnya rumah Jepang yang terkenal sulit retak karena gempa (kalo China kan ada tembok… hahaha.)

Di nomor ganda campuran, Derrek Tablot-Gillian Gilks (kalo Gillian ini udah melegenda banget di Britain, 11 titel All England) meraih gelar juara mengalahkan Svned Pri-Ulla Strand dari Denmark dengan 15-6, 18-16. Di Nomor ini, Indonesia mengirimkan Christian Hadinata-Utami Dewi, namun kalah di Semifinal oleh Pri-Strand dengan 12-15, 10-15.

Anda tahu gak? berikut ini beberapa fakta menarik mengenai demonstrasi Bulutangkis di Olimpiade 1972.

  1. Pelaksanaannya dalam sehari (4 September), ini menjadi hari yang melelahkan karena ada pemain yang bermain di dua nomor harus bermain lebih dari 3 kali sehari. Contoh saja, Koh Chris dan Utami Dewi bermain total 5 kali sehari, apalagi dengan sistem lama dimana waktu bermain bisa berjam-jam.
  2. Banyak pemain tunggal yang juga bermain di nomor ganda, bahkan di kejuaraan resmi beregu saat itu menuntut pemain tunggal juga bermain ganda (sebelum 1988 kan sistem Piala Thomas dan Uber itu 7 partai).
  3. Banyak pemain ganda yang beda bendera, tercatat 4 wakil diantaranya berbeda bendera. Hal ini masih diijinkan karena masih demonstrasi, jika Olimpiade resmi sekarang mengharuskan pasangan ganda berasal dari satu bendera.

Harusnya olahraga yang didemonstrasikan di Olimpiade 1972, empat tahun setelahnya (1976) sudah dipertandingkan secara resmi dan membagikan medali, itulah yang terjadi pada Tenis Meja, tetapi bulutangkis berbeda, IOC menganggap federasi bulutangkis yang terpecah menjadi dua saat itu (IBF dan WBF) membuat harus dilakukan penundaan terhadap pelaksanaan Bulutangkis di Olimpiade.

20 tahun kemudian

Penantian Koh Christ untuk menjadikan bulutangkis menjadi olahraga Olimpiade datang dua puluh tahun setelah ia menjuarai Olimpiade (meski hanya demonstrasi), yakni di Barcelona 1992. Perjalanan supaya bulutangkis masuk olarhaga olimpiade cukup sulit.

Harusnya 1976 bulutangkis menjadi olympic sport, tapi karena ada perbedaan organisasi (WBF dan IBF), akhirnya ditunda hingga bisa bersatu. Baru Pada 1981, Akhirnya IBF dan WBF memutuskan untuk bergabung, meski lebih tepatnya WBF yang bergabung ke IBF. Bagi saya, sama saja Penggabungan ini adalah memperluas dominasi China (WBF) dalam olahraga tepok bulu ini.

Bergabungnya kedua organisasi olahraga ini membuka pintu keberhasilan masuknya Bulutangkis ke Olimpiade. Di tahun 1985, Bulutangkis sudah dipastikan IOC akan dipertandingkan di Olimpiade, tapi bukan di Seoul 1988, tapi di tahun 1992 di Barcelona, sedangkan digelar eksebisi di tahun 1988 kalo 1972 itu demonstrasi, tahun 1988 itu eksebisi karena sudah pasti dipertandingkan).

Di Olimpiade tahun 1988, hasilnya tidak terlalu baik dibanding 1972 karena China dan Korea meraih medali emas/juara, sedangkan Indonesia hanya puas dengan satu perak. Kompetisi dilaksanakan juga sehari, 19 September 1988.

Kembali ke dua puluh tahun kemudian, impian meraih emas Olimpiade akhirnya terbuka lebar setelah bulutangkis didebutkan di Olimpiade Barcelona 1992. Susi Susanti menciptakan sebuah drama yang luar biasa, mengalahkan Bang Soo Hyun, si jangkung dari Korea. Inilah momentum yang mengawali perjalanan emas Olimpiade. Indonesia memang bukan yang terbanyak meraih medali, bukan pula paling mendominasi, tapi Gold is our tradition, menurut gue itu yang tidak bisa dimiliki China atau Korea yang superior di cabang olahraga ini.

China sempat mendominasi di IBF World Championship 1991 dengan 3 emas (MS, WS, WD), tapi tidak untuk Olimpiade 1992. Di Barcelona justru China yang pulang tanpa emas. Ini harusnya menjadi sebuah pengingat bagi kita bahwa hasil Kejuaraan Dunia sangat mungkin berbeda dengan hasil Olimpiade.

40 tahun kemudian

Empat puluh tahun setelah demonstrasi Olimpiade, koh Chris sudah menjadi seorang Kepala Pelatih Pelatnas Cipayung. Rasanya runtutan dari 1972 hingga 2012 seperti perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya. Perjuangan 40 tahun lalu adalah untuk menjadikan bulutangkis olahraga olimpiade (sama seperti memperjuangkan kemerdekaan). 20 tahun lalu adalah mengawali sejarah emas Indonesia di Olimpiade (seperti masa merebut kemerdekaan), dan 2012 ini adalah mempertahankannya, tapi bisakah?

Banyak yang pesimis, termasuk gue sendiri. Kecuali Taufik dan Liliyana Natsir, semua adalah debutan yang tidak berpengalaman. Pressure di Olimpiade lebih besar, jadi meskipun anda menjuarai berbagai turnamen termasuk Kejuaraan Dunia, belum tentu anda mendapatkan medali emas.

Yang gue takutnya karir Owi-Butet tuh seperti Zheng Bo-Gao Ling. Zheng-Gao mengawali karir di Asian Games Doha 2006 dan dipersiapkan Li Yongbo untuk Olimpiade 2008. Sebelumnya Zhang Jun, pasangan lama Gao dipisah sebelum Asian Games,karena usia yang tak lagi emas (Khusus Zhang Jun karena lumayan overweight) > Nova dan Butet cerai, Butet-Owi bermain pada Asian Games 2010.

Sejak dipasangkan, Zheng-Gao sukses meraih berbagai gelar Juara, termasuk All England 2008 (tahun olimpiade) mengalahkan Nova-Butet. Mirip dengan Owi-Butet yang menjuarai All England 2012, di tahun yang sama dengan Olimpiade.

Di Olimpiade 2008, Zheng-Gao gagal karena pressure yang paling berat, tampil sebagai unggulan kedua dan andalan tuan rumah, ditambah tampilnya di ajang tertinggi Olimpiade. Lawannya di babak pertama, Nathan Robertson-Gail Emms pun mengalahkan mereka 21-16, 16-21, 21-19. Gue selalu terbayang mental dan heroiknya pasangan Britania ini. Di saat Emms-Robertson tertinggal jauh 12-17 di game penentuan, mereka bisa menyamakan kedudukan 17-17. Saat inilah kegugupan mulai terlihat dari Zheng Bo, inilah yang kemungkinan akan menimpa Owi tahun ini, terlihat di beberapa pertandingan Owi-Butet sudah unggul jauh tapi terkejar lawan dengan mudah.

Emms-Robertson tambah percaya diri, mereka pun balik unggul 19-17. Kecerdikan Gao membuat mereka menyamakan kedudukan 19-19. Di poin itu, justru Zheng Bo membuat kesalahan yang sebenarnya tidak perlu, saat itu terlihat Zheng Bo sangat gugup di lapangan, Emms-Robertson match poin 20-19.

Pasangan Britania tak menyia-nyiakannya. Beberapa kali pukulan smash diarahkan ke pasangan China karena memang Robertson jago smash, apalagi didukung dengan tubuh jangkungnya. Akhirnya lewat penempatan smash yang baik, Emms-Robertson menang. Nama mereka tercatat di berbagai media cetak dan elektronik atas kemenangannya dari Pasangan China unggulan kedua andalan tuan rumah.

But, akhirnya gak dramatis kayak Lu Lan yang nangis. (Btw, Lu Lan nangis bukan karena kalahnya mungkin, tapi takut dimarahin Yong Bo-nya.. Hahaha), Gao si miss smile tetap tersenyum saat kalah, setelahnya ia pensiun. Zheng Bo tetap dipertahankan, ia bermain dengan Ma Jin dan sempat menjadi Juara Dunia. Tapi karena perilaku jeleknya yang suka minum-minum gitu katanya, dikeluarkan.. akhir yang tragis.. Semoga nasib Owi-Butet gak seperti Zheng Bo-Gao Ling nantinya.. Karena cuma mereka yang paling potensial meraih medali emas di London…

Mereka harus bisa mempertahankan emas. Jika tidak bisa mempertahankannya, ini juga menjadi peringatan bagi negara bahwa tak lama lagi Negara Indonesia juga tidak bisa bertahan. Emas Bulutangkis mempersatukan bangsa.

Iklan