Korea Bangsat (Lagi) ??

Kegagalan Alfian Eko Prasetya-Kevin Sanjaya Sukamulyo menciptakan All Indonesian Final di nomor ganda putra kemarin di Semifinal Kejuaraan Asia Junior 2012 menyimpan sedikit tanda tanya pada saat terjadinya deuce. Service judge menyatakan terjadi fault pada saat itu.

Meskipun Indonesia sudah memiliki wakil di Final, yakni Arya Maulana Aldiartama-Edi Subaktiar yang mengalahkan pasangan Hongkong, Lee Chun Hei-Ng Ka Long dengan 15-21, 26-24, 21-15. Hal itu sekaligus mematahkan asa Hongkong untuk kali pertama menginjakkan kaki di Final Kejuaraan Asia Junior. Sebenarnya Indonesia bisa memaksakan terjadinya All Indonesian Final karena di semifinal lain Pasangan Alfian Eko Prasetya-Kevin Sanjaya Sukamulyo berpeluang menang.

Tetapi ternyata mereka terhenti di Babak Semifinal ditundukkan Pasangan Taipei, Lin Wang Chi/Lin Wu Hsiao dengan 20-22, 13-21. Dalam penuturannya di situs PB PBSI, mereka mengaku mampu menyeimbangkan kedudukan menjadi deuce saat tertinggal tetapi justru saat kedudukan itu, service judge menyatakan fault pada pasangan Indonesia.

“Kami kalah start, justru saat sudah berhasil menyeimbangkan dan kedudukan deuce 20-20, kami dinyatakan fault saat menerima service lawan. Sesudahnya konsentrasi sedikit buyar dan lawan makin percaya diri” ujar Kevin.

Berdasarkan penuturan Kevin, bisa diskenariokan saat itu kedudukan berarti 21-20 untuk pasangan Taipei karena pasangan Taipei yang melakukan service sedangkan Kevin menerima service, namun saat hendak menerima service Kevin malah melangkah mendahului sehingga dinyatakan fault, poin untuk lawan (ketentuan service : penerima service tidak boleh mendahului langkah sebelum shuttlecock dipukul).

Fault ini mungkin bisa karena ketidaksukaan service judge kepada pasangan Indonesia seperti yang terjadi pada pasangan Alfian Eko-Shella Devi saat dikenakan setidaknya 16 kali terjadi fault, sehingga Alfian Eko membuat tweet ‘Korea bangsat’ di account twitternya @alfian_eko.

Bisa juga fault itu karena memang mental para atlet Junior yang masih labil ingin segera menuntaskan permainan, sehingga tidak bisa bermain ‘save’ karena melupakan hal-hal kecil seperti menerima service atau melakukan service yang apabila mengalami kesalahan akan memberikan poin cuma-cuma buat lawan.

Bermainlah seakan ini pengalaman sekali seumur hidup

md-5065

Setelah dikenai fault, biasanya para pemain menjadi buyar konsentrasinya sedangkan lawan menjadi semakin percaya diri. Pikiran tentu harus dihilangkan, harusnya kesempatan dikirim ke Gimcheon seperti ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Harus meniru mental Maria Kristin Yulianti di Olimpiade. Tunggal Putri Indonesia memang hanya mampu mengirim satu wakil, itupun lewat wildcard, jadi para pemain harus bersaing satu sama lain. Maria Kristin Yulianti di Olimpiade 2008 punya kata-kata menginspirasi, “Bermain di Perempat Final Olimpiade dan bertemu Saina Nehwal adalah pengalaman satu kali seumur hidup.” (cerita lengkap search artikel berjudul Kejutan Beijing 2008 dari duaribuan, kalo search di google udah ketemu juga).

Saat itu Maria selalu ketinggalan dari pemain berbakat India, tetapi motivasi dari Hendrawan kala itu, “Bermain di Perempat Final Olimpiade dan bertemu Saina Nehwal adalah pengalaman satu kali seumur hidup” membuatnya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan meraih perunggu.

Harusnya ini juga yang ditanamkan kepada para punggawa Indonesia di Olimpiade. Taufik karena ini Olimpiade terakhirnya, Simon karena ini adalah usia emasnya (4 tahun ke depan harusnya udah kawin) serta Firda karena ini kesempatannya membuktikan ia pantas dibanding Febe, Ahsan-Bona, Greysia-Meiliana dan Tontowi-Liliyana karena belum tentu empat tahun kedepan mereka dikirim kembali sebagai pasangan utuh kembali karena memang beberapa diantara mereka seperti Meiliana memutuskan segera pensiun.

Choi-Chae saling memuji

choi-chae-4167

Pasangan Ganda Campuran Korea yang melaju ke Final Kejuaraan Asia Junior 2012, Choi Sol Gyu (kiri)  dan Chae Yoo Jung (kanan) saling memuji ketika mereka diwawancarai di sebuah situs olahraga Korea pasca memenangkan partai Semifinal melawan pasangan China Liu Yuchen-Chen Qingchen dengan 21-17, 21-19.

Ketika ditanya kunci kemenangan, Choi Sol Gyu menjawab singkat, “Karena Yoo Jung bermain bagus.” Jawaban Choi itu pun membuat Chae Yoo Jung tertawa kecil dan meneruskan perkataan Choi, “Itu karena Sol Gyu (Choi) bermain bagus, Meskipun beberapa kali kami membuat banyak kesalahan.”

Kebersamaan mereka terjadi di Surabaya Cup (entah turnamen apa, terjemahannya begitu) tahun lalu. Saat itu mereka menang dan akhirnya dipasangkan hingga kini.  “Kami pertama kali dimainkan bersama-sama tahun lalu di Surabaya Cup di Indonesia dan kemudian kami menang. Yoo Jung sangat baik dalam menyerang di depan net sehingga membuatku nyaman untuk bermain di belakang,” ujar Choi yang disinggung mengenai kebersamaannya dengan Chae.

Chae sendiri adalah anak dari seorang pemain bulutangkis Korea, Kim Bok Sun (era 80an mungkin). Bok Sun adalah pemain spesialis tunggal putri. Sempat Bok Sun menawari Chae untuk bermain di nomor tunggal namun pelatih di sekolahnya melihat Chae bagus bermain ganda, sehingga akhirnya memutuskan lebih baik bermain di nomor ganda.

Gelar Juara Asia Kado Ulang Tahun Shindu

sindhu-pv-4908

Pemain jangkung India, Shindu PV berhasil menjuarai turnamen Kejuaraan Asia Junior 2012 setelah mengalahkan Nozomi Okuhara dengan skor ketat 18-21, 21-17, 22-20 dalam pertarungan sengit 59 menit, nyaris satu jam. Kemenangan in isekaligus menjadi kado Shindu PV yang berulang tahun ke 17 pada 5 Juli kemarin.

Setelah menjadi Juara Asia Junior, Tahun ini ia berkesempatan mengembalikan gelar Juara Dunia Junior untuk India setelah empat tahun lalu Saina Nehwal menjadi Juara Dunia Junior 2008 untuk tunggal putri. Edisi 2009-2011, nomor tunggal putri gelar Juara diraih oleh Ratchanok Intanon. Meskipun tahun ini Ratchanok masih berkesempatan mengikuti Kejuaraan Dunia, tetapi fokusnya adalah Olimpiade London sehingga Shindu yang menduduki World Junior No #2 menjadi kandidat favorit peraih Juara Dunia Junior yang tahun ini digelar di Chiba, Jepang. Okuhara yang dikalahkannya hari ini mungkin menjadi sandungan di Chiba nanti, apalagi Okuhara bermain di depan publik sendiri.

Kemarin, ia Melangkah ke Final setelah mengalahkan Busanan dari Thailand. Kemarin Untuk pertama kali mereka saling berhadapan, Shindu memuji permainan Busanan. “Ini adalah pertama kalinya saya bermain melawan dia dan dia bermain bagus.” Tetapi kemenangan ini membuatnya tidak tenang apabila bertemu pemain 16 tahun asal Thailand itu.

“Dia bermain sangat baik dan kami banyak bermain reli-reli yang sulit. Saya tidak bisa tenang ketika saya bermain dengannya di masa depan meskipun aku telah mengalahkan dia sekali,” ujar Shindu menutup wawancara mengomentari kemenangan di Semifinal.

Iklan